Masalah induksi
Masalah induksi adalah pertanyaan filosofis mengenai apakah penalaran induktif akan membawa kita ke pengetahuan dalam arti filosofis klasik,[1] karena masalah ini berpusat kepada kurangnya justifikasi dalam:
- Menggeneralisasi properti kelas objek yang didasarkan dari pengamatan beberapa benda dari kelas tersebut (misalnya, pernyataan bahwa "semua angsa yang terlihat berwarna hitam, dan maka semua angsa hitam" sebelum penemuan angsa hitam), atau
- Menduga bahwa serangkaian peristiwa pada masa depan akan terjadi sama seperti pada masa lalu (misalnya keberlangsungan hukum fisika). Hume menyebutnya Prinsip Keseragaman Alam.[2]
Masalah ini mempertanyakan semua klaim empiris dalam kehidupan sehari-hari dan sains dan maka dari itu C. D. Broad menyatakan bahwa "induksi adalah kejayaan bagi sains dan skandal bagi filsafat." Meskipun masalah ini sudah dikemukakan dalam filsafat kuno Pironisme, David Hume mengemukakannya pada abad ke-18, dengan tanggapan yang paling penting diungkapkan oleh Karl Popper dua abad kemudian.
Pranala luar
- Probability and Hume's Inductive Scepticism (1973) by David Stove
- Discovering Karl Popper by Peter Singer
- The Warrant of Induction by D. H. Mellor
- Hume and the Problem of Induction
- Secular Responses to the Problem of Induction, by James N. Anderson
Referensi
- ↑ Vickers, John, "Can induction be justified?", The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Fall 2011 Edition), Edward N. Zalta (ed.)
- ↑ David Hume. An Enquiry Concerning Human Understanding. EBook #9662: Most recently updated in October 16, 2007. Footnote 19.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 23378945 (2023-05-03T17:08:33Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.