Lompat ke isi

Kebocoran data di Indonesia

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 24 Agustus 2026 13.40 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29397136; atribusi sumber disertakan.)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Kebocoran data, yang terkait munculnya data-data pribadi di publik yang didapat melalui peretasan sistem daring, telah berulang kali terjadi di Indonesia. Masifnya serangan siber dan sabotase hacker yang berusaha menembus sistem keamanan layanan digital milik negara dan swasta, semakin memperparah kerentanan pertahanan nasional di dunia digital.

Jutaan data personal yang bersifat privat dan sensitif milik warga Indonesia termuat dalam file-file berukuran raksasa sering dijumpai pada berbagai forum ilegal, disertai dengan sample gratis untuk menguji keabsahan data yang dijual. Para peretas umumnya meminta pembayaran dengan mata uang koin virtual e.g. bitcoin.

Berikut ini adalah sebagian skandal peretasan data warga Indonesia yang viral setelah diperdagangkan pada darkweb ataupun forum mancanegara:

Institusi pemerintahan

BPJS Kesehatan

Pada Mei 2021, ratusan juta catatan medis dan data-data pribadi kesehatan yang bersifat privat milik warga Indonesia dijual di forum ilegal, setelah hacker berhasil membobol sistem BPJS Kesehatan dan mengakses database penting. Kasus ini menjadi salah satu skandal kebocoran data medis terbesar di dunia, dengan dokumen dari 279 juta penduduk Indonesia menjadi sasaran.

PLN

Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengalami peretasan pada tahun 2022 dimana lebih dari 17 juta data pelanggan diperjualbelikan ke publik.

IndiHome

Di bulan Agustus 2022, 26,7 juta data pengguna IndiHome yang berukuran 16,79 GB dibobol setelah muncul di forum hacker breached.to.

Dukcapil

Kebocoran data di Dukcapil menyebabkan sekitar 337 juta data sensitif masyarakat Indonesia yang tersebar secara ilegal. Informasi yang diretas seperti nama lengkap, nomor Kartu Keluarga, tanggal lahir, alamat, nama orang tua, Nomor Induk Kependudukan, nomor Akta Kelahiran sampai Akta pernikahan. Data pribadi tersebut dapat disalahgunakan untuk modus scamming, pembobolan kredensial dan berbagai operandi penipuan digital lain.

Data registrasi SIM card nomor telepon seluler pribadi dan operator turut menjadi sasaran hacker, tercatat 1,3 miliar data meliputi NIK, nomor telepon seluler maupun operator diretas dalam arsip berukuran 87 GB.

Pertamina

Di bulan November 2022, Peretas menembus sistem Pertamina dam membocorkan lebih dari 44 juta data MyPertamina. Data tersebut dijual senilai Rp392 juta dalam mata uang Bitcoin.

Anak usaha Pertamina, PT Pertamina Training and Consulting (PTC) juga sempat diretas pada 12 Januari 2022, dimana data-data milik pegawai dari nama lengkap, alamat, nomor ponsel, KTP, hingga SIM turut bocor ke forum peretas.

Jasa Marga

Data PT Jasa Marga Tollroad Operator, mencakup data pelanggan, karyawan hingga keuangan Jasa Marga, yang tersimpan pada lima server, dibocorkan ke publik dalam dokumen sebesar 252 GB.

BRI

Data milik sekitar 2 juta nasabah BRI Life diperdagangkan di forum peretas seharga 7000 dolar Amerika. Data yang dijual meliputi foto KTP elektronik, nomor rekening, nomor wajib pajak, akte kelahiran, dan rekam medis nasabah BRI Life.

BSI

Selain BRI, Bank Syariah Indonesia juga menjadi korban pembobolan hacker pada Mei 2023 setelah 15 juta data juga informasi pinjaman nasabah, hingga data internal dijual di dark web.

Data eHAC Covid-19

Sebanyak 1,3 juta data pribadi pengguna electronic Health Alert Card (eHAC) yang berkaitan dengan pelacakan kasus Covid-19, telah diretas pada September 2021.

KPU

Data pemilih pada Komisi Pemilihan Umum yang meliputi detail NIK, KK, nama lengkap, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, alamat, dan usia, diperdagangkan dengan lebih dari 100 juta identitas yang dibocorkan.

Data wajib pajak

Pada 2024, 6 juta data Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) diperjualbelikan di dark web seharga Rp 150 juta. Data-data tersebut juga meliputi data pejabat-pejabat penting hingga pimpinan negara.


Pihak swasta

Bukalapak

Data akun milik 13 juta pengguna ecommerce Bukalapak dijual di forum peretas pada tahun 2019.

Lazada

Lazada dilaporkan mengalami kebocoran data sebanyak 1,1 juta data pada tahun 2020.

Tokopedia

Lebih dari 91 juta database akun Tokopedia dilaporkan bocor pada Mei 2020. Data tersebut dijual US$ 5.000 di situs darkweb.

Cermati

Pada tahun 2020, peretas menjual 2,9 juta data kegiatan finansial 17 perusahaan di cermati.com.

Data 21.000 perusahaan swasta

Pada Agustus 2022, lebih dari 21.000 data perusahaan di Indonesia dibocorkan hacker dalam sebuah file berukuran 347 GB. Data yang bocor meliputi laporan keuangan, SPT, NPWP perusahaan sekaligus NPWP pimpinan perusahaan.

Referensi

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29397136 (2026-06-28T17:21:46Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.