Apodiktik

Apodiktik adalah istilah yang dipakai oleh Aristoteles untuk memperlihatkan sesuatu secara pasti dibedakan dari pandangan yang hanya kemungkinan-kemunginan saja.[1] Pengetahuan yang diajukan bersifat pasti dan bersifat niscaya.[2] Istilah ini berasal dari Bahasa Yunani apo = "dari" dan deiknynai berarti "memperlihatkan".[3]
Posisi yang dikemukakan Aritoteles dalam logikanya dibedakan dari istilah dialektika eristik atau dapat diperdebatkan.[4] Baginya, apodiktik adalah sesuatu yang tidak dapat diperdebatkan karena sudah pasti dan jelas.[5] Dalam hal keputusan, maka keputusan itu bersifat mutlak benar.[6] Apodiktik menunjukkan bukti hakiki yang ditarik secara deduktif dari premis-premis yang mutlak benar.[7]
Dalam dunia hermeneutika Alkitab atau penafsiran Kitab Suci, penggunaan apodiktik terdapat hukum-hukum yang merupakan perintah dalam tradisi Israel dalam Perjanjian Lama.[8] Misalnya perintah untuk menuruti hukum-hukum yang tidak dapat dibantah oleh umat pada waktu itu.[9] Contohnya terdapat dalam Kitab Imamat 18 ayat 8 yang melarang seorang anak menggauli istri ayahnya, mana mungkin seorang anak meniduri ibunya.[10] Masyarakat waktu itu jelas menerima dengan mutlak hukum itu.[11] Atau dalam Kitab Ulangan 17 ayat 6 yang menyaratkan sebuah hukuman hanya boleh diputuskan bila terdapat saksi yang harus lebih dari satu, yaitu dua atau tiga, dengan begitu kebenaran bisa dipertanggungjawahkan sesuai bukti-bukti.[12]
Referensi
- ↑ Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996
- ↑ Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996
- ↑ Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996
- ↑ Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996
- ↑ Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996
- ↑ Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996
- ↑ Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996
- ↑ Dianne Bergant & Robert J. Karris., Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, Yogyakarta: Kanisius, 2002, Hlm. 104
- ↑ Dianne Bergant & Robert J. Karris., Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, Yogyakarta: Kanisius, 2002, Hlm. 104
- ↑ Dianne Bergant & Robert J. Karris., Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, Yogyakarta: Kanisius, 2002, Hlm. 104
- ↑ Dianne Bergant & Robert J. Karris., Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, Yogyakarta: Kanisius, 2002, Hlm. 104
- ↑ Dianne Bergant & Robert J. Karris., Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, Yogyakarta: Kanisius, 2002, Hlm. 104
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29288472 (2026-05-29T14:37:40Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.