Lompat ke isi

Rhinotrakeitis sapi infeksius

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 7 September 2026 22.39 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 16592140; atribusi sumber disertakan.)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Rhinotrakeitis sapi infeksius (bahasa Inggris: infectious bovine rhinotracheitis, disingkat IBR) adalah penyakit menular pada sapi dan beberapa hewan lain yang disebabkan oleh virus Bovine alphaherpesvirus 1 (BoHV-1). Virus ini dapat menyerang sapi dengan berbagai manifestasi klinis, seperti gangguan sistem pernapasan, sistem reproduksi, mata, dan otak. Selain sapi dan kerbau, penyakit ini juga ditemukan pada kambing, babi, bagal, dan rusa.

Bentuk penyakit

Infeksi BoHV-1 dapat menyebabkan berbagai bentuk penyakit:

  • Pada bentuk pernapasan, tanda klinis yang muncul bervariasi tergantung pada derajat keparahan penyakit, seperti rhinitis, trakeitis (radang trakea), demam tinggi, leleran dari hidung, salivasi berlebih, batuk, dan dapat terjadi infeksi sekunder oleh bakteri yang menyebabkan pneumonia.
  • Pada bentuk reproduksi, penyakit ini disebut vulvovaginitis pustular infeksius (infectious pustular vulvovaginitis, disingkat IPV). Terjadi balanopostitis (radang kepala penis) pada hewan jantan, sedangkan hewan betina mengalami pembengkakan vulva dan keluarnya cairan kental. Keguguran dapat terjadi pada trisemester terakhir.
  • Pada bentuk konjungtival terjadi edema pada kornea dan keluarnya cairan dari konjungtiva.
  • Pada bentuk ensefalitik ditemukan pada anak sapi berumur 2-3 bulan yang ditandai dengan meningitis dan ensefalitis.
  • Pada bentuk neonatal, infeksi terjadi sejak sapi masih berada dalam kandungan. Anak sapi yang lahir mengalami diare yang persisten, demam, anoreksia, depresi, dispnea, dan keluarnya cairan dari mata.

Diagnosis

Penegakan diagnosis dilakukan berdasarkan melihat tanda klinis, perubahan patologis, serta pengujian laboratorium. Pemeriksaan histopatologi, isolasi virus, dan uji antibodi fluoresen (FAT) dilakukan untuk mengidentifikasi BoHV-1. Deteksi antibodi dilakukan dengan uji netralisasi serum (SN), uji difusi gel agar (AGDT), atau uji fiksasi komplemen (CFT).

Penularan

Penyakit IBR/IPV dapat ditularkan baik secara vertikal (dari induk ke anak sapi dalam kandungan) dan secara horizontal (antarhewan). Penularan horizontal terjadi melalui inhalasi cairan hidung yang mengandung virus dan melalui hubungan reproduksi.

Pencegahan dan pengendalian

Vaksinasi, menjaga kebersihan dan sanitasi kandang dilakukan untuk mencegah IBR. Pemberian antibiotika dan terapi suportif seperti pemberian vitamin dilakukan untuk mengobati infeksi sekunder akibat bakteri.

Catatan kaki

Daftar pustaka dan bacaan lanjutan


Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 16592140 (2020-02-25T13:30:52Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.