Lompat ke isi

Abad Penjelajahan Samudra

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Theatrum Orbis Terrarum, by Abraham Ortelius, World, 1572

Abad Penjelajahan Samudra (sekitar tahun 1418 sampai 1620)[1] adalah rentang waktu dari sekitar abad ke-15 hingga abad ke-17, manakala pelaut-pelaut Eropa meneroka, menjajah, dan menaklukkan banyak tempat di berbagai belahan dunia. Rentang waktu tersebut merupakan bagian dari zaman Modern Awal, dan bertumpang tindih dengan zaman Kapal Layar. Abad Penjelajahan Samudra merupakan rentang waktu transformatif, manakala banyak tempat di berbagai belahan dunia yang sebelumnya terisolasi akhirnya saling terhubung membentuk sistem dunia, dan meletakkan landasan bagi globalisasi. Penjelajahan lintas laut secara besar-besaran, khususnya untuk merintis jalan laut menuju Hindia Timur dan untuk mengolonisasi benua Amerika, yang dilakukan oleh Spanyol dan Portugis, dan yang kemudian hari disusul oleh Inggris, Prancis, dan Belanda, mencetuskan perdagangan global internasional. Ekonomi global abad ke-21 yang saling terkoneksi berawal dari ekspansi jaringan perdagangan pada Abad Penjelajahan Samudra. Penjelajahan samudra melahirkan imperium-imperium kolonial Eropa, dan menjadi tengara peningkatan adopsi kolonialisme menjadi kebijakan pemerintah di beberapa negara Eropa. Itulah sebabnya Abad Penjelajahan Samudra adakalanya disamaartikan dengan gelombang pertama kolonisasi Eropa. Kolonisasi ini merombak dinamika kekuasaan sehingga mengakibatkan terjadinya pergeseran geopolitik di Eropa, dan menciptakan pusat-pusat kekuasaan baru di luar Eropa.

Penjelajahan samudra bangsa Portugis diawali dengan ekspedisi-ekspedisi maritim ke gugus kepulauan Makaronesia, yang mencakup kepulauan Kanaria, kepulauan Madeira, dan kepulauan Azores.[2][3] Portugis selanjutnya berlayar menyusuri pesisir Afrika Barat pada tahun 1434, dan akhirnya berhasil menemukan jalan laut ke India pada tahun 1498. Penemuan ini menjadi awal dari kiprah maritim dan perdagangan Portugis di Kerala dan Samudra Hindia.[4][5] Spanyol memprakarsai pelayaran-pelayaran lintas samudra Atlantik Kristoforus Kolumbus (tahun 1492–1504), yang menandai awal kolonisasi di benua Amerika, serta ekspedisi Magelhaens (tahun 1519–1522), yang merintis jalan laut dari Atlantik ke Pasifik, dan akhirnya menuntaskan pelayaran keliling dunia yang pertama di bawah pimpinan Juan Sebastián Elcano. Spanyol juga melaksanakan pelayaran perdana besar-besaran lainnya, termasuk pelayaran dalam rangka menaklukkan Meksiko (tahun 1519–1521), pelayaran dalam rangka menaklukkan Peru (tahun 1532–1533), dan pelayaran pembukaan rute dagang galiung Manila (tahun 1565–1815), yang menghubungkan Amerika dan Asia melalui samudra Pasifik. Ekspedisi-ekspedisi Spanyol ini berdampak besar terhadao persepsi-persepsi bangsa Eropa tetang dunia, dan menjadi pangkal dari banyak ekspedisi laut melintasi samudra Atlantik, samudra Hindia, dan samudra Pasifik, maupun ekspedisi-ekspedisi darat di Amerika, Asia, Afrika, dan Oseania, yang berlanjut hingga abad ke-19 dan disusul oleh penjelajahan kutub pada abad ke-20.

Eksplorasi bangsa Eropa mencetuskan pertukaran Kolumbus di antara Dunia Lama (Eropa, Asia, Afrika) dan Dunia Baru (Amerika), yang meliputi pemindahan tumbuh-tumbuhan, satwa, populasi manusia (termasuk budak), penyakit menular, dan budaya ke seantero belahan Bumi timur maupun belahan Bumi barat. Abad Penjelajahan Samudra dan eksplorasi bangsa Eropa merangkumi usaha memetakan dunia, menempa wawasan dunia yang baru, dan memfasilitasi perjumpaan dengan peradaban-peradaban yang jauh. Benua-benua yang digambar para pemeta Eropa berubah dari "gumpalan-gumpalan" abstrak menjadi garis-garis pantai yang lebih mudah dikenali oleh generasi masa kini.[6] Pada masa yang sama, penularan penyakit-penyakit baru mengakibatkan anjloknya populasi pribumi Amerika. Pada masa ini pula pembudakan, eksploitasi, dan penaklukan militer atas populasi-populasi pribumi kian merajalela, seiring dengan meningkatnya pengaruh ekonomi dan penyebarluasan budaya, ilmu pengetahuan, dan teknologi Eropa, yang bermuara pada lonjakan populasi dengan laju yang melebihi pertumbuhan eksponensial di seluruh dunia.

Selayang pandang

Dengan dukungan dari Pangeran Henrique Mualim, orang-orang Portugis mulai menjajaki perairan pesisir barat Afrika secara sistematis pada tahun 1418. Melalui jalur inilah Bartolomeu Dias akhirnya berhasil memasuki samudra Hindia pada tahun 1488.[7]


Pada tahun 1498, ekspedisi Portugal yang dipimpin Vasco da Gama berhasil mencapai India sesudah berlayar mengitari benua Afrika, dan dengan demikian membuka hubungan dagang langsung dengan Asia.[8] Sementara itu dua armada jelajah diberangkatkan dari Portugal ke kawasan utara Amerika Utara, Armada India turut memperpanjang jalur laut timur ini, mencapai Amerika Selatan dan membuka jalur ulang-alik dari Dunia Baru ke Asia (berawal pada tahun 1500 oleh Pedro Álvares Cabral), dan menjelajahi pulau-pulau di perairan selatan Samudra Atlantik dan perairan selatan Samudra Hindia. Bangsa Portugis berlayar makin jauh ke timur hingga sampai ke Kepulauan Rempah-Rempah pada tahun 1512, dan berlabuh di Tiongkok setahun kemudian. Bangsa Portugis sampai ke Jepang pada tahun 1543. Pada tahun 1513, mualim Spanyol Vasco Núñez de Balboa merentas jalan melintasi Tanah Genting Panama dari Dunia baru hingga sampai ke "laut yang lain". Dengan demikian, untuk pertama kalinya bangsa Eropa menerima kabar dari timur dan barat Samudra Pasifik dalam rentang waktu setahun sekitar tahun 1512. Eksplorasi ke timur dan eksplorasi ke barat bertemu bertumpang tindih pada tahun 1522, ketika sebuah ekspedisi Spanyol berlayar ke barat di bawah pimpinan mualim Portugis Fernando de Magelhaens (kelak digantikan oleh mualim Juan Sebastián Elcano, sesudah Magelhaens gugur dalam pertempuran melawan orang-orang pribumi di kepulauan yang sekarang bernama Filipina) menuntaskan pelayaran keliling dunia yang pertama.[9] Para conquistador Spanyol menjelajahi pedalaman benua Amerika, dan beberapa pulau di antara gugusan pulau Pasifik Selatan. Tujuan utama mereka adalah menghancurkan usaha dagang Portugis di Timur.

Sesudah mendengar kabar tentang prestasi Kolumbus, mulai tahun 1495, negara Prancis, Inggris, dan Belanda memasuki gelanggang penjelajahan samudra, menantang monopoli orang-orang Iberia di kancah perdagangan bahari dengan mencari rute-rute baru. Ekspedisi pertama, di bawah pimpinan John Cabot, berlayar ke utara pada tahun 1497 untuk kepentingan Inggris, disusul ekspedisi Prancis ke Amerika Selatan dan kelak ke Amerika Utara. Ekspedisi-ekspedisi selanjutnya berlayar ke Samudra Pasifik dengan mengitari Amerika Selatan, dan akhirnya dengan mengikuti jejak Portugis mengitari Afrika, berhasil mencapai Samudra Hindia; menemukan daratan Australia pada tahun 1606, Selandia Baru pada tahun 1642, dan Hawaii pda tahun 1778. Sejak dasawarsa 1580-an hingga dasawarsa 1640-an, Rusia menjelajah dan menaklukkan hampir seluruh Siberia, dan mengklaim Alaska pada dasawarsa 1730-an.


Teknologi: Kompas dan rancangan kapal

Kemajuan-kemajuan teknologi yang penting artinya bagi Abad Penjelajahan Samudra adalah adopsi kompas magnetis dan kemajuan-kemajuan dalam rancangan kapal.

Kompas merupakan tambahan kepada metode navigasi kuno yang berasaskan pengamatan matahari dan bintang-bintang. Kompas direkacipta bangsa Tionghoa pada zaman kulawangsa Han dan sudah dimanfaatkan sebagai pemandu arah di Tiongkok pada abad ke-11. Benda hasil rekacipta bangsa Tionghoa ini kemudian hari diadopsi oleh saudagar-saudagar Arab yang berkiprah di samudra Hindia. Kompas masuk ke Eropa pada akhir abad ke-12 atau awal abad ke-13.[10] Pemanfaatan kompas sebagai pemandu arah di samudra Hindia pertama kali tercatat pada tahun 1232.[11] Catatan pertama yang menyebutkan pemanfaatan kompas di Eropa berasal dari tahun 1180.[12] Bangsa Eropa menggunakan kompas "kering", berupa sebatang jarum yang terpasang pada poros. Mawar kompas juga adalah rekacipta bangsa Eropa.[13]

Kapal-kapal pada Abad Penjelajahan Samudra adalah kapal-kapal yang dibuat sesudah terjadinya penggabungan tradisi rancang bangun kapal Eropa Utara dan tradisi rancang bangun kapal Laut Tengah. Mendekati akhir abad ke-13 atau awal abad ke-14, papan lambung kapal-kapal Eropa Utara biasanya disusun bertumpang tindih, bertiang satu dengan layar persegi, dan dilengkapi kemudi cawat, yakni kemudi yang bilahnya dipasang pada linggi buritan dengan menggunakan sendi-sendi berupa beberapa pasang kokot jantan dan kokot betina. Di Laut Tengah, kapal-kapal justru dibuat dengan papan lambung yang disusun berendeng rapat, bertiang satu atau lebih (tergantung ukurannya) dengan layar latin, dan dilengkapi kemudi-kemudi sepak, yakni kemudi-kemudi yang dipasang pada lambung kapal.

Perdagangan, ziarah, dan perang menyebabkan tradisi rancang bangun kapal Laut Tengah tersebar ke Eropa Utara, dan tradisi rancang bangun kapal Eropa Utara tersebar ke Laut Tengah, sehingga akhirnya timbul usaha untuk meniru unsur-unsur rancang bangun kapal yang baru dipelajari, baik di Eropa Utara maupun di Laut Tengah. Pada permulaan abad ke-14, layar persegi mulai digunakan di kawasan Laut Tengah. Layar persegi dipasang di tiang agung, sementara layar latin dipasang di tiang baksi. Dalam rentang waktu dua dasawarsa pertama abad ke-15, pemasangan layar semacam ini ditiru di Eropa Utara. Pada akhir dasawarsa 1430-an, beberapa kapal di Eropa Utara dibuat dengan papan lambung yang disusun berendeng rapat. Hasir akhir dari perpaduan kedua tradisi rancang bangun kapal tersebut adalah kapal layar lengkap, yaitu kapal dengan papan lambung yang disusun berendeng rapat, berkemudi cawat, dan bertiang tiga: tiang topang dan tiang agung dipasangi layar persegi, sementara tiang baksi dipasangi layar latin. Kapal layar jenis baru ini digunakan bersama-sama dengan kapal jenis karawal, yang juga dilengkapi kemudi cawat, tetapi semua layarnya adalah layar latin, atau ditambahi beberapa layar persegi.[14]

Sedikit sekali bangkai kapal dari Abad Penjelajahan Samudra yang sudah ditemukan dan diteliti secara arkelologis. Ada lebih banyak informasi yang tersedia mengenai kapal-kapal Romawi dan Yunani dari Abad Klasik daripada informasi mengenai kapal-kapal dari Abad Penjelajahan Samudra. Karawal pada khususnya sedikit sekali dipahami, sekalipun sudah banyak dibuat "replikanya".[15] Meskipun demikian, ada beberapa ciri khas konstruksi lambung kapal yang sudah teridentifikasi dari bangkai-bangkai kapal peninggalan Abad Penjelajahan Samudra, yang disebut sebagai tradisi rancang bangun kapal Atlantik Iberia. Bangkai-bangkai kapal itu ditemukan di situs bangkai kapal Terumbu Molasses, situs bangkai kapal Takat Highbourne, situs bangkai kapal Red Bay, dan beberapa situs di perairan Eropa.[16][17]


Pada tahun 1400, Geographia, terjemahan risalah Ptolomeus ke dalam bahasa Latin, sampai ke Italia dari Konstantinopel. Penemuan kembali pengetahuan geografi bangsa Romawi merupakan suatu penyingkapan,[18] baik bagi pembuatan peta maupun bagi wawasan dunia,[19] sekalipun menghidupkan kembali gagasan bahwa Samudra Hindia terkurung oleh daratan.

Perjalanan bangsa Eropa pada Abad Pertengahan (1241–1438)

Sebelum Abad Penjelajahan Samudra, bangsa Eropa sudah beberapa kali menjelajahi Erasia lewat darat pada akhir Abad Pertengahan.[20] Sekalipun menjadi ancaman yang membayang-bayangi Eropa, bangsa Mongol berjasa mempersatukan sebagian besar daratan Erasia, dan sejak tahun 1206, Pax Mongolica memungkinkan dibukanya rute-rute dagang dan lalu lintas komunikasi yang aman dari Timur Tengah ke Tiongkok.[21][22] Hubungan dekat Italia dengan Syam menumbuhkan rasa ingin tahu dan minat untuk menjalankan usaha dagang di negeri-negeri nun jauh di sebelah timur.[23] Ada segelintir catatan saudagar-saudagar dari Afrika Utara dan Laut Tengah, yang pernah berdagang di Samudra Hindia menjelang akhir Abad Pertengahan.[24]


Armada Muslim yang menjaga Selat Jibraltar dikalahkan Genova pada tahun 1291.[25] Pada tahun itu juga orang-orang Genova melaksanakan usaha jelajah Samudra Atlantik mereka yang pertama, ketika dua saudagar bersaudara, Vadino dan Ugolino Vivaldi, berlayar dari Genova dengan dua buah galai. Malangnya kedua galai itu hilang di pantai Maroko, sehingga menciutkan nyali orang untuk berlayar mengarungi samudra.[26][27] Dari tahun 1325 sampai 1354, Ibnu Batutah, sarjana Maroko asal Tanjah, bertualang melintasi Afrika Utara, Gurun Sahara, Afrika Barat, Eropa Selatan, Eropa Timur, Tanduk Afrika, Timur Tengah dan Asia, hingga sampai di Tiongkok. Sepulang bertualang, ia meriwayatkan pengalamannya kepada seorang sarjana yang ia jumpai di Granada, sehingga terbitlah Arrihlah (perjalanan),[28] sumber pustaka tentang petualangan-petualangannya yang tidak banyak digembar-gemborkan.[29] Antara tahun 1357 sampai 1371, sebuah buku berisi kisah-kisah petualangan yang dihimpun oleh John Mandeville digemari khalayak ramai. Sekalipun kisah-kisahnya tidak dapat dipercaya dan sering kali bersifat khayali, buku ini digunakan sebagai sumber rujukan[30] mengenai dunia Timur, Mesir, dan Syam pada umumnya, dan mengangkat kepercayaan lama bahwa Yerusalem adalah pusar bumi. Menyusul terjalinnya hubungan baik antara Timurleng dan Eropa, pada tahun 1439, Niccolò de' Conti menerbitkan catatan perjalanan-perjalanannya selaku seorang saudagar Muslim ke India dan Asia Tenggara. Pada rentang waktu tahun 1466–1472, saudagar Rusia, Afanasy Nikitin asal Tver, melakukan perjalanan ke India, kemudian mengisahkannya kembali di dalam bukunya yang berjudul Perjalanan di Seberang Tiga Laut.

Perjalanan-perjalanan lewat darat ini hanya sedikit memberi dampak langsung. Kemaharajaan bangsa Mongol tumbang nyaris secepat pembentukannya, dan tidak lama kemudian rute ke timur menjadi makin berbahaya dan sukar ditempuh. Wabah Maut Hitam pada abad ke-14 juga menghalangi orang untuk melakukan perjalanan dan perdagangan untuk sementara waktu.[31]

Agama

Agama memainkan peran penting dalam memotivasi ekspansionisme bangsa Eropa. Pada tahun 1487, duta-duta Portugis, Pero da Covilhã dan Afonso de Paiva, berangkat dalam misi penyamaran untuk mengumpulkan keterangan mengenai rute laut potensial menuju India, dan menyelidiki hal ihwal Presbiter Yohanes, seorang raja merangkap batrik Nestorian yang diyakini berdaulat atas beberapa daerah di anak benua India. Covilhã disambut hangat saat tiba di Etiopia, tetapi dilarang meninggalkan negeri itu.[32]


Misi Tionghoa (tahun 1405–1433)

Bangsa Tionghoa memiliki koneksi dagang yang luas di Asia, bahkan sudah berlayar sampai ke tanah Arab, Afrika Timur, dan Mesir sejak zaman kulawangsa Tang (tahun 618–907 Masehi). Antara tahun 1405 sampai 1421, Maharaja Yongle, penguasa ke-3 dari kulawangsa Ming, mendanai pelayaran-pelayaran jarak jauh dengan misi mengumpulkan upeti di bawah pimpinan Laksamana Cheng Ho.[33]

Searmada jung baru disiapkan untuk menjalankan ekspedisi-ekspedisi diplomatik internasional. Jung-jung paling besar, yang dijuluki bao chuan (jung harta) oleh orang-orang Tionghoa, mungkin saja berukuran 121 meter, dan diawaki ribuan pelaut. Ekspedisi yang pertama bertolak dari Tiongkok pada tahun 1405. Sekurang-kurangnya ada tujuh ekspedisi yang terdokumentasi dengan baik, masing-masing ekspedisi lebih besar dan lebih mahal daripada ekspedisi yang mendahuluinya. Armada-armada itu menyambangi Jazirah Arab, Afrika Timur, India, Nusantara, dan Siam, sembari melakukan pertukaran barang sepanjang rute yang dilaluinya.[34] Pihak armada menghadiahkan emas, perak, porselen, maupun sutra, dan dibalas dengan barang-barang yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya, misalnya burung unta, zebra, unta, gading, dan jerapah.[35][36] Sesudah Maharaja Yongle mangkat, ekspedisi terakhir di bawah pimpinan Cheng Ho bertolak dari Nanking pada tahun 1431, dan kembali ke Beijing pada tahun 1433. Kemungkinan besar ekspedisi terakhir ini berlayar jauh sampai ke Madagaskar. Pengalaman-pengalaman selama berlayar dicatat oleh Ma Huan, penerjemah Muslim yang mendampingi Cheng Ho dalam tiga eskpedisi. Catatannya diterbitkan dengan judul Yingya Shenglan (Meninjau Sekujur Tepian Samudra) (1433).[37]

Pelayaran-pelayaran itu berdampak penting dan langgeng terhadap penataan jejaring kerja bahari, memanfaatkan dan menciptakan nodus-nodus dan saluran-saluran dalam pelaksanaannya, dan dengan demikian merestrukturisasi hubungan-hubungan dan pertukaran-pertukaran internasional dan lintas budaya.[38] Pelayaran-pelayaran itu pada khususnya sangat berdampak lantaran belum ada negara lain yang meluaskan dominasi angkatan lautnya ke segala sektor di Samudra Hindia sebelum pelayaran-pelayaran tersebut.[39] Kulawangsa Ming mempromosikan nodus-nodus alternatif sebagai strategi untuk dapat mengendalikan jejaring kerja itu.[40] Sebagai contoh, berkat keterlibatan bangsa Tionghoa, pelabuhan-pelabuhan seperti Malaka (di Asia Tenggara), Koci (di pesisir Malabar), dan Malindi (di pesisir Swahili) tumbuh menjadi alternatif penting bagi pelabuhan-pelabuhan lain yang sudah mapan.[41] Kemunculan armada harta kulawangsa Ming menciptakan dan mempersengit persaingan antarnegara dan antarlawan-tanding, masing-masing pihak berusaha menjalin persekutuan dengan Tiongkok.[42] Ekspedisi-ekspedisi tersebut berkembang menjadi sebuah usaha dagang, dengan kendali kemaharajaan mencengkeram pasar-pasar lokal dan transaksi-transaksi dipantau istana, yang mendatangkan laba bagi Tiongkok dan konco-konconya. Pelayaran-pelayaran itu meningkatkan perdagangan dan produksi regional, menimbulkan kenaikan mendadak pasokan barang di Erasia dan mengakibatkan jungkir balik harga di Eropa pada awal abad ke-15.[43]

Hubungan penerima dan pembayar upeti yang dipromosikan dalam pelayaran-pelayaran itu mengejawantahkan tren ke arah interkoneksi lintas regional dan globalisasi perdana di Asia dan Afrika.[44] Hubungan diplomatik yang terbina atas dasar perdagangan bahari yang saling menguntungkan, unjuk gigi angkatan laut Tiongkok di perairan-perairan asing, serta superioritas angkatan laut Tiongkok menjadi faktor utama dalam interaksi-interasi tersebut.[45] Pelayaran-pelayaran itu melahirkan integrasi regional Samudra Barat dan meningkatkan sirkulasi internasional orang-orang, gagasan-gagasan, maupun barang-barang. Pelayaran-pelayaran itu membangun landasan bagi diskursus-diskursus kosmopolitan, yang berlangsung di lokasi-lokasi seperti jung-jung armada harta kulawangsa Ming, pusat pemerintahan kulawangsa Ming di Nanjing maupun Beijing, dan acara-acara jamuan yang digelar di istana kulawangsa Ming bagi duta-duta asing.[46] Kelompok-kelompok manusia yang beraneka ragam dari negeri-negeri bahari berkumpul, berinteraksi, dan berlayar bersama-sama ketika armada harta bertolak dari dan menuju Tiongkok.[47] Untuk pertama kalinya kawasan bahari yang terbentang dari Tiongkok sampai ke Afrika berada di bawah dominansi satu kekuatan kemaharajaan, sehingga memungkinkan terciptanya suatu ruang yang bersifat kospomolitan.[48]

Pelayaran-pelayaran jarak jauh itu tidak ditindaklanjuti, lantaran kulawangsa Ming memutuskan untuk berlindung di balik haijin, suatu kebijakan isolasionisme, dengan kegiatan perdagangan bahari yang terbatas. Perjalanan-perjalanan mendadak terhenti sesudah Maharaja Yongle mangkat, lantaran orang-orang Tionghoa kehilangan minat terhadap negeri-negeri yang mereka sifatkan sebagai negeri-negeri tak beradab, dan mengalihkan perhatian ke dalam negeri,[49] lagipula kaisar-kaisar berikutnya merasa ekspedisi-ekspedisi semacam itu membahayakan negeri Tiongkok; Maharaja Hongxi memutuskan untuk membatalkan ekspedisi-ekspedisi lanjutan, dan Maharaja Xuande melarang penyebarluasan sebagian besar informasi tentang pelayaran-pelayaran Cheng Ho.

Samudra Atlantik (tahun 1419–1507)

Sejak abad ke-8 hingga abad ke-15, Republik Venesia dan negara-negara republik bahari tetangganya memonopoli perdagangan Eropa dengan Timur Tengah. Perdagangan sutra dan perdagangan rempah-rempah, yang memperjualbelikan rempah, ratus, herba, obat-obatan, dan candu, membuat negara-negara kota itu kaya raya. Rempah-rempah tergolong komoditas termahal dan terlaris pada Abad Pertengahan, sebab digunakan untuk kepentingan pengobatan,[50] upacara keagamaan, kosmetika, minyak wangi, maupun sebagai penambah cita rasa dan bahan pengawet makanan.[51] Semuanya diimpor dari Asia dan Afrika.

Saudagar-saudagar Muslim mendominasi rute-rute laut di seantero Samudra Hindia, membuka aliran barang dari kawasan-kawasan penghasil komoditas di Timur Jauh dan mengapalkan barang-barang bagi pusat-pusat perdagangan di India, teristimewa Kalikut, mengangkut barang-barang itu ke barat, yakni ke Ormus in the Teluk Persia dan Jedah di Laut Merah. Dari Ormus dan Jedah, barang-barang itu diangkut lewat jalur-jalur darat ke daerah pesisir Laut Tengah. Saudagar-saudagar Venesia mendistribusikan barang-barang itu ke seluruh Eropa sampai dengan bangkitnya Kesultanan Usmani, yang berbuntut pada peristiwa kejatuhan Konstantinopel tahun 1453, sehingga menghalangi bangsa Eropa untuk melintasi beberapa rute kombinasi jalur darat dan jalur laut di daerah-daerah sekitar Laut Egea, Selat Bosporus, dan Laut Hitam. Meskipun demikian, Venesia dan negara-negara republik bahari lainnya masih mendapatkan pasokan barang-barang Asia dalam jumlah yang lebih terbatas, dengan berdagang di kawasan tenggara Laut Tengah, di bandar-bandar seperti Antiokhia, Ako, dan Aleksandria.

Lantaran terpaksa membatasi kiprahnya di Laut Hitam, dan sedang berperang melawan Venesia, orang-orang Genova memutuskan untuk banting setir ke Afrika Utara, beralih ke usaha dagang gandum dan minyak Zaitun maupun usaha mencari emas dan perak. Bangsa Eropa senantiasa mengalami defisit emas dan perak,[52] lantaran emas dan perak hanya mengalir ke luar, untuk kepentingan perdagangan dengan dunia Timur yang sudah terputus ketika itu. Beberapa tambang di Eropa sudah kehabisan cadangan bijih,[53] Ketiadaan lantakan menuntun kepada pengembangan sistem perbankan yang rumit untuk mengelola risiko dalam perdagangan (bank negara yang pertama, Banco di San Giorgio, didirikan di Genova pada tahun 1407). Lantaran juga berlayar ke pelabuhan-pelabuhan di Brugge (Flandria) dan Inggris, dibentuklah paguyuban-paguyuban perantau Genova di Portugal,[54] yang memetik laba dari usaha dagang maupun dari keahlian finansial mereka.

Pelayaran bangsa Eropa lebih banyak di lakukan dari pelabuhan ke pelabuhan, tidak jauh-jauh dari daratan, dengan berpedoman kepada peta-peta portolan. Peta-peta ini menampilkan rute-rute laut yang sudah terbukti aman dan berpandukan tengaran-tengaran di pantaiː Para pelaut bertolak dari satu titik, mengikuti arah kompas, lalu berusaha mengidentifikasi lokasi mereka dengan melihat tengaran-tengaran.[55] Untuk pelayaran penjelajahan samudra yang pertama, orang-orang Eropa memanfaatkan kompas maupun kemajuan-kemajuan baru yang progresif di bidang kartografi dan astronomi. Alat-alat navigasi Arab seperti astrolab dan kuadran digunakan untuk memandu arah dengan cara mengamati bintang-bintang.


Penjelajahan bangsa Portugis

Pada tahun 1297, Raja Dinis tertarik untuk menggeluti usaha ekspor barang. Pada tahun 1317, ia menjalin kerjasama dengan seorang saudagar bahariwan Genova bernama Manuel Pessanha, mengangkatnya menjadi laksamana angkatan laut Portugal yang pertama, demi melindungi kerajaannya dari rongrongan gerombolan bajak laut Muslim.[56] Merebaknya wabah penyakit pes mengakibatkan populasi Portugal mengalami penurunan tajam pada seperdua akhir abad ke-14: hanya laut yang menawarkan mata pencaharian alternatif, dan sebagian besar populasi Portugal menetap di daerah-daerah penangkapan ikan dan perdagangan yang terletak di kawasan pesisir.[57] Antara tahun 1325 hingga tahun 1357, Raja Afonso IV berusaha membangkitkan perdagangan bahari dan memerintahkan pelaksanaan pelayaran-pelayaran jelajah yang pertama.[58] Kepulauan Kanaria, yang sudah tidak asing lagi bagi orang-orang Genova, diklaim sebagai daerah yang secara resmi ditemukan di bawah naungan Portugal, tetapi klaim ini digugat Kerajaan Kastila pada tahun 1344, sehingga membuat persaingan kedua kerajaan itu terbawa-bawa sampai ke laut.[59][60]

Demi memonopoli perdagangan, bangsa Eropa (mula-mula bangsa Portugis) berusaha menerapkan sistem niaga Laut Tengah, yang memanfaatkan kekuatan dan intimidasi militer untuk menggiring perdagangan bahari melewati pelabuhan-pelabuhan yang berada di bawah kendali mereka; dan dengan demikian dapat dipajaki.[61] Pada tahun 1415, Ceuta ditaklukan bangsa Portugis dengan tujuan untuk mengendalikan lalu-lintas pelayaran di perairan pesisir Afrika. Pangeran Henrique Mualim yang baru berumur 21 tahun ikut terlibat dalam perang penaklukan itu. Ia lantas menyadari bahwa ada banyak peluang untuk mengeruk laba di rute-rute perdagangan lintas Sahara. Rute-rute perdagangan budak dan emas, yang menghubungkan Afrika Barat dengan Laut Tengah, melintasi kawasan barat Gurun Sahara, berada di bawah kendali orang-orang Moro di Afrika Utara.


Bangsa Eropa tidak tahu apa saja yang berada di balik Tanjung Não (Tanjung Non), dan tidak tahu apakah orang bisa kembali sesudah berlayar melewatinya.[62] Pelayaran penjajakan yang diprakarsai Pangeran Henrique menantang mitos-mitos pelayaran yang memperingatkan para pelaut akan ancaman monster-monster laut di ujung dunia. Mulai dari tahun 1421, tantangan itu dibuktikan dengan pelayaran yang dilakukan secara sistematis, dan perairan Tanjung Bojador yang berbahaya pun akhirnya berhasil dilewati pada tahun 1434 oleh Gil Eanes, salah seorang nakhoda Pangeran Henrique.

Mulai tahun 1440, karawal-karawal digunakan secara ekstensif untuk menjajaki perairan pesisir Afrika. Karawal adalah kapal khas Iberia yang dimanfaatkan untuk keperluan penangkapan ikan, perdagangan, maupun militer. Tidak seperti kapal-kapal lain pada masa itu, karawal dilengkapi dengan kemudi cawat, bukan dengan kemudi sepak. Sarat airnya rendah, sehingga memudahkan usaha penjajakan perairan pantai yang belum dikenal. Karawal adalah kapal dengan kinerja berlayar yang baik, memiliki kemampuan menentang arah angin yang layak diacungi jempol menurut standar-standar masa itu. Perangkat layar latin kurang berguna bilamana kapal dibawa berlayar searah hembusan angin – inilah sebabnya Kolumbus Kristoforus Kolumbus () mengganti perangkat layar di kapal Niña dengan perangkat layar persegi.[63]


Penjelajahan bangsa Portugis sepeninggal Pangeran Henrique

Pada tahun 1460, Pedro de Sintra berhasil mencapai Sierra Leone. Pangeran Henrique Mualim mangkat pada bulan November tahun itu. Sepeninggal sang pangeran, mengingat jumlah pemasukan yang tidak seberapa, usaha penjelajahan samudra dipercayakan kepada Fernão Gomes, saudagar asal Lisboa, pada tahun 1469. Sebagai ganti hak memonopoli perdagangan di Teluk Guinea, Fernão Gomes diwajibkan melakukan pelayaran penjelajahan sejauh per tahun selama lima tahun.[64] Dengan dana dari pundi-pundi Fernão Gomes, penjelajah João de Santarém, Pedro Escobar, Lopo Gonçalves, Fernão do Pó, dan Pedro de Sintra berlayar melampaui target tersebut. Mereka berhasil mencapai Belahan Bumi Selatan dan kawasan kepulauan Teluk Guinea, termasuk Pulau São Tomé dan Príncipe dan bandar Elmina di Pantai Emas pada tahun 1471. Di tempat yang kelak dikenal dengan nama "Pantai Emas", yakni di wilayah Ghana saat ini, bangsa Portugis mendapati perdagangan emas aluvial yang ramai dan melibatkan pedagang-pedagang pribumi, Arab, dan Berber.


Pada tahun 1481, Raja João II memutuskan untuk membangun faktori São Jorge da Mina. Diogo Cão menjelajahi Sungai Konggo pada tahun 1482,[65] dan berhasil mencapai Tanjung Salib (sekarang Namibia) pada tahun 1486.

Terobosan besar berikutnya terjadi pada tahun 1488, ketika Bartolomeu Dias berhasil berlayar mengitari ujung selatan benua Afrika, yang ia namakan Cabo das Tormentas, "Tanjung Taufan", dan berlabuh di Teluk Mossel, kemudian terus berlayar hala ke timur hingga mencapai muara Sungai Ikan Besar, membuktikan bahwa Samudra Hindia dapat dicapai dengan berlayar dari Samudra Atlantik. Pada waktu yang sama, Pero da Covilhã, yang ditugaskan untuk diam-diam menjelajah ke pedalaman, akhirnya sampai ke Etiopia sesudah menghimpun informasi penting mengenai Laut Merah dan pesisir Quenia, mengisyaratkan bahwa sebentar lagi rute ke Hindia bakal tampak di depan mata.[66] Tidak lama kemudian Raja João II mengganti nama Cabo das Tormentas menjadi Cabo da Boa Esperança, "Tanjung Harapan", lantaran besarnya rasa optimis yang terbit dari peluang terbukanya jalan laut ke India, membuktikan betapa kelirunya anggapan yang dianut dari zaman Ptolemeus bahwa Samudra Hindia adalah perairan yang terkungkung daratan.

Berdasarkan cerita-cerita yang muncul kemudian hari tentang keberadaan pulau hantu Bacalao, dan gambar-gambar yang terpahat pada permukaan Cadas Dighton, sebagian pihak menduga bahwa penjelajah Portugis João Vaz Corte-Real menemukan Newfoundland pada tahun 1473, tetapi sumber-sumber tersebut dianggap tidak andal.[67]


Selepas senja, tanggal 3 Agustus 1492, Kolumbus bertolak dari Palos de la Frontera. Daratan terlihat pada tanggal 12 Oktober 1492, dan Kolumbus memberikan nama San Salvador kepada daratan (salah satu pulau di antara gugusan pulau yang sekarang menjadi wilayah negara Bahama) yang ia sangka "Hindia Timur" itu. Kolumbus menjelajahi pesisir timur laut Kuba dan pesisir utara Hispanyola, pada tanggal 5 Desember. Kedatangannya disambut oleh Guakanagari, cacique (kepala suku) pribumi yang mengizinkannya untuk meninggalkan beberapa orang anak buahnya.

Kolumbus meninggalkan 39 orang dan mendirikan permukiman La Navidad di lokasi yang dewasa ini menjadi wilayah negara Haiti.[68] Sebelum pulang ke Spanyol, ia menculik sekitar sepuluh orang pribumi dan dibawa serta ke Spanyol. Hanya tujuh atau delapan 'orang Indian' pribumi yang tiba dengan selamat di Spanyol, tetapi kedatangan mereka membetot perhatian publik Sevilla.[69] Pada tanggal 15 Maret 1493, Kolumbus tiba di Barcelona, lantas mempersembahkan laporannya kepada Ratu Isabel beserta Raja Fernando. Berita tentang penemuan daratan baru oleh Kolumbus dengan cepat tersiar ke seluruh Eropa.[70]

Kolumbus dan para penjelajah Spanyol lainnya mula-mula merasa kecewa melihat daratan yang mereka temukan. Tidak seperti Asia maupun Afrika, masyarakat Kepulauan Karibia tidak memiliki banyak komoditas yang dapat diperjualbelikan dengan para awak kapal-kapal Kastila. Oleh sebab itu, Kepulauan Karibia difokuskan untuk usaha-usaha kolonisasi. Kekayaan yang dicari-cari Spanyol baru ditemukan sesudah daratan benua Amerika dijelajahi.


Raja Portugal João II berkeberatan dengan pengaturan tersebut. Ia merasa diberi jatah daratan yang lebih sedikit daripada yang diterima Spanyol, lantaran bula Sri Paus tersebut menjegal langkahnya untuk mencapai India, tempat tujuan utamanya. Ia lantas berunding secara langsung dengan Raja Fernando dan Ratu Isabel untuk menggeser garis itu ke barat supaya ia dapat mengklaim daratan-daratan baru yang ditemukan orang Portugis di sebelah timur garis tersebut.[71] Pada tahun 1494, terbit Perjanjian Tordesillas yang membagi dunia untuk Portugal dan Spanyol. Portugal mendapatkan hak atas Afrika, Asia, dan kawasan timur Amerika Selatan (Brasil), yakni semua daratan di luar Eropa yang terletak di sebelah timur garis yang membujur 370 liga di sebelah barat Kepulauan Tanjung Verde (sudah dikuasai Portugis). Spanyol (Kerajaan Kastila) mendapatkan hak atas semua yang terletak di sebelah barat garis itu, termasuk pulau-pulau yang ditemukan Kolumbus pada pelayaran pertama, yang dicantumkan ke dalam Perjanjian Tordesillas dengan nama Cipanggu dan Antilia (Kuba dan Hispaniola). Garis pewatas yang membujur kurang lebih di tengah-tengah perairan yang membentang di antara Tanjung Verde jajahan Portugis dan daerah-daerah yang baru ditemukan Spanyol di Karibia ini membelah dunia pulau-pulau Samudra Atlantik yang dikenal orang Eropa pada masa itu menjadi dua bagian yang sama luasnya.

Pada tahun 1500, Pedro Álvares Cabral, yang mula-mula menyangka bahwa kawasan pesisir Brasil adalah sebuah pulau besar, mengklaim daratan Brasil di sebelah timur garis pewatas bagi Portugal. Klaim ini diakui oleh Spanyol. Dengan niat mencapai India, Cabral berlayar menyusuri perairan koridor di Samudra Atlantik yang sudah disepakati di dalam Perjanjian Tordesillas demi mendapatkan hembusan angin yang memperlancar pelayaran. Meskipun ada pihak-pihak yang menduga bahwa orang-orang Portugis diam-diam sudah menemukan daratan Brasil sebelumnya, tidak ada bukti andal yang mendukung dugaan semacam itu. Demikian pula kecurigaan bahwa Duarte Pacheco Pereira sudah menemukan daratan Brasil pada tahun 1498 dianggap tidak berdasar di kalangan sejarawan.

Kemudian hari, wilayah kedaulatan Spanyol terbukti meliputi kawasan luas yang membentang dari utara hingga ke selatan daratan besar benua Amerika, kendati luas wilayah Brasil yang dikuasai Portugis kelak bertambah hingga melewati garis pewatas, dan negara-negara Eropa lainnya mendirikan permukiman-permukinan di benua Amerika tanpa mengindahkan Perjanjian Tordesillas.

Benua Amerika: Dunia Baru

Hanya secuil dari medan jelajah itu yang pernah dilihat dengan mata kepala sendiri oleh orang-orang Eropa, sebab pembagiannya it was only divided by a geographical definition ketimbang kedaulatan. Hasrat untuk menyaingi Kesultanan Usmani dan pelayaran pertama Kolumbus tahun 1492 kian menyalakan semangat mereka untuk lebih giat lagi meneroka samudra, dan semenjak tahun 1497, beberapa penjelajah lain ikut-ikutan berlayar hala ke barat.

Amerika Utara

Pada tahun 1497, Giovanni Caboto, bahariwan yang juga berasal dari Italia, menerima surat paten dari kepala negara Inggris, Raja Henry VII. Bertolak dari pelabuhan Bristol, kemungkinan besar dengan dukungan dari Serikat Penyelenggara Safari Niaga yang berkedudukan di kota itu, Giovanni Caboto berlayar mengarungi Samudra Atlantik dari garis lintang yang terletak lebih ke utara dengan harapan dapat memangkas jarak tempuh ke "Hindia Barat",[72] lalu mendarat di suatu tempat di Amerika Utara, kemungkinan besar di Newfoundland.

Pada tahun 1499 João Fernandes Lavrador menerima lisensi dari Raja Portugal, dan bersama Pero de Barcelos menjadi orang-orang Eropa pertama yang melihat daratan Labrador, daratan yang namanya terambil dari nama marga João Fernandes. Sepulang dari Labrador, kemungkinan besar ia berangkat ke Bristol dan berlayar lagi atas nama Inggris.[73]

Antara tahun 1499 sampai 1502, adik-beradik Gaspar dan Miguel Corte Real meneroka dan memberi nama pesisir Tanah Hijau dan Newfoundland.[74] Kedua pelayaran penjajakan tersebut tercatat di dalam planisfer Cantino tahun 1502.


Ekspedisi ketiga Kolumbus pada tahun 1498 menjadi awal dari keberhasilan usaha kolonisasi Kastila (Spanyol) yang pertama Hindia Barat, yakni kolonisasi Pulau Hispaniola. Sekalipun makin banyak orang yang menyangsikan, Kolumbus tetap tidak terima dianggap belum sampai ke Hindia. Pada pelayaran tersebut, Kolumbus sampai ke muara Sungai Orinoco di pesisir utara Amerika Selatan (sekarang Venezuela). Aliran air tawar yang sedemikian besar ia anggap hanya mungkin dihasilkan oleh daratan besar, yang ia yakini adalah benua Asia.

Seiring bertambah ramainya lalu lintas kapal antara Sevilla dan Hindia Barat, bertambah pula pengetahuan seputar Kepulauan Karibia, Amerika Tengah, dan pesisir utara Amerika Selatan mengalami peningkatan. Antara tahun 1499 sampai 1500, armada yang dipimpin Alonso de Ojeda dan Amerigo Vespucci sampai ke kawasan pesisir yang kini bernama Guyana. Tampaknya kedua penjelajah tersebut kemudian berlayar sendiri-sendiri ke arah yang berlawanan. Amerigo Vespucci berlayar hala ke selatan dan menemukan muara Sungai Amazon pada bulan Juli 1499,[75][76] lalu melanjutkan pelayaran sampai ke 6° Lintang Selatan, di daerah timur laut Brasil sekarang ini, sebelum putar haluan.

Pada awal tahun 1500, badai menyimpangkan kapal Vicente Yáñez Pinzon dari jalur yang hendak dilaluinya, hingga akhirnya sampai ke daerah yang kini menjadi kawasan pesisir timur laut negara Brasil pada tanggal 26 Januari 1500. Vicente Yáñez Pinzon menjelajah jauh ke selatan sampai ke daerah yang kini menjadi wilayah negara bagian Pernambuco. Armada yang dipimpinnya merupakan kapal-kapal yang pertama memasuKi perairan muara Sungai Amazon, yang ia namakan Río Santa María de la Mar Dulce (Sungai Santa Maria Bunda Laut Tawar).[77] Letak daerah itu terlalu ke timur untuk dapat diklaim Kastila berdasarkan Perjanjian Tordesillas, tetapi penemuannya membangkitkan minat Kastila, sehingga melepas pelayaran kedua Pinzon pada tahun 1508 (pelayaran Pinzón–Solís, yang menjajaki daerah pesisir utara Amerika Tengah dalam rangka menjari jalur ke Timur), dan pelayaran tahun 1515–1516 yang dipimpin mualim ekspedisi jelajah tahun 1508, Juan Díaz de Solís. Ekspedisi tahun 1515–1516 dipicu oleh laporan-laporan penjelajahan orang-orang Portugis di kawasan itu. Usaha penjajakan berakhir ketika Juan Díaz de Solís dan beberapa anak buah kapal hilang saat menjajaki Sungai Plata dengan perahu, tetapi temuan mereka membangkitkan kembali minat Spanyol, dan kolonisasi pun dimulai pada tahun 1531.

Pada bulan April 1500, Armada India kedua, di bawah pimpinan Pedro Álvares Cabral dan diawaki nakhoda-nakhoda kawakan, memasuki perairan pesisir Brasil tatkala berlayar hala ke barat di samudra Atlantik selagi melakukan "volta do mar" untuk menghindari mati angin di Teluk Guinea. Pada tanggal 21 April 1500, sebuah gunung terlihat lalu diberi nama Monte Pascoal, dan pada tanggal 22 April, Cabral menjejakkan kakin di pantai. Pada tanggal 25 April, seluruh armada berlayar ke pelabuhan yang mereka namakan Porto Seguro (Pelabuhan Aman). Cabral mafhum bahwa tanah baru itu membentang di sebelah timur garis Tordesillas, dan mengirim perutusan ke Portugal membawa surat-surat yang mengabarkan temuannya, termasuk surat dari Pero Vaz de Caminha. Karena mengira daratan itu adalah sebuah pulau, Cabral menamakannya Ilha de Vera Cruz (Pulau Salib Sejati).[78] Beberapa sejarawan menduga bahwa mungkin saja orang-orang Portugis sebelumnya sudah pernah melihat daratan besar Amerika Selatan saat melakukan "volta do mar", dan itulah sebabnya Raja Joao II bersikeras menuntut garis sempadan digeser ke sebelah barat Tordesillas pada tahun 1494, sehingga pendaratan Portugis di Brazil mungkin saja bukan suatu kebetulan belaka; sekalipun mungkin saja motivasi Raja Joao hanya supaya dapat lebih mudah mengklaim daratan-daratan yang baru ditemukan di Samudra Atlantik.[79] Dari pantai timur, armada Cabral berputar haluan ke timur dan melanjutkan pelayarannya ke ujung selatan Afrika dan ke India. Cabral adalah nakhoda pertama yang menginjakkan kakinya di empat benua, karena memimpin ekspedisi pertama yang menghubungkan sekaligus menyatukan Eropa, Afrika, Dunia Baru, dan Asia.[80][81]

Atas undangan Raja Manuel I, Amerigo Vespucci[82] ikut serta sebagai pengamat dalam pelayaran-pelayaran jelajah Portugis ke peisir timur Amerika Selatan. Ekspedisi-ekspedisi tersebut tersohor di Eropa sesudah dua warta tertulis yang dinisbatkan kepadanya, diterbitkan antara tahun 1502 sampai 1504, lantaran mencuatkan pandangan bahwa daratan-daratan yang baru ditemukan itu bukanlah Hindia melainkan sebuah "Dunia Baru",[83] Istilah mundus novus juga merupakan judul Latin dari sebuah dokumen sezaman yang didasarkan atas surat-surat Amerigo Vespucci kepada Lorenzo di Pierfrancesco de' Medici, yang menjadi populer di Eropa.[84] Dalam waktu singkat, orang-orang Eropa menjadi mafhum bahwa Kolumbus sebenarnya tidak sampai ke Asia, tetapi menemukan sebuah benua baru, yakni benua Amerika. Benua dinamakan Amerika pada tahun 1507 oleh kartograf Martin Waldseemüller dan Matthias Ringmann, terambil dari nama Amerigo Vespucci.

Dari tahun 1501 sampai 1502, salah satu ekspedisi jelajah Portugis, dipimpin oleh Gonçalo Coelho (dan/atau André Gonçalves atau Gaspar de Lemos), berlayar menyusuri pantai Amerika Selatan hingga sampai ke perairan teluk Rio de Janeiro saat ini. Catatan Amerigo Vespucci menyebutkan bahwa ekspedisi tersebut mencapai garis "elevasi Kutub Selatan 52° Lintang Selatan", di daerah lintang "dingin", yang kini dikenal sebagai kawasan selatan Patagonia, sebelum berbalik arah. Amerigo Vespucci mencatat bahwa mereka berlayar hala ke barat daya dan selatan, menyusuri "garis pantai yang tak berkelok-kelok lagi panjang", yakni penggambaran yang cocok dengan keadaan alam di bagian selatan pesisir Amerika Selatan. Keterangan ini sepertinya kontroversial, sebab Amerigo berkata lain di dalam surat berikutnya. Ia menyebutkan bahwa ada pergeseran dari kira-kira 32° Lintang Selatan (Kawasan Selatan Brasil) ke selatan menenggara, menuju laut terbuka, bersikeras bahwa mereka sudah mencapai garis 50°/52° Lintang Selatan.[85][86]

Pada tahun 1503, Binot Paulmier de Gonneville, menantang kebijakan mare clausum Portugis, memimpin salah satu dari ekspedisi-ekspedisi perdana Prancis, Normandia, dan Bretanye ke Brasil. Dia berencana berlayar ke Hindia Timur, tetapi kapalnya diseret badai di Tanjung Harapan ke arah barat sampai ke tempat yang sekarang termasuk wilayah negara bagian Santa Catarina (Brasil Selatan) pada tanggal 5 Januari 1504.

Dari tahun 1511 sampai 1512, nakhoda Portugis João de Lisboa dan Estevão de Fróis berlayar sampai ke kuala Sungai Plata yang sekarang termasuk wilayah negara Uruguay dan Argentina, bahkan terus berlayar ke selatan sampai ke tempat yang sekarang bernama Teluk San Matias di garis 42° Lintang Selatan.[87][88] Ekspedisi itu sampai ke sebuah tanjung yang membujur dari utara ke selatan, yang mereka namakan Tanjung "Santa Maria" (Punta del Este, mempertahankan nama Tanjung Santa Maria untuk sebuah tanjung lain di dekatnya). Sesudah melewati garis 40° Lintang Selatan, mereka menemukan sebuah "tanjung" atau "daratan yang menjorok ke laut", dan sebuah "teluk" (pada bulan Juni dan Juli). Sesudah berlayar sejauh hampir untuk memutari tanjung itu, mereka kembali melihat daratan besar di sebelahnya, lantas berputar haluan ke barat laut, tetapi badai menghalangi mereka untuk terus berlayar. tramontane atau angin utara menyimpangkan kapal mereka dari jalur pelayaran yang direncanakan.

Dampak ekonomi di Eropa

Antonio de Morga (tahun 1559–1636), seorang pegawai pemerintah Spanyol di Manila, yang menyusun daftar panjang barang dagangan orang Tionghoa zaman Ming pada peralihan abad 16 ke 17, mencatat bahwa ada "barang-barang langka yang tak akan ada habis-habisnya, atau tak akan cukup kertas untuk menuliskannya, kalau aku rincikan satu per satu."[89] Ebrey menulis tentang transaksi komersial yang lumayan banyak. Dalam salah satu kasus, sebuah galiung yang berlayar ke jajahan-jajahan Spanyol di Dunia Baru mengangkut lebih dari 50.000 pasang stoking sutra. Tiongkok sebaliknya mengimpor perak dari tambang-tambang Peru dan Meksiko, yang dikirim melalui Manila. Saudagar-saudagar Tionghoa terlibat secara aktif dalam usaha-usaha perdagangan tersebut, dan banyak yang bermigrasi ke tempat-tempat seperti Filipina dan Kalimantan guna memanfaatkan peluang-peluang komersial yang baru tercipta.[90]

Pertambahan persediaan emas dan perak milik Kerajaan Spanyol terjadi bersamaan dengan siklus inflasioner besar di Spanyol dan Eropa, yang dikenal sebagai revolusi harga. Spanyol sudah menimbun banyak emas dan perak yang diboyong pulang daru Dunia Baru.[91] Pada dasawarsa 1540-an, ekstrasi emas secara besar-besar dari Meksiko mulai dilaksanakan. Pada abad ke-16, Spanyol menyimpan kekayaan setara 1,5 triliun dolar Amerika (nilai tahun 1990) dalam bentuk emas dan perak yang berasal dari Spanyol Baru. Lantaran sudah menjadi kepala negara monarki terkuat di Eropa pada masa yang penuh dengan perang dan konflik antarumat beragama itu, raja-raja Spanyol dari wangsa Habsburg menghamburkan kekayaan mereka untuk kepentingan perang dan seni rupa di seluruh Eropa. "Aku belajar pemeo baru di sini, segala sesuatu di Spanyol berharga kecuali perak," kata seorang musafir Prancis pada tahun 1603.[92] Perak yang dihamburkan Spanyol mengalir deras ke seluruh Eropa yang sedang dilanda paceklik uang tunai, dan mengakibatkan inflasi di mana-mana.[93] Inflasi kian diperparah oleh pertumbuhan populasi dengan tingkat produksi statis, gaji rendah, dan peningkatan biaya hidup, yang merusak industri lokal. Spanyol kian bergantung kepada aliran pendapatan dari imperium dagangnya. Ketergantungan ini menjadi pangkal kebangkrutan pertama Spanyol pada tahun 1557 akibat naiknya biaya militer.[94] Raja Spanyol, Felipe II, tidak mampu membayar utang pada tahun 1557, 1560, 1575, dan 1596. Kenaikan harga barang akibat sirkulasi uang memicu pertumbuhan kelas menengah komersial di Eropa, yaitu kaum borjuis, yang kelak memengaruhi politik dan budaya di banyak negara. Salah satu dari dampak inflasi, khususnya di Britania Raya, adalah penurunan nyata harga sewa yang menguntungkan para petani penggarap yang menyewa lahan para priagung dalam jangka panjang. Sejumlah priagung memilih untuk menjual lahan-lahan sewa mereka, sehingga muncul golongan kecil petani pemilik lahan, misalnya petani mandiri dan petani priayi.[95]

Baca juga

Keterangan

Pranala luar

Referensi

  1. The Age of Exploration.
  2. Paul Butel. The Atlantic. Taylor & Francis. 11 March 2002. ISBN 978-0-203-01044-0.
  3. Christopher Kleinhenz. Medieval Italy: An Encyclopedia. Routledge. 2004. Vol. 1. hlm. 407.
  4. Portuguese, The – Banglapedia. en.banglapedia.org.
  5. Tapan Raychaudhuri. The Cambridge Economic History of India: Volume 1, C.1200-c.1750. CUP Archive. 1982. ISBN 978-0-521-22692-9.
  6. Arnold, David (2006). The Age of Discovery, 1400-1600, (London: Routledge), hlm XI, https://books.google.com/books?id=SbIEAQAAQBAJ&q=The+Age+of+Discovery,+1400-1600
  7. Bartolomeu Dias. infoplease. Sandbox Networks, Inc.
  8. Diffie, Bailey W., dan George D. Winius, "Foundations of the Portuguese Empire, 1415–1580", hlm. 176
  9. Zweig, Stefan, "Conqueror of the Seas – The Story of Magellan", Read Books, 2007,
  10. John Merson. The Genius That Was China: East and West in the Making of the Modern World. The Overlook Press. 1990. ISBN 978-0-87951-397-9. Pendamping Serial PBS The Genius That Was China.
  11. Lincoln Paine. The Sea and Civilization: A Maritime History of the World. Random House, LLC. 2013.
  12. Lincoln Paine. The Sea and Civilization: A Maritime History of the World. Random House, LLC. 2013.
  13. Lincoln Paine. The Sea and Civilization: A Maritime History of the World. Random House, LLC. 2013.
  14. Jonathan Adams. A maritime archaeology of ships : innovation and social change in medieval and early modern Europe. 2013. ISBN 978-1-84217-297-1.
  15. Underwater Archaeology Proceedings from the Society for Historical Archaeology Conference: Kingston, Jamaica 1992. Society for Historical Archaeology. 1992. ISBN 9789992087121.
  16. Underwater Archaeology Proceedings from the Society for Historical Archaeology Conference: Kingston, Jamaica 1992. Society for Historical Archaeology. 1992. ISBN 9789992087121.
  17. Margaret Leshikar-Denton. The Oxford handbook of maritime archaeology. Oxford University Press. 2014. ISBN 9780199336005.
  18. Arnold 2002, p. 5.
  19. Love 2006, hlm. 130.
  20. silk-road 2008, web.
  21. DeLamar 1992, hlm. 328.
  22. Abu-Lughod 1991, hlm. 158.
  23. Roger Crowley. City of Fortune. Faber & Faber. 2011. ISBN 978-0-571-24595-6.
  24. Lincoln Paine. The Sea and Civilization: A Maritime History of the World. Random House, LLC. 2013.
  25. Rodney Stark. The Victory of Reason: How Christianity Led to Freedom, Capitalism and Western Success. Random House Trade Paperbacks. 2005. hlm. 137. ISBN 978-0-8129-7233-7.
  26. Parry 2006, hlm. 69.
  27. Diffie 1977, hlm. 24–25.
  28. Dunn 2004, hlm. 310.
  29. Yuan Julian Chen. Between the Islamic and Chinese Universal Empires: The Ottoman Empire, Ming Dynasty, and Global Age of Explorations. Journal of Early Modern History. 2021-10-11. Vol. 25 (5). hlm. 422–456. doi:10.1163/15700658-bja10030.
  30. Mancall 1999, hlm. 36.
  31. DeLamar 1992, hlm. 329.
  32. Vol. 7. hlm. 344–345.
  33. Arnold 2002, hlm. 7.
  34. Tamura 1997, hlm. 70.
  35. Cromer 1995, hlm. 117.
  36. Tsai 2002, hlm. 206.
  37. Mancall 2006, hlmn. 115.
  38. .
  39. .
  40. .
  41. .
  42. .
  43. .
  44. .
  45. .
  46. .
  47. .
  48. .
  49. Mancall 2006, hlm. 17.
  50. Sedemikian pentingnya rempah-rempah bagi asas-asas humorisme pengobatan Abad Pertengahan sampai-sampai tidak lama sesudah memasuki perdagangan rempah-rempah, para apoteker dan tabib seperti Tomé Pires dan Garcia da Orta (lih. Burns 2001, hlm. 14) diberangkatkan ke India sesudah mempelajari rempah-rempah di dalam karya-karya tulis seperti Suma Oriental (lih. Pires 1512, hlm. lxii) dan Colóquios dos simples e drogas da India (Percakapan Seputar obat-obatan satu jenis tanaman dan obat-obatan reramuan dari India)
  51. ScienceDaily 1998, news.
  52. Spufford 1989, hlmn. 339–349.
  53. Spufford 1989, hlm. 343.
  54. Abu-Lughod 1991, hlm. 122.
  55. Parry 1981, hlm. 33.
  56. Diffie 1977, hlm. 210.
  57. Newitt 2005, hlm. 9.
  58. Diffie 1960, hlm. 49.
  59. Diffie 1977, hlmn. 29–31.
  60. Butel 1999, hlm. 36.
  61. K.N. Chaudhuri. Trade and Civilization in the Indian Ocean: An Economic History from the Rise of Islam to 1750. Cambridge University Press. 1985. hlm. 64.
  62. Locke 1824, hlm. 385.
  63. Martin Elbl. Cogs, Caravels and Galleons: the sailing ship, 1000–1650. Conway Maritime Press. 1994. ISBN 0-85177-560-8.
  64. Diffie 1977, hlmn. 145–148.
  65. DeLamar 1992, hlm. 335.
  66. Anderson 2000, hlm. 59.
  67. Lusa. Portugueses chegaram à América 19 anos antes de Colombo. Expresso.
  68. Maclean 2008, web.
  69. Forbes 1993, hlm. 22
  70. Mancall 1999, hlm. 26.
  71. Davenport 1917, hlmn. 107–111.
  72. Croxton 2007, web (berlangganan)
  73. Diffie 1977, hlmn. 463–464.
  74. Diffie 1977, hlmn. 464–465.
  75. Frederick J. Pohl. Amerigo Vespucci: Pilot Major. Octagon Books. 1966. hlm. 54–55.
  76. [1] Arciniegas, German (1978) Amerigo and the New World: The Life & Times of Amerigo Vespucci: Octagon Press
  77. Samuel Morison. The European Discovery of America: The Southern Voyages, 1492–1616. Oxford University Press. 1974.
  78. N. McAlister, Lyle. (1984) Spain and Portugal in the New World: 1492–1700. hlm. 75.
  79. Crow 1992, hlm. 136.
  80. Foundations of the Portuguese Empire, 1415–1580 , Bailey Wallys Diffie dan George D. Winius. The University of Minnesota Press, 1977 hlm. 187
  81. The Coming of the Portuguese oleh Paul Lunde, London University's School of Oriental and African Studies, dalam Saudi Aramco World – Juli/Agustus 2005 Jilid 56, Nomor 4,
  82. Diffie 1977, hlmn. 456–462.
  83. Arciniegas 1978, hlmn. 295–300.
  84. Diffie 1977, hlm. 458.
  85. The Invention of America . Indiana University Press. hlmn. 106–07, oleh Edmundo O'Gorman
  86. Imago Mvndi – Brill Archive – Leiden, Editorial Board . Leo Bagrow, Stockholm – New light on Vespucci's third voyage, oleh R. Levillier hlmn. 40–45
  87. Leslie Bethell. The Cambridge History of Latin America, Jilid 1, Colonial Latin America. Cambridge University Press. 1984. hlm. 257. ISBN 978-0-521-23223-4.
  88. Rolando A. Laguarda Trias. Pilotos portugueses en el Rio de La Plata durante el siglo XVI. UC Biblioteca Geral 1. 1988. hlm. 59–61.
  89. Brook 1998, hlmn. 205–206.
  90. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  91. Walton 1994, hlmn. 43–44
  92. Braudel 1979, hlm. 171.
  93. Tracy 1994, hlm. 655.
  94. Braudel 1979, hlmn. 523–25
  95. Mark Overton. Agricultural Revolution in England: The transformation of the agrarian economy 1500–1850. Cambridge University Press. 1996. ISBN 978-0-521-56859-3.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29630988 (2026-08-24T10:07:56Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.