Lompat ke isi

Etosuksimida

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 7 September 2026 22.32 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29699090; atribusi sumber disertakan.)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Etosuksimid atau disebut juga zarontin adalah sejenis obat antiepilepsi yang diberikan bagi penderita kejang absen, yaitu sebuah kondisi dimana terjadi aktivitas listrik yang abnormal di otak yang ditandai dengan pasien terlihat mengalami episode bengong selama beberapa detik. Dalam keadaan demikian, pasien tidak bisa diajak bicara, tidak mendengar dan tidak bisa bercakap-cakap dengan orang lain. Selain bengong, gejala kejang absen juga disertai dengan mulut mengecap-ngecap atau menggerak-gerakkan alis. Pada jenis kejang ini, segera setelah serangan kejang berakhir, penderita langsung bisa beraktivitas seperti biasa lagi.

Etosuksimid sebagai obat utama pencegah kejang absen tersedia dalam bentuk kapsul 250 mg dan sirop 250 mh/5mL.

Dosis

Untuk anak usia 3-6 tahun, dosis yang dianjurkan adalah 250 mg setiap hari. Sementara untuk anak usia 6 tahun ke atas serta orang dewasa, dosis etosuksimid yang dikonsumsi adalah 500 mg setiap hari atau 2 kapsul (250 mg) setiap minum. Penyesuaian dosis perlu dilakukan secara hati-hati, dimulai dengan dosis kecil dan dosis ditingkatkan secara bertahap hingga serangan kejang dapat dikendalikan atau hingga muncul gejala efek samping yang nyata..

Efek samping

Sebagian pasien yang mengonsumsi etosuksimid mungkin akan mengalami beberapa keluhan seperti rasa kantuk, kelelahan, sakit kepala, sakit perut, kram perut, kehilangan selera makan, mual, muntah, penurunan berat badan, diare, pembengkakan lidah, pendarahan tak lazim pada vagina, serta kehilangan keseimbangan atau koordinasi. Etosuksimid juga dapat menyebabkan gangguan darah yang serius. Oleh karena itu, pemeriksaan jumlah darah lengkap kemungkinan direkomendasikan untuk dilakukan secara berkala untuk memantau kondisi darah. Obat ini juga dapat menyebabkan penyakit autoimunas yang disebut lupus. Beberapa efek samping yang mungkin muncul di antaranya termasuk ketidaknyamanan pencernaan, cegukan, mengantuk, lekas marah dan susah tidur.

Referensi



Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29699090 (2026-09-04T01:23:43Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.