Lompat ke isi

Segitiga bahaya wajah

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung

Segitiga bahaya wajah atau sering disebut sebagai segitiga kematian terdiri dari area yang membentang dari sudut mulut hingga pangkal hidung, termasuk hidung dan tulang rahang atas. Karena sifat khusus dari suplai darah ke hidung manusia dan area sekitarnya, terdapat kemungkinan infeksi retrograde dari area hidung menyebar ke otak, yang menyebabkan trombosis sinus kavernosus, meningitis, atau abses otak.

Hal ini dimungkinkan karena adanya komunikasi vena (melalui vena oftalmika) antara vena wajah dan sinus kavernosus. Sinus kavernosus terletak di dalam rongga tengkorak, di antara lapisan selaput otak, dan merupakan saluran utama drainase vena dari otak. Terlepas dari argumen anatomis yang relatif masuk akal ini, hanya infeksi wajah yang parah (misalnya, abses hidung) yang dapat menyebabkan komplikasi infeksi sistem saraf pusat yang lebih dalam.

Ditemukan bahwa katup vena sebenarnya ada pada vena oftalmika dan vena wajah. Dengan demikian, bukan karena tidak adanya katup vena, melainkan keberadaan komunikasi antara vena wajah dan sinus kavernosus serta arah aliran darahlah yang penting dalam penyebaran infeksi dari wajah. Kebanyakan orang, meski tidak semua, memiliki katup pada vena-vena khusus di wajah tersebut.

Hubungan antara area ini dengan risiko trombosis sinus kavernosus telah dijelaskan sejak tahun 1852. Pada tahun 1937, sebuah penelitian menemukan bahwa 61% kasus trombosis sinus kavernosus merupakan akibat dari bisul di bagian atas wajah. Meskipun gangguan ini menjadi sangat jarang terjadi seiring perkembangan antibiotik, kondisi ini masih membawa peluang kecil untuk berkembang menjadi risiko kematian yang tinggi, dan perlu ditangani secara agresif dengan antibiotik serta pengencer darah.

Infeksi sinus kavernosus

Jika sinus kavernosus terinfeksi, hal itu dapat menyebabkan darah di dalam sinus membeku (menggumpal), yang mengakibatkan trombosis sinus kavernosus. Kondisi ini memengaruhi struktur yang melewati atau mengelilinginya. Di dalam sinus kavernosus, penyempitan atau tekanan dapat ditemukan pada saraf kranial (CN) berikut: CN III (saraf okulomotor), CN IV (saraf troklear), CN VI (saraf abdusen), CN V (saraf trigeminal), khususnya cabang V1 (saraf oftalmik) dan V2 (saraf maksilaris). Kegagalan dari setiap saraf yang tercantum di atas akan bermanifestasi pada hilangnya fungsi otot, kelenjar, atau persarafan parasimpatis tertentu (dari CN III). Selain itu, terdapat kemungkinan bahwa peradangan pada sinus kavernosus akan mengakibatkan kompresi pada kiasme optikum (yang menyebabkan masalah penglihatan) dan/atau kelenjar pituitari.

Kegagalan CN III akan mengakibatkan hilangnya fungsi otot-otot berikut: otot rektus medial, otot rektus superior, otot rektus inferior, dan otot oblik inferior, serta otot yang bertanggung jawab untuk membuka kelopak mata: otot levator palpebrae superioris dan otot tarsal superior (otot Müller). Kerusakan CN III juga mengakibatkan hilangnya persarafan parasimpatis pada mata (hilangnya konstriksi pupil dan akomodasi lensa).

Referensi

Pranala luar


Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29581743 (2026-08-15T08:54:27Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.