Lompat ke isi

Sel ganglion

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung

Dalam neurofisiologi, sel ganglion adalah sel yang ditemukan di dalam ganglion (sekelompok sel saraf dalam sistem saraf tepi). Tergantung pada lokasi dan fungsinya, sel ganglion dapat dikategorikan menjadi beberapa kelompok utama:

Pendahuluan

Dalam neurofisiologi, sel ganglion adalah sel yang ditemukan di dalam ganglion (sekelompok neuron dalam sistem saraf tepi). Tergantung pada lokasi dan fungsinya, sel ganglion dapat dikategorikan menjadi beberapa kelompok utama:

Morfologi Umum

Pada akhir tahun 1800-an dan awal 1900-an, ahli saraf dan ahli patologi Spanyol yakni Santiago Ramón y Cajal, mengusulkan teori neuron yang pada dasarnya memperkenalkan gagasan bahwa sistem saraf mengandung sel-sel yang disebut neuron. Proses yang digunakannya disebut pewarnaan Golgi pada retina manusia dan vertebrata. Cajal mampu membedakan berbagai jenis sel ganglion berdasarkan morfologi dendritik, ukuran badan sel dan pohon dendritik, serta jumlah sub-lapisan tempat mereka bercabang/lapisan stratifikasi. Melalui penelitian ini, ia menemukan bahwa distribusi sel ganglion di antara manusia dan vertebrata cukup mirip kecuali batang dan kerucut di retina.

Pada tahun 1940-an, ahli saraf Amerika yakni Stephen Polyak, menghasilkan deskripsi Sel yang diwarnai Golgi yang membantu mengklasifikasikan lebih lanjut jenis-jenis Sel Ganglion. Data ini membantu para ilmuwan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang sel ganglion yang ada di retina manusia dan Mamalia (terutama Primata).

Pada tahun 1974, Boycott dan Wassle menciptakan skema untuk klasifikasi Sel Ganglion yang ditemukan di retina kucing. Sel-sel ini yakni alfa, beta, delta, dan gamma; terlihat terkait dengan tipe fisiologi X, Y, dan W. Boycott dan Wassle mengkonfirmasi gagasan retina Sapi dan Anjing Cajal dengan menamai alfa dan beta.

Pada tahun 1978, gagasan sel ganglion alfa dan beta dapat dibagi menjadi beberapa subkelompok, sublamina a dan sublamina b. Sublamina a mengandung sel dendrit yang memiliki medan reseptif OFF-center, sedangkan sublamina b mengandung medan reseptif On-center.

Jenis sel ganglion retina

Kelas sel yang paling banyak dipelajari adalah sel parvoselular (P), magnoselular (M), dan konioselular (K), dengan kelas keempat, yaitu sel ganglion retina fotosensitif intrinsik (ipRGC).

  • Sel Parvoselular (P): Sel P membentuk sekitar 70% dari semua sel ganglion. Sel-sel ini sangat terkonsentrasi di fovea. Sel-sel ini menunjukkan bidang reseptif pusat-sekitar dan terutama terlibat dalam memproses detail spasial halus dan warna. Sel-sel ini memiliki ketajaman penglihatan spasial yang tinggi dan memiliki oposisi warna yang kuat. Namun, resolusi temporalnya sangat buruk dan memiliki sensitivitas kontras yang rendah.
  • Sel Magnoselular (M): Sel M mengandung 10% dari RGC, dan menunjukkan bidang reseptif pusat-sekitar dan lebih responsif terhadap perubahan luminansi dan gerakan. Sel-sel ini sangat penting untuk mendeteksi gerakan dan kedalaman karena memiliki sensitivitas kontras dan resolusi temporal yang tinggi. Dibandingkan dengan sel P, sel magnoselular (M) tidak menunjukkan oposisi warna, dan memiliki resolusi spasial yang jauh lebih rendah.
  • Sel Konioselular (K): Sel K hanya menyumbang 10% dari total populasi sel ganglion. Sel-sel ini memiliki bidang reseptif yang tidak teratur dan tidak menunjukkan fitur pusat-sekitar. Mereka belum sepenuhnya dipahami tetapi diketahui terlibat dalam pemrosesan kontras warna biru-kuning dan perubahan iluminasi secara keseluruhan. Mereka memproyeksikan secara tidak merata dan tidak terorganisir ke nukleus genikulat lateral (LGN). Sel-sel ini diyakini memiliki peran dalam deteksi gerakan tetapi fungsi pastinya masih belum diketahui.
  • Sel Ganglion Retina Fotosensitif Intrinsik (ipRGC): Sel-sel ini adalah tipe keempat dan merupakan subset RGC yang berbeda yang mengandung melanopsin, fotopigmen yang memungkinkan mereka untuk merespons cahaya secara langsung tanpa masukan dari kerucut atau batang. ipRGC mewakili fungsi non-pembentukan citra seperti siklus tidur-bangun, refleks cahaya pupil, dan pengaturan ritme sirkadian. Ia mengirimkan sinyal ke SCN (nukleus suprakiasmatik) hipotalamus melalui jalur retinohipotalamik. Mekanisme fototransduksinya berbeda dari jalur kerucut dan batang dan melibatkan kaskade protein G berbasis melanopsin dan saluran TRP.

Gangguan yang Berkaitan dengan Sel Ganglion

Glaukoma: Sekumpulan penyakit yang merusak saraf di mata/retina. Kerusakan pada saraf berpotensi menyebabkan kebutaan. Anda mungkin tidak menyadari bahwa Anda menderita glaukoma tanpa pemeriksaan mata mendalam yang biasanya menggunakan metode dilatasi. Tidak ada obat untuk glaukoma, tetapi dapat diobati jika ditemukan sejak dini. Penyebab glaukoma tidak diketahui, tetapi mereka yang berisiko meliputi:

  • Individu di atas usia 60 tahun (paling sering mereka yang beretnis Hispanik atau Latino)
  • Orang Afrika-Amerika di atas usia 40 tahun Individu dengan riwayat keluarga glaukoma.

Neuroretinopati optik herediter: Ada dua jenis, yakni neuropati optik herediter Leber dan atrofi optik autosomal dominan. Neuropati Leber disebabkan oleh mutasi pada DNA mitokondrial (DNA yang terletak di dalam kromosom). Mutasi ini hanya dapat diwariskan dari ibu. Beberapa individu adalah pembawa dan tidak mengalami gejala. Gejala individu yang terkena Neuropati Leber meliputi:

  • Dimulai dengan: kehilangan penglihatan atau kekeruhan pada satu mata, biasanya membutuhkan beberapa minggu sebelum menyebar ke mata lainnya. Sebagian besar tidak menimbulkan rasa sakit.

Atrofi Optik Dominan Autosomal adalah mutasi gen pada autosom (bukan gen terkait seks pada pasangan kromosom manusia 1-22). Sifat ini ada pada siapa pun yang memiliki mutasi pada autosom. Individu hanya membutuhkan satu gen yang bermutasi untuk terpengaruh. Gejala kondisi ini meliputi:

  • Kehilangan penglihatan pada kedua mata secara bersamaan. Waktu terjadinya bervariasi per orang, tetapi biasanya berkembang perlahan.

Penyakit ini dapat diperiksa dengan tes seperti pemeriksaan mata, pengujian pencitraan, dan penelusuran riwayat keluarga.

Penyakit Parkinson: Suatu kondisi yang berasal dari sistem saraf dan memengaruhi bagian-bagian yang dikendalikan oleh sistem saraf. Penyakit ini bersifat progresif, yang artinya akan semakin memburuk seiring waktu. Hilangnya sel-sel ganglion retina secara perlahan dapat diamati seiring waktu. Daftar gejalanya meliputi:

  • Hilangnya atau kurangnya kendali dalam fungsi motorik (misalnya tremor)
  • Perubahan fungsi kognitif (misalnya, perilaku, pikiran, dan suasana hati)
  • Psikosis (kehilangan kontak dengan realitas)
  • dan masih banyak lagi.

Mereka yang berisiko meliputi faktor genetik (melalui anggota keluarga), racun dari lingkungan, dan adanya badan Lewy.

Referensi

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28969626 (2026-02-17T03:24:43Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.