Lompat ke isi

Autentikasi dua faktor

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 23 Agustus 2026 23.05 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Aegis Authenticator 3.2 screenshot

Autentikasi dua faktor () (juga dikenal sebagai 2FA) adalah metode untuk mengkonfirmasi identitas yang diklaim pengguna dengan menggunakan kombinasi dari dua faktor yang berbeda: 1) sesuatu yang mereka tahu, 2) sesuatu yang mereka miliki.

Contoh yang bagus dari autentikasi dua faktor ini adalah penarikan uang dari ATM; di mana hanya kombinasi yang benar dari kartu debit (faktor yang dimiliki pengguna) dan PIN (faktor yang diketahui pengguna) yang memungkinkan proses transaksi dilakukan.

Contoh lainnya adalah melengkapi kata sandi yang dikontrol pengguna (faktor 1) dengan kata sandi sekali-pakai (), biasanya diterima melalui SMS atau kode yang dihasilkan atau diterima oleh otentikator (misalnya alat token keamanan dari bank ataupun aplikasi otentikator yang telah diunduh pada ponsel) yang hanya dimiliki oleh pengguna (faktor 2).[1]

Penggunaan ponsel

Autentikasi dua faktor yang melibatkan ponsel menyediakan alternatif untuk perangkat fisik khusus. Untuk mengautentikasi, orang dapat menggunakan kode akses pribadi mereka ke perangkat (yaitu sesuatu yang hanya diketahui oleh masing-masing pengguna) ditambah kata sandi sekali-jalan yang dinamis, biasanya terdiri dari 4 hingga 6 digit angka. Kode sandi dapat dikirim ke perangkat seluler melalui SMS atau dapat dibuat oleh aplikasi otentikator (aplikasi pembuat kata sandi sekali-jalan). Keuntungan menggunakan ponsel adalah bahwa tidak ada kebutuhan untuk alat token khusus tambahan, karena pengguna cenderung membawa perangkat seluler mereka sendiri setiap saat.

Pada tahun 2016 dan 2017, masing-masing Google dan Apple mulai menawarkan autentikasi dua faktor kepada pengguna dengan push notification sebagai metode alternatif.[2][3] Selain itu Google juga memiliki aplikasi otentikator bernama "Google Authenticator".

Keuntungan

  • Tidak diperlukan alat token tambahan karena menggunakan perangkat seluler yang (biasanya) dibawa sepanjang waktu.
  • Karena dapat terus berubah, kode sandi yang dihasilkan secara dinamis lebih aman untuk digunakan daripada kata sandi statis.
  • Bergantung pada solusinya, kode sandi yang telah digunakan diganti secara otomatis untuk memastikan bahwa kode yang valid selalu tersedia, masalah yang mungkin timbul saat pengiriman/penerimaan kode tersebut tidaklah mencegah proses login.

Kekurangan

  • Pengguna mungkin masih rentan terhadap serangan phishing. Seorang penyerang dapat mengirim SMS yang tertaut ke situs web palsu yang terlihat identik dengan situs web yang sebenarnya. Penyerang kemudian bisa mendapatkan kode autentikasi, nama pengguna dan kata sandi.
  • Ponsel tidak selalu tersedia – bisa hilang, dicuri, baterai habis atau tidak berfungsi.
  • Kloning SIM memberi hacker akses ke koneksi ponsel. Serangan social-engineering terhadap perusahaan operator seluler telah mengakibatkan pencurian data kartu SIM kepada penjahat.[4]
  • Pesan teks ke ponsel menggunakan SMS tidak aman dan dapat dicegat secara luring oleh perangkat penangkap IMSI. Dengan demikian, pihak ketiga dapat mencuri dan menggunakannya pada alat token.[5]
  • Pemulihan akun biasanya melewati autentikasi dua langkah pada ponsel.[6]
  • Smartphone modern digunakan untuk menerima email dan juga SMS. Jadi, jika ponsel hilang atau dicuri dan tidak dilindungi oleh kata sandi atau biometrik, semua akun yang perlindungannya adalah melalui surel dapat diretas karena ponsel tersebut dapat menerima surel pemulihan akun.
  • Operator seluler mungkin membebani pengguna untuk biaya pengiriman SMS.

Penerapan

Beberapa layanan web populer menggunakan autentikasi dua faktor, biasanya sebagai fitur opsional yang tidak diaktifkan secara baku.[7] Banyak layanan Internet (di antaranya Google, Amazon AWS dan termasuk Wikipedia) menggunakan algoritma kata sandi sekali-pakai berbasis waktu (KSSW) () untuk mendukung autentikasi dua faktor.

Contoh aplikasi desktop yang mendukung autentikasi dua faktor adalah Bitwarden dan KeeWeb.[8][9]

Pranala luar

Referensi

  1. IOVATION. Two Factor Authentication (2FA).
  2. Liam Tung. Google prompt: You can now just tap 'yes' or 'no' on iOS, Android to approve Gmail sign-in. ZD Net.
  3. Chance Miller. Apple prompting iOS 10.3. 9to5 Mac. 2017-02-25.
  4. Shaun Nichols in San Francisco 10 Jul 2017 at 23:31 tweet_btn(). Two-factor FAIL: Chap gets pwned after 'AT&T falls for hacker tricks'.
  5. SSMS – A Secure SMS Messaging Protocol for the M-Payment Systems, Proceedings of the 13th IEEE Symposium on Computers and Communications (ISCC'08), pp. 700–705, July 2008
  6. Seth Rosenblatt. Two-factor authentication: What you need to know (FAQ). CNET. June 15, 2015.
  7. WHITSON GORDON. Two-Factor Authentication: The Big List Of Everywhere You Should Enable It Right Now. LifeHacker. 3 September 2012.
  8. Daniel Pecuch. Password managers: a survey. Masaryk University. 2020. hlm. 15.
  9. Free Password Manager Compatible with KeePass: KeeWeb. keeweb.info.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 26930820 (2025-02-17T01:18:18Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.