Lompat ke isi

Kecerdasan buatan dalam fiksi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 23 Agustus 2026 03.10 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Kecerdasan buatan dalam fiksi merupakan salah satu tema penting dalam karya fiksi ilmiah di berbagai negara yang menampilkan beragam pandangan mengenai hubungan antara manusia dan teknologi. Sejak Samuel Butler memperkenalkan gagasan tentang mesin yang mampu berpikir seperti manusia melalui novel Erewhon (1872), berbagai karya sastra dan film terus menggambarkan dampak dari kecerdasan buatan, baik dalam narasi utopis yang menonjolkan potensi kemajuan teknologi maupun distopis yang menyoroti kemungkinan ancaman dari ciptaan manusia itu sendiri.[1] Kajian akademik menunjukkan bahwa fiksi ilmiah menjadi ruang bagi masyarakat untuk menafsirkan dan merefleksikan perkembangan teknologi cerdas.[1] Di Indonesia, pemanfaatan AI mulai tampak dalam bidang seni dan pendidikan. Pameran lukisan berbasis kecerdasan buatan karya Denny JA memadukan teknologi dengan elemen budaya lokal,[2] sementara kalangan akademik dan mahasiswa memandang AI sebagai sarana untuk mendorong inovasi serta pengembangan pembelajaran di masa mendatang.[3]

Sejarah

Gagasan tentang robot atau mesin canggih yang memiliki kecerdasan menyerupai manusia telah muncul setidaknya sejak novel Erewhon (1872) karya Samuel Butler.[1][4] Ide tersebut berakar pada tulisannya yang lebih awal, Darwin among the Machines (1863), yang membahas kemungkinan evolusi kesadaran pada mesin yang mampu bereplikasi sendiri dan berpotensi menggantikan manusia sebagai spesies dominan.[4] Pemikiran serupa juga muncul dalam karya sastra lain pada masa yang sama, seperti Impressions of Theophrastus Such (1879) karya George Eliot. Sementara itu, makhluk ciptaan dalam novel Frankenstein (1818) karya Mary Shelley sering dianggap sebagai salah satu representasi awal makhluk buatan dalam sastra. Gagasan tentang entitas buatan dengan kemampuan berpikir atau bertindak secara mandiri juga dapat ditemukan dalam mitologi Yunani dan Romawi kuno, yang menggambarkan automata atau makhluk mekanis dengan ciri menyerupai kecerdasan manusia.[1]

Kecerdasan Buatan dalam Representasi Utopis dan Distopis

Kecerdasan buatan adalah kecerdasan yang ditunjukkan oleh mesin, berbeda dengan kecerdasan alami yang dimiliki oleh manusia dan hewan lainnya. Tema ini kerap menjadi bahan eksplorasi dalam karya fiksi ilmiah. Para peneliti membagi representasi kecerdasan buatan ini dalam dua kecenderungan utama, yaitu utopis, yang menekankan potensi manfaat dan kemajuan teknologi, serta distopis, yang menyoroti risiko dan bahaya dari perkembangan AI.[5][6][7]

Utopis

Pandangan utopis terhadap masa depan kecerdasan buatan menggambarkan teknologi sebagai sarana menuju kemajuan dan kesejahteraan manusia. Dalam kajian Frankenstein’s Legacy, Wisam Abughosh menjelaskan bahwa visi utopis tentang AI (Artificial intelligence) sering merepresentasikan harapan manusia untuk melampaui keterbatasan biologis dan mencapai kesempurnaan teknologis. Tema-tema seperti keabadian, kemudahan hidup, dan harmoni antara manusia dan mesin kerap muncul dalam karya-karya fiksi ilmiah. Menurut Abughosh, representasi AI (Artificial intelligence) dalam film dan sastra sering digunakan untuk menilai kembali hubungan manusia dengan teknologi, di mana figur AI (Artificial intelligence) dapat melambangkan potensi evolusi manusia menuju bentuk kehidupan pascamanusia.[5]

Distopis

Kajian oleh Abughosh dan Marčetić & Nolin menunjukkan bahwa di sisi lain, representasi distopis menyoroti ancaman yang mungkin muncul akibat dominasi atau kegagalan kontrol terhadap AI (Artificial intelligence). Narasi seperti ini menggambarkan AI (Artificial intelligence) sebagai simbol ketakutan manusia terhadap kehilangan otonomi, hilangnya privasi, dan kekuasaan teknologi yang berlebihan.[5][6] Dalam konteks sosial-teknologis, Marčetić dan Nolin menjelaskan bahwa imajinasi distopis sering muncul dari kekhawatiran terhadap “masyarakat berbasis data”, di mana teknologi besar dan otomatisasi dianggap dapat memperluas kesenjangan sosial serta mengancam nilai-nilai kemanusiaan.[6]

Perspektif Lokal

Menurut penjelasan dari Tempo.co, konsep utopia merujuk pada gambaran ideal tentang dunia yang sempurna, sedangkan distopia menggambarkan kondisi sebaliknya dunia yang penuh penderitaan, kekacauan, atau kontrol ekstrem. Dalam konteks budaya populer, kedua istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan arah yang mungkin ditempuh masyarakat akibat perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan.[7]

Referensi

  1. 1,0 1,1 1,2 1,3 Hirotaka Osawa. Visions of Artificial Intelligence and Robots in Science Fiction: a computational analysis. International Journal of Social Robotics. 2022-12-01. Vol. 14 (10). hlm. 2123–2133. doi:10.1007/s12369-022-00876-z.
  2. Liputan6.com. Denny JA Pamerkan 10 Lukisan Artificial Intelligence Bersama Pertunjukan Mahakarya Randai Dua Berjudul The Story of Malin Kundang. liputan6.com. 2023-06-17.
  3. Melompat Lebih Jauh dengan AI. TIMES Indonesia. 2025-07-02.
  4. 4,0 4,1 Darwin among the Machines - Wikisource, the free online library. en.wikisource.org.
  5. 5,0 5,1 5,2 Wisam Abughosh Chaleila. Frankenstein’s Legacy: Utopian and Dystopian Visions in an AI-Driven World. Journal of Posthumanism. 2025-06-13. Vol. 5 (6). hlm. 3491–3509. doi:10.63332/joph.v5i6.2477.
  6. 6,0 6,1 6,2 Hana Marčetić. Utopian and Dystopian Sociotechnical Imaginaries of Big Data. Journal of Digital Social Research. 2023-12-03. Vol. 5 (4). hlm. 93–125. doi:10.33621/jdsr.v5i4.180.
  7. 7,0 7,1 Ini Perbedaan antara Utopia dan Distopia. Tempo. 2021-11-23.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29203175 (2026-05-08T06:51:23Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.