Serat Jaka Rusul
Dalam Naskah ini terdapat dua tokoh yang menjadi ikon dalam pertentangan dua agama yaitu Pokol dan Pukul. Serat Jaka Rusul tergolong dalam salah satu sastra Jawa klasik. Dalam koleksi Javanologi, Serat Jaka Rusul memiliki identitas No. Inv. 72/B/1983 dengan jumlah halaman 290 halaman. Tebal naskah 1,5 cm, panjang 16 cm, dan lebar 21,5 cm. Bahasa yang digunakan dalam dalam Serat Jaka Rusul yaitu bahasa Jawa baru dengan ragam bahasa Jawa krama dan ngoko.
Serat ini terdiri dari dua bagian yaitu Udwaraja dan Widya Laksita. Udwaraja merupakan bagian pertama serat yang dimulai dari halaman awal hingga 173 dalam manuskrip. Kata "udwa" diartikan sebagai 'udara' atau 'angin'[1] Maksud dari arti tersebut adalah Serat Jaka Rusul disusun atas perintah Susuhnan Pakubuwono X. Bagian pertama naskah ini menggambarkan kondisi masyarakat Jawa ketika Islam mulai masuk. Widya Laksita merupakan bagian kedua serat yang dimulai pada halaman 181 hingga 291.
Serat dituliskan dalam bentuk tembang macapat diantarnya, Asmaradana, Sinom, Pucung, Gambuh, Durma, Dhandhanggula, Sinom, Megatruh, Kinanthi, Pangkur, Maskumambang, dan Mijil. Serat Jaka Rusul. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1992.</ref> Kedua bagian naskah berisikan nasihat dan petuah sehingga manusia dapat membedakan antara perbuatan jahat dan perbuatan terpuji.
Referensi
- ↑ dkk Sukardi. Serat Jaka Rusul. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1992.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 25032681 (2023-12-19T12:35:39Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.