Penyakit Peyronie
Penyakit Peyronie (PD) adalah suatu penyakit jaringan ikat penis akuisita yang bersifat jinak, ditandai dengan terbentuknya plak fibrotik pada tunika albuginea — yakni lapisan elastis padat yang menyelubungi korpora kavernosa. Plak tersebut memicu kelengkungan abnormal, nyeri, deformitas penis (misalnya penyempitan atau indentasi), dan umumnya disertai disfungsi ereksi, terutama saat kondisi ereksi. Kondisi ini biasanya menimbulkan dampak seksual dan psikologis yang signifikan, termasuk kesulitan dalam penetrasi serta penurunan harga diri atau perilaku menghindar. Penyakit Peyronie paling sering dijumpai pada pria paruh baya dan lanjut usia dengan usia awitan median antara 55 hingga 60 tahun, namun kondisi ini juga lazim ditemukan pada individu muda dan remaja.
Meskipun etiologi penyakit Peyronie masih belum dipastikan, hipotesis utama menyatakan bahwa kondisi ini timbul akibat disregulasi penyembuhan luka sebagai respons terhadap mikrotrauma kronis pada penis yang sedang ereksi. Hal ini memicu kaskade jalur molekuler profibrotik — terutama ekspresi berlebih dari transforming growth factor-beta 1 (TGF-β1) — yang berujung pada proliferasi fibroblast, diferensiasi miofibroblast, dan produksi berlebih kolagen tipe I. Predisposisi genetik didukung oleh adanya agregasi dalam keluarga serta pertautan dengan gangguan fibrosis sistemik seperti kontraktur Dupuytren. Faktor risiko meliputi usia, cedera penis, diabetes melitus, dan kebiasaan merokok.
Prevalensi penyakit Peyronie diproyeksikan berkisar antara 1% hingga 20% di antara populasi pria umum, meningkat seiring bertambahnya usia dan komorbiditas seperti disfungsi ereksi (ED) atau penyakit jaringan ikat. Walaupun penyakit Peyronie tidak bersifat infeksius maupun ganas, kondisi ini dapat memberikan dampak negatif yang serius terhadap kesehatan seksual dan kualitas hidup. Diagnosis ditegakkan terutama berdasarkan presentasi klinis yang ditunjang oleh ultrasonografi penis jika diperlukan. Tata laksana bergantung pada fase dan keparahan penyakit, mulai dari tindakan konservatif (misalnya terapi oral, traksi, injeksi intralesi) pada bentuk yang ringan dan stabil, hingga intervensi bedah untuk kasus yang lanjut atau stabil. Penyakit ini dinamai berdasarkan ahli bedah Prancis François Gigot de la Peyronie, yang mendeskripsikan kondisi tersebut pada tahun 1743.
Diperkirakan kondisi ini memengaruhi 1–20% pria. Prevalensi gangguan ini meningkat seiring dengan bertambahnya usia.
Referensi
Pranala luar
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29454021 (2026-07-13T16:59:38Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.