Papan kayu

Industri penggergajian kayu menghasilkan limbah sebesar 40,48% volume, terdiri atas sebetan (22,32%), potongan kayu (9,39%) dan serbuk gergaji (8,77%). Sedangkan limbah industri kayu lapis sebesar 54,81% volume dengan rincian potongan dolok (3,69%), sisa kupasan dolok (18,25%), venir basah (8,5%), penyusutan (3,69%), venir kering (9,60%), pengurangan tebal (venir kering)(1, 90%), potongan tepi kayu lapis (3,90%), serbuk gergaji (2,2%) dan debu kayu lapis (3,07%). Pemanfaatan pada kedua jenis limbah tersebut antara lain sebagai bahan bakar, inti papan blok, papan blok, papan partikel, dan sambungan venir inti, atau venir belakang kayu lapis.[1]
Bahan dasar papan kayu
Desain papan kayu bisa disesuaikan dengan bentuk produk yang diinginkan antara lain produk berukir, bertekstur, dan bentuk permukaan mebel pada umumnya. Berbagai jenis kayu yang sering digunakan sebagai bahan baku kerajinan ukiran hiasan sofa dan sebagainya yaitu jati, mahogani, trembesi, jati belanda, sungkai, mindi.[2]
Kayu jati merupakan tumbuhan yang paling sering dimanfaatkan pohonnya karena kayu jati mempunyai keunggulan yaitu batang yang keras yang membuat jadi dijadikan bahan utama untuk membuat bangunan. Banyak negara yang menyukai hasil dari produk kayu jadi itu yang membuat kayu jati mulai langkah dan persediaannya menipis pemerintah harus memberikan solusi untuk menstabilkan persediaan kayu jadi dengan kebutuhan produksi agar nantinya kayu jati tetap dapat dijadikan sebagai bahan produksi.
Karakteristik
Papan terbuat dari kayu gergajian dengan ketebalan 1 1/2 inci (38 mm) dan lebar 2 1/2 inci (64 mm). Papan dapat ditemukan di toko-toko kayu atau toko bangunan dengan ukuran : tebal 2 inci (51 mm) x 10 inci (250 mm) atau 2 inci (51 mm) x 12 inci (300 mm). Meski kayu adalah bahan dasar papan. Akan tetapi, hanya kayu dengan kategori lebar kurang dari 2 1/2 inci (64 mm) dan ketebalan kurang dari 1 1/2 inci (38 mm) yang dapat diolah menjadi papan. Di Amerika Serikat, papan umumnya berukuran minimal 2 inci (51 mm) dengan lebar 8 inci (200 mm).
Referensi
- ↑ Ary Widiyanto. Kualitas Papan Partikel Kayu Karet (Hevea Brasiliensis Muell. Arg) Dan Bambu Tali (Gigantochloa Apus Kurz) Dengan Perekat Likuida Kayu. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. 2011. Vol. 29 (4). hlm. 301–311. doi:10.20886/jphh.2011.29.4.301-311.
- ↑ Ary Widiyanto. Kualitas Papan Partikel Kayu Karet (Hevea Brasiliensis Muell. Arg) Dan Bambu Tali (Gigantochloa Apus Kurz) Dengan Perekat Likuida Kayu. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. 2011. Vol. 29 (4). hlm. 301–311. doi:10.20886/jphh.2011.29.4.301-311.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28772123 (2026-01-02T23:01:04Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.