Lompat ke isi

Banjir Tiongkok 2016

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
June 23, 2016, Eastern China thunderstorms

Pada pertengahan Juni 2016, curah hujan yang tinggi terjadi di Tiongkok bagian selatan dan memicu banjir yang mematikan. Bulan-bulan selanjutnya, rentetan hujan mulai berdampak langsung pada negara tersebut. Wilayah sepanjang Sungai Yangtze dan Sungai Huai merupakan daerah yang terkena dampak paling parah.[1] Diperkirakan sebanyak 32 juta penduduk di 26 provinsi terkena dampak banjir dan 186 penduduk tewas.[2] Sebanyak 280.000 ladang hancur, dengan perkiraan kerugian mencapai .[3] Banjir terhebat seperti ini terakhir kali terjadi pada tahun 1998.[4]

Awal mula

Pada akhir musim semi dan awal musim panas, perenggan bernama meiyu front muncul di Tiongkok bagian timur, Taiwan, dan Jepang. Hal ini mengakibatkan perpanjangan musim penghujan dan hujan badai yang sering menyebabkan kerusakan. Curah hujan di sepanjang batas ini cenderung besar pasca musim panas El Nino, seperti pada musim panas 2016.[5]

Reaksi

Presiden Tiongkok, Xi Jinping telah mengirimkan Tentara dan Polisi Tiongkok untuk membantu penyelamatan dan penanggulangan banjir. Pada 6 Juli, Li Keqiang berkunjung ke Anhui, Hubei, dan Hunan dan meminta polisi lokal untuk bersiap siaga menghadapi banjir lanjutan. Media melaporkan Badai Nepartak dapat membuat parah keadaan banjir tersebut ketika badai tersebut membawa tanah dari pesisir Taiwan.[6]

Referensi

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28552127 (2025-11-19T17:55:37Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.