Lompat ke isi

Biosemiotika

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung

Biosemiotika (dari bahasa Yunani βίος bios, “kehidupan” dan σημειωτικός sēmeiōtikos, “pengamat tanda”) adalah cabang ilmu semiotika dan biologi yang mempelajari pembentukan makna prabahasa, proses penafsiran biologis, produksi tanda dan kode, serta proses komunikasi dalam ranah biologis.

Biosemiotika mengintegrasikan temuan-temuan biologi dan semiotika serta mengusulkan sebuah pergeseran paradigma dalam pandangan ilmiah tentang kehidupan, di mana semiosis (proses tanda, termasuk makna dan penafsiran) dianggap sebagai salah satu ciri yang melekat dan hakiki dari kehidupan itu sendiri.

Istilah biosemiotika pertama kali digunakan oleh Friedrich S. Rothschild pada tahun 1962, tetapi Thomas Sebeok, Thure von Uexküll, Jesper Hoffmeyer dan banyak ilmuwan lain kemudian mengembangkan istilah serta bidang kajiannya. Bidang ini umumnya terbagi atas biosemiotika teoretis dan biosemiotika terapan.

Wawasan dari biosemiotika juga diadopsi dalam bidang humaniora dan ilmu sosial, termasuk studi relasi manusia–hewan, studi manusia–tumbuhan serta sibersemiotika.

Definisi

Biosemiotika adalah studi tentang proses penciptaan makna dalam dunia kehidupan, atau secara lebih rinci, kajian tentang:

  • penandaan, komunikasi, dan pembentukan kebiasaan pada proses kehidupan;
  • semiosis (penciptaan dan perubahan relasi tanda) dalam alam hidup;
  • dasar biologis dari semua tanda dan proses interpretasinya;
  • proses interpretatif, kode, dan kognisi dalam organisme.

Cabang utama

Berdasarkan jenis semiosis yang dikaji, biosemiotika dapat dibagi menjadi:

  • semiotika vegetatif (juga disebut endosemiotika atau fitosemiotika), yaitu kajian tentang semiosis pada tingkat seluler dan molekuler (termasuk proses translasi yang berkaitan dengan genom serta bentuk organik atau fenotipe); semiosis vegetatif terjadi di semua organisme pada tingkat sel dan jaringan; semiotika vegetatif juga mencakup semiotika prokariot, interaksi berbasis tanda dalam komunitas bakteri seperti Pengindraan kuorum dan quorum quenching.
  • zoosemiotika atau semiotika hewan, yakni studi tentang bentuk pengetahuan hewan; semiosis hewan terjadi pada organisme dengan sistem neuromuskular, dan mencakup pula antroposemiotika, yaitu kajian perilaku semiotik pada manusia.

Berdasarkan aspek semiosis yang dominan dikaji, istilah lain yang juga digunakan meliputi: biopragmatika, biosemantika, dan biosintaktika.

Sejarah

Selain Charles Sanders Peirce (1839–1914) dan Charles W. Morris (1903–1979), pelopor awal biosemiotika antara lain Jakob von Uexküll (1864–1944), Heini Hediger (1908–1992), Giorgio Prodi (1928–1987), Marcel Florkin (1900–1979), dan Friedrich S. Rothschild (1899–1995); sedangkan pendiri utama disiplin interdisipliner modern ini adalah Thomas Sebeok (1920–2001) dan Thure von Uexküll (1908–2004).

Pada 1980-an, sekelompok matematikawan dalam bidang Biologi Teoretis — René Thom (Institut des hautes études scientifiques), Yannick Kergosien (Universitas Dalhousie dan Institut des hautes études scientifiques), serta Robert Rosen (Universitas Dalhousie, juga mantan anggota kelompok Buffalo bersama Howard H. Pattee) — mengeksplorasi hubungan antara Semiotics dan Biologi dengan istilah seperti “Semiotika Alam”, “Semiofisika”, atau “Sistem Antisipatif” dengan pendekatan pemodelan.

Periode kontemporer (yang dimulai oleh Copenhagen-Tartu school) mencakup para biolog Jesper Hoffmeyer, Kalevi Kull, Claus Emmeche, Terrence Deacon, para semiotisi Martin Krampen, Paul Cobley, para filsuf Donald Favareau, John Deely, John Collier, serta ilmuwan sistem kompleks seperti Howard H. Pattee, Michael Conrad, Luis M. Rocha, Cliff Joslyn dan León Croizat.

Pada tahun 2001, konferensi internasional tahunan untuk penelitian biosemiotika yang dikenal sebagai Gatherings in Biosemiotics diadakan untuk pertama kalinya dan terus berlangsung setiap tahun sejak saat itu.

Tahun 2004, sekelompok biosemiotisi – Marcello Barbieri, Claus Emmeche, Jesper Hoffmeyer, Kalevi Kull, dan Anton Markoš – memutuskan untuk mendirikan jurnal internasional biosemiotika. Di bawah kepemimpinan mereka, Journal of Biosemiotics diterbitkan oleh Nova Science Publishers pada tahun 2005 (dua edisi), dan dengan para penyunting yang sama, jurnal Biosemiotics diluncurkan oleh Springer pada tahun 2008. Seri buku Biosemiotics (Springer), disunting oleh Claus Emmeche, Donald Favareau, Kalevi Kull, dan Alexei Sharov, dimulai pada tahun 2007 dan hingga 2024 telah menerbitkan 27 jilid.

Masyarakat Internasional untuk Studi Biosemiotika didirikan pada tahun 2005 oleh Donald Favareau bersama lima editor tersebut. Sebuah makalah programatik kolektif yang memuat tesis dasar biosemiotika diterbitkan pada tahun 2009. dan pada tahun 2010 diterbitkan buku teks dan antologi setebal 800 halaman, Essential Readings in Biosemiotics, dengan bibliografi dan komentar oleh Donald Favareau.

Salah satu akar biosemiotika berasal dari semiotika medis. Pada tahun 2016, Springer menerbitkan Biosemiotic Medicine: Healing in the World of Meaning, disunting oleh Farzad Goli sebagai bagian dari seri Studies in Neuroscience, Consciousness and Spirituality.

Dalam bidang humaniora

Sejak karya Jakob von Uexküll dan Martin Heidegger, sejumlah sarjana humaniora mengadopsi atau menafsirkan ulang gagasan-gagasan biosemiotika dalam proyek mereka; sebaliknya, para biosemiotisi juga mengkaji ulang teori-teori humaniora melalui perspektif biosemiotika dan teori kompleksitas. Misalnya, Andreas Weber menafsirkan kembali beberapa gagasan Hans Jonas menggunakan konsep-konsep biosemiotika, dan biosemiotika juga digunakan untuk menafsirkan puisi John Burnside.

Sejak tahun 2021, filsuf Amerika Jason Josephson Storm menggunakan biosemiotika dan penelitian empiris tentang komunikasi hewan untuk mengusulkan teori hylosemiotics, yaitu teori ontologi dan komunikasi yang diyakini Storm dapat membantu humaniora melampaui pergeseran kebahasaan.

Karya John Deely juga merupakan bentuk keterlibatan antara pendekatan humaniora dan biosemiotika. Deely terlatih sebagai sejarawan, bukan biolog, tetapi membahas biosemiotika dan zoosemiotika secara luas dalam karya pengantar semiotikanya, serta menjelaskan istilah-istilah penting yang relevan bagi biosemiotika. Meskipun gagasan Deely tentang fisiosemiotika dikritik oleh para biosemiotisi praktis, Paul Cobley, Donald Favareau, dan Kalevi Kull menulis bahwa “perdebatan mengenai poin konseptual ini antara Deely dan komunitas biosemiotika selalu berlangsung secara santun dan diwarnai saling menghargai atas kontribusi masing-masing dalam memperluas pemahaman kita tentang relasi tanda.”

Lihat pula

Referensi

Bibliografi

  • Alexander, V. N. (2011). The Biologist's Mistress: Rethinking Self-Organization in Art, Literature and Nature. Litchfield Park AZ: Emergent Publications.
  • Barbieri, Marcello (ed.) (2008). The Codes of Life: The Rules of Macroevolution. Berlin: Springer.
  • Emmeche, Claus; Kull, Kalevi (eds.) (2011). Towards a Semiotic Biology: Life is the Action of Signs. London: Imperial College Press.[1]
  • Emmeche, Claus; Kalevi Kull and Frederik Stjernfelt. (2002): Reading Hoffmeyer, Rethinking Biology. (Tartu Semiotics Library 3). Tartu: Tartu University Press.[2]
  • Favareau, D. (ed.) (2010). Essential Readings in Biosemiotics: Anthology and Commentary. Berlin: Springer.
  • Favareau, D. (2006). The evolutionary history of biosemiotics. In "Introduction to Biosemiotics: The New Biological Synthesis." Marcello Barbieri (Ed.) Berlin: Springer. pp 1–67.
  • Hoffmeyer, Jesper. (1996): Signs of Meaning in the Universe. Bloomington: Indiana University Press. (special issue of Semiotica vol. 120 (no.3-4), 1998, includes 13 reviews of the book and a rejoinder by the author).
  • Hoffmeyer, Jesper (2008). Biosemiotics: An Examination into the Signs of Life and the Life of Signs. Scranton: University of Scranton Press.
  • Hoffmeyer, Jesper (ed.)(2008). A Legacy for Living Systems: Gregory Bateson as a Precursor to Biosemiotics. Berlin: Springer.
  • Hoffmeyer Jesper; Kull, Kalevi (2003): Baldwin and Biosemiotics: What Intelligence Is For. In: Bruce H. Weber and David J. Depew (eds.), Evolution and Learning - The Baldwin Effect Reconsidered'. Cambridge: The MIT Press.
  • Kull, Kalevi, eds. (2001). Jakob von Uexküll: A Paradigm for Biology and Semiotics. Berlin & New York: Mouton de Gruyter. [ = Semiotica vol. 134 (no.1-4)].
  • Rothschild, Friedrich S. (2000). Creation and Evolution: A Biosemiotic Approach. Edison, New Jersey: Transaction Publishers.
  • Sebeok, Thomas A.; Umiker-Sebeok, Jean (eds.) (1992): Biosemiotics. The Semiotic Web 1991. Berlin and New York: Mouton de Gruyter.
  • Sebeok, Thomas A.; Hoffmeyer, Jesper; Emmeche, Claus (eds.) (1999). Biosemiotica. Berlin & New York: Mouton de Gruyter. [ = Semiotica vol. 127 (no.1-4)].


Pranala luar


Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28474150 (2025-11-14T04:07:23Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.