Lompat ke isi

Fosfatidilserina

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung

Fosfatidilserina (Bahasa Inggris: Phosphatidylserine, disingkat Ptd-L-Ser atau PS) adalah fosfolipid dan merupakan komponen membran sel. Fosfatidilserina berperan penting dalam pensinyalan siklus sel, khususnya dalam kaitannya dengan apoptosis. Fosfatidilserina merupakan jalur utama bagi virus untuk memasuki sel melalui mimikri apoptosis. Paparannya pada permukaan luar membran menandai sel untuk dihancurkan melalui apoptosis.

Struktur

Fosfatidilserina adalah fosfolipid, lebih spesifiknya gliserofosfolipid, yang terdiri dari dua asam lemak yang terikat dalam ikatan ester pada karbon pertama dan kedua gliserol, dan serina yang terikat melalui ikatan fosfodiester pada karbon ketiga gliserol.

Fosfatidilserin yang bersumber dari tumbuhan memiliki komposisi asam lemak yang berbeda dengan yang bersumber dari hewan. Fosfatidilserin umumnya ditemukan di lapisan dalam (sitoplasma) membran biologis.

Biosintesis

Fosfatidilserina (PS) adalah golongan fosfolipid asam utama yang mencakup 13–15% fosfolipid di korteks serebral manusia. Di dalam membran plasma, PS terlokalisasi secara eksklusif di lapisan sitoplasma tempat ia membentuk bagian dari situs docking protein yang diperlukan untuk aktivasi beberapa jalur pensinyalan utama. Ini termasuk pensinyalan Akt, protein kinase C (PKC), dan Raf-1 yang diketahui merangsang kelangsungan hidup neuron, pertumbuhan neurit, dan sinaptogenesis.

Komposisi

Fosfatidilserina terbentuk pada bakteri (seperti E. coli) melalui perpindahan sitidina monofosfat (CMP) melalui serangan nukleofilik oleh gugus fungsi hidroksil serina. CMP dibentuk dari CDP-diasilgliserol oleh PS sintase. Fosfatidilserina pada akhirnya dapat menjadi fosfatidiletanolamin oleh enzim PS dekarboksilase (membentuk karbon dioksida sebagai produk sampingan).

Pada manusia dan mamalia, fosfatidilserina berasal dari fosfatidiletanolamin atau fosfatidilkolina melalui salah satu dari dua reaksi pertukaran gugus kepala yang bergantung pada Ca2+- di retikulum endoplasma. Kedua reaksi tersebut memerlukan serina tetapi masing-masing menghasilkan etanolamina atau kolina. Reaksi ini dipromosikan oleh fosfatidilserina sintase 1 (PSS1) atau 2 (PSS2). Sebaliknya, fosfatidilserina juga dapat menghasilkan fosfatidiletanolamin dan fosfatidilkolina, meskipun pada nanusia dan hewan jalur untuk menghasilkan fosfatidilkolina dari fosfatidilserina hanya beroperasi di hati.

Fungsi

Fungsi kognitif

PS telah dipelajari potensinya dalam meningkatkan daya ingat, pembelajaran, dan konsentrasi. Suplementasi dengan PS telah terbukti tidak berpengaruh dalam meningkatkan kinerja kognitif pada lansia dan individu dengan penurunan kognitif.

Apoptosis

PS memainkan peran penting dalam proses apoptosis (kematian sel terprogram). Selama apoptosis, PS bertranslokasi dari lapisan dalam membran sel ke lapisan luar, yang berfungsi sebagai sinyal bagi sel fagosit untuk melahap sel yang sekarat.

Sumber makanan

Asupan fosfatidilserina harian rata-rata dalam pola makan Barat diperkirakan 130 mg. Fosfatidilserina dapat ditemukan dalam daging dan ikan. Hanya sejumlah kecil yang ditemukan dalam produk susu dan sayuran, kecuali kacang putih dan lesitin kedelai. Fosfatidilserina ditemukan dalam lesitin kedelai sekitar 3% dari total fosfolipid.

Tabel 1. Kandungan fosfatidilserina dalam berbagai makanan.


Suplementasi

Klaim kesehatan

Panel Otoritas Keamanan Makanan Eropa menyimpulkan bahwa hubungan sebab-akibat tidak dapat dipastikan antara konsumsi fosfatidilserina dan "daya ingat dan fungsi kognitif pada lansia", "kesehatan mental/fungsi kognitif", serta "pengurangan stres dan peningkatan fungsi memori". Kesimpulan ini muncul karena fosfatidilserina berbasis korteks otak bovinae dan kedelai merupakan zat yang berbeda, dan oleh karena itu mungkin memiliki aktivitas biologis yang berbeda. Oleh karena itu, hasil penelitian yang menggunakan fosfatidilserina dari sumber yang berbeda tidak dapat digeneralisasi.

Kognisi

Pada bulan Mei 2003, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) memberikan status "klaim kesehatan yang memenuhi syarat" kepada fosfatidilserina, sehingga memungkinkan label untuk menyatakan "konsumsi fosfatidilserina dapat mengurangi risiko demensia dan disfungsi kognitif pada lansia" beserta pernyataan "penelitian ilmiah yang sangat terbatas dan awal menunjukkan bahwa fosfatidilserina dapat mengurangi risiko disfungsi kognitif pada lansia." Menurut FDA, belum ada kesepakatan ilmiah di antara para ahli yang memenuhi syarat bahwa terdapat hubungan antara fosfatidilserina dan fungsi kognitif.

Tinjauan yang lebih baru menunjukkan bahwa hubungan tersebut mungkin lebih kuat, meskipun mekanismenya masih belum jelas. Tinjauan tiga uji klinis tahun 2020 menemukan bahwa fosfatidilserina kemungkinan efektif untuk meningkatkan fungsi kognitif pada lansia dengan gangguan kognitif ringan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa asal-usul fosfatidilserina dari tumbuhan atau hewan mungkin penting, dengan pernyataan FDA yang berlaku khusus untuk produk turunan kedelai.

Keamanan

Awalnya, suplemen fosfatidilserina berasal dari korteks bovinae. Namun, karena risiko penularan penyakit menular seperti ensefalopati spons bovinae (atau "penyakit sapi gila"), suplemen turunan kedelai menjadi alternatif. Sebuah laporan keamanan tahun 2002 menetapkan bahwa suplementasi pada lansia dengan dosis 200 mg tiga kali sehari aman.

Referensi

Pranala luar


Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29699538 (2026-09-04T02:04:56Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.