Kebaikan
Dalam sebagian besar konteks, konsep tentang kebaikan menandakan perilaku yang hendaknya diutamakan ketika seseorang dihadapkan pada pilihan di antara berbagai kemungkinan tindakan. Kebaikan umumnya dianggap sebagai kebalikan dari kejahatan. Makna spesifik dan etimologi dari istilah ini, beserta terjemahannya dalam bahasa-bahasa kuno maupun kontemporer, menunjukkan keragaman yang mendalam dalam hal infleksi dan pemaknaannya, bergantung pada situasi tempat dan sejarah, ataupun konteks filosofis dan religius.
Sejarah pemikiran Barat
Setiap bahasa memiliki kata yang mengungkapkan baik dalam pengertian "memiliki kualitas yang benar atau didambakan" (ἀρετή) dan buruk dalam pengertian "tidak diinginkan". Sebuah rasa akan penilaian moral dan pembedaan antara "benar dan salah, baik dan buruk" merupakan universal budaya.[1]
Plato dan Aristoteles
Kendati sejarah mengenai asal-usul penggunaan konsep dan makna "baik" sangatlah beragam, diskusi-diskusi terkemuka dari Plato dan Aristoteles mengenai subjek ini telah memberikan dampak historis yang signifikan. Referensi pertama yang terlihat dalam Republik karya Plato mengenai Bentuk Kebaikan terdapat dalam percakapan antara Glaucon dan Sokrates (454c–d). Ketika mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit perihal definisi keadilan, Plato menegaskan bahwa kita tidak boleh "memperkenalkan setiap bentuk perbedaan dan persamaan di alam", melainkan kita harus berfokus pada "satu bentuk persamaan dan perbedaan yang relevan dengan cara hidup tertentu itu sendiri", yakni bentuk Kebaikan. Bentuk ini adalah landasan untuk memahami segala bentuk lainnya; inilah yang memungkinkan kita untuk memahami segala sesuatu yang lain. Melalui percakapan antara Sokrates dan Glaucon (508a–c), Plato menganalogikan bentuk Kebaikan dengan matahari, karena mataharilah yang memungkinkan kita melihat benda-benda. Di sini, Plato menjabarkan bagaimana matahari memungkinkan penglihatan. Namun, ia membuat pembedaan yang sangat penting: "matahari bukanlah penglihatan", melainkan "penyebab dari penglihatan itu sendiri". Sebagaimana matahari berada di alam kasat mata, bentuk Kebaikan berada di alam inteligibel (alam yang dapat dipahami akal budi). Ia adalah "apa yang memberikan kebenaran pada hal-hal yang diketahui dan daya untuk mengetahui kepada yang mengetahui". Ia bukan hanya "penyebab pengetahuan dan kebenaran, ia juga merupakan objek pengetahuan". Plato menguraikan bagaimana bentuk Kebaikan memungkinkan kesadaran untuk memahami konsep-konsep rumit seperti keadilan. Ia mengidentifikasi pengetahuan dan kebenaran sebagai hal yang penting, namun melalui Sokrates (508d–e) ia berkata, "kebaikan jauh lebih berharga". Ia kemudian melanjutkan penjelasannya bahwa "meskipun kebaikan bukanlah keberadaan", ia "lebih unggul darinya dalam pangkat dan kuasa", ialah yang "menyediakan pengetahuan dan kebenaran" (508e).[2]
Berbeda dengan Plato, Aristoteles membahas Bentuk Kebaikan dengan nada kritis beberapa kali dalam kedua karya etika utamanya yang masih bertahan, Eudemia dan Etika Nikomakea. Aristoteles berargumen bahwa Bentuk Kebaikan Plato tidak berlaku pada dunia fisik, sebab Plato tidak menyematkan "kebaikan" pada apa pun di dunia yang ada ini. Karena Bentuk Kebaikan Plato tidak menjelaskan peristiwa di dunia fisik, manusia tidak memiliki alasan untuk percaya bahwa Bentuk Kebaikan itu ada, dan dengan demikian Bentuk Kebaikan menjadi tidak relevan bagi etika manusia.[3]
Bacaan lanjutan
- Aristotle. "Nicomachean Ethics". 1998. USA: Oxford University Press. (1177a15)
- Bentham, Jeremy. The Principles of Morals and Legislation. 1988. Prometheus Books.
- Corrected repr. 1984; repr. with new foreword 2001.
- Dewey, John. Theory of Valuation. 1948. University of Chicago Press.
- Griffin, James. Well-Being: Its Meaning, Measurement and Moral Importance. 1986. Oxford: Oxford University Press.
- Hume, David. A Treatise of Human Nature. 2000. Oxford: Oxford University Press.
- Hurka, Thomas. Perfectionism. 1993. Oxford: Oxford University Press.
- Kant, Immanuel. Groundwork of the Metaphysic of Morals. 1996. Cambridge University Press. Third section, [446]-[447].
- Kierkegaard, Søren. Either/Or. 1992. Penguin Classics.
- Rawls, John. A Theory of Justice. 1999. Belknap Press.
- Ross, W. D. The Right and the Good. 1930. Oxford University Press.
Pranala luar
Referensi
- ↑ Donald Brown (1991) Human Universals. Philadelphia, Temple University Press (online summary).
- ↑ Plato. Republic. Hackett Publ. Co. 1992. ISBN 978-0-87220-136-1.
- ↑ Gail Fine. Plato on Knowledge and Forms. Oxford University Press. 2003. hlm. 350. ISBN 0-19-924559-2.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29437367 (2026-07-09T21:47:55Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.