PSIM Yogyakarta
PSIM (Perserikatan Sepak Bola Indonesia Mataram) Yogyakarta () atau PSIM Jogja adalah Tim sepak bola Indonesia yang berbasis di Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Yogyakarta, Indonesia dan bermarkas di Stadion Mandala Krida. Klub ini didirikan pada 5 September 1929 dengan nama awal Perserikatan Sepak Raga Mataram (PSM) dan menjadi satu dari tujuh bond (perserikatan) yang mencetuskan pendirian Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) di Societeit Hande Projo (sekarang Dalem Yudonegaran) pada 19 April 1930. Klub tersebut pernah menjuarai Kompetisi Perserikatan pada 6 Mei 1932, Divisi Satu Liga Indonesia pada 4 September 2005, dan Liga 2 Indonesia pada 26 Februari 2025. PSIM memiliki kelompok suporter bernama Brajamusti (Brayat Jogja Mataram Utama Sejati) – (sebelumnya bernama Paguyuban Tresna Laskar Mataram) dan The Maident (Mataram Independent), serta memiliki sebutan Laskar Mataram dan Naga Jawa. Pada 2025–2026, klub tersebut berlaga di Liga Super Indonesia.
Sejarah
PSIM didirikan pada 5 September 1929 dengan nama Persatuan Sepakraga Mataram (P.S.M.). Nama "Mataram" digunakan karena Yogyakarta merupakan pusat pemerintahan Kesultanan Mataram. Pada 19 April 1930, P.S.M. bersama dengan B.I.V.B.–Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond (sekarang Persib Bandung), I.V.B.M.–Indonesische Voetbal Bond Magelang (sekarang PPSM Magelang), V.V.B.–Vortenlandsche Voetbal Bond Solo (sekarang Persis Solo), S.I.V.B.–Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond Surabaya (sekarang Persebaya Surabaya), V.I.J.–Voetbalbond Indonesia Jacatra (sekarang Persija Jakarta), dan M.V.B.–Madioensche Voetbal Bond Madiun (sekarang PSM Madiun) turut mencetuskan pendirian PSSI dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hande Projo. P.S.M. dalam pertemuan tersebut diwakili oleh Abdul Hamid, Daslam Hadiwasito, dan Muhammad Amir Notopratomo. Sementara itu, B.I.V.B. diwakili oleh Gatot, I.V.B.M. diwakili oleh Erents Alberth Mangindaan (siswa Hoogere Kweekschool), V.V.B. diwakili oleh Soekarno (bukan Presiden Soekarno), S.I.V.B. diwakili oleh Pamoedji, V.I.J. diwakili oleh Sjamsoedin (mahasiswa Rechtshoogeschool te Batavia), dan M.V.B. diwakili oleh Kartodarmoedjo. Selain itu, ada juga tamu khusus yang datang dalam pertemuan tersebut, yaitu Soeratin Sosrosoegondo, Soebroto, dan Soetjipto.
Aqwam Fiazmi Hanifan (pundit sepak bola) di Detik Sport menyebut jika sempat terjadi perdebatan dalam pertemuan tersebut, lantaran Soekarno mempertanyakan status keberadaan Indonesische Voetbal Bond (I.V.B.). Notopratomo enggan jika organisasi baru ini berafiliasi dengan I.V.B, tetapi Hamid selaku ketua konferensi menyetujui agar I.V.B. dihidupkan kembali dan direformasi total. Hamid beralasan kehadiran Soebroto sebagai perwakilan I.V.B. dalam konferensi itu menjadi jawaban jika I.V.B. mendukung penuh keputusan yang akan diambil konferensi. Soebroto pun turut membenarkan pernyataan tersebut dan bersedia mendukung organisasi tandingan itu.
Nikko Auglandy dalam bukunya berjudul Bangkitlah Sang Legenda: Kiprah Persis Solo di Dunia Sepak Bola mencatat bahwa pertemuan ini akhirnya menghasilkan keputusan untuk membubarkan I.V.B. secara resmi dan membangun organisasi sepak bola khusus pribumi. Menurut Hanifan, penamaan organisasi sepak bola itu juga berlangsung alot karena terdapat tiga nama yang diajukan sebelumnya, yaitu Indonesische National Voetbal Bond (I.N.V.B.), Persatoean Voetbal Bond Indonesia (P.V.B.I.), dan Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (P.S.S.I.). Namun, dipilihlah nama P.S.S.I. (diubah menjadi "Sepak Bola" dalam Kongres P.S.S.I. ke-1 di Surakarta pada 21 Mei 1931) setelah diadakan voting, dengan ketua umum dan wakilnya yang pertama Soeratin dan Daslam.
Berikut jajaran keanggotaan awal P.S.S.I. periode pertama.
Karel Stokkermans dalam catatannya berjudul Dutch East Indies Football History menambahkan jika sejak tahun itu pula kompetisi tahunan antarkota atau perserikatan diselenggarakan di bawah naungan P.S.S.I. Nama P.S.M. lantas diubah menjadi Perserikatan Sepak Bola Indonesia Mataram (P.S.I.M.) pada 27 Juli 1930 akibat tuntutan pergerakan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, dengan ketua umum pertama Abdul Hamid. Saat itu, klub ini merupakan bond perjuangan bangsa untuk melawan kesewenang-wenangan federasi sepak bola bentukan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda dan etnis Tionghoa, yaitu Nederlandsch Indische Voetbal Bond (N.I.V.B.) (berganti nama menjadi Nederlandsche Indische Voetbal Unie atau N.I.V.U. pada 1935) dan Hwa Nan Voetbal Bond (H.N.V.B.).
Era Perserikatan
Ketika Kompetisi Perserikatan pertama kali diadakan di Surakarta pada 1931, P.S.I.M. menjadi juara kedua setelah kalah bersaing dengan V.I.J. Pada 16 Mei 1932, klub ini menjuarai kompetisi setelah mengalahkan V.I.J. dalam pertandingan final di Batavia. Pada tahun berikutnya, klub tersebut hanya menduduki peringkat keempat dalam kompetisi yang berlangsung di Surabaya. Selanjutnya, terjadi perselisihan antara P.S.S.I. dan P.S.I.M. dalam kurun waktu 1934–1937. Otentisitas data keluarnya P.S.I.M. dari keanggotaan P.S.S.I. dapat diketahui dari absennya klub ini dalam kompetisi yang tiap tahun dilaksanakan oleh P.S.S.I. hingga 1937.
Novan Herfiyana (sejarawan sepak bola Indonesia) yang diwawancarai oleh Hanifan mengatakan jika P.S.S.I. saat itu masih berupaya menghidupi organisasinya sendiri melalui iuran anggotanya. Bukan kekuasaan yang diperebutkan, lantaran kalangan pribumi masih banyak yang belum mengenalnya, apalagi pihak Belanda. Secara umum, dia menyatakan motif utama di balik keluarnya P.S.I.M. dari P.S.S.I. karena ketidakpuasan terhadap kebijakan dan keputusan yang diambil pada masa itu.
Artikel di Majalah Panji Poestaka tahun 1934 memberitakan bahwa P.S.I.M. saat itu juga membentuk organisasi tandingan bernama Persatoean Olah Raga Seloeroeh Indonesia (P.O.R.S.I.) di Yogyakarta. Organisasi ini tidak hanya menaungi sepak bola saja, tetapi berbagai cabang seperti voli, tenis, bulu tangkis, kriket, dan sebagainya. Tindakan itu lantas mendapat kecaman dari bond-bond anggota P.S.S.I., bahkan hasil Kongres P.S.S.I. ke-6 pada Mei 1936 di Bandung memutuskan untuk menghukum P.S.I.M.
Sebulan kemudian, tepatnya pada 27 Juni 1936, P.S.S.I. di bawah kepemimpinan Soeratin mendirikan bond baru tandingan, yaitu Persim Mataram (ada juga yang menyebut Persima Mataram) di Yogyakarta. Selain itu, P.S.S.I. turut membujuk para pemain P.S.I.M. untuk hengkang ke Persis Surakarta, salah satunya adalah R. Maladi. Namun demikian, kehadiran Persim tidak mendapatkan respons positif dari masyarakat Yogyakarta, meskipun Majalah Olahraga Edisi Maret 1937 menyebut jika P.S.S.I. akan menggelar turnamen di Yogyakarta pada awal tahun 1937 untuk mempopulerkan Persim. Rencana tersebut akhirnya urung dilakukan P.S.S.I. dikarenakan khawatir akan sepi penonton.
Maladi dalam artikel yang ditulisnya berjudul Perjalanan Sepak Bola Indonesia mengungkap bahwa faktor utama terjadinya konflik tersebut adalah tidak diikutsertakannya P.S.I.M. dalam jajak pendapat antara P.S.S.I. yang diwakili Soeratin dengan N.I.V.U. Kerja sama ini terkait timnas Hindia Belanda yang akan dikirim ke Piala Dunia 1938 di Prancis. Ario Yosia di Bola memperjelas jika P.S.S.I. dan N.I.V.U. melakukan penandatanganan Gentlement Agreement pada 15 Januari 1937, yang berakibat perpecahan di kubu P.S.S.I. Salah satu butir dalam perjanjian tersebut adalah dilaksanakannya pertandingan antara tim bentukan N.I.V.U. melawan tim bentukan P.S.S.I. sebelum diberangkatkan ke Piala Dunia atau semacam seleksi tim. Namun, N.I.V.U. melanggar perjanjian dan memberangkatkan tim bentukannya, lantaran P.S.S.I. saat itu mempunyai tim yang kuat. Koran Pemandangan Edisi April 1937 menyebut jika Soeratin akhirnya mengasingkan diri ke Bandung dan urusan P.S.S.I. diserahkan kepada R.M. Soeratman Erwin yang ditunjuk sebagai Ketua Harian P.S.S.I.
Beberapa pihak beranggapan bahwa Soeratin hanya dapat menandatangani perjanjian itu jika memperoleh persetujuan dari Kongres P.S.S.I. ke-7, yang akan digelar di Surakarta pada Mei 1937. Namun, Soeratin beralasan bahwa prinsip-prinsip dalam perjanjian tersebut tidak berbeda dengan usulan yang telah disetujui dalam Kongres P.S.S.I. ke-4 di Surakarta. Lebih lanjut, dia beranggapan jika kerja sama dengan N.I.V.U. tidak dipermasalahkan, lantaran tidak dibahas kembali dalam Kongres P.S.S.I. ke-5 di Semarang dan Kongres P.S.S.I. ke-6 di Bandung.
Pihak yang tidak terima dengan usulan Soeratin lantas mengadakan rapat tahunan di Yogyakarta pada 28–29 Juni 1937. Namun, dia tidak dapat hadir, sehingga pimpinan rapat diserahkan kepada R.A. Kasmat. Hasil rapat tersebut akhirnya mengakui perjanjian tersebut, tetapi terjadi perubahan mendasar dalam struktur kepengurusan P.S.S.I. Tekanan yang terus dilakukan anggota P.S.S.I. di bawah Soeratin menyebabkan para pengurus P.S.S.I. yang didominasi pengurus P.S.I.M., seperti Kasmat, Daslam, dan Notopratomo akhirnya mengundurkan diri. Kendati demikian, Soeratin tidak tergeser dari jabatan Ketua Umum P.S.S.I., bahkan Soeratman Erwin dan beberapa pengurus baru dari Surakarta ditunjuk untuk menggantikan para pengurus lama. Kantor P.S.S.I. yang semula berkedudukan di Yogyakarta pun turut dipindahkan ke Surakarta.
Setelah pergantian pengurus dan perpindahan kantor, P.S.I.M. memilih untuk bergabung kembali dengan P.S.S.I. Selain itu, P.S.I.M. juga bersatu dengan Persim pada 21 Oktober 1937, yang menandai berakhirnya perselisihan antara kedua pihak. Berikut dokumentasi mengenai penyatuan P.S.I.M. dan Persim.
❝Tiada hujan, sunyi angin, sekonyong-konyong kabut bergulung meliputi suasana, sehingga gelap-gulita keadaan di situ, bertepuk tangan riuh rendah, tampik sorak gelak-gelak, pihak yang menjadi penonton. Bahagia orang yang mendapat karena perpecahan awak. Namun, ratap tangis ibu pertiwi terdengar rindu merdu seperti serunai, memanggil doa pihak yang sesungguhnya sedarah sedaging belaka. Ratap tangis ibu pertiwi menyadarkan mereka yang tengah berada dalam kelupaan, kembali di pangkuan ibu…. Dua Voetbal Bond, P.S.I.M. dan Persim bersatu kembali dan bernaung di bawah panji P.S.S.I.❞
Era Liga Indonesia
Pada 4 September 2005, PSIM menjuarai Divisi Satu Liga Indonesia 2005 (sekarang Liga 2 Indonesia) dan naik ke Divisi Utama Liga Indonesia 2006 (sekarang Liga 1 Indonesia), setelah mengalahkan Persiwa Wamena dalam pertandingan final di Stadion Si Jalak Harupat dengan skor 2–1.
PSIM pertama kali tampil di Divisi Utama Indonesia (format lama Liga 1) pada musim 2007-2008. Bermain di Wilayah Timur, Laskar Mataram hanya berhasil finis di peringkat ke-15 dari 18 peserta. Hal itulah yang membuat PSIM gagal lolos ke Liga Super yang dimulai pada tahun 2008, karena tim yang dapat tampil di Liga 1 wajib duduk di posisi delapan besar pada edisi terakhir Divisi Utama.
PSIM pernah hampir lolos ke kompetisi kasta tertinggi saat berlaga di Liga 2 2021. Namun, setelah berhasil lolos ke babak semifinal, usaha PSIM harus kandas di duel perebutan peringkat ketiga, akibat menelan kekalahan 0-1 dari Dewa United di Stadion Pakansari, Bogor, pada 30 Desember 2021.
Pada tahun selanjutnya, Kompetisi Liga 2 2022 dihentikan di tengah jalan pasca Tragedi Kanjuruhan, 1 Oktober 2022.
Pada Liga 2 2023, PSIM lolos ke babak 12 besar setelah menduduki peringkat ketiga Grup 2. Namun, gagal lolos ke semifinal karena kalah selisih gol dari Persiraja Banda Aceh, yang berhasil melaju ke semifinal dengan predikat peringkat kedua terbaik menyusul Semen Padang.
Pada Liga 2 Indonesia 2024–2025, PSIM awalnya dilatih oleh Seto Nurdiantoro, tetapi performa tim ini menurun pada paruh kedua babak reguler. Hal tersebut menyebabkan PSIM mengakhiri kerja sama dengan Seto, yang kemudian digantikan oleh Erwan Hendarwanto (interim). Pada 26 Februari 2025, PSIM menjuarai Liga 2 Indonesia 2024–2025 dan naik ke di Liga 1 Indonesia 2025–2026, setelah mengalahkan Bhayangkara FC dalam pertandingan final di Stadion Manahan dengan skor 2–1 (setelah perpanjangan waktu). Sebagai pelatih interim, Erwan berpotensi mengalami kendala lisensi kepelatihan, lantaran dirinya masih memegang lisensi A AFC. Berdasarkan regulasi yang berlaku, pelatih di Liga 1 Indonesia wajib memiliki lisensi Pro AFC.
Stadion dan suporter
PSIM bermarkas di Stadion Mandala Krida, sedangkan tempat lain yang digunakan untuk latihan para pemain adalah Lapangan Karang Kotagede, Lapangan Kenari, dan Lapangan Bokoharjo. Klub tersebut memiliki kelompok suporter bernama Brajamusti – (sebelumnya bernama Paguyuban Tresna Laskar Mataram) dan The Maident, serta memiliki sebutan Laskar Mataram dan Parang Biru. Sementara itu, anthem (lagu kebanggaan yang teridentifikasi milik sebuah kelompok atau golongan) yang diciptakan sebagai bentuk dukungan untuk klub ini adalah Aku Yakin dengan Kamu.
Sponsor
- (2020) Bank Mandiri
Lini masa
- Liga Perserikatan 1932
Juara 1 Liga Perserikatan
- Liga Perserikatan 1931
Juara 2 Liga Perserikatan
- Liga Perserikatan 1939
Juara 2 Liga Perserikatan
- Liga Perserikatan 1940
Juara 2 Liga Perserikatan
- Liga Perserikatan 1943
Juara 2 Liga Perserikatan
- Liga Perserikatan 1951
Peringkat 4 Liga Perserikatan
- Liga Perserikatan 1961
Peringkat 1 Region Barat Divisi I Peringkat 3 Play Off
- Liga Perserikatan 1985
Juara 2 Divisi I
- Liga Perserikatan 1986/1987
Juara 2 Divisi I
- Liga Perserikatan 1989/1990
Peringkat 4 Divisi I
- Liga Perserikatan 1991/1992
Juara 2 Divisi I (Promosi)
- Liga Perserikatan 1993/1994
Peringkat 7 wilayah Timur Divisi Utama
- Liga Dunhill Indonesia 1994/1995
Peringkat 17 Wilayah Timur (Degradasi)
- Liga Dunhill Indonesia 1995/1996
- Liga Kansas Indonesia 1996/1997
Juara Dua Divisi I Liga Indonesia 1996/1997 (Promosi)
- Liga Indonesia 1997/1998
Peringkat 10 Wilayah Tengah (Liga dihentikan)
- Liga Indonesia 1998/1999
Peringkat 5 Wilayah Tengah
- Liga Bank Mandiri Indonesia 1999/2000
Peringkat 14 Wilayah Timur (Degradasi)
- Liga Bank Mandiri Indonesia 2001
Peringkat 3 Grup Tengah I Divisi I
- Liga Bank Mandiri Indonesia 2002
Peringkat 5 Grup 2 Divisi I
- Liga Bank Mandiri Indonesia 2003
Peringkat 3 Playoff Divisi I
- Liga Bank Mandiri Indonesia 2004
Peringkat 6 Wilayah Barat Divisi I
- Liga Djarum Indonesia 2005
Juara Divisi I (Promosi)
- Liga Djarum Indonesia 2006
Mengundurkan diri dari kompetisi Divisi Utama karena terjadi Gempa bumi Yogyakarta 2006
- Liga Djarum Indonesia 2007
Peringkat 15 Wilayah Timur
- Liga Utama Esia Indonesia 2008/2009
Peringkat 12 Wilayah Timur
- Liga Joss Indonesia 2009/2010
Peringkat 7 Grup 3 Divisi Utama
- Liga Ti-Phone Indonesia 2010/2011
Peringkat 5 Grup 2 Divisi utama
- Liga Divisi Utama Indonesia 2011/2012
Peringkat 4 Divisi Utama/Play Off PPD ISL
Prestasi
Perserikatan
Liga Indonesia
Staf Pelatih
Skuat pemain
Musim
Klasemen Liga 1 2025–2026
Lihat pula
Catatan
Rujukan
Daftar pustaka
Pranala luar
- Brajamusti di Instagram.
- Cerita PSIM Tur Pra Musim di Salatiga.
- Genealogi Sepak Bola Indonesia (Bagian 1): Nusantara Bermain Bola.
- Genealogi Sepak Bola Indonesia (Bagian 2): Sepak Bola dan Kolonialisme.
- Genealogi Sepak Bola Indonesia (Bagian 3): Minke, Edgar, dan Sepak Bola Anak-Anak Sekolahan.
- Genealogi Sepak Bola Indonesia (Bagian 4): Klub-Klub Bermula dari Surabaya.
- Genealogi Sepak Bola Indonesia (Bagian 5): Kisah Dimulainya Liga Sepakbola di Hindia Belanda.
- Genealogi Sepak Bola Indonesia (Bagian 6): Ki Hajar dan Spirit "Against Colonial Football".
- PSIM Yogyakarta di Instagram.
- PSIM Yogyakarta di Twitter.
- PSIM Yogyakarta di YouTube.
- Tidak Hanya PSIM, Dulu Yogyakarta Juga Punya Perkesa Mataram.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29449926 (2026-07-12T21:32:17Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.