Serbuk sari
Serbuk sari (bahasa Inggris: pollen) merupakan modifikasi dari sel sperma yang berfungsi sebagai alat penyebaran dan perbanyakan generatif pada tumbuhan berbunga dan tumbuhan biji terbuka.
Secara sitologi, butir serbuk sari mengandung sel dengan tiga nukleus, yaitu satu inti vegetatif (inti tabung) dan dua inti generatif (sel sperma). Sel dalam serbuk sari dilindungi oleh dua lapisan dinding sel untuk mencegah dehidrasi:
- Intina (intine): lapisan dalam yang lebih tipis dan terdiri dari selulosa.
- Eksina (exine): lapisan luar yang tebal, keras, dan tahan lama karena tersusun atas zat biopolimer sporopollenin.
Penyerbukan
Transfer serbuk sari dari organ jantan (benang sari/antera) ke organ betina (putik/stigma) dinamakan penyerbukan. Berdasarkan perantaranya, penyerbukan dibedakan menjadi:
- Anemofili (bantuan angin): Tumbuhan menghasilkan serbuk sari dalam jumlah sangat banyak, berukuran kecil, ringan, dan terkadang memiliki struktur bersayap (misalnya pada pohon pinus).
- Entomofili (bantuan serangga): Tumbuhan menghasilkan serbuk sari yang lebih besar, lengket, dan kaya protein untuk ditarik oleh serangga penyerbuk.
Alergi Serbuk Sari
Alergi akibat menghirup serbuk sari melayang di udara sering disebut sebagai hay fever (rinitis alergi). Serbuk sari yang paling sering memicu alergi berasal dari tumbuhan anemofili karena ukurannya yang kecil dan mudah terbawa angin dalam jumlah besar.
Gejala umum alergi ini meliputi bersin-bersin, hidung tersumbat, dan iritasi mata. Penanganannya dapat menggunakan obat antihistamin atau dekongestan atas petunjuk dokter.
Kegunaan dalam Forensik dan Paleoekologi
Kandungan sporopollenin pada dinding luar (eksina) membuat serbuk sari sangat awet dan tidak mudah hancur dalam catatan fosil. Cabang ilmu yang mempelajari serbuk sari dinamakan palinologi.
Dalam bidang forensik dan paleoekologi, analisis jenis serbuk sari bermanfaat untuk:
- Mengidentifikasi asal-usul lokasi atau lingkungan dari suatu objek/bukti forensik.
- Rekonstruksi iklim dan vegetasi masa lalu (paleoklimatologi).
Lihat Pula
Referensi
Pranala Luar
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29486544 (2026-07-22T16:12:06Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.