Rubidium oksida
Rubidium oksida adalah sebuah senyawa anorganik dengan rumus kimia . Rubidium oksida sangat reaktif terhadap air, sehingga senyawa ini diperkirakan tidak terdapat di alam. Kandungan rubidium dalam mineral sering dihitung dan dikutip dalam bentuk . Pada kenyataannya, rubidium biasanya hadir sebagai komponen (sebenarnya, pengotor dalam) silikat atau aluminosilikat. Sumber utama rubidium adalah lepidolit, , di mana Rb terkadang menggantikan K.
adalah padatan berwarna kuning. Spesies terkait , dan masing-masing tidak memiliki warna, berwarna kuning pucat, dan berwarna jingga.
Oksida logam alkali mengkristal dalam struktur antifluorit. Dalam motif antifluorit, posisi anion dan kation terbalik relatif terhadap posisinya dalam CaF2, dengan ion rubidium berkoordinat 4 (tetrahedral) dan ion oksida berkoordinat 8 (kubik).[1]
Sifat
Seperti oksida logam alkali lainnya, Rb2O adalah basa kuat. Maka dari itu, Rb2O akan bereaksi secara eksotermis dengan air untuk membentuk rubidium hidroksida.
- Rb2O + H2O → 2 RbOH
Rb2O sangat reaktif terhadap air sehingga dianggap higroskopis. Jika dipanaskan, Rb2O akan bereaksi dengan hidrogen menjadi rubidium hidroksida dan rubidium hidrida:[2]
- Rb2O + H2 → RbOH + RbH
Sintesis
Untuk penggunaan laboratorium, rubidium hidroksida biasanya digunakan sebagai pengganti rubidium oksida. Rubidium hidroksida dapat dibeli dengan harga sekitar US$5/g (2006). Rubidium hidroksida lebih berguna karena kurang reaktif terhadap kelembapan atmosfer dan lebih murah daripada rubidium oksida.
Seperti kebanyakan oksida logam alkali,[3] sintesis terbaik untuk Rb2O tidak memerlukan oksidasi logamnya, melainkan reduksi nitrat anhidratnya:
- 10 Rb + 2 RbNO3 → 6 Rb2O + N2
Seperti halnya hidroksida logam alkali, rubidium hidroksida tidak dapat didehidrasi menjadi rubidium oksida. Sebaliknya, rubidium hidroksida dapat diurai menjadi rubidium oksida (melalui reduksi ion hidrogen) menggunakan logam Rb:
- 2 Rb + 2 RbOH → 2 Rb2O + H2
Logam Rb akan bereaksi dengan O2, seperti yang ditunjukkan oleh kecenderungannya untuk cepat mengusam di udara. Proses pengusaman ini relatif berwarna karena berlangsung melalui Rb6O yang berwarna perunggu dan Rb9O2 yang berwarna tembaga.[4] Suboksida rubidium yang telah dikarakterisasi melalui kristalografi sinar-X meliputi Rb9O2 dan Rb6O, serta suboksida campuran Cs-Rb Cs11O3Rbn (n = 1, 2, 3).[5]
Produk akhir dari oksigenasi Rb biasanya adalah RbO2, rubidium superoksida:
- Rb + O2 → RbO2
Superoksida ini kemudian dapat direduksi menjadi Rb2O menggunakan logam Rb berlebih:
- 3 Rb + RbO2 → 2 Rb2O
Bacaan lebih lanjut
Referensi
- ↑ Alexander Frank Wells. Structural Inorganic Chemistry. Clarendon Press. 1984. ISBN 978-0-19-855370-0.
- ↑ Howard Nechamkin. The chemistry of the elements. McGraw-Hill. 1968. hlm. 34.
- ↑ Inorganic Chemistry. Academic Press. 2001. ISBN 978-0-12-352651-9.
- ↑ Inorganic Chemistry. Academic Press. 2001. ISBN 978-0-12-352651-9.
- ↑ A. Simon. Group 1 and 2 suboxides and subnitrides — Metals with atomic size holes and tunnels. Coordination Chemistry Reviews. 1997. Vol. 163. hlm. 253–270. doi:10.1016/S0010-8545(97)00013-1.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29580729 (2026-08-15T05:55:36Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.