Kesadaran setelah kematian

Kesadaran setelah kematian adalah kontroversi umum dalam masyarakat dan budaya dalam kaitannya dengan kehidupan setelah kematian. Penelitian ilmiah telah menetapkan bahwa pikiran dan kesadaran berhubungan erat dengan fungsi fisiologis otak, yang berhentinya mendefinisikan kematian otak. Namun, banyak yang percaya pada beberapa bentuk kehidupan setelah kematian, yang ditemui dalam banyak agama.
Ilmu saraf adalah bidang interdisipliner yang dibangun di atas premis bahwa semua perilaku dan semua proses kognitif yang membentuk pikiran berasal dari struktur dan fungsi sistem saraf, terutama di otak. Menurut pandangan ini, pikiran dapat dianggap sebagai seperangkat operasi yang dilakukan oleh otak.[1][2][3][4][5]
Bacaan lanjutan
- Martin, Michael; Augustine, Keith. (2015). The Myth of an Afterlife: The Case against Life After Death. Rowman & Littlefield.
- Laureys, Steven; Tononi, Giulio. (2009). The Neurology of Consciousness: Cognitive Neuroscience and Neuropathology. Academic Press.
- "What Happens to Consciousness When We Die". Scientific American.
Referensi
- ↑ Kandel, ER; Schwartz JH; Jessell TM; Siegelbaum SA; Hudspeth AJ. "Principles of Neural Science, Fifth Edition" (2012).
- ↑ Squire, L. et al. "Fundamental Neuroscience, 4th edition" (2012).
- ↑ O. Carter Snead. "Neuroimaging and the "Complexity" of Capital Punishment" (2007).
- ↑ Eric R. Kandel, M.D. "A New Intellectual Framework for Psychiatry" (1998).
- ↑ Neuroscience Core Concepts: The Essential Principles of Neuroscience. BrainFacts.org: Explore the Brain and Mind.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28600074 (2025-11-22T06:05:06Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.