Segitiga merah muda
Segitiga merah muda adalah simbol bagi komunitas LGBTQ+. Awalnya dimaksudkan sebagai tanda penghinaan, simbol ini kemudian diadopsi kembali sebagai simbol positif untuk identitas diri. Simbol ini berasal dari Jerman Nazi pada tahun 1930-an dan 1940-an sebagai salah satu lencana kamp konsentrasi Nazi, yang digunakan untuk membedakan tahanan yang diidentifikasi oleh otoritas sebagai pria gay.[1][2] Pada tahun 1970-an, simbol ini dihidupkan kembali sebagai simbol protes terhadap homofobia, dan sejak itu diadopsi oleh komunitas LGBT yang lebih luas sebagai simbol populer kebanggaan LGBTQ+ serta gerakan LGBTQ+ dan gerakan pembebasan queer.[3][4]
Bacaan tambahan
- An Underground Life: Memoirs of a Gay Jew in Nazi Berlin (1999) by Gad Beck (University of Wisconsin Press). .
- The Iron Words (2014) by Michael Fridgen (Dreamlly Publishing). .
- Liberation Was for Others: Memoirs of a Gay Survivor of the Nazi Holocaust (1997) by Pierre Seel (Perseus Book Group). .
- I, Pierre Seel, Deported Homosexual: A Memoir of Nazi Terror (1995) by Pierre Seel. .
Pranala luar
Referensi
- ↑ Richard Plant. The Pink Triangle: The Nazi War against Homosexuals. H. Holt. 1988. hlm. 175. ISBN 978-0-8050-0600-1.
- ↑ Michael Sattler. History, the symbol. thepinktriangle.com.
- ↑ Louis Shankar. How the Pink Triangle Became a Symbol of Queer Resistance. HISKIND. April 19, 2017.
- ↑ Olivia B. Waxman. How the Nazi Regime's Pink Triangle Symbol Was Repurposed for LGBTQ Pride. May 31, 2018.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28740845 (2025-12-26T03:33:44Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.