Lompat ke isi

Seftazidim

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Ceftazidime

Seftazidim adalah antibiotik sefalosporin generasi ketiga yang berguna untuk mengobati sejumlah infeksi bakteri.[1][2] Secara khusus obat ini digunakan untuk infeksi sendi, meningitis, pneumonia, sepsis, infeksi saluran kemih, otitis eksterna maligna, infeksi Pseudomonas aeruginosa, dan infeksi vibrio. Obat ini diberikan melalui suntikan ke dalam vena, otot, atau mata.[3][4]

Efek samping yang umum termasuk mual, reaksi alergi, dan nyeri di tempat suntikan. Efek samping lainnya mungkin termasuk infeksi Clostridioides difficile. Obat ini tidak direkomendasikan pada orang yang pernah mengalami anafilaksis terhadap penisilin.[5] Penggunaannya relatif aman selama kehamilan dan menyusui.[6] Obat ini termasuk dalam keluarga antibiotik sefalosporin generasi ketiga dan bekerja dengan mengganggu dinding sel bakteri.[7]

Seftazidim dipatenkan pada tahun 1978 dan mulai digunakan secara komersial pada tahun 1984.[8] Obat ini tercantum dalam Daftar Obat Esensial Organisasi Kesehatan Dunia.[9] Seftazidim tersedia sebagai obat generik.[10]

Kegunaan dalam medis

Seftazidim digunakan untuk mengobati infeksi saluran pernapasan bawah, kulit, saluran kemih, aliran darah, sendi, dan perut, serta meningitis.[11]

Seftazidim adalah pengobatan lini pertama untuk infeksi tropis, melioidosis, penyebab utama sepsis di Asia dan Australia.[12][13]

Indikasi yang tertera meliputi pengobatan pasien dengan:

Sebagai suatu golongan, sefalosporin memiliki aktivitas terhadap bakteri Gram-positif dan Gram-negatif. Keseimbangan aktivitas cenderung ke organisme Gram-positif untuk generasi sebelumnya; sefalosporin generasi selanjutnya memiliki cakupan Gram-negatif yang lebih banyak. Seftazidim adalah salah satu dari sedikit golongan ini yang memiliki aktivitas terhadap Pseudomonas aeruginosa.[15] Namun, seftazidim kurang efektif untuk Staphylococcus aureus dibandingkan sefalosporin generasi pertama dan kedua.[16] Selain itu. sefalosporin hingga generasi keempat tidak aktif terhadap Staphylococcus aureus yang resistan terhadap metisilin.[17]

Spektrum aktivitas

Organisme yang secara klinis relevan terhadap aktivitas seftazidim meliputi:

Seftazidim secara umum memiliki efikasi yang buruk terhadap bakteri anaerob seperti Bacteroides spp.[18][19]

Berikut ini merupakan data kerentanan MIC untuk beberapa patogen yang signifikan secara klinis:

Efek samping

Seftazidim pada umumnya ditoleransi dengan baik. Efek samping yang muncul biasanya berupa efek lokal dari lokasi pemasangan infus intravena, reaksi alergi, dan gejala gastrointestinal. Menurut salah satu produsen, dalam uji klinis reaksi alergi termasuk gatal, ruam, dan demam terjadi pada kurang dari 2% pasien. Reaksi alergi yang jarang terjadi tetapi lebih serius, seperti nekrolisis epidermal toksik, sindrom Stevens-Johnson, dan eritema multiform, telah dilaporkan terjadi pada seftazidim. Gejala gastrointestinal, termasuk diare, mual, muntah, dan nyeri perut, dilaporkan terjadi pada kurang dari 2% pasien.[21]

Sumber lain melaporkan, sebagai tambahan, tes darah pasien dapat menunjukkan peningkatan eosinofil (8%), peningkatan laktat dehidrogenase (6%), peningkatan gamma-glutamiltransferase (5%), tes Coombs langsung positif (4%), peningkatan keping darah (trombositemia) (2%), peningkatan ALT (7%), peningkatan AST (6%), atau peningkatan alkali fosfatase (4%).[22]

===Kontraindikasi===< Seftazidim dikontraindikasikan pada orang dengan alergi yang diketahui terhadap seftazidim atau antibiotik sefalosporin lainnya.[23]

Tindakan pencegahan

Seftazidim sebagian besar dikeluarkan oleh ginjal ke dalam urin. Dengan demikian, kadar obat dalam darah dapat meningkat pada orang dengan cedera ginjal atau penyakit ginjal. Ini termasuk mereka yang menjalani dialisis. Dalam kasus gangguan ginjal ini, dosis obat lebih jarang diberikan.[24]

Kehamilan

Menurut produsen, studi penelitian pada tikus dan mencit tidak menunjukkan bukti bahaya pada janin, bahkan pada dosis seftazidim yang 40 kali lebih tinggi dari dosis manusia. Namun, yang penting tidak ada studi penelitian berkualitas tinggi tentang efek obat pada wanita hamil yang dilakukan.[25]

Mekanisme kerja

Sefalosporin generasi ketiga berbeda dari generasi sebelumnya dengan adanya gugus C=N-OCH3 dalam struktur kimianya (sefuroksim & sefuzonam juga mengandung gugus fungsi ini tetapi hanya terdaftar sebagai kelas II). Gugus ini memberikan stabilitas yang lebih baik terhadap enzim beta-laktamase tertentu yang diproduksi oleh bakteri Gram-negatif. Enzim bakteri ini dengan cepat menghancurkan sefalosporin generasi sebelumnya dengan memecah cincin kimia laktam beta obat tersebut, yang menyebabkan resistensi antibiotik. Meskipun awalnya aktif terhadap bakteri ini, dengan penggunaan sefalosporin generasi ketiga secara luas, beberapa bakteri Gram-negatif yang menghasilkan beta-laktamase spektrum luas (ESBL) bahkan dapat menonaktifkan sefalosporin generasi ketiga. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri Gram-negatif penghasil ESBL menjadi perhatian khusus di rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya.[26]

Pranala luar

Referensi

  1. Ceftazidime. The American Society of Health-System Pharmacists.
  2. Basic & Clinical Pharmacology. McGraw Hill. 2019. hlm. 803. ISBN 978-1-259-64115-2.
  3. Ceftazidime. The American Society of Health-System Pharmacists.
  4. Intravitreal Injections. EyeWiki. American Academy of Ophthalmology.
  5. Ceftazidime. The American Society of Health-System Pharmacists.
  6. Tarascon Pocket Pharmacopoeia 2015 Deluxe Lab-Coat Edition. Jones & Bartlett Learning. 2015. hlm. 87. ISBN 9781284057560.
  7. Ceftazidime. The American Society of Health-System Pharmacists.
  8. Analogue-based Drug Discovery. John Wiley & Sons. 2006. hlm. 495. ISBN 9783527607495.
  9. World Health Organization model list of essential medicines: 21st list 2019. World Health Organization. 2019.
  10. Ceftazidime. The American Society of Health-System Pharmacists.
  11. Ceftazidime for Injection(R) [package insert]. Schaumburg, IL: Sagent; 2012. PDF of insert
  12. Melioidosis. Lancet. May 2003. Vol. 361 (9370). hlm. 1715–1722. doi:10.1016/S0140-6736(03)13374-0.
  13. Halving of mortality of severe melioidosis by ceftazidime. Lancet. September 1989. Vol. 2 (8665). hlm. 697–701. doi:10.1016/S0140-6736(89)90768-X.
  14. Ceftazidime. Lexicomp Online. Lexi-Drugs. April 2014.
  15. Ceftazidime, a broad spectrum cephalosporin with activity against Ps. aeruginosa. Journal of Hygiene, Epidemiology, Microbiology, and Immunology. 1986. Vol. 30 (4). hlm. 449–453.
  16. Ceftazidime. A review of its antibacterial activity, pharmacokinetic properties and therapeutic use. Drugs. February 1985. Vol. 29 (2). hlm. 105–161. doi:10.2165/00003495-198529020-00002.
  17. StatPearls. StatPearls Publishing. 2023.
  18. Ceftazidime for Injection(R) [package insert]. Schaumburg, IL: Sagent; 2012. PDF of insert
  19. Ceftazidime. A review of its antibacterial activity, pharmacokinetic properties and therapeutic use. Drugs. February 1985. Vol. 29 (2). hlm. 105–161. doi:10.2165/00003495-198529020-00002.
  20. Ceftazidime pentahydrate Susceptibility and Minimum Inhibitory Concentration (MIC) Data. Toku-e.
  21. Ceftazidime for Injection(R) [package insert]. Schaumburg, IL: Sagent; 2012. PDF of insert
  22. Ceftazidime. Lexicomp Online. Lexi-Drugs. April 2014.
  23. Ceftazidime for Injection(R) [package insert]. Schaumburg, IL: Sagent; 2012. PDF of insert
  24. Ceftazidime. Lexicomp Online. Lexi-Drugs. April 2014.
  25. Ceftazidime for Injection(R) [package insert]. Schaumburg, IL: Sagent; 2012. PDF of insert
  26. Prevalence and antibiogram of Extended Spectrum β-Lactamase (ESBL) producing Gram negative bacilli and further molecular characterization of ESBL producing Escherichia coli and Klebsiella spp. J Clin Diagn Res. October 2013. Vol. 7 (10). hlm. 2173–7. doi:10.7860/JCDR/2013/6460.3462.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29581709 (2026-08-15T08:48:18Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.