Lompat ke isi

Pengambilalihan oleh kecerdasan buatan

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Artificial Intelligence & AI & Machine Learning - 30212411048

Pengambilalihan kecerdasan buatan adalah skenario yang dibayangkan di mana kecerdasan buatan (AI) muncul sebagai bentuk kecerdasan yang dominan di Bumi dan program komputer atau robot secara efektif mengambil alih planet ini dari spesies manusia, yang bergantung pada kecerdasan manusia. Kisah pengambilalihan kecerdasan buatan tetap populer di seluruh fiksi ilmiah, tetapi kemajuan terkini telah menjadikan ancaman tersebut semakin nyata. Skenario yang mungkin terjadi mencakup penggantian seluruh tenaga kerja manusia karena otomatisasi, pengambilalihan oleh kecerdasan buatan super cerdas (ASI), dan gagasan pemberontakan robot. Beberapa tokoh masyarakat, seperti Stephen Hawking dan Elon Musk, telah menganjurkan penelitian mengenai tindakan pencegahan untuk memastikan mesin super cerdas di masa depan tetap berada di bawah kendali manusia.[1]

Tipe

Otomatisasi perekonomian

Konsensus tradisional di kalangan ekonom adalah bahwa kemajuan teknologi tidak menyebabkan pengangguran jangka panjang. Namun, inovasi terbaru di bidang robotika dan kecerdasan buatan telah menimbulkan kekhawatiran bahwa tenaga kerja manusia akan menjadi usang, menyebabkan orang-orang di berbagai sektor tidak memiliki pekerjaan untuk mencari nafkah, sehingga menyebabkan krisis ekonomi.[2][3][4][5] Banyak usaha kecil dan menengah juga mungkin akan tersingkir dari bisnisnya jika mereka tidak mampu membeli atau menggunakan teknologi robotik dan kecerdasan buatan terbaru, dan mungkin perlu fokus pada bidang atau layanan yang tidak dapat dengan mudah digantikan agar dapat terus bertahan menghadapi teknologi tersebut.[6]

Pembasmian

Ilmuwan seperti Stephen Hawking yakin bahwa kecerdasan buatan manusia super mungkin terjadi secara fisik, dengan menyatakan "tidak ada hukum fisika yang menghalangi pengorganisasian partikel dengan cara yang melakukan perhitungan lebih maju daripada pengaturan partikel di otak manusia".[7][8] Para pakar seperti Nick Bostrom memperdebatkan sejauh mana kecerdasan manusia super, dan apakah hal ini menimbulkan risiko bagi umat manusia. Menurut Bostrom, mesin super cerdas tidak serta merta dimotivasi oleh hasrat emosional yang sama untuk mengumpulkan kekuasaan seperti yang sering kali mendorong manusia, tetapi mungkin memperlakukan kekuasaan sebagai sarana untuk mencapai tujuan utamanya; mengambil alih dunia akan meningkatkan aksesnya terhadap sumber daya dan membantu mencegah makhluk lain menghentikan rencana tersebut. Sebagai contoh yang terlalu disederhanakan, pemaksimal penjepit kertas yang dirancang semata-mata untuk membuat penjepit kertas sebanyak mungkin ingin mengambil alih dunia sehingga dapat menggunakan semua sumber daya dunia untuk membuat penjepit kertas sebanyak mungkin, dan, sebagai tambahan, mencegah manusia untuk menghalanginya atau menggunakan sumber daya tersebut untuk hal lain selain penjepit kertas.[9]

Dalam fiksi

Pengambilalihan kecerdasan buatan adalah tema umum dalam fiksi ilmiah. Skenario fiksi biasanya sangat berbeda dari hipotesis para peneliti karena skenario tersebut melibatkan konflik aktif antara manusia dan kecerdasan buatan atau robot dengan motif antropomorfik yang memandang mereka sebagai ancaman atau memiliki keinginan aktif untuk melawan manusia, dibandingkan dengan kekhawatiran para peneliti akan hal tersebut. Kecerdasan buatan yang dengan cepat memusnahkan manusia sebagai produk sampingan dari pencapaian tujuannya.[10] Idenya terlihat dalam R.U.R. karya Karel Čapek, yang memperkenalkan kata robot pada tahun 1921,[11] dan dapat dilihat sekilas dalam Frankenstein karya Mary Shelley (diterbitkan pada tahun 1818), saat Victor merenungkan apakah, jika dia mengabulkan permintaan monsternya dan menjadikannya seorang istri, mereka akan berkembang biak dan jenisnya akan menghancurkan umat manusia.[12]

Referensi

  1. Tanya Lewis. Don't Let Artificial Intelligence Take Over, Top Scientists Warn. LiveScience. Purch. 2015-01-12.
  2. Kai-Fu Lee. The Real Threat of Artificial Intelligence. The New York Times. 2017-06-24.
  3. Nina Larson. AI 'good for the world'... says ultra-lifelike robot. Phys.org. 2017-06-08.
  4. Jean-Louis Santini. Intelligent robots threaten millions of jobs. Phys.org. 2016-02-14.
  5. Oscar Williams-Grut. Robots will steal your job: How AI could increase unemployment and inequality. Businessinsider.com. Business Insider. 2016-02-15.
  6. How can SMEs prepare for the rise of the robots?. LeanStaff. 2017-10-17.
  7. Stephen Hawking. Stephen Hawking: 'Transcendence looks at the implications of artificial intelligence - but are we taking AI seriously enough?'. The Independent. 1 May 2014.
  8. Vincent C. Müller. Fundamental Issues of Artificial Intelligence. Springer. 2016. hlm. 555–572. doi:10.1007/978-3-319-26485-1_33. ISBN 978-3-319-26483-7.
  9. Nick Bostrom. The Superintelligent Will: Motivation and Instrumental Rationality in Advanced Artificial Agents. Minds and Machines. Springer. 2012. Vol. 22 (2). hlm. 71–85. doi:10.1007/s11023-012-9281-3.
  10. Nick Bostrom. Superintelligence: Paths, Dangers, Strategies.
  11. The Origin Of The Word 'Robot'. Science Friday (public radio). 22 April 2011.
  12. Eva Botkin-Kowacki. A female Frankenstein would lead to humanity's extinction, say scientists. Christian Science Monitor. 28 October 2016.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29466942 (2026-07-16T23:09:06Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.