Hipatia

Hipatia (lahir antara 350 dan 370; meninggal tahun 415) adalah seorang filsuf, astronom, dan matematikawan Helenistik yang tinggal di kota Aleksandria, Mesir, yang pada masa itu merupakan bagian dari Kekaisaran Romawi Timur. Ia merupakan filsuf aliran neoplatonisme di Aleksandria, tempat ia mengajar ilmu filsafat dan astronomi. Ia adalah matematikawan wanita pertama dengan keterangan sejarah yang cukup mudah untuk ditemui. Hipatia dikenal pada masanya sebagai seorang guru besar dan penasihat yang bijaksana. Ia pernah menulis sebuah ulasan untuk Aritmetika karya Diofantos yang terdiri atas tiga belas jilid, dan ulasan ini telah disisipkan ke dalam naskah aslinya. Ia juga pernah membuat ulasan untuk risalah Apolonios dari Perga mengenai irisan kerucut, tetapi ulasan ini sudah hilang ditelan zaman. Banyak ahli modern yang meyakini bahwa Hipatia mungkin pernah menyunting naskah Almagest karya Ptolemaios berdasarkan judul ulasan buatan ayahnya, Theon, untuk Buku III Almagest.
Riwayat
Keluarga dan tahun kelahiran
Hipatia adalah putri dari matematikawan Theon dari Aleksandria (lahir sekitar tahun 335 – meninggal sekitar tahun 405 M). Menurut sejarawan klasik Edward J. Watts, Theon adalah kepala sekolah "Mouseion", dengan nama yang meniru Mouseion dari zaman Helenistik. Sekolah Theon bersifat eksklusif, sangat bergengsi, dan secara doktrin beraliran konservatif. Theon menolak ajaran Iamblikos yang banyak dianut pada masa itu, dan ia mungkin bangga akan neoplatonisme "murni" seperti yang diajarkan oleh Plotinos sekitar satu abad sebelumnya. Walaupun ia dianggap sebagai matematikawan terkemuka pada masanya, karya-karya Theon di bidang matematika jika dilihat dengan kacamata modern dapat dianggap "kecil", "biasa", dan "sangat tidak orisinal". Pencapaian utamanya adalah dalam memproduksi edisi baru Elemen karya Euklides, dan ia telah memperbaiki kesalahan penulisan yang telah dilakukan dalam proses penyalinan selama hampir 700 tahun. Elemen yang disunting oleh Theon menjadi buku teks yang paling sering digunakan selama berabad-abad dan menggantikan hampir semua edisi lain.
Sementara itu, sama sekali tidak ada keterangan mengenai ibu kandung Hipatia. Theon mempersembahkan ulasannya dalam Buku IV Almagest karya Ptolemaios kepada seseorang yang bernama Epifanios, dan ia menyebutnya "putraku sayang", sehingga terdapat kemungkinan bahwa ia adalah saudara kandung Hipatia. Namun, dalam bahasa Yunani, istilah teknon yang dipakai oleh Theon tidak selalu berarti "anak lelaki" dalam artian biologis, tetapi hanya digunakan untuk mengungkapkan hubungan seperti ayah-anak yang mendalam. Tahun kelahiran Hipatia sendiri masih diperdebatkan, dengan usulan tahun yang berkisar dari 350 hingga 370 M. Banyak cendekiawan yang telah mengikuti penalaran Richard Hoche bahwa Hipatia lahir sekitar tahun 370. Menurut deskripsi dalam Kehidupan Isidoros karya sejarawan neoplatonis Damaskios (kelahiran sekitar tahun 458 – kematian sekitar tahun 538) yang kini sudah hilang (tetapi masih tersimpan dalam lema mengenai Hipatia dalam Suda, sebuah ensiklopedia Romawi Timur dari abad ke-10), Hipatia hidup pada masa kekuasaan Kaisar Arkadius di wilayah timur Kekaisaran Romawi (berkuasa 395-408). Hoche berpendapat bahwa cara Damaskios menggambarkan kecantikan Hipatia menyiratkan bahwa ia berumur maksimal 30 tahun pada masa itu, dan tahun 370 itu 30 tahun sebelum pertengahan tahun kekuasaan Arkadius. Di sisi lain, hipotesis bahwa ia lahir tahun 350 didasarkan pada tulisan Ioannes Malalas (lahir sekitar tahun 491 – meninggal tahun 578), yang menyebut Hipatia sebagai wanita tua pada masa kematiannya pada tahun 415. Robert Penella sendiri berpendapat bahwa kedua hipotesis ini tidak memiliki dasar yang kuat, dan tahun kelahiran Hipatia sebaiknya tetap dibiarkan kosong daripada harus menduga-duga.
Karier
Hipatia adalah seorang neoplatonis. Namun, seperti ayahnya, ia menolak ajaran Iamblikos dan mendukung neoplatonisme "asli" yang dikemukakan oleh Plotinos. Mazhab Aleksandria saat itu dikenal akan filsafatnya, dan Aleksandria dianggap sebagai pusat filsafat kedua di dunia Yunani-Romawi setelah Athena. Hipatia mengajar siswa dari berbagai kawasan Mediterania, meskipun tidak diketahui apakah ia memiliki murid wanita. Menurut Damaskios, ia menyampaikan ceramah mengenai tulisan Plato dan Aristoteles. Ia juga mengatakan bahwa Hipatia berjalan di Aleksandria sembari mengenakan tribon (semacam jubah yang dikaitkan dengan para filsuf) dan ia memberikan ceramah kepada umum secara impromptu. Walaupun ayahnya, Theon, telah disebut sebagai anggota Mouseion dan keanggotaan di lembaga tersebut bisa diwariskan, tidak diketahui secara pasti apakah Hipatia juga menjadi anggota lembaga ini. Tidak ada sumber yang menunjukkan bahwa Hipatia pernah memegang status semacam itu, dan cara Damaskios menjelaskan gaya pengajaran Hipatia tidak sesuai dengan anggapan bahwa Hipatia mengajar layaknya dosen universitas pada zaman modern. Meskipun ia bisa mengajar di tempat mana pun, terdapat juga kemungkinan bahwa ia mewarisi ruang mengajar dari ayahnya. Hipatia sendiri tampaknya merupakan adalah seorang guru yang mau menerima semua orang, dan siapa pun yang ingin mendengarkan ceramahnya diperbolehkan ikut. Plato dan Plotinos juga memiliki pendekatan seperti itu, tetapi hal ini sudah jarang ditemui pada abad keempat Masehi. Sebagai contoh, pakar retorika Libanios dan Himerios tampaknya mewawancara calon murid terlebih dahulu sebelum diperbolehkan bergabung dengan sekolah mereka.
Sejarawan matematika Michael A. B. Deakin berpendapat bahwa menstruasi yang dialami Hipatia merupakan bukti bahwa ia berselibat, karena ia mengeklaim bahwa pada zaman kuno, siklus menstrual pertama biasanya muncul pada masa ketika wanita masuk usia menikah dan lebih terlambat bila dibandingkan dengan para wanita di negara-negara maju saat ini. Mengingat saat itu tidak ada metode pengendalian kelahiran yang terandalkan, Deakin meyakini bahwa menstruasi merupakan hal yang jarang bagi wanita yang tidak berselibat. Namun, klaim ini dibantah oleh ahli Mesir Kuno Charlotte Booth. Ia menegaskan bahwa teks-teks Firaun menyebut soal amenorea, yaitu kondisi tidak adanya haid yang dianggap sebagai suatu keanehan, dan rumah-rumah di Mesir pada zaman Helenistik memiliki ruangan di bawah tangga yang disebut "ruangan wanita" yang dipakai khusus bagi wanita untuk bernaung saat mereka sedang menstruasi. Kedua hal ini tidak cocok dengan hipotesis Deakin bahwa menstruasi itu "jarang terjadi". Selain itu, siklus menstrual pertama pada zaman Mesir Kuno maupun pada zaman sekarang berlangsung pada kisaran waktu yang sama, yang berubah hanyalah usia menikah untuk wanita. Maka dari itu, Booth menganggap menstruasi yang dialami Hipatia bukan bukti bahwa ia berselibat, tetapi justru menunjukkan "femininitas dan bahkan kesuburan".
Matematikawan Kanada Ari Belenkiy mengeklaim bahwa Hipatia mungkin terlibat dalam kontroversi sehubungan dengan penanggalan hari Paskah pada tahun 417 dan ia dibunuh pada titik musim semi matahari ketika ia sedang melakukan pengamatan astronomi. Namun, pakar sejarah klasik seperti Alan Cameron dan Edward J. Watts menolak klaim ini dan menekankan bahwa sama sekali tidak ada bukti yang menopang pernyataan Belenkiy.
Dampak
Kematian Hipatia mengguncang kekaisaran; selama berabad-abad, filsuf dipandang sebagai sosok yang tak dapat disentuh walaupun sedang terjadi kekerasan di kota-kota Romawi, dan pembunuhan seorang filsuf wanita oleh para gerombolan dianggap sebagai suatu hal yang "amat berbahaya dan mengacaukan". Walaupun tidak ada bukti nyata yang benar-benar mengaitkan Kirilos dengan pembunuhan Hipatia, muncul kecurigaan bahwa ia adalah orang yang telah memerintahkan pembunuhan tersebut. Jika Kirilos memang tidak pernah mengeluarkan perintah semacam ini, kampanye hitamnya terhadap Hipatia telah mengakibatkan peristiwa ini, dan penulis Ioannes Malalas pada pertengahan abad keenam bahkan mengkritik Kirilos karena telah membiarkan orang-orangnya menyerang Hipatia. Tindakan Kirilos membuat khawatir Dewan Aleksandria, dan dewan tersebut mengirim utusan ke Konstantinopel, ibu kota Kekaisaran Romawi Timur. Para penasihat Theodosius II melancarkan penyelidikan untuk menentukan apakah Kirilos terlibat dalam peristiwa pembunuhan ini atau tidak.
Setelah dilakukannya penyelidikan ini, kaisar barat Honorius dan kaisar timur Theodosius II mengeluarkan sebuah maklumat pada musim gugur tahun 416 yang mencoba melepaskan parabalani dari wewenang Kirilos dan menyerahkannya kepada Orestes. Maklumat ini juga menyatakan bahwa parabalani tidak boleh menghadiri "pertunjukan umum apapun" atau masuk ke "ruang pertemuan sebuah dewan kota atau ruang pengadilan". Maklumat ini juga sangat mempersulit proses perekrutan anggota baru dengan membatasi jumlah maksimal anggota parabalani menjadi lima ratus. Kirilos sendiri konon berhasil lolos dari hukuman yang lebih berat dengan menyuap salah satu pejabat Theodosius II. Walaupun begitu, Watts berpendapat bahwa pembunuhan Hipatia makin memuluskan upaya Kirilos untuk menguasai Aleksandria. Hipatia merupakan sosok yang menyatukan para pendukung Orestes dalam menghadapi Kirilos, dan tanpa adanya Hipatia, gerakan perlawanan dengan cepat sirna. Dua tahun sesudahnya, Kirilos membatalkan hukum yang menyerahkan kendali parabalani kepada Orestes, dan pada awal dasawarsa 420-an, Kirilos telah mendominasi Dewan Aleksandria.
Karya
Pada masa hidupnya, Hipatia kemungkinan lebih berperan sebagai guru dan komentator alih-alih penemu. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Hipatia pernah menerbitkan karyanya sendiri mengenai filsafat, dan tampaknya ia juga tidak pernah membuat penemuan matematika yang mengguncang para ilmuwan. Para cendekiawan pada masa Hipatia memang terbiasa menyimpan karya-karya klasik mengenai matematika dan merumuskan ulasan untuk mengembangkan argumen mereka alih-alih menerbitkan karya sendiri. Terdapat kemungkinan pula bahwa penutupan Mouseion dan penghancuran Serapeion telah mendorong Hipatia untuk mencurahkan segala upayanya untuk melestarikan buku-buku matematika dan memastikan agar buku-buku tersebut dapat dibaca murid-muridnya. Ensiklopedia Suda membuat pernyataan yang salah bahwa semua tulisan Hipatia sudah hilang ditelan zaman, tetapi para ahli modern telah menemukan beberapa tulisan yang mungkin adalah karyanya. Para ahli lazim menemui ketidakpastian semacam ini saat mengkaji para filsuf wanita dari zaman kuno. Hipatia menulis dalam bahasa Yunani, yang merupakan bahasa yang dituturkan oleh sebagian besar orang terdidik di kawasan Mediterania Timur pada saat itu. Pada zaman kuno, astronomi adalah bagian dari matematika. Selain itu, pada masa itu juga tidak ada perbedaan antara matematika dengan numerologi atau astronomi dengan astrologi.
Menyunting Almagest
Hipatia pernah menyunting naskah Buku III Almagest karya Ptolemaios. Sebelumnya para ahli pernah menduga bahwa Hipatia hanya sekadar merevisi ulasan Theon untuk buku ketiga Almagest, sesuai dengan judulnya "Ulasan oleh Theon dari Aleksandria mengenai Buku III Almagest karya Ptolemaios, edisi yang direvisi oleh putriku Hipatia, sang filsuf". Namun, berdasarkan hasil analisis terhadap judul ulasan-ulasan karya Theon lainnya dan judul-judul serupa dari zaman tersebut, para ahli menyimpulkan bahwa Hipatia tidak membenarkan ulasan ayahnya, tetapi naskah dari Almagest itu sendiri. Hipatia diduga telah bersumbangsih terhadap ilmu pengetahuan dengan membuat metode yang lebih baik untuk algoritme pembagian bersusun yang diperlukan untuk melakukan perhitungan astronomi. Ptolemaios sendiri mengembangkan model geosentris, yaitu model yang menyatakan bahwa Matahari mengelilingi Bumi. Dalam Almagest, Ptolemaios mencetuskan masalah pembagian untuk menghitung jumlah derajat yang dilalui oleh Matahari dalam satu hari saat mengorbit Bumi. Dalam ulasan awalnya, Theon mencoba memperbaiki perhitungan pembagian Ptolemaios. Dalam naskah yang disunting oleh Hipatia, ia merincikan sebuah metode tabel. Metode tabel ini mungkin merupakan "tabel astronomis" yang dikembangkan oleh Hipatia menurut sumber-sumber sejarah. Sementara itu, sejarawan klasik Alan Cameron menambahkan bahwa terdapat kemungkinan Hipatia tidak hanya menyunting Buku III, tetapi kesembilan buku Almagest yang masih ada hingga kini.
Tulisan-tulisan sendiri
Hipatia menulis sebuah ulasan untuk Aritmetika karya Diofantos yang terdiri dari tiga belas jilid dan ditulis sekitar tahun 250 M. Karya Diofantos ini menjabarkan lebih dari 100 soal matematika, dan jawabannya disusun menggunakan aljabar. Selama berabad-abad, para ahli mengira bahwa ulasan Hipatia untuk karya ini sudah hilang. Hanya jilid satu Aritmetika yang masih ada dalam bahasa Yunani. Walaupun begitu, empat jilid lainnya masih ada hingga kini berkat terjemahan ke dalam bahasa Arab yang dibuat sekitar tahun 860. Naskah Arabnya mengandung tambahan-tambahan yang tidak ada dalam naskah berbahasa Yunani, termasuk pemastian terhadap contoh-contoh Diofantos dan soal-soal tambahan.
Cameron mengatakan bahwa kemungkinan besar sumber tambahan ini merupakan karya Hipatia, karena ia adalah satu-satunya penulis kuno yang diketahui pernah menulis sebuah ulasan untuk Aritmetika, dan isi yang ditambah juga menggunakan metode yang sama dengan ayahnya, Theon. Orang pertama yang menarik kesimpulan bahwa isi tambahan dalam naskah-naskah Arab merupakan karya Hipatia adalah seorang ahli dari abad ke-19 yang bernama Paul Tannery. Pada tahun 1885, Sir Thomas Heath menerbitkan terjemahan pertama Aritmetika dalam bahasa Inggris. Heath berpendapat bahwa naskah Aritmetika yang masih ada sebenarnya merupakan edisi yang dipakai oleh Hipatia untuk mengajarkan murid-muridnya. Menurut Mary Ellen Waithe, Hipatia memakai algoritme pembagian yang tidak biasa (dalam sistem bilangan seksagesimal yang menjadi standar pada masa itu), sehingga memudahkan para ahli untuk menentukan bagian naskah mana yang ditulis Hipatia.
Konsensus ini telah dipertentangkan oleh Wilbur Knorr, seorang sejarawan matematika yang berpendapat bahwa materi tambahan yang disisipkan "sangat rendahan sehingga tidak membutuhkan wawasan matematika yang sesungguhnya". Menurutnya, orang yang menambahkan materi ini kemungkinan "memiliki pemikiran yang biasa-biasa saja... berlawanan dengan pengakuan-pengakuan dari zaman kuno mengenai mutu Hipatia yang mumpuni sebagai filsuf dan matematikawan." Cameron menolak argumen ini dan menyatakan bahwa "Theon juga memiliki reputasi yang tinggi, tetapi karyanya yang masih ada dianggap 'sangat tidak orisinal'." Cameron juga bersikeras bahwa "Karya Hipatia mengenai Diofantos adalah apa yang kita sebut edisi sekolah untuk saat ini, yang dirancang untuk murid-murid dan bukan untuk matematikawan profesional."
Hipatia juga menulis sebuah ulasan untuk karya Apolonios dari Perga mengenai irisan kerucut, tetapi ulasan ini sudah hilang ditelan zaman. Ia juga pernah menyusun sebuah "kanon astronomis", yang diyakini merupakan edisi baru Tabel-tabel Berguna karya Ptolemaios atau mungkin adalah ulasan untuk Almagest. Berdasarkan hasil pembacaan secara saksama bila dibandingkan dengan penyisipan dalam karya Diofantos, Knorr mengusulkan bahwa Hipatia mungkin juga pernah menyunting Pengukuran Lingkaran karya Archimedes, serta sebuah teks anonim yang membahas figur-figur isometrik dan sebuah naskah yang kelak digunakan oleh John dari Tynemouth dalam karyanya mengenai pengukuran bola oleh Archimedes. Dibutuhkan kemampuan matematika yang sangat tinggi untuk membuat "kanon astronomis" atau ulasan mengenai karya Apolonios. Oleh sebab itu, sebagian besar sejarawan saat ini berkeyakinan bahwa Hipatia adalah salah satu matematikawan terbaik pada masanya.
Mitos penemuan
Salah satu surat yang dikirim oleh Sinesios menyebutkan bahwa Hipatia pernah mengajarkannya cara membuat sebuah astrolab datar perak untuk dihadiahkan kepada seorang pejabat. Astrolab adalah sebuah alat yang dipakai untuk menghitung tanggal dan waktu berdasarkan posisi bintang dan planet. Alat ini juga dapat dipakai untuk memprediksi posisi bintang dan planet pada tanggal tertentu. Astrolab datar adalah jenis astrolab yang memakai teknik proyeksi stereografik untuk memproyeksikan langit-langit pada bidang datar, berbeda dengan bola armiler yang berbentuk seperti bola dunia. Bola armiler berukuran besar dan biasanya dijadikan hiasan, sementara astrolab datar dapat dibawa ke berbagai tempat untuk melakukan pengukuran.
Pernyataan Sinesios telah menimbulkan kesalahpahaman di kalangan umum bahwa Hipatia adalah penemu astrolab datar, padahal benda ini sudah digunakan paling tidak 500 tahun sebelum Hipatia dilahirkan. Hipatia mungkin belajar cara membuat alat ini dari ayahnya, Theon, yang telah menulis dua risalah mengenai astrolab: salah satunya berjudul Laporan mengenai Astrolab Kecil dan yang lainnya adalah kajian bola armiler dalam Almagest karya Ptolemaios. Risalah Theon kini sudah hilang ditelan zaman, tetapi keberadaannya diketahui oleh sejarawan berkat Uskup Siria Severus Sebokht (575–667), yang menerangkan isinya dalam risalahnya sendiri mengenai astrolab. Hipatia dan Theon mungkin juga pernah mempelajari Planisphaerium karya Ptolemaios yang menerangkan perhitungan-perhitungan yang diperlukan untuk membuat sebuah astrolab. Kata-kata yang dipilih oleh Sinesios menunjukkan bahwa Hipatia tidak merancang atau membangun astrolab itu sendiri, tetapi hanya menjadi pemandu dan pengajar dalam proses pembuatannya.
Dalam suratnya yang lain, Sinesioes meminta kepada Hipatia untuk membuatkan sebuah "hidroskop" (alat yang kini dikenal dengan nama hidrometer) untuk menentukan kepadatan cairan. Akibat permintaan ini, muncul klaim bahwa Hipatia adalah penemu hidrometer. Namun, Sinesios menjelaskan alat ini dengan amat mendalam, sehingga terdapat kemungkinan bahwa Hipatia belum pernah tahu soal alat tersebut, dan Sinesios mungkin percaya bahwa Hipatia mampu membuatnya dari deskripsi tersebut. Walaupun para penulis modern sering menyebut Hipatia sebagai penemu berbagai macam alat, klaim-klaim ini tidak berdasar. Booth menyimpulkan, "Reputasi Hipatia pada zaman modern sebagai filsuf, matematikawan, astronom, dan penemu mekanik tidaklah sebanding dengan bukti yang masih ada mengenai pencapaiannya. Reputasi ini dilandaskan pada mitos atau kabar burung dan bukan bukti. Antara itu, atau kita semua kehilangan semua bukti yang dapat memperkuatnya."
Sementara itu, Damaskios "sangat ingin memanfaatkan skandal kematian Hipatia", dan ia menuduh Uskup Kirilos dan para pengikutnya sebagai dalang pembunuhan. Bagian dari Kehidupan Isidoros karya Damaskios yang terabadikan oleh ensiklopedia Suda menyimpulkan bahwa Hipatia dibunuh akibat kecemburuan Kirilos akan "kebijaksanaan [Hipatia] yang melampaui segala batas dan khususnya dalam hal yang terkait dengan astronomi". Deskripsi pembunuhan Hipatia yang ditulis oleh Damaskios adalah satu-satunya sumber sejarah yang secara langsung menyalahkan Uskup Kirilos. Pada saat yang sama, Damaskios juga tidak selalu memuji-muji Hipatia; ia menggambarkannya sebagai sosok beraliran sinisisme yang berkelana. Ia juga membandingkannya dengan gurunya sendiri, Isidoros dari Aleksandria, dan mengatakan bahwa "Isidoros jauh lebih cemerlang daripada Hipatia, tidak hanya seperti lelaki lebih baik dari wanita, tetapi seperti bagaimana seorang filsuf sejati lebih baik daripada seorang geometer jelata."
Ensiklopedia Suda dari Romawi Timur menceritakan dua kisah kehidupan Hipatia yang berbeda. Sebelas baris pertama berasal dari satu sumber dan sisanya diambil dari Kehidupan Isidoros karya Damaskios. Kebanyakan dari sebelas baris pertamanya kemungkinan berasal dari Onomatolos karya Hesikios, tetapi beberapa bagian tidak diketahui asal-usulnya, termasuk klaim bahwa Hipatia adalah "istri Isidoros sang Filsuf" (kemungkinan Isidoros dari Aleksandria). Watts menyatakan bahwa klaim ini amat membingungkan, karena Isidoros dari Aleksandria lahir jauh sesudah kematian Hipatia, sementara tidak ada filsuf lain pada zaman Hipatia yang diketahui memiliki nama seperti itu. Selain itu, klaim ini juga bertentangan dengan pernyataan Damaskios yang dikutip di rincian yang sama mengenai keperawanan Hipatia. Watts menduga bahwa seseorang mungkin salah mengartikan kata gynē yang dipakai oleh Damaskios untuk mendeskripsikan Hipatia dalam Kehidupan Isidoros, karena kata ini dapat berarti "wanita" atau "istri".
Cendekiawan Romawi Timur Fotios ( 810/820–893) memasukkan tulisan Damaskios mengenai Hipatia dan tulisan Sokrates Skolastikos dalam karyanya yang bertajuk Bibliotheke. Fotios mengomentari kemasyhuran Hipatia sebagai seorang cendekiawan, tetapi tidak menyebut soal kematiannya, kemungkinan karena ia merasa karya Hipatia lebih penting untuk dibahas. Cendekiawan Eudokia Makrembolitissa (1021–1096), yang merupakan istri Kaisar Romawi Timur Konstantinos X Doukas, disebut sebagai "Hipatia kedua" oleh sejarawan Nikeforos Grigoras.
Abad ke-20
Pada tahun 1908, penulis Amerika Serikat Elbert Hubbard menerbitkan buku biografi Hipatia sebagai bagian dari seri Little Journeys to the Homes of Great Teachers. Walaupun ia mengeklaim karyanya sebagai sebuah biografi, buku ini hampir sepenuhnya bersifat fiksi. Di dalamnya, Hubbard mengarang kisah soal program olahraga yang menurutnya dibuatkan oleh Theon untuk putrinya, yaitu "memancing, berkuda, dan mendayung". Ia mengeklaim bahwa Theon memberikan wejangan kepada Hipatia, "Jagalah hakmu untuk berpikir, karena berpikir salah itu lebih baik daripada tidak berpikir sama sekali." Hubbard juga menceritakan bagaimana Hipatia muda mendatangi Athena dan menjadi murid filsuf Plutarkos. Ini semua hanyalah fiksi dan sama sekali tidak pernah disebutkan dalam sumber sejarah kuno. Hubbard bahkan mengarang kutipan-kutipan dengan sudut pandang rasionalis yang diklaim sebagai kutipan Hipatia. Meskipun begitu, gambar di sampul buku ini (yaitu gambar Hipatia sebagai seorang wanita muda yang cantik karya seniman Jules Maurice Gaspard) telah menjadi gambar Hipatia yang paling dikenal dan paling sering direproduksi.
Mengingat Hipatia adalah seorang cendekiawan wanita, ia menjadi teladan bagi wanita cerdas pada zaman modern, dan ada dua jurnal feminis yang mengambil nama darinya: jurnal Yunani Hypatia: Feminist Studies diluncurkan di Athena pada tahun 1984, dan Hypatia: A Journal of Feminist Philosophy diluncurkan di Amerika Serikat pada tahun 1986. Sejak tahun 1996, Yayasan Hypatia Trust di Britania Raya telah membuat sebuah perpustakaan dan arsip untuk mengumpulkan pencapaian-pencapaian wanita dalam bidang sastra, seni, dan ilmu pengetahuan. Yayasan ini juga terkait dengan yayasan yang mendirikan "Hypatia-in-the-Woods" di negara bagian Washington yang merupakan tempat bagi para wanita untuk mencari ketenangan dan menghabiskan waktu untuk mengerjakan proyek-proyek.
Seni berskala besar karya Judy Chicago yang bertajuk The Dinner Party memberikan sebuah meja kepada Hipatia. Meja Hipatia dihiasi dengan rancangan Koptik dan kepala seorang dewi Helenistik yang membentuk tulisan "H" di namanya. Di sepanjang taplak mejanya, tampak dewi-dewi Helenistik lainnya yang menangisi kematian Hipatia. Saat mendeskripsikan meja yang diberikan untuk Hipatia, Chicago mengatakan bahwa kerusuhan yang berujung pada pembunuhan Hipatia secara langsung diakibatkan oleh patriarki Romawi dan penganiayaan wanita, dan menurutnya kerusuhan yang masih terjadi saat ini hanya dapat diakhiri dengan mengembalikan matriarki yang pernah ada pada mulanya. Ia juga menganggap Kirilos sebagai dalang pembunuhan Hipatia dan menyimpulkan bahwa semua tulisan Hipatia telah hangus terbakar di Perpustakaan Aleksandria. Sementara itu, karya-karya sastra besar pada abad ke-20 yang menyebutkan Hipatia meliputi À la recherche du temps perdu karya Marcel Proust dan The Dream of Scipio karya Iain Pears.
Di bidang astronomi, Hipatia telah diabadikan sebagai nama sebuah asteroid sabuk utama yang ditemukan pada tahun 1884, yaitu 238 Hypatia. Kawah bulan Hypatia juga dinamai darinya, dan ada pula kawah bulan lain yang mengambil nama dari ayahnya, Theon. Selain itu, di sebelah utara kawah Hipatia, terdapat kenampakan Rimae Hypatia dengan panjang 180 km yang terbentang di Mare Tranquillitatis.
Catatan penjelas
Daftar pustaka
Bacaan lanjut
- . See also The Life of Hypatia from The Suda (Jeremiah Reedy, trans.), pp. 57–58, The Life of Hypatia by Socrates Scholasticus from his Ecclesiastical History 7.13, pp. 59–60, and The Life of Hypatia by John, Bishop of Nikiu, from his Chronicle 84.87–103, pp. 61–63.
- .
Pranala luar
- International Society for Neoplatonic Studies
- Sokrates dari Konstantinopel, Ecclesiastical History, VII.15, di situs Internet Archive
- Sokrates dari Konstantinopel, Ecclesiastical History, VII.15 (hlm. 760–761), di situs Documenta Catholica Omnia
- Keterangan mengenai Hipatia di ensiklopedia Suda
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29287231 (2026-05-29T07:03:59Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.