Lompat ke isi

Konsistensi sikap-perilaku

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung

Konsistensi sikap-perilaku merupakan konsep sentral dalam psikologi sosial, yang merujuk pada hubungan dan keselarasan antara keyakinan atau sikap seseorang dengan tindakan atau perilakunya.[1] Secara spesifik, konsep konsistensi sikap-perilaku membahas bagian-bagian studi tentang sikap di mana psikolog sosial menguji apakah tindakan seseorang dapat dipahami sebagai sesuatu yang timbul dari keyakinan dan opininya.[2]

Hubungan ini telah banyak diperdebatkan di antara para peneliti, mengingat fakta bahwa individu seringkali bertindak dengan cara yang tampaknya tidak sesuai dengan sikap mereka. Banyak yang berpendapat bahwa sikap bukanlah satu-satunya faktor yang memengaruhi perilaku;[3] beberapa orang mungkin berperilaku lebih sesuai dengan sikap mereka dibandingkan yang lain, dan perilaku seseorang mungkin lebih sesuai dengan sikap mereka dalam beberapa keadaan dibandingkan keadaan lainnya.[4]

Konsistensi antara sikap dan perilaku dapat dijelaskan oleh faktor-faktor moderator, yang memperkuat atau melemahkan hubungan tersebut. Beberapa kategori moderator meliputi kekuatan dan aksesibilitas sikap, faktor individu, dan faktor situasional/kontekstual.

Contoh

  • Pada tahun 1930-an, Richard LaPiere bertanya kepada 251 pemilik hotel apakah mereka bersedia melayani tamu Tionghoa, dan hanya 1 yang menjawab ya. Namun, ketika ia mengikuti pasangan muda Tionghoa yang mengunjungi hotel-hotel tersebut, mereka hanya ditolak sekali.[5]
  • Meskipun sebagian besar pengusaha dalam sebuah studi audit melaporkan bahwa mereka bersedia memberikan wawancara kerja kepada mantan narapidana laki-laki muda berkulit hitam, mereka cenderung tidak memberikan wawancara ketika diberi kesempatan untuk mewawancarai laki-laki yang tampaknya bersedia.[6]
  • Orang-orang yang terlibat dalam studi kesehatan yang diminta untuk melaporkan berapa banyak makanan yang mereka konsumsi cenderung melaporkan bahwa mereka makan lebih sedikit dari yang sebenarnya mereka makan.[7]
  • Ketika menyelidiki efek pengamat, orang-orang menyatakan bahwa mereka memiliki kemauan yang jauh lebih besar untuk melakukan intervensi dalam situasi tertentu dibandingkan dengan yang diamati dalam praktik di lingkungan naturalistik. Hasil seperti ini memiliki implikasi untuk semua penelitian berbasis survei.[8]

Referensi

  1. Encyclopedia of social psychology. SAGE Publishing. 2007. hlm. 60–61. doi:10.4135/9781412956253.n34. ISBN 9781412956253.
  2. Encyclopedia of social psychology. SAGE Publishing. 2007. hlm. 60–61. doi:10.4135/9781412956253.n34. ISBN 9781412956253.
  3. Lauren C. Howe. Attitude Strength. Annual Review of Psychology. 2017-01-03. Vol. 68 (1). hlm. 327–351. doi:10.1146/annurev-psych-122414-033600.
  4. Lauren C. Howe. Attitude Strength. Annual Review of Psychology. 2017-01-03. Vol. 68 (1). hlm. 327–351. doi:10.1146/annurev-psych-122414-033600.
  5. Richard Lapiere. Attitudes vs. Actions. Social Forces. 1934. Vol. 13 (2). hlm. 230–37. doi:10.2307/2570339.
  6. Colin Jerolmack. Talk Is Cheap Ethnography and the Attitudinal Fallacy. Sociological Methods & Research. 2014-05-01. Vol. 43 (2). hlm. 178–209. doi:10.1177/0049124114523396.
  7. James R. Hebert. Social Desirability Bias in Dietary Self-Report May Compromise the Validity of Dietary Intake Measures. International Journal of Epidemiology. 1995-04-01. Vol. 24 (2). hlm. 389–398. doi:10.1093/ije/24.2.389.
  8. Tomasz Grzyb. Why can't we just ask? The influence of research methods on results. The case of the "bystander effect". Polish Psychological Bulletin. 2016. Vol. 47 (2). hlm. 233–235. doi:10.1515/ppb-2016-0027.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 27833795 (2025-09-17T08:21:03Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.