Lompat ke isi

Ekosistem baru

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung

Ekosistem baru adalah ceruk yang dibangun, dimodifikasi, atau direkayasa oleh manusia pada era Antroposen. Ekosistem ini muncul di wilayah yang telah mengalami perubahan struktur dan fungsi akibat aktivitas manusia. Ekosistem baru merupakan bagian dari lingkungan dan ceruk manusia (termasuk kawasan perkotaan, pinggiran kota, maupun pedesaan). Ekosistem ini tidak memiliki padanan alami, serta telah meluas hingga memengaruhi lebih dari tiga perempat permukaan bumi yang masih liar. Bioma antropogenik ini mencakup teknoekosistem yang ditopang oleh sumber energi kuat, seperti fosil dan nuklir, termasuk ekosistem yang dihuni oleh keragaman teknologi (technodiversity), misalnya jalan raya dan kombinasi unik tanah yang disebut technosols. Asosiasi vegetasi pada bangunan tua atau di sepanjang dinding batu pembatas lahan pertanian lama merupakan contoh lokasi yang menjadi fokus penelitian ekologi ekosistem baru.

Tinjauan umum

Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa aktivitas manusia telah mengubah planet bumi pada tingkat yang signifikan, sehingga menandai awal suatu zaman baru yang disebut Antroposen. Dalam konteks ini, ceruk ekologi yang muncul mencakup ekosistem baru, yang meliputi istilah seperti technosols, technodiversity, anthromes, dan technosphere. Istilah-istilah tersebut digunakan dalam literatur ilmiah untuk menjelaskan fenomena ekologi yang diasosiasikan dengan perubahan yang dipengaruhi manusia dalam sejarah Bumi. Ekosistem manusia secara keseluruhan (atau anthrome) digunakan untuk menggambarkan hubungan antara teknosfer industri dengan ekosfer.

Teknoekosistem berinteraksi dengan ekosistem alami penunjang kehidupan dalam cara yang bersifat kompetitif maupun parasitik. Menurut Odum (2001), istilah ini dikaitkan dengan publikasi Zev Naveh pada tahun 1982: “Masyarakat urban-industri saat ini tidak hanya memengaruhi ekosistem alami penunjang kehidupan, tetapi juga telah menciptakan susunan baru yang dapat disebut sebagai teknoekosistem, istilah yang diyakini pertama kali diajukan oleh Zev Naveh (1982). Sistem baru ini melibatkan sumber energi kuat (bahan bakar fosil dan nuklir), teknologi, uang, serta kota yang memiliki sedikit atau bahkan tidak ada padanannya di alam.” Namun, istilah teknoekosistem tercatat pertama kali muncul dalam laporan teknis tahun 1976 dan juga dalam sebuah bab buku.

Ekosistem baru

Ekosistem baru berbeda dalam komposisi dan/atau fungsi dari sistem yang ada saat ini maupun di masa lalu. Ekosistem baru dianggap sebagai salah satu ciri dari zaman Antroposen yang diusulkan. Ekosistem ini tidak memiliki padanan alami karena dipengaruhi oleh perubahan iklim global akibat aktivitas manusia, keberadaan spesies invasif, kepunahan massal, serta perubahan pada siklus nitrogen global. Ekosistem baru menimbulkan berbagai dilema bagi ahli biologi konservasi darat dan laut. Dalam skala yang lebih lokal, lahan terbengkalai, lahan pertanian, bangunan lama, dinding batu pembatas lahan, atau taman rumah tinggal menjadi lokasi kajian mengenai sejarah dan dinamika ekologi dalam ekosistem baru. Salah satu ciri utama ekosistem baru adalah “ketidakmungkinan pemulihan secara praktis”. Hal ini terjadi karena banyak spesies asli telah punah, atau lanskap asli telah mengalami perubahan besar, bersamaan dengan proses naturalisasi spesies non-asli yang membentuk suatu kesatuan berkelanjutan sehingga kecil kemungkinan dapat dikembalikan ke kondisi “alami” sebelumnya. Ekosistem baru insular yang terkenal mencakup Pulau Ascension dan Oahu.

Bioma antropogenik

Ellis (2008) mengidentifikasi dua puluh satu jenis bioma antropogenik yang dikelompokkan menjadi: 1) permukiman padat, 2) desa, 3) lahan pertanian, 4) padang penggembalaan, 5) kawasan berhutan, dan 6) kawasan liar. Bioma antropogenik ini (atau disingkat anthromes) membentuk teknosfer yang mengelilingi manusia dan diisi oleh beragam teknologi (atau technodiversity). Dalam anthromes tersebut, spesies manusia (satu dari miliaran spesies) memanfaatkan 23,8% dari produksi primer bersih global. Hal ini menunjukkan dampak yang signifikan terhadap biosfer yang dihasilkan oleh hanya satu spesies.

Noosfer

Noosfer (kadang ditulis noösfer) adalah “sfera pemikiran manusia”. Kata ini berasal dari bahasa Yunani νοῦς (nous, berarti “pikiran”) dan σφαῖρα (sphaira, berarti “sfera”), dengan analogi leksikal terhadap kata “atmosfer” dan “biosfer”. Istilah ini diperkenalkan oleh Pierre Teilhard de Chardin pada tahun 1922 dalam karyanya Cosmogenesis. Kemungkinan lain penggunaan pertama istilah ini berasal dari Édouard Le Roy, yang bersama Pierre Teilhard de Chardin menghadiri kuliah Vladimir Vernadsky di Sorbonne. Pada tahun 1936 Vernadsky menyampaikan gagasan mengenai Noosfer dalam sebuah surat kepada Boris Leonidovich Lichkov, meskipun ia menyatakan bahwa konsep tersebut berasal dari Le Roy.

Teknosfer

Teknosfer adalah bagian dari lingkungan di Bumi tempat keragaman teknologi (technodiversity) memperluas pengaruhnya ke dalam biosfer. Untuk mengembangkan strategi restorasi yang sesuai, perlu dibuat pembedaan yang jelas antara berbagai kelas fungsional biosfer alami dan budaya yang ditenagai oleh energi surya, serta lanskap teknosfer yang ditenagai oleh bahan bakar fosil. Pembedaan ini didasarkan pada masukan dan aliran energi serta material, organisme yang ada, kendali melalui informasi alami atau manusia, organisasi internal, dan kapasitas regeneratifnya. Berat teknosfer bumi diperkirakan mencapai 30 triliun ton, dengan massa lebih dari 50 kilogram untuk setiap meter persegi permukaan planet.

Teknoekosistem

Konsep teknoekosistem dipelopori oleh ahli ekologi Howard T. Odum dan Zev Naveh. Teknoekosistem berinteraksi dengan dan bersaing melawan sistem alami. Sistem ini memiliki teknologi maju (technodiversity), ekonomi pasar berbasis uang, serta jejak ekologi yang besar. Teknoekosistem memerlukan energi jauh lebih besar dibandingkan ekosistem alami, mengonsumsi air dalam jumlah berlebihan, serta melepaskan bahan kimia beracun dan yang menyebabkan eutrofikasi. Sejumlah ahli ekologi lain mendefinisikan jaringan jalan raya global yang luas sebagai salah satu bentuk teknoekosistem.

Teknoekotipe

Bioekotop, agroekotop, dan teknoekotop terintegrasi secara spasial dalam unit lanskap regional yang lebih luas, tetapi tidak terintegrasi secara struktural maupun fungsional dalam ekosfer. Karena dampak negatif teknoekotop dan tekanan manusia yang besar terhadap bioekotop, keduanya bahkan memiliki hubungan antagonis dan tidak dapat berfungsi bersama sebagai satu sistem ekologi yang berkelanjutan.

Teknosol

Teknosol adalah bentuk baru kelompok tanah dalam World Reference Base for Soil Resources (WRB). Teknosol terutama dicirikan oleh bahan induk antropogenik yang bersifat organik maupun mineral, dengan asal-usul yang dapat bersifat alami atau teknogenik.

Teknodiversitas

Teknodiversitas merujuk pada keragaman artefak teknologi yang terdapat dalam teknoekosistem.

Referensi

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29021103 (2026-03-09T08:08:17Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.