Lompat ke isi

Kapal Theseus

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Berkas:Ship of Theseus.svg
Ship of Theseus

Kapal Theseus, juga dikenal sebagai Paradoks Theseus, adalah sebuah paradoks dan eksperimen pemikiran klasik yang mempertanyakan apakah suatu benda, dalam versi paling terkenal, sebuah kapal, masih dapat dianggap sebagai benda yang sama setelah seluruh komponennya diganti sedikit demi sedikit dari waktu ke waktu.

Dalam mitologi Yunani, Theseus, raja legendaris kota Athena, menyelamatkan anak-anak Athena dari Raja Minos setelah membunuh minotaur, lalu melarikan diri dengan menaiki sebuah kapal menuju Delos. Setiap tahun, orang Athena memperingati peristiwa ini dengan melakukan ziarah ke Delos menggunakan kapal tersebut untuk menghormati Apollo. Seiring berjalannya waktu, beberapa papan kapal itu membusuk dan diganti satu per satu. Para filsuf kuno kemudian mengajukan pertanyaan: jika tidak ada satu pun bagian asli yang tersisa, apakah kapal itu masih merupakan Kapal Theseus? Jika tidak, pada titik mana kapal itu berhenti menjadi kapal yang sama? Filsuf abad ke-17 Thomas Hobbes kemudian memperluas persoalan ini dengan bertanya: bagaimana jika semua bagian lama yang telah diganti dikumpulkan dan digunakan untuk membangun kapal kedua, manakah dari keduanya yang dapat disebut kapal asli Theseus?

Dalam filsafat kontemporer, eksperimen pemikiran ini memiliki peran penting dalam kajian tentang identitas yang bertahan dari waktu ke waktu. Dalam bidang filsafat budi, paradoks ini juga mengilhami beragam gagasan dan teori tentang keberlangsungan identitas pribadi.

Sejarah

Dalam bentuk aslinya, paradoks "Kapal Theseus" memperdebatkan apakah kapal yang seluruh komponennya diganti sedikit demi sedikit tetap dapat disebut sebagai kapal yang sama. Catatan mengenai persoalan ini dilestarikan oleh Plutarch dalam karyanya Kehidupan Theseus:

Filsuf abad ke-17 Thomas Hobbes memperluas eksperimen pemikiran ini dengan mengandaikan bahwa seorang penjaga kapal mengumpulkan semua bagian lama yang diganti, lalu menyusunnya kembali menjadi kapal kedua. Ia kemudian mempertanyakan: di antara dua kapal itu, milik penjaga atau milik orang Athena, manakah yang sebenarnya merupakan kapal asli?

Hobbes menafsirkan kedua kapal yang dihasilkan tersebut sebagai perwujudan dari dua jenis pengertian tentang "identitas" atau kesamaan, yakni bentuk dan materi, yang dibandingkan dengan kapal asli:

  1. kapal yang mempertahankan bentuk yang sama seperti kapal pertama, yang keberadaannya berlanjut meskipun semua bahannya telah diganti; dan
  2. kapal yang terdiri dari materi yang sama dengan kapal asli, yang kehilangan kesamaannya segera setelah bagian pertama diganti.

Usulan penyelesaian

Paradoks Kapal Theseus dapat dipandang sebagai contoh dari teka-teki mengenai konstitusi material, yakni persoalan tentang bagaimana hubungan antara suatu objek dan bahan penyusunnya dapat dipahami.

Konstitusi bukan identitas

Menurut Stanford Encyclopedia of Philosophy, solusi yang paling banyak diterima adalah mengakui bahwa bahan penyusun kapal tidaklah sama dengan kapal itu sendiri, meskipun keduanya menempati ruang yang sama pada waktu yang sama. Dengan kata lain, kapal dan bahan pembentuknya adalah dua entitas yang berbeda tetapi koeksis dalam satu tempat dan waktu.

Bagian-bagian temporal

Salah satu teori populer lainnya dikemukakan oleh filsuf Amerika abad ke-20, David Lewis, yang berpendapat bahwa setiap objek dapat dipahami sebagai rangkaian potongan waktu tiga dimensi (time-slices) yang terpisah secara temporal. Dengan cara pandang ini, masalah tentang dua kapal yang tampak menempati ruang yang sama pada waktu berbeda dapat dihindari, karena setiap "potongan waktu" dari kapal dianggap sebagai entitas yang berbeda pada setiap momen keberadaannya.

Ilmu kognitif

Beberapa ilmuwan lain berpendapat bahwa teka-teki ini muncul akibat bentuk eksternalisme yang ekstrem, yakni anggapan bahwa apa yang berlaku dalam pikiran manusia pasti juga berlaku di dunia nyata. Noam Chomsky menilai bahwa asumsi ini tidak dapat diterima secara mutlak dalam kerangka ilmu alam, sebab intuisi manusia sering kali keliru. Dalam perspektif ilmu kognitif, paradoks ini dilihat sebagai bahan kajian tentang cara kerja pikiran manusia. Mempelajari kebingungan konseptual seperti ini dapat mengungkap banyak hal tentang mekanisme otak, meskipun hanya sedikit menjelaskan tentang hakikat dunia eksternal yang independen dari manusia.

Selaras dengan pandangan tersebut, sejumlah pemikir dalam bidang ilmu kognitif berpendapat bahwa kapal tidak semestinya dipahami sebagai benda fisik, atau kumpulan bagian-bagian benda yang objektif, melainkan sebagai suatu struktur organisasional yang memiliki kesinambungan perseptual.

Deflasionisme

Menurut Stanford Encyclopedia of Philosophy, pandangan deflasionis menyatakan bahwa fakta-fakta dalam eksperimen pemikiran ini sesungguhnya tidak diperdebatkan; yang dipersoalkan hanyalah makna dari istilah "kapal", sehingga perdebatan tersebut bersifat verbal semata. Filsuf Amerika Hilary Putnam menegaskan bahwa "konsep-konsep logis dasar itu sendiri terutama gagasan tentang objek dan eksistensi, memiliki banyak ragam penggunaan, bukan satu makna yang mutlak."[1] Gagasan ini, yakni bahwa terdapat berbagai makna bagi kuantor eksistensial yang sama-sama alami dan memadai untuk menggambarkan seluruh fakta, sering disebut sebagai "doktrin variasi kuantor" (the doctrine of quantifier variance).[2]

Teori identitas berkelanjutan

Solusi ini (dikemukakan oleh Kate, Ernest, dan rekan-rekannya) memandang bahwa suatu objek tetap dianggap sama selama ia terus-menerus eksis secara metafisik di bawah identitas yang sama, tanpa mengalami perubahan total pada satu waktu tertentu. Misalnya, sebuah rumah yang pada Tahun Pertama diganti dinding depannya, lalu pada Tahun Kedua atapnya, dan seterusnya hingga seluruh bagiannya diperbarui, tetap dipahami sebagai rumah yang sama. Namun, apabila seluruh dinding, lantai, dan atap rumah dihancurkan dan diganti sekaligus pada waktu yang sama, maka rumah itu akan dianggap sebagai rumah yang baru sepenuhnya.

Bentuk-bentuk alternatif

Di Eropa, terdapat sejumlah kisah rakyat dan anekdot yang menggambarkan pisau yang bilah dan gagangnya telah diganti berkali-kali, namun tetap dipandang sebagai pisau yang sama. Di Prancis, kisah ini dikenal sebagai pisau Jeannot,[3][4] Sementara itu, di Spanyol, kisah serupa dijadikan peribahasa dan dikenal sebagai "pisau keluarga", dan di Hongaria dikenal versi lain yaitu "pisau lipat milik Lajos Kossuth". Beberapa varian atau bentuk serupa dari persoalan mendasar ini juga dikenal di berbagai tempat, seperti kisah "kapak kakek"[5] dan "sapu milik Trigger",[6][7] di mana sebuah kapak atau sapu tua telah diganti baik gagangnya maupun kepalanya, sehingga tak ada satu pun bagian asli yang tersisa.

Salah satu iblis mencabuti bagian tubuh pengembara satu per satu, sementara iblis lainnya menggantinya dengan bagian-bagian tubuh dari mayat. Akhirnya sang pengembara kebingungan mengenai siapa dirinya sebenarnya.

Kritikus dan esais Prancis Roland Barthes juga merujuk sedikitnya dua kali pada kapal yang sepenuhnya dibangun kembali: dalam pengantar karyanya Essais Critiques (1971) dan kemudian dalam Roland Barthes par Roland Barthes (1975). Dalam karya terakhir, keberlanjutan bentuk kapal tersebut dipandang sebagai prinsip utama dalam strukturalisme. Ia menamai kapal ini Argo, kapal yang menurut legenda digunakan Theseus untuk berlayar bersama Jason; kemungkinan ia keliru mengaitkan Argo (yang hanya disebut sepintas dalam karya Plutarch Theseus 19.4) dengan kapal yang berlayar dari Kreta (Theseus, 23.1).


Di Amerika Serikat, ada seorang pria yang mengklaim memiliki kapak yang digunakan George Washington untuk menebang pohon ceri yang legendaris, namun gagangnya telah diganti dua kali, dan mata kapaknya sekali.[8]

Referensi umum

Bacaan lanjutan

Pranala luar

Referensi

  1. Putnam, H., 1987, "Truth and Convention: On Davidson's Refutation of Conceptual Relativism", Dialectica, 41: 69–77
  2. Hirsch, E., 1982, The Concept of Identity, Oxford: Oxford University Press. 2002b, "Quantifier Variance and Realism", Philosophical Issues, 12: 51–73.
  3. Dumas in his Curricle. Blackwood's Edinburgh Magazine. January–June 1844. Vol. LV (CCCXLI). hlm. 351.
  4. John Knox Laughton. Memoirs of the Life and Correspondence of Henry Reeve, C.B., D.C.L. In Two Volumes., Volume 2. tredition GmbH. hlm. Chapter XXIII. ISBN 978-3-8424-9722-1.
  5. Ray Broadus Browne. Objects of Special Devotion: Fetishism in Popular Culture. Popular Press. 1982. hlm. 134. ISBN 0-87972-191-X.
  6. Heroes and Villains. BBC.
  7. Nicole Casadevall. Evolution of biological agents: how established drugs can become less safe. BMJ. 2017-04-27. Vol. 357. doi:10.1136/bmj.j1707.
  8. Nicholas J. J. Smith. Why Sense Cannot Be Made of Vague Identity 1. Noûs. March 2008. Vol. 42 (1). hlm. 1–16. doi:10.1111/j.1468-0068.2007.00671.x.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29510463 (2026-07-31T19:16:43Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.