Lompat ke isi

Dimetil fumarat

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung

Dimetil fumarat (DMF) adalah ester metil dari asam fumarat. Dimetil fumarat yang dikombinasikan dengan tiga ester asam fumarat (FAE) lainnya hanya disetujui di Jerman sebagai terapi oral untuk psoriasis (dengan nama dagang Fumaderm). Sejak tahun 2013, obat ini telah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat sebagai salah satu pilihan pengobatan bagi orang dewasa dengan sklerosis multipel yang kambuh (relapsing multiple sclerosis) dengan nama dagang Tecfidera. Pada tahun 2017, sediaan oral dimetil fumarat (dengan nama dagang Skilarence) disetujui untuk penggunaan medis di Uni Eropa sebagai pengobatan untuk psoriasis plak sedang hingga berat. Dimetil fumarat diduga memiliki sifat imunomodulator tanpa menyebabkan imunosupresi yang bermakna.

Dimetil fumarat juga telah digunakan sebagai biosida pada furnitur atau sepatu untuk mencegah pertumbuhan kapang selama penyimpanan atau pengangkutan di daerah beriklim lembap. Namun, karena adanya kasus reaksi alergi setelah kontak dengan kulit, produk konsumen yang mengandung dimetil fumarat tidak lagi diizinkan untuk diproduksi (sejak 1998) maupun diimpor (sejak 2009) di Uni Eropa. Dimetil fumarat tersedia sebagai obat generik.

Kegunaan medis

Di Jerman, dimetil fumarat dipasarkan untuk pengobatan psoriasis dan tersedia dalam bentuk sediaan oral yang dikombinasikan dengan senyawa terkait (Fumaderm). Di Britania Raya, obat ini tersedia sebagai sediaan oral murni (Skilarence). Di Amerika Serikat, dimetil fumarat juga tersedia dalam bentuk sediaan oral (Tecfidera) untuk mengobati orang dewasa dengan sklerosis multipel yang kambuh.

Sebuah tinjauan sistematis Cochrane pada tahun 2015 menemukan bukti berkualitas sedang bahwa dimetil fumarat mengurangi jumlah pasien dengan sklerosis multipel kambuhan-remisi (relapsing-remitting multiple sclerosis, RRMS) yang mengalami kekambuhan selama dua tahun pengobatan dibandingkan dengan plasebo. Tinjauan tersebut juga menemukan bukti berkualitas rendah mengenai penurunan perburukan disabilitas, serta menyimpulkan bahwa masih diperlukan penelitian dengan kualitas yang lebih tinggi dan masa tindak lanjut yang lebih panjang.

Efek samping

Dalam pengobatan psoriasis, efek samping yang paling umum adalah gangguan saluran pencernaan, flushing (kemerahan pada kulit), dan limfopenia, yang umumnya bersifat ringan. Efek samping lainnya meliputi leukoensefalopati multifokal progresif (progressive multifocal leukoencephalopathy, PML) dan sindrom Fanconi, yang tergolong jarang. PML kemungkinan disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor. Infeksi sebelumnya oleh virus John Cunningham (JCV) dianggap sebagai prasyarat terjadinya PML. Dalam sebuah tinjauan mengenai PML, seluruh kasus yang telah dikonfirmasi terjadi pada pasien yang mengalami limfopenia dengan durasi yang bervariasi.

Pada pengobatan sklerosis multipel, efek samping yang umum meliputi flushing serta gangguan saluran pencernaan seperti diare, mual, dan nyeri perut bagian atas. Informasi produk obat ini juga memuat peringatan mengenai risiko anafilaksis, angioedema, PML, limfopenia, dan kerusakan hati.

Belum terdapat informasi yang memadai mengenai pengaruh dimetil fumarat terhadap janin selama kehamilan. Dalam penelitian pada hewan, obat ini menyebabkan gangguan pada janin ketika diberikan pada dosis yang relevan secara klinis.

Sejarah

Penggunaan medis pertama asam fumarat dijelaskan pada tahun 1959 oleh Walter Schweckendiek, seorang kimiawan asal Jerman, dalam bentuk sediaan topikal untuk mengobati psoriasis. Perusahaan Swiss Fumapharm kemudian memasarkan Fumaderm, suatu sediaan oral yang mengandung dimetil fumarat (bersama beberapa monoester), untuk pengobatan psoriasis di Jerman pada tahun 1994.

Berdasarkan efektivitas dan keamanan sediaan tersebut, serta bukti bahwa dimetil fumarat merupakan komponen aktif utamanya, Almirall mengembangkan sediaan oral yang hanya mengandung dimetil fumarat. Sediaan oral ini, dengan nama dagang Skilarence, disetujui oleh European Medicines Agency (EMA) pada bulan Juni 2017 untuk pengobatan psoriasis plak sedang hingga berat pada orang dewasa.

Penelitian klinis awal mengenai penggunaan dimetil fumarat untuk pengobatan sklerosis multipel dilakukan oleh Fumapharm bekerja sama dengan Biogen Idec. Fumapharm kemudian diakuisisi oleh Biogen Idec pada tahun 2006. Aditech Pharma di Swedia juga melakukan penelitian terhadap sediaan oral dimetil fumarat untuk sklerosis multipel, dan pada tahun 2010 perusahaan Denmark Forward Pharma memperoleh hak paten milik Aditech.

Biogen melanjutkan pengembangan sediaan oral dimetil fumarat dari Fumapharm dengan nama kode BG-12. Obat ini disetujui dengan nama dagang Tecfidera untuk pengobatan orang dewasa dengan bentuk sklerosis multipel yang kambuh pada bulan Maret 2013. Biogen menetapkan harga obat tersebut sebesar US$54.000 per tahun di Amerika Serikat. Obat ini disetujui di Eropa pada tahun 2014. Di Britania Raya, NICE menerbitkan pedoman yang menyatakan bahwa obat ini layak dari segi biaya, tetapi hanya untuk pasien yang tidak mengalami sklerosis multipel kambuhan-remisi yang sangat aktif atau berkembang cepat menjadi berat, serta dengan syarat Biogen menyediakannya dengan harga yang didiskon.

Forward dan Biogen terlibat dalam sengketa paten di berbagai yurisdiksi. Pada tahun 2017, kedua perusahaan mencapai penyelesaian, dengan Biogen membayar Forward sebesar US$1,25 miliar, disertai potensi pembayaran royalti hingga 10% bergantung pada hasil sengketa paten di berbagai yurisdiksi.

Pada bulan Juni 2020, dalam perkara antara Biogen dan Mylan, Pengadilan Distrik Amerika Serikat di Virginia Barat menyatakan bahwa paten Biogen yang dikenal sebagai paten "514", yang melindungi Tecfidera dari persaingan obat generik, tidak sah. Putusan tersebut memberikan hak kepada Mylan untuk meluncurkan versi generik Tecfidera miliknya sendiri.

Produk konsumen

Terdapat sejumlah kasus dermatitis kontak berat yang diduga berkaitan dengan alergi kontak terhadap dimetil fumarat pada sofa dan kursi yang baru dibeli. Dimetil fumarat diketahui merupakan bahan penyebab sensitisasi alergi yang sangat kuat, bahkan pada konsentrasi yang sangat rendah, sehingga dapat menyebabkan eksim akibat alergi kontak yang sulit diobati. Konsentrasi serendah 1 ppm (bagian per sejuta) dapat memicu reaksi alergi pada kasus yang paling berat. Hanya terdapat sedikit bahan penyebab sensitisasi lain yang memiliki potensi serupa.

Risiko sensitisasi ini mulai mendapat perhatian publik setelah insiden "kursi beracun", ketika produsen Tiongkok Linkwise memasukkan sachet dimetil fumarat ke dalam sofa dua dudukan untuk mencegah pertumbuhan kapang selama penyimpanan maupun pengangkutan. Di Finlandia, tempat kursi tersebut dijual pada tahun 2006–2007, sebanyak 60 pengguna mengalami ruam kulit yang serius. Penyebabnya kemudian diidentifikasi sebagai reaksi alergi akibat dimetil fumarat oleh Tapio Rantanen dari Finlandia, dan artikel aslinya menjadi cerita sampul edisi Juli 2008 British Journal of Dermatology. Di Britania Raya, sofa yang dijual oleh Argos, Land of Leather, dan Walmsley Furnishing yang mengandung bahan kimia tersebut menyebabkan lebih dari seratus orang mengalami cedera. Argos menarik sofa tersebut dari toko dan menghubungi para pembeli untuk mengambil kembali produk yang telah dijual. Land of Leather menarik produknya tanpa memberi tahu pembeli, sedangkan Walmsley menyatakan bahwa mereka telah mengeluarkan sachet dimetil fumarat dari sofa yang dijual setelah bahaya tersebut diketahui. Bahaya tersebut mulai dikenal luas pada tahun 2008 setelah program BBC Watchdog memperingatkan masyarakat mengenai sofa-sofa tersebut.

Di Uni Eropa, penggunaan dimetil fumarat dalam pembuatan produk konsumen telah dilarang sejak tahun 1998, dan pada tahun 2009 impor produk konsumen yang mengandung dimetil fumarat juga dilarang. Keputusan Komisi Uni Eropa 2009/251/EC tanggal 17 Maret 2009 mewajibkan negara-negara anggota untuk memastikan bahwa produk konsumen yang mengandung dimetil fumarat tidak lagi dipasarkan atau disediakan di pasar sejak 1 Mei 2009. Dengan demikian, seluruh pemasaran produk konsumen yang mengandung dimetil fumarat di Uni Eropa dinyatakan dilarang.

Penelitian

COVID-19

Pada tahun 2021, dimetil fumarat dievaluasi sebagai pengobatan untuk COVID-19 dalam RECOVERY Trial di Britania Raya. Hasil uji klinis tersebut menunjukkan bahwa dimetil fumarat tidak memberikan perbaikan bermakna terhadap luaran klinis pada pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit.

Referensi

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29540746 (2026-08-08T14:13:48Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.