Lompat ke isi

Blunder merek

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 23 Agustus 2026 22.40 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29450842; atribusi sumber disertakan.)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Blunder merek adalah sebuah kesalahan yang dikaitkan dengan penamaan merek dari sebuah produk, khususnya sebuah produk di sebuah pasar baru. Alasannya karena kurangnya pemahaman bahasa, budaya dan sikap pelanggan di pasar baru tersebut.

Terdapat sejumlah contoh blunder merek dalam riwayat pemasaran. Terdapat juga sejumlah legenda urban terkait blunder merek, di mana hanya sedikit bukti dari blunder yang sebenarnya.

Masalah merek internasional

Masalah dengan branding produk internasional sering dikaitkan dengan proses lokalisasi bahasa, di mana nama merek produk atau slogan iklan membawa arti yang berbeda dalam bahasa target pasar. Selain aspek kebahasaan, masalah kepekaan budaya dapat memengaruhi kesuksesan sebuah merek.

Ini adalah risiko yang dihadapi oleh perusahaan yang memasuki pasar baru. Dalam pemasaran internasional, nama merek harus khas dan mudah diucapkan di berbagai pasar, tetapi tidak boleh memiliki konotasi negatif atau cabul yang tidak diinginkan. Risiko ini biasanya dikurangi dengan memasukkan penelitian budaya ke dalam strategi branding.

Kasus nyata

Bahasa Inggris

Contoh nama merek yang terbukti tidak cocok untuk digunakan di negara-negara berbahasa Inggris termasuk:

Bahasa Indonesia

  • Pada 2011, Dell Lattitude ST (bernama kode Peju) bocor di Internet dan menimbulkan berbagai reaksi dari para warganet Indonesia, karena "Peju" memiliki arti air mani dalam slang Indonesia.
  • Pada 2019, aplikasi kecerdasan bisnis Kontool memutuskan untuk memberikan nama baru kepada mereknya karena kata "Kontool" memiliki kesamaan dengan kata "kontol" yang artinya "penis" dalam slang Indonesia.
  • Memex, memiliki kemiripan pengucapan dalam bahasa Indonesia dengan kata "memek".
  • Sangean, perusahaan elektronik Taiwan yang memiliki arti "manusia yang mudah berahi" dalam bahasa prokem Indonesia.
  • Kasian, perusahaan arsitektur dan desain interior.
  • BEGO, perusahaan yang bergerak dibidang kesehatan gigi, GoBlog, sistem manajemen konten yang ditulis dalam bahasa pemrograman Go, dan Daihatsu Be-go yang artinya "bodoh" dalam bahasa kasar Indonesia (perlu diketahui bahwa nama Terios yang digunakan pada Be-go versi Indonesia juga merupakan anagram dari kata "erotis").
  • Silit, produsen alat masak dari Jerman yang artinya "anus" dalam bahasa Jawa.
  • teTeX, perangkat lunak distribusi TeX untuk sistem mirip Unix, dimana pengucapannya seperti kata "tetek".
  • ITIL, standar manajemen teknologi informasi, salah satu model Lenovo IdeaPad yang kode modelnya mengandung "ITL", dan Itel Mobile, perusahaan ponsel, yang mana artinya adalah "vulva" dalam bahasa kasar Indonesia.
  • Entod, perusahaan farmasi dari India yang artinya "berhubungan badan", "jahannam", "bedebah", "keparat".
  • Phanteks, merek sasis komputer dari Belanda, dan Pantech, produsen ponsel asal Korea Selatan, yang pengucapannya seperti kata "Pantek" jika diucapkan dalam bahasa Indonesia, dimana pantek merupakan makian dalam bahasa Melayu Sumatra dan bahasa Madura yang artinya "jahannam", "bedebah" atau "keparat".
  • Siri, asisten suara milik Apple.
  • Pada 2020, Bank Artos mengubah namanya menjadi Bank Jago, akan tetapi, hal ini menjadi viral dikarenakan pengucapan "Bank Jago" sangat mirip dengan bang jago (teknik retorika ad hominem untuk mengakhiri argumen secara pasif-agresif).
  • Telaso, merek dari berbagai macam produk yang terdengar seperti sebuah makian di kawasan Sulawesi Selatan dan Barat.
  • TAEK, badan energi atom turki (Türkiye Atom Enerjisi Kurumu)
  • Nissan, salah satu merek mobil yang namanya terdengar seperti nisan.
  • Hyundai Kona, SUV kompak dari Hyundai yang mempunyai arti "Hyundai sedang sekarat" dalam bahasa Polandia, dan "Kona" sendiri terdengar seperti "konak" ("ereksi") dalam bahasa slang Indonesia atau "cona" ("daerah kewanitaan") dalam bahasa Portugis.
  • Esia sempat merilis layanan bernama "Esia Bispak" di mana pengguna Esia bisa mencoba tarif operator GSM sehingga pengguna dapat mendapatkan perbandingan dengan tarif Esia, namun nama layanan ini menuai kecaman karena selain memperburuk perang tarif antar operator seluler (dikarenakan kesimpulan akhir dari layanan tersebut adalah tarif GSM lebih mahal dari Esia), penamaan Esia Bispak memiliki konotasi misoginis pada nama layanan tersebut, di mana 'bispak' artinya pekerja seks komersial wanita

Bahasa lainnya

Referensi

Pranala luar


Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29450842 (2026-07-13T03:21:43Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.