Lompat ke isi

Air menurut Islam

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung

Air menurut Islam adalah salah satu ciptaan Allah. Dalam ajaran Islam, air diciptakan untuk menjaga keberlangsungan hidup bagi manusia dan makhluk hidup lainnya di Bumi. Air dalam ajaran Islam juga menjadi salah satu pertanda kekuasaan Allah atas kenikmatan di dalam Surga bagi orang-orang yang beriman. Selain itu, air juga menjadi salah satu penyebab kebinasaan di permukaan Bumi bagi kaum yang mendustakan rasul utusan Allah dan menzalimi orang yang beriman.

Pengisahan

Al-Qur'an sebagai sumber utama ajaran Islam banyak mengisahkan tentang air. Pengisahan air di dalam Al-Qur'an berkaitan dengan asal dan manfaatnya, serta sebagai pertanda kekuasaan Allah. Air berkaitan dengan pengisahan atas asal dan manfaatnya dinyatakan dalam Al-Qur'an sebagai perairan yang bermanfaat bagi kehidupan dari makhluk hidup serta transportasi air. Sementara itu, air berkaitan dengan pengisahan atas pertanda kekuasan Allah berupa kisah mengenai sungai-sungai di Surga dan azab menggunakan air atas suatu kaum yang mengadakan kerusakan di permukaan Bumi. Beberapa kebinasaan kaum oleh Allah dengan menggunakan air yaitu kaum Nuh, Fir'aun, dan kaum Saba'.

Banjir kaum Nuh

Ajaran Islam di dalam Al-Qur'an menjelaskan bahwa banjir yang menenggelamkan satu kaum telah ditimpakan oleh Allah terhadap kaum Nuh. Banjir dijadikan Allah sebagai azab atas kaum yang mendustakan rasul utusan-Nya yaitu Nuh. Ayat di dalam Al-Qur'an yang menyatakan kebinasaan kaum Nuh menggunakan banjir ialah Surah Al-Furqan ayat ke-37. Pada ayat ke-40 dalam Surah Hud dinyatakan mengenai cara Allah menghasilkan banjir besar yaitu dengan memancarkan air dari permukaan tanah sebagai pertanda bagi Nuh dan pengikutnya untuk memasuki bahtera karena banjir telah dimulai untuk menenggelamkan kaumnya yang mendustakan kerasulannya.

Penenggelaman Fir'aun oleh air laut dan penyelamatan jasadnya

Dalam ajaran Islam, penenggelaman Fira'aun menggunakan air laut merupakan salah satu kisah mukjizat dari Musa sebagai nabi dalam Islam. Kisah penenggelaman ini berkaitan dengan pelarian Musa dan kaumnya yang beriman dari kejaran Fir'aun dan pasukannya. Musa dikisahkan melakukan pembelahan laut menggunakan tongkat miliknya untuk melewati lautan dan selamat dari kejaran Fir'aun. Sementara itu, Fir'aun yang mengejarnya di tengah lautan yang terbelah ditenggelamkan oleh air laut ketika berada di tengah-tengah laut.[1]

Dalam ajaran Islam diyakini bahwa jasad fFir'aun yang telah tenggelam diselamatkan oleh Allah dari kerusakan oleh air laut. Keyakinan ini berdasarkan kepaa pernyataan Allah dalam Surah Yunus ayat ke-92. Dalam ayat tersebut, jasad tersebut diselamatkan untuk dijadikan sebagai salah satu tanda kekuasaan Allah. Seorang dokter berkebangsaan Prancis yang bernama Maurice Bucaille telah menyatakan bahwa mayat Fir'aun yang ditemukan dalam keadaan utuh memang pernah tenggelam di air laut. Fakta penenggelamannya yaitu ditemukan bekas-bekas kandungan garam laut pada jasadnya.[2]

Manfaat

Sumber minuman dan makanan

Dalam Surat Al-Anbiya' ayat 30 dinyatakan bahwa Allah menciptakan air untuk menjaga keberlangsungan hidup bagi manusia dan makhluk hidup lainnya di Bumi. Pada Surah An-Nahl ayat 10–11 dinyatakan bahwa air diturunkan dari Langit sebagai air hujan untuk sebagian menjadi minuman dan sebagian lainnya menjadi penyubur tumbuhan dan tanaman. Tumbuhan menjadi makanan bagi ternak sedangkan tanaman menjadi makanan bagi manusia.

Sarana ibadah

Air merupakan salah satu kebutuhan untuk ibadah bagi muslim. Kebutuhan muslim terhadap air berkaitan dengan wudu untuk bersuci. Wudu merupakan salah satu syarat sah untuk salat bagi muslim. Cara berwudu ialah menggunakan air untuk membasahi atau mencuci anggota tubuh tertentu pada tubuh manusia. Jenis air yang digunakan untuk wudu adalah air bersih yang bersifat suci dan menyucikan sesuai dengan ajaran Islam. Selain itu, air juga dibutuhkan oleh muslim untuk mengadakan mandi junub yang juga termasuk jenis ibadah untuk menyucikan diri yang diperlukan untuk dapat melaksanakan ibadah utama yaitu salat. Ayat di dalam Al-Qur'an yang menyatakan kewajiban menyucikan diri dengan wudu dan mandi junub menggunakan air suci dan menyucikan adalah ayat ke-6 dalam Surah Al-Maidah.

Fenomena

Warna bebatuan di pegunungan

Dalam Surah Fatir ayat 27–28 tersirat pernyataan mengenai adanya hubungan antara air dan warna-warna yang muncul pada bebatuan di pegunungan. Ayat ini menyiratkan bahwa warna bebatuan yang ada di pegunungan tercipta akibat terjadinya interaksi bebatuan yang mengandung mineral dengan air.

Referensi

  1. Abu Muslim. 1001 Hal yang Paling Sering Ditanyakan tentang Islam. Penerbit Kahlil. 1989. hlm. 14. ISBN 978-979-22-8699-1.
  2. Abdul Majid Az-Zandani. Ensiklopedi Iman. Pustaka Al-Kautsar. 2016. hlm. 133.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29340968 (2026-06-13T10:09:22Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.