Lompat ke isi

Farisimab

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung

Farisimab adalah antibodi monoklonal yang digunakan untuk pengobatan degenerasi makula terkait usia neovaskular (nAMD) dan edema makula diabetik (DME). Farisimab adalah antibodi monoklonal bispesifik pertama yang menargetkan faktor pertumbuhan endotel vaskular (VEGF) dan angiopoietin 2 (Ang-2). Dengan menargetkan jalur ini, farisimab menstabilkan pembuluh darah di retina. Farisimab diberikan melalui suntikan intravitreal (suntikan ke mata) oleh dokter mata.

Farisimab dikembangkan oleh Roche di Penzberg (Pusat Inovasi Roche Munich). Farisimab disetujui untuk penggunaan medis di Amerika Serikat pada Januari 2022, dan di Uni Eropa pada September 2022.

Sejarah

Pada tahun 2016, studi pra-klinis yang meneliti mekanisme kerja farisimab menunjukkan bahwa dengan memblokir Ang-2, salah satu target obat, terjadi penurunan kerusakan penghalang endotel pada pembuluh darah. Pada tahun 2017, studi fase I pada degenerasi makula terkait usia neovaskular (nAMD) menunjukkan bahwa obat ini aman digunakan pada manusia dan ditoleransi dengan baik.

Kegunaan medis

Farisimab diindikasikan untuk pengobatan degenerasi makula terkait usia neovaskular (nAMD) dan edema makula diabetik (DME).

Efek samping

Reaksi merugikan yang paling umum dilaporkan pada orang yang menerima farisimab meliputi perdarahan konjungtiva.

Kontraindikasi

Kontraindikasi terhadap injeksi farisimab meliputi infeksi aktif di dalam atau di sekitar mata, peradangan aktif pada mata (uveitis), dan reaksi alergi sebelumnya terhadap penerimaan obat (hipersensitivitas).

Populasi khusus

Kehamilan

Belum ada studi yang memadai dan terkontrol dengan baik mengenai pemberian farisimab pada wanita hamil.

Menyusui

Belum ada informasi mengenai akumulasi farisimab dalam ASI, efek obat pada bayi yang disusui, atau efek obat pada produksi ASI. Namun, perusahaan farmasi menyatakan bahwa banyak obat yang ditransfer ke dalam ASI dengan potensi penyerapan dan reaksi merugikan pada anak yang disusui.

Kesuburan

Belum ada penelitian yang dilakukan mengenai efek farisimab terhadap kesuburan manusia, dan belum diketahui apakah farisimab dapat memengaruhi reproduksi. Berdasarkan mekanisme kerjanya, pengobatan dengan farisimab dapat menimbulkan risiko terhadap kapasitas reproduksi.

Farmakologi

Farisimab adalah antibodi bispesifik berukuran 150kDa yang struktur molekulnya memungkinkan ikatan afinitas tinggi terhadap faktor pertumbuhan endotel vaskular A (VEGF-A) dan Angiopoietin (Ang-2). Dengan menghalangi aksi kedua faktor pertumbuhan ini, farisimab menurunkan migrasi dan replikasi sel endotelium yang memungkinkan stabilisasi struktur vaskular, sehingga mengurangi kebocoran vaskular. Farisimab telah menunjukkan kemanjuran yang lebih baik dan berkelanjutan dibandingkan dengan agen yang hanya menargetkan jalur VEGF.

Masyarakat dan budaya

Status hukum

Pada 21 Juli 2022, Komite Produk Obat untuk Penggunaan Manusia (CHMP) dari Badan Pengawas Obat Eropa (EMA) memberikan opini positif, merekomendasikan pemberian izin edar untuk produk obat Vabysmo, yang ditujukan untuk pengobatan degenerasi makula terkait usia neovaskular (nAMD) dan edema makula diabetik (DME). Pemohon untuk produk obat ini adalah Roche Registration GmbH. Farisimab telah disetujui untuk penggunaan medis di Uni Eropa pada September 2022.

Nama

Farisimab adalah Nama Generik Internasional (INN). Farisimab sebelumnya bernama RG7716.

Penelitian

Degenerasi makula terkait usia neovaskular

Dua uji coba fase II mengevaluasi efikasi dan keamanan farisimab dibandingkan dengan ranibizumab, dan menunjukkan bahwa farisimab yang diberikan setiap 16 minggu dan setiap dua belas minggu sebanding dengan ranibizumab yang diberikan setiap empat minggu dalam hal ketajaman penglihatan dan hasil pencitraan. Pada tahun 2019, dua studi acak multipusat fase III, TENAYA dan LUCERNE, dimulai pada 1.200 partisipan dengan degenerasi makula terkait usia neovaskular (nAMD) untuk mengevaluasi keamanan, efikasi, dan durabilitas farisimab terhadap aflibersept. Kedua studi mencapai titik akhir primernya dan menunjukkan bahwa farisimab yang diberikan hingga setiap 16 minggu tidak kalah efektifnya dibandingkan aflibersept yang diberikan setiap 8 minggu. Farisimab menunjukkan potensinya untuk memperpanjang waktu antar injeksi intravitreal pada pasien nAMD.

Edema makula diabetik

Satu uji coba fase II mengevaluasi efikasi dan keamanan farisimab dibandingkan dengan ranibizumab dan menunjukkan peningkatan ketajaman penglihatan yang bermakna secara klinis dan signifikan secara statistik. Dua uji coba acak multisenter fase III diselesaikan pada 1.891 peserta diabetes dengan edema makula diabetik (DME).

Edema makula akibat oklusi vena retina cabang dan sentral

Dalam dua uji coba fase III, farisimab memenuhi titik akhir utama peningkatan ketajaman visual non-inferior jika dibandingkan dengan aflibersept pada 553 partisipan dengan edema makula akibat oklusi vena retina cabang (BRVO) dan oklusi vena retina sentral (CRVO) dalam studi BALATON dan COMINO.

Referensi

Pranala luar


Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28383737 (2025-11-08T13:18:04Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.