Lompat ke isi

Manajemen ekosistem

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 7 September 2026 22.50 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28672138; atribusi sumber disertakan.)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Manajemen ekosistem adalah pendekatan terhadap manajemen sumber daya alam yang bertujuan untuk memastikan keberlanjutan dan keberlangsungan jangka panjang fungsi dan layanan ekosistem sambil memenuhi kebutuhan sosial ekonomi, politik, dan budaya. Meskipun masyarakat adat telah menerapkan pendekatan manajemen ekosistem berkelanjutan secara implisit selama ribuan tahun, manajemen ekosistem muncul secara eksplisit sebagai konsep formal pada tahun 1990-an dari apresiasi yang semakin besar terhadap kompleksitas ekosistem dan ketergantungan serta pengaruh manusia terhadap sistem alam (misalnya, gangguan dan ketahanan ekologi).

Berdasarkan pengelolaan sumber daya alam tradisional, pengelolaan ekosistem mengintegrasikan pengetahuan dan prioritas ekologi, sosial ekonomi, dan kelembagaan melalui partisipasi pemangku kepentingan yang beragam. Berbeda dengan pendekatan komando dan kendali dalam pengelolaan sumber daya alam, yang seringkali menyebabkan penurunan ketahanan ekologi, pengelolaan ekosistem merupakan metode holistik dan adaptif untuk mengevaluasi dan mencapai ketahanan dan keberlanjutan. Dengan demikian, implementasinya bergantung pada konteks dan dapat mengambil sejumlah bentuk, termasuk pengelolaan adaptif, pengelolaan strategis, dan konservasi skala lanskap.

Formulasi

Istilah “pengelolaan ekosistem” diresmikan pada tahun 1992 oleh F. Dale Robertson, mantan Kepala Dinas Kehutanan AS. Robertson menyatakan, “Yang kami maksud dengan pengelolaan ekosistem adalah pendekatan ekologis" [yang] harus memadukan kebutuhan manusia dan nilai-nilai lingkungan sedemikian rupa sehingga Hutan dan Padang Rumput Nasional mewakili ekosistem yang beragam, sehat, produktif, dan berkelanjutan.

Terdapat berbagai definisi tambahan mengenai manajemen ekosistem. Sebagai contoh, Robert T. Lackey menekankan bahwa manajemen ekosistem diinformasikan oleh faktor ekologi dan sosial, dimotivasi oleh manfaat sosial, dan diimplementasikan dalam jangka waktu dan wilayah tertentu. F. Stuart Chapin dan rekan penulis menekankan bahwa manajemen ekosistem dipandu oleh ilmu ekologi untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang layanan ekosistem, sementara Norman Christensen dan rekan penulis menekankan bahwa hal itu dimotivasi oleh tujuan yang ditentukan, menggunakan praktik adaptif, dan memperhitungkan kompleksitas sistem ekologi. Peter Brussard dan rekan menekankan bahwa manajemen ekosistem menyeimbangkan pelestarian kesehatan ekosistem sambil mempertahankan kebutuhan manusia.

Sebagai sebuah konsep pengelolaan sumber daya alam, pengelolaan ekosistem masih ambigu dan kontroversial, sebagian karena beberapa formulasinya didasarkan pada kebijakan dan pernyataan ilmiah yang kontroversial. Pernyataan-pernyataan ini penting untuk memahami sebagian besar konflik seputar pengelolaan ekosistem. Misalnya, beberapa pihak berpendapat bahwa pengelola sumber daya alam profesional, yang biasanya beroperasi di dalam birokrasi pemerintah dan organisasi profesional, menutupi perdebatan atas pernyataan kontroversial tersebut dengan menggambarkan pengelolaan ekosistem sebagai evolusi dari pendekatan pengelolaan sebelumnya.

Referensi

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28672138 (2025-12-07T11:24:54Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.