Lompat ke isi

Nitisinon

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung

Nitisinon adalah obat yang digunakan untuk pengobatan tirosinemia herediter tipe 1; atau untuk pengurangan asam homogenitisat urin pada orang dewasa dengan alkaptonuria. Nitisinon adalah penghambat hidroksifenil-piruvat dioksigenase. Obat ini tersedia sebagai obat generik.

Sejarah

Nitisinon ditemukan sebagai bagian dari program pengembangan kelas herbisida yang disebut penghambat HPPD,[28][29] dan pertama kali disintesis oleh David L. Lee, seorang ahli kimia dan ketua kelompok untuk upaya ini di Stauffer Chemical Company. Nitisinon adalah anggota keluarga herbisida benzoilsikloheksana-1,3-dion; yang secara kimia berasal dari fitotoksin alami yakni leptospermon, yang diperoleh dari bunga sikat botol (Melaleuca citrina). HPPD sangat penting pada tumbuhan dan hewan untuk katabolisme, atau pemecahan tirosina. Pada tumbuhan, mencegah proses ini menyebabkan kerusakan klorofil dan kematian tumbuhan. Dalam studi toksikologi herbisida, ditemukan bahwa herbisida ini memiliki aktivitas terhadap HPPD pada tikus dan manusia.

Pada tirosinemia tipe I, enzim lain yang terlibat dalam pemecahan tirosina, yakni fumarilase asetoasetat, tidak ada atau bermutasi dan tidak berfungsi, sehingga menyebabkan penumpukan produk yang sangat berbahaya di dalam tubuh. Fumarilase asetoasetat bekerja pada tirosina setelah HPPD, sehingga para ilmuwan yang berupaya membuat herbisida dalam kelas penghambat HPPD, berhipotesis bahwa menghambat HPPD dan mengendalikan tirosina dalam makanan dapat mengobati penyakit ini. Serangkaian uji klinis kecil yang dilakukan dengan nitisinon telah dilakukan dan berhasil, sehingga nitisinon dipasarkan sebagai obat piatu oleh Swedish Orphan International, yang kemudian diakuisisi pada tahun 2016 oleh Swedish Orphan Biovitrum (Sobi).

Kegunaan medis

Nitisinon diindikasikan untuk pengobatan tirosinemia herediter tipe 1 yang dikombinasikan dengan pembatasan diet tirosina dan fenilalanina. Nitisinon juga diindikasikan untuk penurunan asam homogentisat urine pada orang dewasa dengan alkaptonuria.

Nitisinon digunakan untuk mengobati tirosinemia herediter tipe 1 (HT-1) dan alkaptonuria (AKU) pada pasien dari segala usia, dikombinasikan dengan pembatasan diet tirosina dan fenilalanina.

Sejak pertama kali digunakan untuk indikasi ini pada tahun 1991, obat ini telah menggantikan transplantasi hati sebagai pengobatan lini pertama untuk kondisi ini.

Telah ditunjukkan bahwa nitisinon bersifat racun bagi serangga Triatominae, lalat Tsetse, caplak dan nyamuk. Zat tersebut mungkin berada di aliran darah inang, atau menyebar di permukaan, karena diserap melalui kulit nyamuk.

Efek samping

Reaksi merugikan yang paling umum (>1%) untuk nitisinon adalah peningkatan kadar tirosin, trombositopenia, leukopenia, konjungtivitis, kekeruhan kornea, keratitis, fotofobia, nyeri mata, blefaritis, katarak, granulositopenia, epistaksis, gatal, dermatitis eksfoliatif, kulit kering, ruam makulopapular, dan alopesia. Nitisinon memiliki beberapa efek samping negatif; termasuk tetapi tidak terbatas pada: perut kembung, urin berwarna gelap, nyeri perut, rasa lelah atau lemas, sakit kepala, feses berwarna terang, kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan, muntah, dan mata atau kulit berwarna kuning.

Mekanisme kerja

Mekanisme kerja nitisinon melibatkan penghambatan 4-Hidroksifenilpiruvat dioksigenase (HPPD). Ini merupakan pengobatan untuk pasien dengan tirosinemia tipe 1 karena mencegah pembentukan asam 4-maleilasetoasetat dan asam fumarilasetoasetat yang berpotensi diubah menjadi suksinil aseton, racun yang merusak hati dan ginjal.

Alkaptonuria disebabkan ketika enzim yang disebut dioksigenase homogenitis (HGD) rusak, yang menyebabkan penumpukan homogenisat (HGA). Pasien alkaptonuria yang diobati dengan nitisinon menghasilkan HGA jauh lebih sedikit daripada yang tidak diobati (95% lebih sedikit dalam urin), karena nitisinon menghambat HPPD, sehingga menghasilkan akumulasi homogenisat yang lebih sedikit. Uji klinis masih berlangsung untuk menguji apakah nitisinone dapat mencegah okronosis yang dialami oleh pasien alkaptonuria lanjut usia

Referensi

Bacaan lanjutan

Pranala luar


Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29572719 (2026-08-13T15:59:27Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.