Natrium kromat
Natrium kromat adalah senyawa anorganik dengan rumus Na2CrO4. Senyawa ini berbentuk padatan higroskopis berwarna kuning, yang dapat membentuk tetra-, heksa-, dan dekahidrat. Senyawa ini merupakan zat antara dalam ekstraksi kromium dari bijihnya.
Produksi dan reaktivitas
Kromium diperoleh dalam skala besar dengan memanggang bijih kromium di udara dengan adanya natrium karbonat:
- 2Cr2O3 + 4 Na2CO3 + 3 O2 → 4 Na2CrO4 + 4 CO2
Proses ini mengubah kromium menjadi bentuk yang dapat diekstraksi dengan air, meninggalkan oksida besi. Biasanya kalsium karbonat disertakan dalam campuran untuk meningkatkan akses oksigen serta menjaga silikon dan aluminium tetap dalam bentuk yang tidak larut. Suhu proses biasanya sekitar 1100 °C. Untuk persiapan laboratorium dan skala kecil, campuran bijih kromit, natrium hidroksida, dan natrium nitrat yang bereaksi pada suhu yang lebih rendah dapat digunakan (bahkan 350 C dalam sistem kalium kromat yang sesuai). Setelah pembentukannya, garam kromat diubah menjadi natrium dikromat, prekursor sebagian besar senyawa dan bahan kromium. Rute industri untuk mendapatkan kromium(III) oksida melibatkan reduksi natrium kromat dengan belerang.
Perilaku asam-basa
Ia berubah menjadi natrium dikromat saat diolah dengan asam:
- 2 Na2CrO4 + 2HCl → Na2Cr2O7 + 2NaCl + H2O
Pengasaman lebih lanjut menghasilkan kromium trioksida:
- Na2CrO4 + H2SO4 → CrO3 + Na2SO4 + H2O
Kegunaan
Selain peran utamanya dalam produksi kromium dari bijihnya, natrium kromat digunakan sebagai penghambat korosi dalam industri perminyakan. Natrium kromat juga merupakan bahan pembantu pewarnaan dalam industri tekstil. Natrium kromat merupakan zat farmasi diagnostik dalam menentukan volume sel darah merah.
Dalam kimia organik, natrium kromat digunakan sebagai oksidator, yang mengubah alkohol primer menjadi asam karboksilat dan alkohol sekunder menjadi keton. Natrium kromat merupakan oksidator kuat.
Keamanan
Seperti senyawa Cr(VI) lainnya, natrium kromat bersifat karsinogenik. Senyawa ini juga bersifat korosif dan paparannya dapat menyebabkan kerusakan mata yang parah atau kebutaan. Paparan pada manusia juga dapat menyebabkan gangguan kesuburan, kerusakan genetik yang dapat diwariskan, dan bahaya bagi anak yang belum lahir.
Referensi
Bacaan lebih lanjut
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 26717224 (2024-12-31T14:34:47Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.