Lompat ke isi

Bilangan prima

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung

Bilangan prima adalah bilangan asli lebih dari 1 yang bukan darab (hasil kali) dari dua bilangan asli yang lebih kecil. Bilangan asli yang lebih dari 1 dan bukan bilangan prima disebut bilangan komposit. Misalnya, 5 adalah bilangan prima karena 5 dapat ditulis sebagai 1×5 atau 5×1, sedangkan 4 bukanlah bilangan prima karena hasil kalinya (2×2), di mana kedua bilangan lebih kecil dari 4. Bilangan prima merupakan bagian pusat dari teori bilangan karena melibatkan teorema dasar aritmetika: setiap bilangan asli lebih besar dari 1 adalah bilangan prima itu sendiri atau dapat difaktorkan sebagai hasil kali tunggal hingga urutannya.

Sifat-sifat yang menjadikan bilangan prima disebut primalitas. Metode sederhana tetapi lambat yang memeriksa primalitas untuk bilangan n, disebut pembagian percobaan. Metode ini menguji apakah n kelipatan dari suatu bilangan bulat antara 2 dan n. Algoritma lebih cepatnya adalah uji primalitas Miller–Rabin, algoritma cepat tetapi memiliki kesempatan galat kecil; dan uji primalitas Agrawal–Kayal–Saxena, algoritma yang selalu memberikan solusi yang benar dalam waktu polinomial, tetapi sangat lambat bila dipraktikkan. Metode cepat khususnya tersedia dalam bilangan bentuk khusus, seperti bilangan Mersenne. Hingga pada Desember 2018, bilangan prima terbesar yang diketahui merupakan bilangan prima Mersenne dengan 24.862.048 digit.[1]

Sekitar 300 SM, Euklides menjelaskan bahwa ada tak berhingga banyaknya bilangan prima. Tidak ada rumus sederhana yang memisahkan bilangan prima dari bilangan komposit. Akan tetapi, sebaran bilangan prima dalam jumlah bilangan asli yang sangat banyak dapat digambar secara statistik. Hasil pertama sebaran bilangan prima tersebut mengarah pada teorema bilangan prima, yang dibuktikan pada akhir abad ke-19. Teorema ini mengatakan bilangan terbesar yang dipilih secara acak menjadi bilangan prima berbanding terbalik dengan jumlah digitnya, yaitu logaritma.

Beberapa masalah-masalah bersejarah yang melibatkan bilangan prima masih belum terpecahkan. Masalah di antaranya konjektur Goldbach, yang menyatakan bahwa setiap bilangan bulat lebih besar dari 2 dapat dibentuk sebagai jumlah dua bilangan prima, dan konjektur bilangan prima kembar, menyatakan bahwa ada tak berhingga banyaknya pasangan bilangan prima yang memiliki sebuah bilangan genap di antaranya. Masalah-masalah tersebut mendorong pengembangan berbagai cabang dalam teori bilangan, yang fokus pada aspek bilangan analitik atau bilangan aljabar. Dalam kehidupan sehari-hari, bilangan prima dipakai dalam teknologi informasi, seperti kriptografi kunci publik, yang bergantung pada kesulitan memfaktorkan bilangan yang lebih besar menjadi faktor bilangan prima. Dalam aljabar abstrak, objek yang umumnya berperilaku sebagai bilangan prima di antaranya elemen bilangan prima dan ideal bilangan prima.

Definisi dan contoh

Suatu bilangan asli (1, 2, 3, 4, 5, dst.) dapat dikatakan sebagai bilangan prima jika dan hanya jika bilangan asli tersebut lebih besar dari 1 dan tidak dapat ditulis sebagai hasil kali bilangan asli yang lebih kecil. Bilangan asli yang lebih dari 1, tetapi bukan merupakan bilangan prima disebut bilangan komposit.[2] Dengan kata lain, n dikatakan bilangan prima jika terdapat n benda tidak dapat dibagi menjadi kelompok dengan jumlah yang sama, yang terdiri dari satu benda.[3] Bilangan prima juga diilustrasikan sebagai susunan n titik menjadi persegi panjang yang lebar dan tingginya lebih dari satu titik.[4] Sebagai contoh, bilangan di antara 1 sampai 6, bilangan primanya adalah 2, 3, dan 5;[5] karena tidak ada bilangan lain yang membagi ketiga bilangan tersebut tanpa adanya sisa. 1 bukan bilangan prima, karena merupakan pengecualian yang khusus dalam definisi di atas. 4 = 2 × 2 dan 6 = 2 × 3 merupakan bilangan komposit.

Pembagi dari suatu bilangan asli n adalah bilangan asli yang membagi n sama rata. Pembagi pada setiap bilangan asli tersebut adalah 1 dan dirinya sendiri. Jika n memiliki pembagi lain, maka n bukanlah bilangan prima. Gagasan ini merujuk ke definisi bilangan prima yang berbeda tetapi ekuivalen: terdapat bilangan setidaknya dua pembagi bilangan positif, yaitu 1 dan dirinya sendiri.[6] Adapun cara lain untuk menjelaskan hal tersebut, yaitu: n adalah bilangan prima jika n lebih besar dari 1 dan tidak ada bilangan 2,3,,n1 yang membagi n sama rata.[7]

Berikut adalah 25 bilangan prima pertama (semua bilangan prima yang lebih kecil dari 100):[8]

1,2, 3, 5, 7, 11, 13, 17, 19, 23, 29, 31, 37, 41, 43, 47, 53, 59, 61, 67, 71, 73, 79, 83, 89, 97 .

Tidak ada bilangan genap n yang lebih besar dari 2 adalah bilangan prima karena bilangannya dapat dibentuk sebagai hasil kali 2×n2. Karena itu, setiap bilangan prima selain dari 2 adalah bilangan ganjil, dan bilangan tersebut disebut bilangan prima ganjil.[9] Ketika ditulis dalam sistem desimal biasa dengan cara yang serupa, semua bilangan prima yang lebih besar dari 5 berakhir dengan digit satuan 1, 3, 7, atau 9. Bilangan yang berakhir dengan digit satuan yang berbeda adalah bilangan komposit: bilangan desimal yang digit satuannya adalah 0, 2, 4, 6, atau 8 adalah bilangan genap, dan bilangan desimal yang berakhir dengan digit satuan 0 dan 5 habis dibagi 5.[10]

Himpunan bilangan prima kadangkala dilambangkan 𝐏[11] atau .[12]

Sejarah

Papirus Matematika Rhind dari sekitar tahun 1550 SM, memiliki perluasan pecahan Mesir dalam bentuk yang berbeda untuk bilangan prima dan bilangan komposit.[13] Namun, catatan sejarah pertama kali yang mempelajari bilangan prima dengan eksplisit berasal dari matematika Yunani kuno.. Elemen dari Euklides (300 SM) membuktikan bilangan prima tak-hingga dan teorema dasar aritmetika, dan menunjukkan cara membuat bilangan sempurna dari prima Mersenne.[14] Penemuan Yunani lainnya yaitu tapis Eratosthenes masih digunakan untuk menyusun daftar bilangan prima.[15][16]

Sekitar 1000 M, matematikawan Islam Ibn al-Haytham (Alhazen) menemukan teorema Wilson dengan mencirikan bilangan prima sebagai bilangan n yang membagi rata (n1)!+1. Ia juga menduga bahwa semua bilangan sempurna genap berasal dari konstruksi Euklides yang menggunakan bilangan prima Mersenne, tetapi tidak dapat membuktikannya.[17] Matematikawan Islam lainnya, Ibn al-Banna' al-Marrakushi mengamati bahwa pitas Eratosthenes dapat dipercepat dengan menguji hanya pembagi hingga akar kuadrat dari bilangan terbesar yang akan diuji. Fibonacci membawa inovasi dari matematika Islam kembali ke Eropa. Liber Abaci (1202) dalam bukunya yang pertama mendeskripsikan pembagian percobaan untuk menguji primalitas, sekali lagi menggunakan pembagi hanya akar kuadrat hingga.[18]

Pada 1640, Pierre de Fermat menyatakan teorema kecil Fermat tanpa bukti, yang kemudian dibuktikan oleh Leibniz dan Euler.[19] Fermat juga menyelidiki primalitas dari bilangan Fermat 22n+1,[20] dan Marin Mersenne mempelajari prima Mersenne, bilangan prima dari bentuk 2p1 dengan p sendiri adalah bilangan prima.[21] Dalam surat tahun 1742 untuk Euler, Christian Goldbach merumuskan konjektur Goldbach, bahwa setiap bilangan genap adalah jumlah dari dua bilangan prima.[22] Euler membuktikan konjektur Alhazen (yang saat ini disebut teorema Euklides–Euler) bahwa semua bilangan sempurna genap dapat dibangun dari bilangan prima Mersenne.[23] Ia memperkenalkan metode dari analisis matematis ke cabang ini dalam bukti ketakterhinggaan bilangan prima dan kedivergenan jumlah timbal-balik bilangan prima 12+13+15+17+111+.[24] Pada awal abad ke-19, Legendre dan Gauss menduga bahwa ketika x menuju ke takhingga, jumlah bilangan prima hingga x asimptotik ke xlogx, di mana logx melambangkan logaritma natural dari x. Versi lemah postulat Bertrand yang mengatakan bahwa untuk setiap n>1, terdapat bilangan prima di antara n dan 2n, dibuktikan oleh Pafnuty Chebyshev pada tahun 1852.[25] Gagasan Bernhard Riemann dalam makalahnya tahun 1859 tentang fungsi zeta menggambarkan sebuah garis besar dalam membuktikan konjektur Legendre dan Gauss. Walaupun gagasannya yang berkaitan dengan hipotesis Riemann masih belum terpecahkan, tetapi garis besar Riemann diselesaikan oleh Hadamard dan de la Vallée Poussin pada tahun 1896, dan hasilnya saat ini dikenal sebagai teorema bilangan prima.[26] Hasil penting lainnya pada abad ke-19 adalah teorema Dirichlet tentang barisan aritmetika, barisan aritmetika pasti memuat tak berhingga banyaknya bilangan prima.[27]

Beberapa matematikawan telah melakukan uji primalitas untuk bilangan lebih besar dari bilangan penerapan uji pembagian. Metode yang membatasi bentuk bilangan khusus di antaranya uji Pépin untuk bilangan Fermat (1877),[28] teorema Proth (sekitar 1878),[29] uji primalitas Lucas–Lehmer (berasal dari 1856), dan uji primalitas Lucas rampat.[30]

Sejak tahun 1951, semua bilangan prima terbesar yang diketahui telah ditemukan menggunakan uji ini pada komputer. Pencarian bilangan prima besar telah membangkitkan minat pada luar lingkaran matematika, melalui Great Internet Mersenne Prime Search dan proyek komputasi distribusi lainnya.[31][32] Gagasan bahwa bilangan prima memiliki beberapa penerapan diluar matematika murni, sekitar tahun 1970-an ketika kriptografi kunci publik dan RSA sistem kripto ditemukan dengan menggunakan bilangan prima sebagai basisnya.[33]

Meningkatnya kepentingan praktis dari pengujian dan faktorisasi primalitas terkomputerisasi menyebabkan pengembangan metode menjadi lebih baik yang mampu menangani sejumlah besar bentuk ketakhinggaan.[34][35][36] Teori matematika bilangan prima juga terus berkembang dengan teorema Green-Tao (2004) bahwa barisan aritmetika panjang yang cenderung dari bilangan prima, dan pembuktian pada tahun 2013 Yitang Zhang bahwa memiliki banyak uji celah prima ketakhinggaan.[37]

Primalitas dari 1

Hampir seluruh matematikawan Yunani kuno bahkan tidak menganggap 1 sebagai bilangan,[38][39] sehingga mereka tidak menganggap primalitas. Beberapa matematikawan pada kala ini juga menganggap bilangan prima adalah subpembagian bilangan ganjil, sehingga mereka menganggap 2 bukanlah bilangan prima. Namun, Euklides dan sebagian besar matematikawan Yunani lainnya menganggap 2 sebagai bilangan prima. Sebagian besar matematikawan Islam pada abad pertengahan mengikuti pandangan matematikawan Yunani bahwa 1 bukanlah sebuah bilangan.[40] Pada masa abad pertengahan dan masa Reinsans, para matematikawan mulai memperlakukan 1 sebagai bilangan, dan ada pula dari mereka memperlakukan 1 sebagai bilangan prima pertama.[41] Dalam suratnya untuk Leonhard Euler pada pertengahan abad ke-18, Christian Goldbach menganggap 1 sebagai bilangan prima; tetapi Euler tidak.[42] Pada abad ke-19, banyak para matematikawan masih menganggap 1 sebagai bilangan prima,[43] dan yang memuat 1 sebagai daftar bilangan prima terus diterbitkan hingga tahun 1956.[44][45]

Jika definisi bilangan prima mengatakan bahwa 1 adalah bilangan prima, maka banyak pernyataan yang melibatkan bilangan prima akan ditulis ulang dalam cara yang aneh. Sebagai contoh, teorema dasar aritmetika akan perlu ditulis ulang dalam bentuk faktorisasi menjadi bilangan prima lebih besar dari 1, karena setiap bilangan mempunyai banyak kelipatan dengan jumlah salinan dari 1 yang berbeda.[46] Mirip dengan contoh sebelumnya, saringan Eratosthenes tidak akan bekerja dengan benar jika saringan tersebut memperlakukan 1 sebagai sebuah bilangan prima, karena saringan Eratosthenes akan mengeliminasi semua kelipatan 1 (yaitu semua bilangan lainnya) dan memberikan hasil hanya satu bilangan saja, yaitu 1.[47] Ada beberapa sifat bilangan prima lebih teknis yang juga tidak berlaku untuk 1, sebagai contoh rumus fungsi phi Euler atau fungsi jumlah pembagi berbeda untuk bilangan prima dengan 1 yang didefinisikan sebagai bilangan prima.[48] Pada awal abad ke-20, para matematikawan mulai menyetujui bahwa 1 tidak ditulis sebagai bilangan prima, melainkan dikategorikan istimewa sebagai "satuan".[49]

Sifat-sifat dasar

Faktorisasi tunggal

Suatu bilangan dapat ditulis sebagai hasil kali bilangan prima disebut faktorisasi bilangan prima. Misalnya:

34886=23313149=23213149

Bentuk yang ditulis dalam hasil kali disebut faktor bilangan prima. Faktor bilangan prima yang sama sering kali muncul lebih dari satu. Contoh di atas memiliki dua salinan faktor bilangan prima 3. Ketika sebuah bilangan prima sering muncul berkali-kali, eksponen dapat dipakai untuk mengumpulkan salinan faktor bilangan prima. Misalnya, dalam menulis hasil kali di atas, yakni pada barisan kedua, 32 dilambangkan sebagai tiga pangkat dua.

Pentingnya bilangan prima dalam teori bilangan dan matematika umumnya berasal dari teorema dasar aritmetika.[50] Teorema ini mengatakan bahwa setiap bilangan bulat yang lebih besar dari 1 dapat ditulis sebagai hasil kali dari satu bilangan prima atau lebih. Lebih lanjut, hasil kalinya adalah tunggal dalam artian bahwa dua faktorisasi bilangan prima dari bilangan yang sama akan memiliki jumlah salinan yang sama dari bilangan prima yang sama meski urutannya berbeda.[51] Walaupun ada banyak cara mencari faktorisasi melalui algoritma faktorisasi bilangan bulat, hasil yang diperoleh adalah sama. Jadi, bilangan prima dapat dianggap sebagai "satuan dasar" bilangan asli.[52]

Bukti-bukti mengenai ketunggalan faktorisasi bilangan prima dijelaskan melalui lema Euklides: Jika p bilangan prima dan p membagi hasil kali ab (di mana a dan b bilangan bulat), maka p membagi a atau p membagi b (atau membagi keduanya).[53] Sebaliknya, jika p memiliki sifat ketika dibagi hasil kalinya (p selalu membagi setidaknya salah satu dari faktor hasil kali tersebut), maka p haruslah bilangan prima.[54]

Ketakterhinggaan

Ada tak berhingga banyaknya bilangan prima. Dengan kata lain, barisan bilangan prima

2, 3, 5, 7, 11, 13, ...

tidak pernah berakhir. Karena pertama kali yang membuktikan pernyataan ini adalah Euklides, pernyataan tersebut disebut teorema Euklides untuk menghormati matematikawan Yunani Kuno Euklides. Masih ada bukti mengenai ketakterhinggaan bilangan prima, diantaranya: bukti analitik oleh Euler, bukti Goldbach berdasarkan bilangan Fermat,[55] bukti Furstenberg melalui topologi umum,[56] dan bukti elegan Kummer.[57]

Bukti Euler[58] menunjukkan bahwa setiap daftar bilangan prima terhingga belum lengkap. Kunci utamanya adalah mengalikan bilangan prima pada daftar tertentu dan ditambah 1. Jikalau terdiri dari bilangan prima p1,p2,,pn, maka

N=1+p1p2pn.

Menurut teorema dasar aritmetika, N memiliki faktorisasi bilangan prima yang faktornya berjumlah satu atau lebih.

N=p'1p'2p'm

N dibagi habis secara merata oleh setiap faktor-faktor tersebut, tetapi N mempunyai sisa yaitu satu ketika dibagi oleh suatu bilangan prima pada daftar tertentu sehingga tidak ada faktor bilangan prima N yang terdapat pada daftar tersebut. Karena tidak ada daftar bilangan prima terhingga, maka pasti ada tak berhingga banyaknya bilangan prima.

Bilangan yang dibentuk dengan menambahkan 1 pada hasil kali dari bilangan prima terkecil disebut bilangan Euklides.[59] Lima bilangan pertama adalah bilangan prima, tetapi yang keenam,

1+(23571113)=30031=59509,

adalah bilangan komposit.

Rumus untuk bilangan prima

Tidak ada rumus cepat yang diketahui untuk bilangan prima. Contoh, tidak ada polinomial tak konstan, bahkan dalam beberapa variabel, yang hanya memakai nilai bilangan prima.[60] Namun, ada banyak bentuk rumus yang mengodekan semua bilangan prima, atau hanya bilangan prima. Ada rumus yang dapat didasari pada teorema Wilson, dan rumus tersebut menghasilkan 2 berkali-kali dan sisa bilangan prima dihasilkan sekali.[61] Adapun juga himpunan persamaan Diophantus dalam sembilan variabel dan satu parameter dengan sifat berikut: parameter adalah bilangan prima jika dan hanya jika sistem persamaan yang dihasilkan adalah solusi bilangan asli. Hal tersebut dapat dipakai untuk memperoleh rumus tunggal dengan sifat bahwa semua nilai positif adalah bilangan prima.[62]

Contoh rumus yang menghasilkan bilangan prima lainnya berasal dari teorema Mills dan teorema Wright. Rumus ini mengatakan bahwa terdapat suatu konstanta real A>1 dan μ sehingga

A3n dan 222μ

adalah bilangan prima untuk suatu bilangan asli n dalam rumus yang pertama, dan suatu bilangan eksponen dalam rumus yang kedua.[63] merepresentasikan fungsi bilangan bulat terbesar. Akan tetapi, rumus-rumus tersebut tidak dapat digunakan untuk menghasilkan bilangan prima, karena bilangan prima harus dihasilkan terlebih dahulu agar memperoleh nilai A atau μ.[64]

Pertanyaan terbuka

Banyak konjektur yang melibatkan bilangan prima telah diajukan. Sering kali memiliki perumusan dasar, banyak konjektur-konjektur tersebut memiliki bukti yang bertahan selama beberapa dekade: empat masalah Landau yang berasal dari tahun 1912 masih belum terpecahkan.[65] Salah satu masalah Landau adalah konjektur Goldbach, yang menyatakan bahwa setiap bilangan bulat genap n lebih besar dari 2 dapat ditulis sebagai jumlah dari dua bilangan prima.[66] Hingga pada 2014, konjektur ini telah dibenarkan untuk semua bilangan hingga n=41018.[67] Pernyataan yang lebih lemah dari konjektur tersebut telah dibuktikan seperti: teorema Vinogradov yang mengatakan bahwa setiap bilangan bulat ganjil yang cukup besar dapat ditulis sebagai jumlah dari tiga bilangan prima,[68] teorema Chen yang mengatakan bahwa setiap bilangan genap yang cukup besar dapat dinyatakan sebagai jumlah dari bilangan prima dan semiprima (hasil kali dari dua bilangan prima),[69] serta suatu bilangan bulat genap yang lebih besar dari 10 dapat ditulis sebagai jumlah dari enam bilangan prima.[70] Cabang teori bilangan yang mempelajari masalah tersebut disebut teori bilangan aditif.[71]

Berbagai jenis masalah yang melibatkan ', atau disebut sebagai selisih antara dua bilangan prima yang berturutan. Keberadaan sembarang selisih yang besar tersebut dapat dipandang dengan memerhatikan bahwa barisan n!+2,n!+3,,n!+n terdiri dari n1 bilangan komposit, untuk sembarang bilangan asli n.[72] Akan tetapi, selisih yang besar muncul lebih awal daripada pernyataan yang diperlihatkan tadi.[73] Sebagai contoh, selisih pertama yang panjangnya 8 ditemukan pada bilangan prima di antara 89 dan 97,[74] yang kenyataannya sangat kecil daripada 8!=40320. Terdapat suatu konjektur bahwa terdapat tak terhingga banyaknya bilangan prima kembar, yakni selisih dari dua bilangan prima adalah 2. Konjektur ini bernama konjektur bilangan prima kembar. Konjektur Polignac menyatakan bentuk yang lebih umum, bahwa untuk setiap bilangan bulat positif k, terdapat tak terhingga banyaknya pasangan bilangan prima berturutan yang selisihnya adalah 2k.[75] Konjektur Andrica,[76] konjektur Brocard,[77] konjektur Legendre,[78] dan konjektur Oppermann[79] sama-sama mengatakan bahwa selisih dari bilangan prima terbesar dari 1 hingga ke pasti setidaknya paling besar kira-kira n. Hasil ini berasal dari yang dikenal dengan hipotesis Riemann. Adapun hasil yang lebih kuat lagi menurut konjektur Cramér bahwa besaran selisih terbesarnya adalah .[80] Selisih antara dua bilangan prima dapat dinyatakan dalam bentuk umum menjadi ', pola yang selisih di antaranya lebih dari dua bilangan prima. Ketakterhinggaan dan densitas selisih bilangan prima merupakan subjek dari konjektur Hardy–Littlewood pertama, yang dapat diilhami dengan pendekatan heuristik bahwa bilangan prima memiliki perilaku yang serupa dengan suatu barisan bilangan acak dengan densitas yang diketahui menurut teorema bilangan prima.[81]

Sifat-sifat analitik

Teori bilangan analitik adalah studi cabang teori bilangan yang berfokus mengenai fungsi kontinu, limit, deret takhingga, dan kaitan matematika tentang takhingga dan infinitesimal.

Cabang ini dimulai dengan Leonhard Euler yang menemukan solusi dari masalah yang sangat penting, yaitu masalah Basel. Masalah ini menanyakan berapakah nilai dari deret takhingga 1+14+19+116+, dan nilai deret saat ini dapat dianggap sebagai nilai ζ(2) (di mana ζ adalah fungsi zeta Riemann). Fungsi ini sangat terkait erat dengan bilangan prima dan fungsi ini merupakan salah satu masalah yang belum terpecahkan yang sangat penting dalam matematika, hipotesis Riemann. Euler memperlihatkan bahwa ζ(2)=π26.[82] Kebalikannya, 6π2, merupakan probabilitas batas yang menyatakan bahwa dua bilangan acak dipilih secara seragam dari kisaran relatif prima yang besar (relatif prima berarti tidak memiliki kesamaan faktor).[83]

Sebaran bilangan prima masih dicari, seperti pertanyaan yang menanyakan berapa banyak bilangan prima yang lebih kecil dari sebuah batas yang lebih besar dijelaskan melalui teorema bilangan prima, namun rumus efisien bilangan prima ke-n belum diketahui. Teorema Dirichlet tentang barisan aritmetika, dalam bentuk dasar, mengatakan bahwa polinomial linear

p(n)=a+bn

dengan a dan b saling relatif prima mengambil tak berhingga banyaknya nilai bilangan prima. Bentuk teorema yang lebih kuat mengatakan bahwa jumlah timbal balik dari nilai bilangan prima tersebut adalah divergen, dan bahwa polinomial linear yang berbeda dengan b yang sama kira-kira sama dengan perbandingan bilangan prima yang sama. Walaupun konjektur tersebut dirumuskan mengenai perbandingan bilangan prima dalam polinomial berderajat tinggi, konjektur tersebut masih belum terpecahkan, dan belum diketahui adakah polinomial kuadratik bahwa (untuk nilai-nilai bilangan bulat) merupakan sering tak berhingga bilangan prima.

Bukti analitik teorema Euklides

Bukti Euler yang mengatakan ada tak berhingga banyaknya bilangan prima meninjau jumlah dari timbal-balik bilangan prima,

12+13+15+17++1p.

Euler memperlihatkan bahwa untuk suatu x bilangan real sembarang, terdapat bilangan prima p yang jumlahnya lebih besar dari x.[84] Bukti tersebut memperlihatkan bahwa ada tak berhingga banyaknya bilangan prima. Karena jika terdapat berhingga banyaknya bilangan prima, maka jumlahnya akan mencapai nilai maksimum di bilangan prima terbesar daripada naik melalui setiap x. Laju pertumbuhan dari jumlah ini digambarkan melalui teorema kedua Mertens.[85] Bandingkan jumlah

112+122+132++1n2,

yang tidak naik menuju takhingga ketika n menuju takhingga (lihat masalah Basel). Ini berarti, bilangan prima sering kali muncul daripada bilangan asli yang dikuadratkan meskipun kedua himpunan adalah takhingga.[86] Teorema Brun menyatakan bahwa jumlah timbal-balik bilangan prima kembar,

Gagal mengurai (kesalahan sintaks): {\displaystyle \left( {\frac{1}{3} + \frac{1}{5}} \right) + \left( {\frac{1}{5} + \frac{1}{7}} \right) + \left( {\frac{1} + \frac{1}} \right) + \cdots } ,

adalah terhingga. Karena teorema Brun, bukti di atas tidak dapat menggunakan metode Euler untuk menyelesaikan bilangan prima kembar, yang ada tak berhingga banyaknya bilangan prima.[87]

Jumlah bilangan prima di bawah batas tertentu

Fungsi penghitungan bilangan prima π(n) didefinisikan sebagai jumlah bilangan prima yang lebih kecil dari n.[88] Contohnya, π(11)=5, karena ada lima bilangan prima yang lebih kecil atau sama dengan 11 (yakni 2, 3, 5, 7, 11). Metode seperti algoritma Meissel–Lehmer dapat menghitung nilai eksak π(n) lebih cepat daripada menulis setiap bilangan prima sampai dengan n. Teorema bilangan prima menyatakan bahwa π(n) asimtotik dengan nlogn. Teorema ini ditulis sebagai

π(n)nlogn.

Ini berarti bahwa rasio π(n) terhadap pecahan di ruas kanan mendekati 1 ketika n menuju takhingga.[89] Teorema ini menyiratkan bahwa kemungkinan bilangan yang lebih kecil dari n yang dipilih secara acak adalah bilangan prima, kira-kira berbanding terbalik dengan jumlah digit n.[90] Teorema ini juga menyiratkan bahwa bilangan prima ke-n sebanding dengan nlogn,[91] dan demikian bahwa ukuran rata-rata dari celah bilangan prima sebanding dengan logn.[92] Pendekatan lebih akuratnya adalah π(n) sebanding dengan integral logaritmik Euler[93]

π(n)Li(n)=2ndtlogt.

Barisan aritmetika

Barisan aritmetika ialah barisan bilangan yang hingga maupun takhingga sehingga bilangan berurutan dalam barisan tersebut memiliki beda atau selisih yang sama.[94] Selisih barisan aritmetika disebut modulus barisan.[95] Misalnya,

3,12,21,30,39,...,

adalah barisan aritmetika takhingga dengan modulus 9. Dalam barisan aritmetika, semua bilangan memiliki sisa yang sama ketika dibagi oleh modulus. Contoh di atas, sisanya adalah 3. Karena modulus adalah 9 dan sisanya merupakan kelipatan 3, dan begitu pula untuk setiap anggota pada barisan tersebut. Karena itu, barisan tersebut memiliki satu bilangan prima, yakni 3. Pada umumnya, barisan takhingga

a,a+q,a+2q,a+3q,

dapat memiliki bilangan prima yang lebih dari satu ketika sisa a dan modulus q relatif prima. Jika a dan q relatif prima, teorema Dirichlet tentang barisan aritmetika mengatakan bahwa barisan memuat tak terhingga banyaknya bilangan prima.[96]Teorema Green–Tao memperlihatkan bahwa ada barisan aritmetika hingga panjang sembarang yang hanya terdiri dari bilangan prima.[97][98]

Nilai-nilai bilangan prima dari polinomial kuadrat

Euler mengatakan bahwa fungsi

n2n+41

menghasilkan bilangan prima untuk , meskipun bilangan komposit muncul untuk di luar batas bilangan demikian.[99][100] Penemuan mengenai penjelasan fenomena tersebut melibatkan kajian yang lebih dalam mengenai bilangan Heegner dan masalah bilangan kelas dalam teori bilangan aljabar.[101] Konjektur F Hardy–Littlewood memprediksi densitas bilangan prima di antara nilai-nilai polinomial kuadrat dengan koefisien bilangan bulat, yang melibatkan integral logaritmik dan koefisien polinomial. Belum terbukti bahwa terdapat polinomial kuadrat yang menghasilkan tak terhingga banyaknya nilai bilangan prima.[102]

' menggambarkan susunan bilangan asli dalam grid berdimensi dua. Susunan tersebut kemudian dipilin dalam bentuk persegi yang konsentris yang mengitari titik awal oleh bilangan prima yang telah ditandai. Bila digambarkan secara visual, bilangan prima terlihat berkumpul membentuk garis-garis diagonal tertentu dan bukan bentuk sebaliknya. Ini memperlihatkan bahwa terdapat beberapa polinomial kuadrat yang lebih sering menghasilkan nilai bilangan prima daripada polinomial lainnya.[103][104]

Dalam aljabar abstrak

Aritmetika modular dan lapangan berhingga

Aritmetika modular memodifikasi aritmetika biasa, hanya saja dengan menggunakan bilangan {0,1,2,,n1} untuk bilangan asli n yang disebut modulus. Bilangan asli lainnya dapat dipetakan ke dalam sistem ini dengan menggantinya dengan sisa setelah pembagian dengan n.[105] Penjumlahan, pengurangan, dan perkalian modular dihitung dengan melakukan penggantian yang sama dengan sisa hasil penjumlahan, pengurangan, atau perkalian bilangan bulat.[106] Kesamaan bilangan bulat sesuai dengan kongruensi dalam aritmetika modular: x dan y adalah kongruen (ditulis xy mod n) ketika mereka memiliki sisa yang sama setelah dibagi dengan n.[107] Namun, dalam sistem bilangan ini, pembagian dengan semua bilangan bukan nol dimungkinkan jika dan hanya jika modulusnya adalah prima. Misalnya, dengan bilangan prima 7 sebagai modulus, pembagian dengan 3 adalah dimungkinkan: 2/33mod7 karena kemungkinan menghapus penyebut dengan mengalikan kedua ruas dengan 3 diberikan rumus yang valid 29mod7. Namun, dengan modulus komposit 6, pembagian dengan 3 adalah hal mustahil. Tidak ada solusi yang valid untuk 2/3xmod6: menghapus penyebut dengan mengalikan dengan 3 menyebabkan ruas kiri menjadi 2 sedangkan ruas kanan menjadi 0 atau 3. Dalam terminologi aljabar abstrak, kemampuan untuk melakukan pembagian berarti bahwa modulo aritmetika modular bilangan prima membentuk lapangan atau lapangan berhingga, sedangkan modulus lainnya hanya memberikan gelanggang tetapi bukan sebuah lapangan.[108]

Beberapa teorema tentang bilangan prima dirumuskan menggunakan aritmetika modular. Misalnya, teorema kecil Fermat menyatakan bahwa jika a≢0 (mod p), maka ap11 (mod p).[109] Menjumlahkan dari semua pilihan a diberikan persamaan

a=1p1ap1(p1)11(modp),

valid jika p adalah bilangan prima. Konjektur Giuga menyebutkan bahwa persamaan ini juga merupakan syarat yang cukup untuk p menjadi prima.[110] Teorema Wilson menyebutkan bahwa sebuah bilangan bulat p>1 adalah bilangan prima jika dan hanya jika faktorial (p1)! kongruen dengan 1 mod p. Untuk ini tidak berlaku, karena salah satu faktornya membagi dan (n1)!, dan jadi (n1)!1(modn) adalah hal mustahil.[111]

Bilangan p-adik

Urutan p-adik νp(n) dari sebuah bilangan bulat n adalah jumlah salinan dari p dalam faktorisasi prima dari n. Konsep yang sama diperluas dari bilangan bulat ke bilangan rasional dengan mendefinisikan urutan p-adik dari pecahan m/n menjadi νp(m)νp(n). Nilai absolut p-adik |q|p dari sembarang bilangan rasional q kemudian didefinisikan sebagai |q|p=pνp(q). Mengalikan bilangan bulat dengan nilai absolut p-adik-nya akan membatalkan faktor p dalam faktorisasinya, dan hanya menyisakan bilangan prima lainnya. Sama seperti jarak antara dua bilangan real yang dapat diukur dengan nilai absolut jaraknya, jarak antara dua bilangan rasional dapat diukur dengan jarak p-adik-nya, nilai absolut p-adik dari selisihnya. Untuk definisi jarak ini, dua bilangan dikatakan berdekatan (memiliki jarak yang kecil) ketika selisihnya habis dibagi dengan pangkat p yang tinggi. Dengan cara yang sama bahwa bilangan real dapat dibentuk dari bilangan rasional dan jaraknya, dengan menambahkan nilai pembatas ekstra untuk membentuk lapangan lengkap, bilangan rasional dengan jarak p-adik diperluas ke lapangan lengkap yang berbeda.[112][113]

Urutan dari sebuah gambar, nilai absolut, dan lapangan lengkap yang diturunkan dari bilangan p-adik digeneralisasikan ke lapangan bilangan aljabar dan penilaian-penilaian tersebut (pemetaan tertentu dari lapangan grup perkalian ke grup aditif terurut total disebut juga sebagai urutan), nilai absolut (pemetaan perkalian tertentu dari lapangan ke bilangan real disebut juga sebagai norma),[114] dan tempat (ekstensi ke lapangan lengkap di mana lapangan yang diberikan adalah himpunan rapat disebut juga sebagai pelengkapan).[115] Perluasan dari bilangan rasional ke bilangan real, misalnya adalah tempat di mana jarak antara bilangan adalah nilai absolut biasa dari perbedaannya. Pemetaan yang sesuai ke grup aditif akan menjadi logaritma dari nilai absolut, meskipun ini tidak memenuhi semua persyaratan penilaian. Menurut teorema Ostrowski, gagasan ekuivalen alami berhingga, bilangan real dan bilangan p-adik dengan urutan dan nilai absolutnya adalah satu-satunya penilaian, nilai absolut, dan tempat pada bilangan rasional.[116] Prinsip lokal-global memungkinkan masalah tertentu atas bilangan rasional untuk diselesaikan dengan menyatukan solusi dari masing-masing tempat, sekali lagi menggarisbawahi pentingnya bilangan prima untuk teori bilangan.[117]

Anggota bilangan prima dalam gelanggang

Gelanggang komutatif merupakan struktur aljabar di mana penambahan, pengurangan dan perkalian didefinisikan. Bilangan bulatnya merupakan sebuah gelanggang, dan bilangan prima dalam bilangan bulat telah dirampat menjadi gelanggang melalui dua cara seperti anggota bilangan prima dan anggota taktereduksi. Sebuah anggota p dari sebuah gelanggang R dikatakan bilangan prima jika p adalah bilangan taknol, tidak mempunyai invers perkalian (yang berarti, gelanggang bukanlah sebuah unit), dan memenuhi syarat berikut: jika p membagi hasil kali xy dari dua anggota R, maka p juga membagi setidaknya x ataupun y. Sebuah anggota adalah taktereduksi jika sebuah anggota bukan merupakan sebuah unit maupun hasil kali dari dua anggota takunit lainnya. Dalam gelanggang bilangan bulat, anggota bilangan prima dan anggota taktereduksi membentuk himpunan yang sama,

{,11,7,5,3,2,2,3,5,7,11,}.

Dalam sebuah gelanggang sembarang, semua anggota bilangan prima adalah taktereduksi. Kebalikannya tidak berlaku pada umumnya, tetapi berlaku untuk domain faktorisasi tunggal.[118]

Teorema dasar aritmetika tetap berlaku (menurut definisi) dalam domain faktorisasi tunggal. Contoh mengenai domain faktorisasi tunggal adalah bilangan bulat Gauss [i], gelanggang dari bilangan kompleks berbentuk a+bi di mana i menyatakan satuan imajiner, a dan b merupakan bilangan bulat sembarang. Anggota bilangan primanya dikenal sebagai bilangan prima Gauss. Tidak semua bilangan yang merupakan bilangan prima di antara bilangan bulat tetap merupakan bilangan prima dalam bilangan bulat Gauss. Sebagai contoh, bilangan 2 dapat ditulis sebagai hasil kali dari dua bilangan prima Gauss, yaitu 1+i dan 1i. Bilangan prima rasional (anggota bilangan prima dalam bilangan bulat) kongruen dengan 3 mod 4 adalah bilangan prima Gauss, tetapi bilangan prima rasional kongruen dengan 1 mod 4 bukan bilangan prima Gauss.[119] Contoh tersebut merupakan akibat dari teorema Fermat tentang jumlah dari dua bilangan kuadrat, yang mengatakan bahwa sebuah bilangan prima ganjil p dapat dinyatakan sebagai jumlah dari dua bilangan kuadrat, p=x2+y2, dan demikian dapat difaktorkan sebagai p=(x+iy)(xiy), tepat ketika p kongruen dengan 1 mod 4.[120]

Ideal prima

Tidak semua gelanggang merupakan ranah faktorisasi unik. Misalnya, dalam bilangan gelanggang a+b5 (untuk bilangan bulat a dan b) angka 21 memiliki dua faktorisasi 21=37=(1+25)(125), tidak satu pun dari keempat faktor tersebut bisa direduksi lebih jauh, sehingga tidak memiliki faktorisasi unik. Untuk memperluas faktorisasi unik pada kelas gelanggang terbesar, gagasan tentang bilangan bisa diganti dengan ideal, sebuah himpunan bagian dari elemen gelanggang yang memuat semua jumlah pasangan elemennya, dan semua hasil kali elemennya dengan elemen gelanggang. Ideal prima yang di mana generalisasi elemen prima dalam arti bahwa ideal utama yang dihasilkan oleh elemen prima adalah ideal prima adalah alat dan objek studi penting dalam aljabar komutatif, teori bilangan aljabar dan geometri aljabar. Ideal prima dari gelanggang bilangan bulat adalah ideal (0), (2), (3), (5), (7), (11), ... Teorema dasar aritmetika digeneralisasikan ke teorema Lasker–Noether disebutkan setiap ideal dalam gelanggang komutatif Noetherian sebagai perpotongan ideal prima yang merupakan generalisasi yang tepat dari prima kuasa.[121]

Spektrum gelanggang adalah ruang geometris yang titik-titiknya merupakan ideal prima dari gelanggang tersebut.[122] Geometri aritmetika juga mendapat manfaat dari gagasan ini, dan banyak konsep yang ada, baik dalam geometri maupun teori bilangan. Misalnya, faktorisasi atau percabangan dari ideal prima ketika diangkat sebagai lapangan perluasan, masalah dasar teori bilangan aljabar memiliki beberapa kemiripan dengan percabangan dalam geometri. Konsep-konsep ini bahkan dapat membantu dalam pertanyaan teori bilangan yang hanya berkaitan dengan bilangan bulat. Misalnya, ideal prima dalam gelanggang bilangan bulat dari lapangan bilangan kuadrat dapat digunakan untuk penggunaan ketimbalbalikan kuadrat, pernyataan yang menyangkut keberadaan akar kuadrat modulo bilangan prima bilangan bulat.[123] Upaya awal untuk membuktikan Teorema Terakhir Fermat menyebabkan pengenalan Kummer dari prima regular, bilangan prima bilangan bulat terhubung dengan kegagalan faktorisasi unik pada bilangan bulat siklotomi.[124] Pertanyaan tentang berapa banyak bilangan prima bilangan bulat faktor menjadi darab dari beberapa ideal prima dalam lapangan bilangan aljabar ditangani oleh teorema kerapatan Chebotarev, yang (bila diterapkan pada bilangan bulat siklotomi) mana memiliki teorema Dirichlet pada bilangan prima dalam deret aritmetika sebagai kasus khusus.[125]

Teori grup

Dalam teori grup hingga, teorema Sylow menyiratkan bahwa jika perpangkatan bilangan prima pn membagi tingkat grup, maka grup memiliki subgrup tingkat pn. Menurut teorema Lagrange, suatu grup tingkat bilangan prima adalah grup siklik dan menurut teorema Burnside, suatu grup yang tingkatnya dibagi oleh dua bilangan prima merupakan grup terselesaikan.[126]

Catatan

Pranala luar

Generator dan kalkulator

Referensi

  1. 51st Known Mersenne Prime Discovered. www.mersenne.org.
  2. Dhea Arokhman Yusufi Cahyo. Heuristic - For Mathematical Olympiad Approach. Math Heuristic. 2020-05-10. hlm. 18.
  3. Anne Henderson. Dyslexia, Dyscalculia and Mathematics: A practical guide. Routledge. 2014-06-20. hlm. 62. ISBN 978-1-136-63662-2.
  4. Irving Adler. The giant golden book of mathematics; exploring the world of numbers and space. New York, Golden Press. 1960.
  5. Lawrence S. Leff. Barron's math workbook for the SAT I. Barron's. 2000. ISBN 978-0-7641-0768-9.
  6. Dudley, Underwood (1978). "Section 2: Unique factorization". Elementary number theory (2nd ed.). W.H. Freeman and Co. hlm. 10. ISBN 978-0-7167-0076-0.
  7. Sierpiński, Wacław (1988). Elementary Theory of Numbers. North-Holland Mathematical Library. 31 (2nd ed.). Elsevier. hlm. 113. ISBN 978-0-08-096019-7.
  8. Günter M. Ziegler. The great prime number record races. Notices of the American Mathematical Society. 2004. Vol. 51 (4). hlm. 414–416.
  9. John Stillwell. Numbers and Geometry. Springer Science & Business Media. 1997-10-30. hlm. 9. ISBN 978-0-387-98289-2.
  10. Sierpiński, Wacław (1964). A Selection of Problems in the Theory of Numbers. New York: Macmillan. hlm. 40. MR 0170843.
  11. Melvyn B. Nathanson. Elementary Methods in Number Theory. Springer Science & Business Media. 2008-01-11. ISBN 978-0-387-22738-2.
  12. Theodore G. Faticoni. The Mathematics of Infinity: A Guide to Great Ideas. John Wiley & Sons. 2012-04-23. hlm. 44. ISBN 978-1-118-24382-4.
  13. Bruins, Evert Marie, review in Mathematical Reviews of R.J. Gillings. The recto of the Rhind Mathematical Papyrus. How did the ancient Egyptian scribe prepare it?. Archive for History of Exact Sciences. 1974. Vol. 12 (4). hlm. 291–298. doi:10.1007/BF01307175.
  14. John Stillwell. Mathematics and Its History. Springer. 2010. hlm. 40. ISBN 978-1-4419-6052-8.
  15. Carl Pomerance. The Search for Prime Numbers. Scientific American. December 1982. Vol. 247 (6). hlm. 136–147. doi:10.1038/scientificamerican1282-136.
  16. Richard A. Mollin. A brief history of factoring and primality testing B. C. (before computers). Mathematics Magazine. 2002. Vol. 75 (1). hlm. 18–29. doi:10.2307/3219180.
  17. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  18. Richard A. Mollin. A brief history of factoring and primality testing B. C. (before computers). Mathematics Magazine. 2002. Vol. 75 (1). hlm. 18–29. doi:10.2307/3219180.
  19. , 8. Fermat's Little Theorem (November 2003), hal. 45
  20. C. Edward Sandifer. How Euler Did Even More. Mathematical Association of America. 2014. hlm. 42. ISBN 978-0-88385-584-3.
  21. Thomas Koshy. Elementary Number Theory with Applications. Academic Press. 2002. hlm. 369. ISBN 978-0-12-421171-1.
  22. Wang Yuan. Goldbach Conjecture. World Scientific. 2002. Vol. 4. hlm. 21. ISBN 978-981-4487-52-8.
  23. John Stillwell. Mathematics and Its History. Springer. 2010. hlm. 40. ISBN 978-1-4419-6052-8.
  24. Wladyslaw Narkiewicz. The Development of Prime Number Theory: From Euclid to Hardy and Littlewood. Springer. 2000. hlm. 11. ISBN 978-3-540-66289-1.
  25. P. Tchebychev. Mémoire sur les nombres premiers. Journal de mathématiques pures et appliquées. 1852. hlm. 366–390.. (Proof of the postulate: 371–382). Also see Mémoires de l'Académie Impériale des Sciences de St. Pétersbourg, vol. 7, pp. 15–33, 1854
  26. Tom M. Apostol. Number Theory. Birkhäuser. 2000. hlm. 1–14.
  27. Tom M. Apostol. Introduction to Analytic Number Theory. Springer-Verlag. 1976. hlm. 146–156.
  28. Jean-Luc Chabert. A History of Algorithms: From the Pebble to the Microchip. Springer. 2012. hlm. 261. ISBN 978-3-642-18192-4.
  29. Kenneth H. Rosen. Elementary Number Theory and Its Applications. Addison-Wesley. 2000. hlm. 342. ISBN 978-0-201-87073-2.
  30. Richard A. Mollin. A brief history of factoring and primality testing B. C. (before computers). Mathematics Magazine. 2002. Vol. 75 (1). hlm. 18–29. doi:10.2307/3219180.
  31. Günter M. Ziegler. The great prime number record races. Notices of the American Mathematical Society. 2004. Vol. 51 (4). hlm. 414–416.
  32. , hal. 245.
  33. James S. Kraft. Elementary Number Theory. CRC Press. 2014. hlm. 7. ISBN 978-1-4987-0269-0.
  34. Carl Pomerance. The Search for Prime Numbers. Scientific American. December 1982. Vol. 247 (6). hlm. 136–147. doi:10.1038/scientificamerican1282-136.
  35. Craig P. Bauer. Secret History: The Story of Cryptology. CRC Press. 2013. hlm. 468. ISBN 978-1-4665-6186-1.
  36. Victor Klee. Old and New Unsolved Problems in Plane Geometry and Number Theory. Cambridge University Press. 1991. Vol. 11. hlm. 224. ISBN 978-0-88385-315-3.
  37. , pp. 18, 47.
  38. Chris K. Caldwell. The history of the primality of one: a selection of sources. Journal of Integer Sequences. 2012. Vol. 15 (9). hlm. Article 12.9.8. For a selection of quotes from and about the ancient Greek positions on this issue, see in particular pp. 3–4. For the Islamic mathematicians, see p. 6.
  39. Leonardo Tarán. Speusippus of Athens: A Critical Study With a Collection of the Related Texts and Commentary. Brill. 1981. Vol. 39. hlm. 35–38. ISBN 978-90-04-06505-5.
  40. Chris K. Caldwell. The history of the primality of one: a selection of sources. Journal of Integer Sequences. 2012. Vol. 15 (9). hlm. Article 12.9.8. For a selection of quotes from and about the ancient Greek positions on this issue, see in particular pp. 3–4. For the Islamic mathematicians, see p. 6.
  41. , pp. 7–13. See in particular the entries for Stevin, Brancker, Wallis, and Prestet.
  42. , p. 15.
  43. Chris K. Caldwell. What is the smallest prime?. Journal of Integer Sequences. 2012. Vol. 15 (9). hlm. Article 12.9.7.
  44. Hans Riesel. Prime Numbers and Computer Methods for Factorization. Birkhäuser. 1994. hlm. 36. doi:10.1007/978-1-4612-0251-6. ISBN 978-0-8176-3743-9.
  45. John Horton Conway. The Book of Numbers. Copernicus. 1996. hlm. 129–130. doi:10.1007/978-1-4612-4072-3. ISBN 978-0-387-97993-9.
  46. Chris K. Caldwell. What is the smallest prime?. Journal of Integer Sequences. 2012. Vol. 15 (9). hlm. Article 12.9.7.
  47. John Horton Conway. The Book of Numbers. Copernicus. 1996. hlm. 129–130. doi:10.1007/978-1-4612-4072-3. ISBN 978-0-387-97993-9.
  48. For the totient, see , p. 245. For the sum of divisors, see C. Edward Sandifer. How Euler Did It. Mathematical Association of America. 2007. hlm. 59. ISBN 978-0-88385-563-8.
  49. Chris K. Caldwell. What is the smallest prime?. Journal of Integer Sequences. 2012. Vol. 15 (9). hlm. Article 12.9.7.
  50. Karl J. Smith. The Nature of Mathematics. Cengage Learning. 2011. hlm. 188. ISBN 978-0-538-73758-6.
  51. , Section 2, Theorem 2, p. 16; Vicky Neale. Closing the Gap: The Quest to Understand Prime Numbers. Oxford University Press. 2017. ISBN 978-0-19-109243-5.
  52. Marcus du Sautoy. The Music of the Primes: Searching to Solve the Greatest Mystery in Mathematics. Harper Collins. 2003. hlm. 23. ISBN 978-0-06-093558-0.
  53. , Section 2, Lemma 5, p. 15; Peter M. Higgins. Mathematics for the Curious. Oxford University Press. 1998. hlm. 77–78. ISBN 978-0-19-150050-3.
  54. Joseph J. Rotman. A First Course in Abstract Algebra. Prentice Hall. 2000. ISBN 978-0-13-011584-3.
  55. Letter in Latin from Goldbach to Euler, July 1730.
  56. Harry Furstenberg. On the infinitude of primes. American Mathematical Monthly. 1955. Vol. 62 (5). hlm. 353. doi:10.2307/2307043.
  57. Paulo Ribenboim. The little book of bigger primes. Springer-Verlag. 2004. hlm. 4. ISBN 978-0-387-20169-6.
  58. Euclid's Elements, Book IX, Proposition 20. See David Joyce's English translation of Euclid's proof or James Williamson. The Elements of Euclid, With Dissertations. Clarendon Press. 1782. hlm. 63.
  59. Ilan Vardi. Computational Recreations in Mathematica. Addison-Wesley. 1991. hlm. 82–89. ISBN 978-0-201-52989-0.
  60. Matiyasevich, Yuri V. (1999). "Formulas for prime numbers". In Tabachnikov, Serge (ed.). Kvant Selecta: Algebra and Analysis. Vol. II. American Mathematical Society. hlm. 13–24. ISBN 978-0-8218-1915-9.
  61. Nick Mackinnon. Prime number formulae. The Mathematical Gazette. June 1987. Vol. 71 (456). hlm. 113–114. doi:10.2307/3616496.
  62. Yuri V. Matiyasevich. Kvant Selecta: Algebra and Analysis. American Mathematical Society. 1999. Vol. II. hlm. 13–24. ISBN 978-0-8218-1915-9.
  63. Wright, E.M. (1951). "A prime-representing function". American Mathematical Monthly. 58 (9): 616–618. doi:10.2307/2306356. JSTOR 2306356
  64. Matiyasevich, Yuri V. (1999). "Formulas for prime numbers". In Tabachnikov, Serge (ed.). Kvant Selecta: Algebra and Analysis. Vol. II. American Mathematical Society. hlm. 13–24. ISBN 978-0-8218-1915-9.
  65. , hlm. vii.
  66. , C1 Goldbach's conjecture, hlm. 105–107.
  67. Tomás Oliveira e Silva. Empirical verification of the even Goldbach conjecture and computation of prime gaps up to 4\cdot10^{18}. Mathematics of Computation. 2014. Vol. 83 (288). hlm. 2033–2060. doi:10.1090/S0025-5718-2013-02787-1.
  68. , 3.1 Structure and randomness in the prime numbers, pp. 239–247. See especially p. 239.
  69. , p. 159.
  70. Olivier Ramaré. On Šnirel'man's constant. Annali della Scuola Normale Superiore di Pisa. 1995. Vol. 22 (4). hlm. 645–706.
  71. Michael Th. Rassias. Goldbach's Problem: Selected Topics. Springer. 2017. hlm. vii. doi:10.1007/978-3-319-57914-6. ISBN 978-3-319-57912-2.
  72. , Theorem 2.14, p. 109. gives a similar argument using the primorial in place of the factorial.
  73. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  74. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  75. , Gaps between primes, pp. 186–192.
  76. , Gaps between primes, pp. 186–192.
  77. , p. 183.
  78. Joel Chan. Prime time!. Math Horizons. February 1996. Vol. 3 (3). hlm. 23–25. doi:10.1080/10724117.1996.11974965. Note that Chan lists Legendre's conjecture as "Sierpinski's Postulate".
  79. , p. 183.
  80. , Gaps between primes, pp. 186–192.
  81. , Prime -tuples conjecture, pp. 201–202.
  82. , Chapter 35, Estimating the Basel problem, pp. 205–208.
  83. C.S. Ogilvy. Excursions in Number Theory. Dover Publications Inc. 1988. hlm. 29–35. ISBN 978-0-486-25778-5.
  84. , Section 1.6, Theorem 1.13
  85. , Section 4.8, Theorem 4.12
  86. Steven J. Miller. An Invitation to Modern Number Theory. Princeton University Press. 2006. hlm. 43–44. ISBN 978-0-691-12060-7.
  87. Steven J. Miller. An Invitation to Modern Number Theory. Princeton University Press. 2006. hlm. 43–44. ISBN 978-0-691-12060-7.
  88. , hlm. 6.
  89. , p. 10.
  90. Marcus du Sautoy. The Number Mysteries: A Mathematical Odyssey through Everyday Life. St. Martin's Press. 2011. hlm. 50–52. ISBN 978-0-230-12028-0.
  91. , Section 4.6, Theorem 4.7
  92. , "Large gaps between consecutive primes", pp. 78–79.
  93. , p. 10.
  94. I.M. Gelfand. Algebra. Springer. 2003. hlm. 37. ISBN 978-0-8176-3677-7.
  95. Richard A. Mollin. Fundamental Number Theory with Applications. CRC Press. 1997. hlm. 76. ISBN 978-0-8493-3987-5.
  96. , Theorem 1.1.5, p. 12.
  97. , hlm. 18, 47.
  98. Ben Green. The primes contain arbitrarily long arithmetic progressions. Annals of Mathematics. 2008. Vol. 167 (2). hlm. 481–547. doi:10.4007/annals.2008.167.481.
  99. L. K. Hua. Additive Theory of Prime Numbers. American Mathematical Society. 2009. Vol. 13. hlm. 176–177. ISBN 978-0-8218-4942-2.
  100. The sequence of these primes, starting at n=1 rather than , is listed by Paolo Pietro Lava. 103 curiosità matematiche: Teoria dei numeri, delle cifre e delle relazioni nella matematica contemporanea. Ulrico Hoepli Editore S.p.A. 2010. hlm. 133. ISBN 978-88-203-5804-4.
  101. Marc Chamberland. Single Digits: In Praise of Small Numbers. Princeton University Press. 2015. hlm. 213–215. ISBN 978-1-4008-6569-7.
  102. Richard Guy. Unsolved Problems in Number Theory. Springer. 2013. hlm. 7–10. ISBN 978-0-387-26677-0.
  103. Richard Guy. Unsolved Problems in Number Theory. Springer. 2013. hlm. 7–10. ISBN 978-0-387-26677-0.
  104. M.L. Stein. A Visual Display of Some Properties of the Distribution of Primes. The American Mathematical Monthly. 1964. Vol. 71 (5). hlm. 516–520. doi:10.2307/2312588.
  105. , Proposisi 5.3, hal. 96.
  106. Shahriar Shahriari. Algebra in Action: A Course in Groups, Rings, and Fields. American Mathematical Society. 2017. Vol. 27. hlm. 20–21. ISBN 978-1-4704-2849-5.
  107. , Teorema 3, hal. 28.
  108. , hal. 27–28.
  109. , Teorema kecil Fermat dan akar primitif modulo a prima, hal. 17–21.
  110. , The property of Giuga, hal. 21–22.
  111. , The theorem of Wilson, hal. 21.
  112. Nancy Childress. Class Field Theory. Springer, New York. 2009. hlm. 8–11. doi:10.1007/978-0-387-72490-4. ISBN 978-0-387-72489-8. Lihat pula hal. 64.
  113. Marty Erickson. Introduction to Number Theory. CRC Press. 2016. hlm. 200. ISBN 978-1-4987-1749-6.
  114. Nancy Childress. Class Field Theory. Springer, New York. 2009. hlm. 8–11. doi:10.1007/978-0-387-72490-4. ISBN 978-0-387-72489-8. Lihat pula hal. 64.
  115. André Weil. Basic Number Theory. Springer-Verlag. 1995. hlm. 43. ISBN 978-3-540-58655-5. Namun perhatikan bahwa beberapa penulis seperti malah menggunakan "tempat" untuk mengartikan kelas norma yang setara.
  116. Nancy Childress. Class Field Theory. Springer, New York. 2009. hlm. 8–11. doi:10.1007/978-0-387-72490-4. ISBN 978-0-387-72489-8. Lihat pula hal. 64.
  117. H. Koch. Algebraic Number Theory. Springer-Verlag. 1997. hlm. 136. doi:10.1007/978-3-642-58095-6. ISBN 978-3-540-63003-6.
  118. Niels Lauritzen. Concrete Abstract Algebra: From numbers to Gröbner bases. Cambridge University Press. 2003. hlm. 127. doi:10.1017/CBO9780511804229. ISBN 978-0-521-53410-9.
  119. , Corollary 3.5.14, p. 133; Lemma 3.5.18, p. 136.
  120. , Section 12.1, Sums of two squares, pp. 297–301.
  121. David Eisenbud. Commutative Algebra. Springer-Verlag. 1995. Vol. 150. doi:10.1007/978-1-4612-5350-1. ISBN 978-0-387-94268-1.
  122. Igor R. Shafarevich. Basic Algebraic Geometry 2: Schemes and Complex Manifolds. Springer, Heidelberg. 2013. hlm. 5. doi:10.1007/978-3-642-38010-5. ISBN 978-3-642-38009-9.
  123. Jürgen Neukirch. Algebraic Number Theory. Springer-Verlag. 1999. Vol. 322. doi:10.1007/978-3-662-03983-0. ISBN 978-3-540-65399-8.
  124. , Bagian I.7, hal. 38
  125. P. Stevenhagen. Chebotarëv and his density theorem. The Mathematical Intelligencer. 1996. Vol. 18 (2). hlm. 26–37. doi:10.1007/BF03027290.
  126. Hall, Marshan (2018), The Theory of Groups. Dover Books on Mathematics. Courier Dover Publications. ISBN 978-0-486-81690-6. Untuk teorema Sylow. lihat hlm. 43. Untuk teorema Lagrange, lihat hlm. 12. Untuk teorema Burnside, lihat hlm. 143.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29303870 (2026-06-01T13:11:52Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.