Glifosat

Glifosat adalah herbisida berspektrum luas yang dapat mematikan sebagian besar tipe tanaman dan dapat mengendalikan gulma semusim maupun tahunan di daerah tropis pada waktu pascatumbuh (post emergence).[1] Cara kerja herbisida ini adalah dengan menghambat enzim 5-enolpiruvil-shikimat-3-fosfat sintase (EPSPS) yang berperan dalam pembentukan asam amino aromatik, seperti triptofan, tirosin, dan fenilalanin.[2] Tumbuhan akan mati karena kekurangan asam amino yang penting untuk melakukan berbagai proses hidupnya.[3] Glifosat dapat masuk ke dalam tumbuhan karena penyerapan yang dilakukan tanaman dan kemudian diangkut ke pembuluh floem.[4] Paparan glifosat akan menyebabkan beberapa gejala, seperti iritasi mata, penglihatan menjadi kabur, kulit terbakar atau gatal, mual, sakit tenggorokan, asma, kesulitan bernapas, sakit kepala, mimisan, dan pusing.[5]
Referensi
- ↑ S. Setyo Wardoyo. sumber. DISTRIBUSI VERTIKAL HERBISIDA GLIFOSAT DAN PENGARUHNYA TERHADAP SIFAT TANAH. hlm. 90-98.
- ↑ S. Setyo Wardoyo. sumber. DISTRIBUSI VERTIKAL HERBISIDA GLIFOSAT DAN PENGARUHNYA TERHADAP SIFAT TANAH. hlm. 90-98.
- ↑ CAROLINE COX. Herbicide Factsheet: GLYPHOSATE. JOURNAL OF PESTICIDE REFORM. 2004. Vol. 24 (4).
- ↑ S. Setyo Wardoyo. sumber. DISTRIBUSI VERTIKAL HERBISIDA GLIFOSAT DAN PENGARUHNYA TERHADAP SIFAT TANAH. hlm. 90-98.
- ↑ CAROLINE COX. Herbicide Factsheet: GLYPHOSATE. JOURNAL OF PESTICIDE REFORM. 2004. Vol. 24 (4).
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 26796377 (2025-01-15T11:00:55Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.