Lompat ke isi

Momen magnetik elektron

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung

Dalam fisika atom, momen magnetik elektron, atau secara spesifik momen dipol magnetik elektron, adalah momen magnetik dari suatu elektron yang disebabkan oleh sifat intrisik spin dan muatan listriknya. Nilai momen magnetik elektron ini kira-kira sebesar . Momen magnetik elektron telah diukur dengan keakuratan 7,6 bagian dalam 1013.[1]

Deskripsi

Elektron adalah suatu partikel bermuatan dengan muatan −1e, di mana e merupakan satuan muatan elementer. Momentum sudutnya berasal dari dua jenis rotasi: spin dan gerakan orbital. Dari elektrodinamika klasik, suatu benda bermuatan listrik yang berotasi menciptakan dipol magnetik dengan kutub magnet yang besarnya sama tetapi berlawanan polaritas. Analogi ini dibuat karena elektron memang berperilaku seperti suatu magnet batang yang kecil. Akibatnya, suatu medan magnet eksternal menghasilkan torsi pada momen magnetik elektron bergantung pada orientasinya terhadap medan magnet tersebut.

Jika elektron digambarkan sebagai suatu partikel bermuatan klasik yang secara harfiah berputar pada sumbunya dengan momentum sudut L, momen dipol magnetiknya μ dinyatakan sebagai[2]

𝝁=e2me𝐋,

di mana me adalah massa diam elektron. Perlu dicatat bahwa momentum sudut L dalam persamaan ini dapat berupa momentum sudut spin, momentum sudut orbital, atau momemtum sudut total. Namun pada kenyataannya hasil klasik yang diperoleh tidak sesuai dengan faktor kesebandingan bagi momen magnetik. Karenanya, hasil klasik tersebut dikoreksi dengan mengalikannya dengan faktor koreksi tak berdimensi g, yang dikenal sebagai faktor-g:[3]

𝝁=ge2me𝐋.

Momen magnetik biasanya dinyatakan dalam konstanta Planck tereduksi ħ serta magneton Bohr μB:

𝝁=gμB𝐋.

Karena momen magnetik terkuantisasi dalam satuan μB, maka momentum sudutnya juga terkuantisasi dalam satuan ħ.

Sejarah

Sejak Uhlenbeck dan Goudsmit[4] pertama kali mempostulatkan elektron yang berputar dengan momentum sudut 2 dan momen magnetik μeμ0 ≡ satu magneton Bohr, momen magnetik elektron memainkan peranan penting dalam pengembangan teori kuantum. Contohnya, dalam makalahnya yang populer pada tahun 1927, Dirac[5] memperlihatkan bahwa momen magnetik elektron μ0 merupakan konsekuensi alami dari fungsi gelombang relativistiknya. Dua puluh tahun kemudian, perhitungan Schwinger[6] mengenai koreksi radiatif μe membantu elektrodinamika kuantum modern untuk mendapat pijakan. Saat ini, kesesuaian antara nilai teoretis dan eksperimen dari momen magnetik elektron menjadi parameter pemeriksaan yang baik bagi teori elektrodinamika kuantum.[7]

Minat dalam pengukuran μe secara akurat pertama kali dicetuskan oleh Breit,[8] pada tahun 1947, ketika ia menyarankan bahwa nilai yang sebenarnya mungkin agak lebih besar dari nilai Dirac, μ0. Dengan cara ini, ia menjelaskan ketidaksesuaian antara nilai teoretis dan eksperimental pada pembelahan hiperhalus dari atom hidrogen.[9] Pada saat yang sama, elektrodinamika kuantum dikembangkan dari suksesnya perhitungan Bethe[10] terhadap pergeseran Lamb[11] dan, pada tahun 1948, Schwinger menggunakan teori baru untuk menunjukkan bahwa koreksi radiatif menghasilkan orde pertama pada konstanta struktur hiperhalus, α.[12]

Lihat pula

Daftar pustaka

Referensi

  1. B. Odom, D. Hanneke, B. D’Urso, G. Gabrielse. New Measurement of the Electron Magnetic Moment Using a One-Electron Quantum Cyclotron. Phys. Rev. Lett. 2006. Vol. 97 (3). hlm. 030801. doi:10.1103/physrevlett.97.030801.
  2. D. Hestenes. The Electron: New Theory and Experiment. Springer Science & Business Media. 2012. hlm. 179. ISBN 9789401135702.
  3. Gerald Gabrielse. Precision pins down the electron's magnetism. CERN Courier. Oktober 2006. Vol. 46 (8). hlm. 35–37.
  4. G. E. Uhlenbeck. Spinning Electrons and the Structure of Spectra. Nature. 20 Februari 1926. Vol. 117. hlm. 264–265. doi:10.1038/117264a0.
  5. P. A. M. Dirac. The Quantum Theory of the Electron. Proc. Roy. Soc. Lond. A. 1 Februari 1928. Vol. 117. hlm. 610-624. doi:10.1098/rspa.1928.0023.
  6. Julian Schwinger. On Quantum-Electrodynamics and the Magnetic Moment of the Electron. Phys. Rev. 15 Februari 1948. Vol. 73 (4). hlm. 416-417. doi:10.1103/PhysRev.73.416.
  7. Vernon W. Hughes. Atomic and Electron Physics: Atomic Sources and Detectors. Academic Press. 1967. hlm. 23. ISBN 0080859771.
  8. G. Breit. Does the Electron Have an Intrinsic Magnetic Moment?. Phys. Rev. 15 November 1947. Vol. 72 (10). hlm. 984. doi:10.1103/PhysRev.72.984.
  9. J. E. Nafe. The Hyperfine Structure of Hydrogen and Deuterium. Phys. Rev. 1 April 1948. Vol. 73 (7). hlm. 718. doi:10.1103/PhysRev.73.718.
  10. H. A. Bethe. The Electromagnetic Shift of Energy Levels. Phys. Rev. 15 Agustus 1947. Vol. 72 (4). hlm. 339. doi:10.1103/PhysRev.72.339.
  11. W. E. Lamb, Jr. Fine Structure of the Hydrogen Atom by a Microwave Method. Phys. Rev. 1 Agustus 1947. Vol. 72 (3). hlm. 241. doi:10.1103/PhysRev.72.241.
  12. Julian Schwinger. On Quantum-Electrodynamics and the Magnetic Moment of the Electron. Phys. Rev. 15 Februari 1948. Vol. 73 (4). hlm. 416-417. doi:10.1103/PhysRev.73.416.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28378679 (2025-11-08T00:50:50Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.