Lompat ke isi

Alkimia dan kimia Islam abad pertengahan

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Ibn Umayl The Silvery Water

Alkimia dan kimia dalam Islam mengacu pada studi tentang alkimia tradisional dan awal kimia praktis (awal penyelidikan kimia terhadap alam secara umum) oleh para ilmuwan di dunia Islam abad pertengahan. Kata alkimia berasal dari kata bahasa Arab كيمياء atau kīmiyāʾ..[1][2] dan ujung-ujungnya bisa berpangkal dari kata bahasa Mesir kuno kemi, yang berarti hitam.[3]

Setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi Barat, fokus perkembangan alkimia bergerak ke Khalifah dan peradaban Islam. Masih banyak yang diketahui tentang alkimia Islam karena didokumentasikan dengan lebih baik; sebagian besar tulisan terdahulu yang telah diturunkan selama bertahun-tahun dipelihara sebagai terjemahan bahasa Arab.[4]

Definisi dan hubungan dengan sains barat abad pertengahan

Dalam mempertimbangkan sains Islam sebagai praktik lokal yang berbeda, penting untuk mendefinisikan kata-kata seperti "bahasa Arab", "Islam", "alkimia", dan "kimia". Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai konsep yang dibahas dalam artikel ini, penting untuk memahami apa arti istilah ini secara historis. Ini juga dapat membantu untuk membersihkan kesalahpahaman tentang kemungkinan perbedaan antara alkimia dan kimia awal dalam konteks abad pertengahan. Seperti yang ditulis oleh A.I. Sabra dalam artikel yang berjudul, "Menghadap Sains Arab: Lokasi versus Esensi ()": Definisi sains Arab ini memberi kesan bahwa ada banyak faktor pembeda yang kontras dengan sains barat mengenai lokasi fisik, budaya, dan bahasa, meskipun ada juga beberapa kesamaan tujuan yang berusaha dicapai oleh ilmuwan Abad Pertengahan, dan awal mula pemikiran asal keduanya diturunkan.

Lawrence Principe menggambarkan hubungan antara alkimia dan kimia dalam artikelnya yang berjudul, "Alchemy Restored", dia menyatakan, "Pencarian transmutasi logam — yang kita sebut "alkimia" tapi lebih tepat disebut "Chrysopoeia" — biasanya dilihat sebagai identik dengan atau sebagai bagian dari kimia pada akhir abad ketujuh belas."[5] Oleh karena itu, dia mengusulkan bahwa ejaan awal kimia sebagai "chymistry" mengacu pada sains terpadu termasuk alkimia dan kimia awal. Principe berpendapat bahwa:

Oleh karena itu, tidak ada perbedaan yang jelas antara kedua bidang tersebut sampai awal abad ke-18.[6] Meskipun diskusi Principe berpusat pada praktik alkimia dan kimia Barat, argumen ini didukung dalam konteks sains Islam juga saat mempertimbangkan kemiripan metodologi dan inspirasi Aristoteles, seperti yang ditulis di bagian lain artikel ini. Perbedaan antara alkimia dan kimia awal adalah yang didominasi oleh semantik, meskipun dengan pemahaman tentang penggunaan kata-kata sebelumnya, kita dapat lebih memahami kekurangan historis dari konotasi yang berbeda mengenai persyaratan meskipun konotasi mereka berubah dalam konteks modern.


Kontribusi alkimiawan Islam pada alkimia mistis

Marie-Louise von Franz menjelaskan dalam pengantarnya pada "Kitab Penjelasan Simbol — Kitāb Ḥall ar-Rumūz" oleh Ibnu Umail tentang kontribusi alkimia Islam sebagai berikut: Pada abad ke-7 sampai ke-8, ilmuwan Islam hanya fokus pada penerjemahan teks bahasa kuno Hermetik-Gnostik tanpa mengubahnya. Secara bertahap mereka mulai "'mempertentangkan' isinya dengan agama Islam" dan mulai "berpikir secara independen dan bereksperimen dalam ranah alkimia". Sehingga, mereka menambahkan "penekanan pada pandangan monoteistik" (tauhid) dan semakin banyak menciptakan sinopsis dari beragam tradisi antik. Dalam menyatukan maknanya, para ilmuwan Islam sampai pada gagasan, bahwa rahasia dan tujuan alkimia adalah pencapaian "pengalaman psikis batin nan esa, yaitu citra Tuhan" dan batu, air, prima materia dan lain-lain adalah "semua aspek misteri batin yang dengan melaluinya alkimiawan bersatu dengan Allah". Kedua, mereka menambahkan "intonasi perasaan yang penuh gairah" dengan menggunakan lebih banyak bahasa puitis daripada Hermetik antik, juga memberi "penekanan lebih besar pada motif coniunctio (penyatuan)", yaitu gambar persatuan pria dan wanita, matahari dan bulan, raja dan ratu dll.[7] "Pakar mistik Islam memahami alkimia sebagai proses transformatif jiwa sang alkimiawan. Api yang mempromosikan transformasi ini adalah cinta Allah."[8]


Jabir bin Hayyan

Jabir bin Hayyan (, , ; biasanya diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai Geber) kemungkinan lahir pada tahun 721 atau 722, di kota Tus, Iran, dan merupakan anak dari Hayyan, seorang penjual obat dari Bani Azad yang semula tinggal di Kufah. Ketika Jabir muda belajar di Arab di bawah Harbi al-Himyari. Kemudian, dia tinggal di Kufah, dan akhirnya menjadi alkimiawan istana untuk Harun ar-Rasyid, di Baghdad. Jabir bersahabat dengan keluarga dan terjebak dalam aib mereka pada tahun 803. Akibatnya, dia kembali ke Kufah. Menurut beberapa sumber, dia meninggal di Tus pada 815.

Sebuah karya kumpulan tulisan besar dianggap berasal dari Jabir, sangat besar sehingga sulit dipercaya bahwa dia menulis semuanya seorang sendiri. Menurut teori Paul Kraus, banyak dari karya-karya ini harus dianggap berasal dari pengarang Ismailiyah setelahnya. Ini mencakup kelompok karya berikut: Seratus Duabelas Kitab (The One Hundred and Twelve Books); Tujuh Puluh Kitab (The Seventy Books); Sepuluh Kitab Rektifikasi (The Ten Books of Rectifications); dan Kitab Keseimbangan (The Books of the Balances). Artikel ini tidak akan membedakan antara Jabir dan penulis karya yang dikaitkan dengannya.[9]

Abu Bakar ar-Razi

Abu Bakar ar-Razi (), lahir sekitar tahun 864 di Rey, dikenal terutama sebagai dokter Persia. Dia menulis sejumlah karya alkimia, termasuk Sirr al-asrār (; ; )[10][11]

Ibnu Umail

Muhammad bin Umail al-Tamimi adalah seorang alkimiawan abad ke-10 dari cabang mistis-simbolis. Salah satu karyanya yang masih hidup adalah Kitāb al-māʿ al-waraqī wa-l-arḍ al-najmiyya (The Book on Silvery Water and Starry Earth; Buku tentang Air Keperakan dan Bumi Penuh Bintang). Karya ini adalah sebuah komentar tentang puisinya, Risālat al-shams ilā al-hilāl (The Epistle of the Sun to the Crescent Moon; Surat Sang Surya kepada Bulan Sabit) dan berisi banyak kutipan dari penulis kuno.[12] Ibnu Umail memiliki pengaruh penting terhadap alkimia Barat (Latin) abad pertengahan,[13] di mana karyanya ditemukan dengan nama yang berbeda, terutama sebagai Senior atau sebagai Zadith.[14] "Air Keperakannya" misalnya, dicetak ulang sebagai "Tabel Kimia Zadith Senior"; "The Chemical Table of Senior Zadith" dalam koleksi teks alkimia: Theatrum Chemicum, dan dikomentari oleh Pseudo Aquinas dalam Aurora Consurgens. Mereka berdua juga memberikan gambar orang bijak (yang dimodifikasi) yang memegang meja kimia (lihat gambar di atas).[15]

Al-Tughrai

Al-Tughrai adalah seorang dokter Persia abad ke-11 – ke-12.[16] yang karyanya Masabih al-hikma wa-mafatih al-rahma (Lentera Kebijaksanaan dan Kunci Rahmat) adalah salah satu karya paling awal dari ilmu bahan (material science).

Al-Jaldaki

Al-Jaldaki yang merupakan seorang alkimiawan Persia mendesak dalam bukunya kebutuhan akan kimia eksperimental dan menyebutkan banyak eksperimen Kanz al-ikhtisas fi ma'rifat al-khawas by Abu 'l-Qasim Aydamir al-Jildaki.

Teori alkimia dan kimia

Skema unsur yang digunakan oleh Jabir[17]
Panas Dingin
Kering Api Tanah
Lembap Udara Air

Jabir menganalisis setiap unsur Aristoteles dalam hal empat kualitas dasar Aristoteles yaitu panas, dingin, kering, dan lembap. Misalnya, api adalah zat yang panas dan kering, seperti terlihat pada tabel.[18][19][20] Menurut Jabir, pada setiap logam, dua dari kualitas ini adalah interior dan dua adalah eksterior. Misalnya, timbal eksternalnya dingin dan kering tetapi internalnya panas dan lembap; emas, di sisi lain, eksternalnya panas dan lembap tapi internalnya sangat dingin dan kering. Dia percaya bahwa logam terbentuk di Bumi melalui peleburan belerang (memberikan kualitas panas dan kering) dengan raksa (memberikan kualitas dingin dan lembap). Unsur-unsur ini, raksa dan belerang, harus dianggap bukan unsur biasa tapi zat ideal, hipotetis. Logam yang terbentuk tergantung pada kemurnian raksa dan belerang serta proporsi saat mereka bersatu.[21] Alkimiawan berikutnya, ar-Razi, mengikuti teori belerang-raksa Jabir, tetapi menambahkan komponen ketiga, asin.[22]

Dengan demikian, Jabir berteori, dengan menata ulang kualitas satu logam, akan dihasilkan logam yang berbeda.[23] Dengan alasan ini, pencarian batu filsuf diperkenalkan pada alkimia Barat.[24][25] Jabir mengembangkan sebuah numerologi yang rumit di mana huruf-huruf akar dari sebuah nama zat dalam bahasa Arab, ketika diolah dengan berbagai transformasi, memegang korespondensi dengan sifat fisik unsur tersebut.[26]

Proses dan peralatan

Ar-Razi menyebutkan proses kimia berikut ini: distilasi, kalsinasi, larutan, penguapan, kristalisasi, sublimasi, amalgamasi, dan (suatu proses untuk membuat bubur atau leburan dari padatan).[27] Beberapa praktik ini (kalsinasi, larutan, filtrasi, kristalisasi, sublimasi dan distilasi) juga diketahui telah dipraktikkan oleh alkimiawan Alexandria pra-Islam.[28]

Dalam karyanya Secretum secretorum, Al-Rāzī menyebutkan peralatan berikut ini:[29]

  • Alat untuk mencairkan zat (li-tadhwīb): tungku (kūr), ubub (minfākh atau ziqq), krus (bawtaqa), būt bar būt (bahasa Arab, dari bahasa Parsi) atau botus barbatus (bahasa Latin), ladle (mighrafa atau milʿaqa), gegep (māsik atau kalbatān), gunting (miqṭaʿ), palu (mukassir), kikir (mibrad).

Lihat juga

Bacaan lebih lanjut

Pranala luar

Referensi

  1. "alchemy", entry in The Oxford English Dictionary, J. A. Simpson and E. S. C. Weiner, vol. 1, 2nd ed., 1989, .
  2. p. 854, "Arabic alchemy", Georges C. Anawati, pp. 853-885 in Encyclopedia of the history of Arabic science, eds. Roshdi Rashed and Régis Morelon, London: Routledge, 1996, vol. 3, .
  3. p. 854, "Arabic alchemy", Georges C. Anawati, pp. 853-885 in Encyclopedia of the history of Arabic science, eds. Roshdi Rashed and Régis Morelon, London: Routledge, 1996, vol. 3, .
  4. Titus Burckhardt. Alchemy: science of the cosmos, science of the soul. Stuart & Watkins. 1967. hlm. 46.
  5. Principe 2011, P. 306
  6. Principe 2011, P. 306
  7. Marie-Louise von Franz (CALA IA) 2006, p. 26-27.
  8. Marie-Louise von Franz (CALA IA) 2006, p. 39.
  9. pp. 68-82, Holmyard 1990.
  10. pp. 867-879, Anawati 1996.
  11. pp. 86-92, Holmyard 1990.
  12. pp. 870-872, Anawati 1996.
  13. Marie-Louise von Franz (CALA IA) 2006, chapter: "Life and Work of Muḥammad ibn Umail", p. 55
  14. Julius Ruska, "Senior Zadith = Ibn Umail." Orientalistische Literaturzeitung 31, 1928, pp. 665-666
  15. Theodor Abt: "The Transmission of Ibn Umail's Vision to the Occident" in: Book of the Explanation of the Symbols - Kitāb Hall ar-Rumūz by Muhammad ibn Umail. Psychological Commentary by Theodor Abt. Corpus Alchemicum Arabicum (CALA) IB, Living Human Heritage Publications, Zurich 2009, p. 59-64.
  16. H. S. El Khadem. A Lost Text By Zosimos Reproduced in an Old Alchemy Book. Journal of Chemical Education. 1995. Vol. 72 (9). hlm. 774. doi:10.1021/ed072p774.
  17. pp. 74-82, Holmyard 1990.
  18. pp. 74-82, Holmyard 1990.
  19. Holmyard 1990, pp. 21-22.
  20. Aristotle, On Generation and Corruption, II.3, 330a-330b.
  21. pp. 74-82, Holmyard 1990.
  22. Holmyard 1990, p. 88.
  23. Titus Burckhardt. Alchemy: science of the cosmos, science of the soul. Stuart & Watkins. 1967. hlm. 29.
  24. Jehane Ragai. The Philosopher's Stone: Alchemy and Chemistry. Journal of Comparative Poetics. 1992. Vol. 12 (Metaphor and Allegory in the Middle Ages). hlm. 58–77. doi:10.2307/521636.
  25. E. J. Holmyard. Maslama al-Majriti and the Rutbatu'l-Hakim. Isis. 1924. Vol. 6 (3). hlm. 293–305. doi:10.1086/358238.
  26. pp. 74-82, Holmyard 1990.
  27. p. 89, Holmyard 1990.
  28. p. 23, A short history of chemistry, James Riddick Partington, 3rd ed., Courier Dover Publications, 1989, .
  29. Anawati 1996, p. 868

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28438721 (2025-11-13T03:08:24Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.