Lompat ke isi

Bufotionin

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Bufothionine

Bufotionin adalah senyawa organosulfur yang ditemukan dalam bufotoksin, yaitu racun yang disekresikan oleh kelenjar parotoid pada beberapa spesies kodok dari genus Bufo dan Chaunus. Bufotoksin merupakan campuran kompleks dari berbagai molekul biologis, termasuk alkaloid dan senyawa steroid, yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan pada kodok terhadap predator. Struktur kimia bufothionine telah ditentukan melalui kristalografi sinar-X dan diidentifikasi sebagai (1,3,4,5-tetrahidro-5,5-dimetilpirrolo-[4,3,2-de]kuinolinium)-6-sulfat.[1] Senyawa ini terutama ditemukan pada kulit dan kelenjar parotoid beberapa spesies kodok, termasuk kodok Asia (Asiatic Toad),[2][3] Chaunus arunco, Chaunus crucifer, Chaunus spinulosus, dan Chaunus arenarum. Kehadiran bufothionin di kulit kodok ini diyakini terkait dengan mekanisme pertahanan kimia terhadap ancaman eksternal.[4]

Riset

Penggunaan senyawa yang berasal dari kodok untuk pengobatan memiliki sejarah panjang dalam pengobatan tradisional, khususnya di Tiongkok. Cinobufacini, ekstrak yang diperoleh dari kulit dan kelenjar racun parotid kodok genus Bufo,[5] telah digunakan sejak zaman kuno untuk mengatasi gejala peradangan, nyeri, dan pembengkakan. Dalam praktik modern, injeksi cinobufacini digunakan di Tiongkok sebagai terapi tambahan untuk karsinoma hepatoseluler (HCC), yaitu bentuk kanker hati yang umum pada populasi tertentu. Bufothionine diidentifikasi sebagai komponen aktif utama dalam cinobufacini dan menjadi fokus penelitian karena aktivitas biologisnya yang potensial terhadap sel kanker.[6]

Studi in vitro menunjukkan bahwa bufothionine mampu menekan pertumbuhan sel kanker hati. Penelitian in vivo pada tikus yang membawa tumor menunjukkan bahwa bufothionine dapat mengurangi gejala penyakit dan menunjukkan aktivitas antiinflamasi.[7] Mekanisme seluler yang diamati meliputi peningkatan checkpoint kerusakan DNA pada fase G2-M, yang memastikan bahwa pertumbuhan sel tidak berlanjut sampai kerusakan DNA diperbaiki. Selain itu, aktivitas sel pada fase G0 dan G1, yaitu fase yang berhubungan dengan pertumbuhan sel dan produksi RNA menunjukkan penurunan setelah paparan bufothionine.[8]

Bufothionine juga terbukti memicu proses autofagi pada sel karsinoma hepatoseluler dengan menghambat jalur JAK2/STAT3. Jalur ini dikenal memiliki peran dalam proliferasi sel, kelangsungan hidup sel kanker, dan resistensi terhadap kemoterapi, sehingga penghambatan jalur ini menunjukkan kemungkinan mekanisme antikanker yang spesifik.[9] Penelitian tambahan pada sel kanker lambung menunjukkan bahwa bufothionine dapat meningkatkan kematian sel dan menurunkan proliferasi sel dengan menghambat ekspresi gen PIM3. Gen ini diketahui meningkatkan resistensi sel kanker terhadap kemoterapi, sehingga penghambatan PIM3 dapat meningkatkan efektivitas pengobatan kanker.[10]

Referensi

  1. K. Honda. Structure of Bufothionin. Acta Crystallogr., Sect. C: Cryst. Struct. Commun. 1991. Vol. 47 (7). hlm. 1506–1508. doi:10.1107/S0108270190013397.
  2. L. P. Dai. Isolation and structure identification of chemical constituents from the skin of Bufo bufo gargarizans. Yao Xue Xue Bao = Acta Pharmaceutica Sinica. 2007. Vol. 42 (8). hlm. 858–861.
  3. L. P. Dai. Determination of bufothionine in skin of Bufo bufo gargarizans and Huachansu injection. Zhongguo Zhong Yao Za Zhi = Zhongguo Zhongyao Zazhi = China Journal of Chinese Materia Medica. 2007. Vol. 32 (3). hlm. 224–226.
  4. V Deulofeu. The Basic Constituents of the Venom of some South American Toads. Journal of Biological Chemistry. American Society for Biochemistry and Molecular Biology. February 10, 1944. Vol. 153 (2). hlm. 459–463. doi:10.1016/S0021-9258(18)71987-X.
  5. Guojun Wang. Bufothionine exerts anti-cancer activities in gastric cancer through Pim3. Life Sciences. September 2019. Vol. 232. doi:10.1016/j.lfs.2019.116615.
  6. Wei-Song Kong. Bufothionine induces autophagy in H22 hepatoma-bearing mice by inhibiting JAK2/STAT3 pathway, a possible anti-cancer mechanism of cinobufacini. Journal of Ethnopharmacology. April 2021. Vol. 270. doi:10.1016/j.jep.2021.113848.
  7. Wei-Song Kong. Bufothionine induces autophagy in H22 hepatoma-bearing mice by inhibiting JAK2/STAT3 pathway, a possible anti-cancer mechanism of cinobufacini. Journal of Ethnopharmacology. April 2021. Vol. 270. doi:10.1016/j.jep.2021.113848.
  8. Rui-Fang Xie. Bufothionine, a possible effective component in cinobufocini injection for hepatocellular carcinoma. Journal of Ethnopharmacology. 2012-06-01. Vol. 141 (2). hlm. 692–700. doi:10.1016/j.jep.2011.12.018.
  9. Wei-Song Kong. Bufothionine induces autophagy in H22 hepatoma-bearing mice by inhibiting JAK2/STAT3 pathway, a possible anti-cancer mechanism of cinobufacini. Journal of Ethnopharmacology. April 2021. Vol. 270. doi:10.1016/j.jep.2021.113848.
  10. Guojun Wang. Bufothionine exerts anti-cancer activities in gastric cancer through Pim3. Life Sciences. 2019-09-01. Vol. 232. doi:10.1016/j.lfs.2019.116615.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28827786 (2026-01-14T22:43:11Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.