Stereotipe daya tarik fisik
Stereotipe daya tarik fisik, yang umumnya dikenal sebagai stereotipe "yang rupawan itu baik" (beautiful-is-good),[1] adalah kecenderungan untuk mengasumsikan bahwa individu yang menarik secara fisik dan sejalan dengan standar kecantikan sosial juga memiliki berbagai sifat kepribadian positif lainnya, seperti kecerdasan, kompetensi sosial, dan moralitas.[2] Orang yang dinilai tersebut diuntungkan oleh fenomena yang diistilahkan sebagai pretty privilege (hak istimewa orang rupawan), yaitu berupa keuntungan sosial, ekonomi, dan politik. Daya tarik fisik dapat memberikan pengaruh signifikan terhadap bagaimana seseorang dinilai dalam hal pekerjaan atau kesempatan sosial, pertemanan, perilaku seksual, dan pernikahan.
Stereotipe daya tarik fisik ini dapat menimbulkan bias pada opini dan keputusan seorang pengamat ketika membandingkan orang-orang dengan tingkat daya tarik yang berbeda. Terdapat bukti bahwa stereotipe ini memengaruhi pengambilan keputusan tidak hanya dalam lingkungan sosial, melainkan juga di tempat kerja dan sistem peradilan.[3][4]
Sejarah
Stereotipe daya tarik fisik pertama kali diamati secara formal melalui sebuah penelitian yang dilakukan oleh Karen Dion, Ellen Berscheid, dan Elaine Walster pada tahun 1972.[5] Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah daya tarik fisik memengaruhi cara orang lain menilai suatu individu, khususnya terkait apakah mereka dianggap memiliki sifat kepribadian yang lebih positif secara sosial serta kualitas hidup yang lebih baik. Para peserta, yang semuanya merupakan mahasiswa, diberi tahu bahwa mereka akan diuji dalam hal kemampuan "membaca" seseorang hanya dengan melihat satu foto. Hasil penilaian mereka kemudian akan dibandingkan dengan orang-orang yang telah terlatih dalam membaca bahasa tubuh dan keterampilan interpersonal lainnya.
Setelah itu, para subjek diberikan tiga buah amplop yang masing-masing berisi foto pria atau wanita dengan usia yang sebaya dengan mereka. Foto-foto tersebut sebelumnya telah dikelompokkan oleh para peneliti ke dalam kategori menarik, berpenampilan rata-rata, atau tidak menarik. Hasil temuan menunjukkan bahwa secara umum, individu yang berpenampilan menarik dinilai lebih ideal secara sosial, memiliki prospek karier dan pernikahan yang lebih baik, dapat menjadi pasangan yang lebih baik, serta memiliki kehidupan sosial, rumah tangga, dan profesional yang lebih berkualitas dibandingkan dengan individu yang tidak menarik. Satu-satunya dimensi yang tidak menunjukkan hasil serupa adalah perihal pengasuhan anak. Dalam hal ini, individu yang menarik tidak mendapatkan nilai yang lebih tinggi dalam ekspektasi untuk menjadi orang tua yang lebih baik.[6] Penelitian inilah yang kemudian melahirkan istilah "yang rupawan itu baik" (beautiful-is-good).
Teori dan perspektif terkait
Terdapat beberapa landasan teoretis dan bukti yang diajukan untuk menjelaskan stereotipe daya tarik fisik.
Teori kepribadian implisit
Teori kepribadian implisit adalah asumsi tidak sadar yang dibuat seseorang mengenai kepribadian orang lain berdasarkan karakteristik mereka.[7] Asumsi-asumsi ini dapat didasarkan pada sifat kepribadian lainnya, tetapi dalam konteks stereotipe daya tarik fisik, asumsi tersebut didasarkan pada ciri fisik. Dengan menggunakan teori ini, para peneliti menjelaskan bahwa dalam stereotipe daya tarik fisik, fitur fisik yang menarik dikaitkan dengan asumsi kepribadian yang positif dan fitur fisik yang tidak menarik dikaitkan dengan asumsi kepribadian yang negatif.[8] Hubungan bawah sadar ini dapat menjelaskan mengapa orang yang dianggap lebih menarik secara fisik diperlakukan dan dipandang secara berbeda. Namun, teori ini menjadi tidak akurat ketika seseorang membuat asumsi berdasarkan penilaian awal yang mereka anggap masuk akal tanpa menerapkannya pada situasi dunia nyata.
Sebuah penelitian penting melakukan metaanalisis yang menggunakan teori kepribadian implisit untuk menyanggah teori "yang rupawan itu baik". Penelitian tersebut menemukan bahwa sifat-sifat yang dikaitkan dengan daya tarik fisik hanya sangat kuat pada aspek kompetensi sosial (seperti kecakapan bergaul dan popularitas), sedangkan orang-orang juga cenderung memandang mereka sebagai sosok yang lebih tinggi hati dan kurang rendah hati. Dengan adanya bukti bahwa teori "yang rupawan itu baik" tidak bersifat satu dimensi, penggunaan kerangka kepribadian implisit dinilai paling tepat karena dapat mendorong pengakuan terhadap sifat stereotipe daya tarik fisik yang kompleks dan bergantung pada konteks.[9]
Evolusi
Prinsip biologi evolusioner menyatakan bahwa jika terdapat variasi genetik pada suatu karakteristik dalam populasi, wujud yang meningkatkan peluang individu untuk bertahan hidup dan bereproduksi akan lebih terpilih dibandingkan wujud lainnya, sehingga menjadi lebih sering dijumpai dalam populasi tersebut. Pakar psikologi evolusioner berpendapat bahwa stereotipe daya tarik fisik telah berevolusi agar individu dapat menilai calon pasangan hidup dan pasangan reproduksi, serta sebagai sarana untuk menilai peringkat status di antara sesama jenis.[10]
Strategi reproduksi antara wanita dan pria berbeda; meski demikian, keduanya mencakup upaya mempromosikan diri kepada calon pasangan dan bersaing dengan sesama jenis untuk menunjukkan nilai diri mereka.[11] Daya tarik atau keelokan rupa merupakan cerminan dari sifat-sifat ini sekaligus salah satu prediktor paling penting dalam keberhasilan reproduksi. Daya tarik fisik kemungkinan berevolusi sebagai sinyal kesehatan yang baik, kebugaran, dan kualitas genetik. Fitur fisik tertentu, termasuk simetri tubuh, kulit yang bersih, dan rasio pinggang–pinggul, dapat menandakan kesehatan reproduksi. Individu dengan ciri-ciri tersebut dipandang lebih menarik karena mereka memiliki gen yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Stereotipe daya tarik fisik ini mungkin juga berevolusi sebagai hasil dari seleksi alam. Individu yang menarik memiliki peluang lebih besar untuk kawin dan mewariskan sifat-sifat yang diinginkan, sehingga mereka lebih disukai sebagai pasangan dibandingkan individu lainnya berdasarkan daya tarik fisik tersebut.
Oleh karena itu, daya tarik fisik memberikan keuntungan langsung bagi orang yang dinilai—yaitu keuntungan yang diperoleh secara langsung untuk diri mereka sendiri beserta keturunannya—dan keuntungan tidak langsung, di mana orang tersebut memperoleh keuntungan genetik bagi keturunannya.[12]
Bagian otak yang terlibat dalam persepsi daya tarik
Bagian ini hanya akan membahas wilayah otak yang digunakan dalam menilai keelokan wajah, karena masih sedikit penelitian mengenai bagaimana otak memproses penilaian terhadap tubuh.[13]
Otak menggunakan setidaknya tiga domain kognitif untuk menentukan nilai dari suatu daya tarik.[14] Pada awalnya, wilayah oksipital dan temporal pada korteks akan memproses tampilan wajah.[15] Informasi mengenai fitur-fitur wajah tersebut kemudian diteruskan ke area wajah fusiform dari girus fusiform (FG) untuk proses pengenalan wajah.[16] Ketika menilai wajah yang tidak dikenal, FG merespons lebih kuat terhadap wajah yang menarik dibandingkan dengan yang tidak menarik. Hal ini menunjukkan bahwa pengenalan fitur menarik terjadi bahkan sebelum bagian otak lainnya ikut terlibat dalam penilaian.[17]
Modul kedua menafsirkan gerakan wajah dan kemudian berinteraksi dengan wilayah otak lainnya seperti amigdala, insula, dan sistem limbik untuk memproses konten emosional dari ekspresi serta gerakan wajah tersebut.
Informasi selanjutnya diteruskan ke modul ketiga, yaitu korteks orbitofrontal (OFC) yang berfungsi memberikan penilaian terhadap keindahan dan menghasilkan imbalan neurologis, seperti dopamin dan neurotransmiter lainnya, sebagai respons terhadap keindahan wajah tersebut.[18] OFC terbukti lebih aktif saat seseorang melihat wajah yang menarik dibandingkan dengan wajah yang tidak menarik.[19] Area otak ini juga dikaitkan dengan pemrosesan imbalan dan pengaturan motivasi kesenangan.[20] Para peneliti menunjukkan bahwa otak kita mengategorikan wajah yang menarik sebagai suatu bentuk imbalan, yang kemungkinan menjadi salah satu alasan mengapa orang-orang yang lebih menarik diuntungkan oleh pretty privilege.
Memori
Dalam sistem memori, stereotipe terbentuk saat informasi disandi dan disimpan, terutama sebagai memori semantik, yang kemudian terintegrasi ke dalam skema yang sudah ada. Stereotipe tersebut kemudian dipicu dan dipanggil kembali ke dalam memori kerja saat seseorang membuat penilaian.[21][22]
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa stereotipe dapat meningkatkan efisiensi dalam penyandian, di mana informasi yang selaras dengan stereotipe dapat dengan mudah diasimilasikan dan mengalami konsolidasi ke dalam skema yang sudah ada.[23] Oleh karena itu, informasi tersebut juga dapat diingat kembali dengan lebih baik, meskipun hal ini berpotensi didorong oleh bias konfirmasi.[24] Penelitian menemukan bahwa orang-orang sering kali keliru mengenali informasi yang selaras dengan stereotipe sebagai sesuatu yang familier. Hal ini diperkuat oleh temuan mengenai bias pengenalan yang bersumber dari stereotipe yang menghasilkan memori palsu.[25][26][27]
Selain itu, ketika proses memori terganggu, stereotipe digunakan sebagai petunjuk heuristik untuk mempermudah pemanggilan kembali informasi dan pembentukan penilaian. Sebagai contoh, berbagai penelitian menemukan bahwa saat menceritakan kembali memori episodik, orang-orang mengandalkan memori semantik untuk menafsirkan kembali detail yang terlupakan karena memori tersebut lebih mudah dipanggil kembali.[28] Perilaku serupa juga diamati ketika kompleksitas atau tuntutan kognitif dari suatu tugas meningkat.[29] Misalnya, sebuah penelitian menemukan bahwa ketika pengambilan keputusan menjadi lebih sulit, para juri menunjukkan ingatan yang lebih kuat terhadap detail kasus dan penilaian terdakwa yang selaras dengan stereotipe.[30] Oleh karena itu, meskipun stereotipe terkadang dapat membuat orang mengingat, memanggil kembali, dan mengenali informasi dengan lebih mudah, hal ini mengorbankan keakuratan dalam mengingat serta memanfaatkan konsep-konsep tersebut di kemudian hari.[31]
Temuan dari Jean-Christophe Rohner dan Anders Rasmussen mendukung hasil tersebut, sekaligus menyesuaikan fokus penelitian mereka secara khusus pada stereotipe daya tarik fisik.
Penelitian mereka pada tahun 2011 menemukan bukti bahwa sistem memori eksplisit (sadar) maupun implisit (bawah sadar) mengenali informasi yang selaras dengan stereotipe dengan lebih baik daripada informasi yang tidak selaras. Melalui tiga eksperimen, para peneliti menyajikan pasangan wajah-kata yang dibagi sama rata antara yang selaras dan tidak selaras kepada para peserta (seperti wajah menarik yang dipasangkan dengan kata "baik" atau "kejam"). Para peneliti kemudian melakukan tes memori lanjutan dengan menyajikan pasangan wajah-kata yang baru bersama dengan pasangan yang lama. Memori eksplisit diperiksa dengan mengamati apakah peserta dapat mengenali dan mengategorikan pasangan tersebut secara akurat sebagai pasangan "lama" atau "baru". Sementara itu, memori implisit diukur dengan cara yang serupa, meskipun peserta hanya berfokus pada valensi kata tersebut (misalnya, kata "baik" bermakna "positif") untuk menilai apakah "wajah" yang ditampilkan memengaruhi waktu respons atau reaksi. Penelitian ini juga mengukur tingkat kepercayaan diri subjektif peserta terhadap jawaban mereka.[32]
Meskipun hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta mengenali pasangan yang selaras dengan paling akurat dan cepat, mereka juga sering kali mengategorikan pasangan tersebut sebagai pasangan "lama" dalam situasi apa pun. Tidak ditemukan korelasi signifikan antara jawaban mereka dan indikator tingkat kepercayaan diri yang rendah. Hal ini menunjukkan bahwa para peserta sangat yakin bahwa mereka telah melihat pasangan yang selaras tersebut sebelumnya, sehingga mendukung gagasan terdahulu mengenai bias yang terjadi pada memori pengenalan.[33][34][35]
Selain itu, penelitian mereka pada tahun 2012 memperluas temuan ini dengan menyelidiki pengaruh dari sembilan variabel moderator terhadap perilaku yang dipandu oleh stereotipe. Hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada satu pun variabel moderator yang memberikan dampak signifikan secara statistik dalam mengurangi bias. Hal ini mengindikasikan perlunya mempertimbangkan skenario dunia nyata untuk memahami kekuatan dari stereotipe daya tarik fisik.[36]
Implikasi dalam kehidupan nyata
Sejak publikasi penelitian awal tersebut, berbagai penelitian lanjutan semakin memperkuat bukti adanya stereotipe daya tarik fisik dan memperluas pengaruhnya ke berbagai bidang lain.
Penilaian kecerdasan
Daya tarik fisik juga memiliki kaitan yang erat dengan bagaimana kecerdasan seseorang dinilai oleh orang lain. Baik pada orang dewasa maupun anak-anak, individu yang berpenampilan menarik cenderung dianggap lebih kompeten secara intelektual dibandingkan dengan individu yang tidak menarik. Efek ini ditemukan lebih kuat pada orang dewasa dan juga lebih menonjol pada pria. Di antara pria dan wanita yang memiliki tingkat daya tarik yang sama, pria sering kali dipandang lebih cerdas. Persepsi ini tetap bertahan meskipun hampir tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa daya tarik fisik berkorelasi dengan kompetensi yang sebenarnya.[37]
Lingkungan kerja
Penelitian menunjukkan bahwa stereotipe ini juga terjadi di lingkungan kerja. Sebuah metaanalisis yang mengkaji bagaimana tingkat daya tarik fisik dapat memengaruhi berbagai hasil terkait pekerjaan menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara penampilan yang menarik dan pencapaian karier yang lebih baik. Laporan yang merangkum lebih dari 60 hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa individu yang menarik dipandang sebagai karyawan yang lebih baik. Mereka memiliki peluang lebih besar untuk diterima bekerja dan mendapatkan promosi, serta memperoleh peringkat yang lebih tinggi dalam evaluasi kinerja dan penilaian potensi kerja dibandingkan dengan rekan kerja mereka yang berpenampilan kurang menarik. Stereotipe ini berlaku dan memengaruhi pria maupun wanita, karena jenis kelamin dari individu yang dinilai maupun jenis kelamin dari pengamat tidak memengaruhi hubungan tersebut.[38]
Pendidikan
Dalam sebuah tinjauan terhadap berbagai penelitian yang mengkaji persepsi siswa dalam sistem pendidikan, ditemukan bahwa siswa yang menarik diperlakukan lebih baik oleh guru mereka dibandingkan dengan siswa yang tidak menarik. Sejalan dengan persepsi bahwa individu yang menarik itu lebih cerdas, penelitian menunjukkan bahwa para guru memiliki ekspektasi yang lebih tinggi terhadap siswa yang menarik. Mereka berharap siswa-siswa tersebut menjadi lebih cerdas, memperoleh nilai yang lebih baik, dan memiliki atribut sosial yang lebih baik daripada siswa lain yang kurang menarik. Selain itu, berbagai penelitian yang dilakukan antara tahun 1960–1985 menunjukkan bahwa siswa yang menarik mendulang nilai yang lebih tinggi pada ujian terstandardisasi. Para peneliti meyakini hal ini sebagai contoh dari ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya (self-fulfilling prophecy), di mana ekspektasi guru yang lebih tinggi terhadap siswa yang menarik mendorong mereka untuk belajar lebih keras dan berkinerja lebih baik.[39]
Kritik
Beberapa penelitian terbaru menunjukkan bahwa stereotipe daya tarik fisik juga dapat menjadi bias negatif dan merugikan orang yang dinilai.[40] Penelitian menunjukkan bahwa pengecualian terhadap pretty privilege mungkin terjadi ketika pengamat dan orang yang dinilai memiliki jenis kelamin yang sama. Dalam penelitian tersebut, orang yang dinilai cenderung lebih jarang direkomendasikan untuk suatu pekerjaan dan penerimaan universitas dibandingkan dengan individu berpenampilan rata-rata. Hal ini mungkin bersumber dari keinginan untuk menghindari ancaman terhadap diri sendiri yang dirasakan dari orang berjenis kelamin sama yang berpenampilan menarik.[41] Khususnya individu yang kekurangan harga diri (self-esteem) cenderung lebih rentan menghindari ancaman tersebut dibandingkan mereka yang memiliki harga diri tinggi.[42]
Lihat pula
Referensi
- ↑ Karen Dion. What is beautiful is good. Journal of Personality and Social Psychology. 1972. Vol. 24 (3). hlm. 285–290. doi:10.1037/h0033731.
- ↑ Alice H. Eagly. What is beautiful is good, but…: A meta-analytic review of research on the physical attractiveness stereotype. Psychological Bulletin. 1991. Vol. 110 (1). hlm. 109–128. doi:10.1037/0033-2909.110.1.109.
- ↑ Megumi Hosoda. The Effects of Physical Attractiveness on Job-Related Outcomes: A Meta-Analysis of Experimental Studies. Personnel Psychology. Juni 2003. Vol. 56 (2). hlm. 431–462. doi:10.1111/j.1744-6570.2003.tb00157.x.
- ↑ Ronald Mazzella. The Effects of Physical Attractiveness, Race, Socioeconomic Status, and Gender of Defendants and Victims on Judgments of Mock Jurors: A Meta-Analysis1. Journal of Applied Social Psychology. Agustus 1994. Vol. 24 (15). hlm. 1315–1338. doi:10.1111/j.1559-1816.1994.tb01552.x.
- ↑ Karen Dion. What is beautiful is good. Journal of Personality and Social Psychology. 1972. Vol. 24 (3). hlm. 285–290. doi:10.1037/h0033731.
- ↑ Karen Dion. What is beautiful is good. Journal of Personality and Social Psychology. 1972. Vol. 24 (3). hlm. 285–290. doi:10.1037/h0033731.
- ↑ Implicit personality theory. Oxford Reference.
- ↑ Megumi Hosoda. The Effects of Physical Attractiveness on Job-Related Outcomes: A Meta-Analysis of Experimental Studies. Personnel Psychology. Juni 2003. Vol. 56 (2). hlm. 431–462. doi:10.1111/j.1744-6570.2003.tb00157.x.
- ↑ Alice H. Eagly. What is beautiful is good, but…: A meta-analytic review of research on the physical attractiveness stereotype. Psychological Bulletin. 1991. Vol. 110 (1). hlm. 109–128. doi:10.1037/0033-2909.110.1.109.
- ↑ Carl Senior. Beauty in the Brain of the Beholder. Neuron. 2003-05-22. Vol. 38 (4). hlm. 525–528. doi:10.1016/S0896-6273(03)00293-9.
- ↑ Steven J. Spencer. Self-Esteem. Springer US. 1993. hlm. 21–36. doi:10.1007/978-1-4684-8956-9_2. ISBN 978-1-4684-8958-3.
- ↑ Randy Thornhill. The Evolutionary Biology of Human Female Sexuality. Oxford University Press. 2008-09-25. ISBN 978-0-19-534099-0.
- ↑ Judith H. Langlois. Maxims or myths of beauty? A meta-analytic and theoretical review. Psychological Bulletin. 2000. Vol. 126 (3). hlm. 390–423. doi:10.1037/0033-2909.126.3.390.
- ↑ Jennifer L. Ramsey. Origins of a stereotype: categorization of facial attractiveness by 6-month-old infants. Developmental Science. April 2004. Vol. 7 (2). hlm. 201–211. doi:10.1111/j.1467-7687.2004.00339.x.
- ↑ Rachel F. Rodgers. Stereotypes of physical attractiveness and social influences: The heritage and vision of Dr. Thomas Cash. Body Image. Desember 2019. Vol. 31. hlm. 273–279. doi:10.1016/j.bodyim.2019.01.010.
- ↑ Jeanne Bovet. Exploring Transdisciplinarity in Art and Sciences. Springer International Publishing. 2018. hlm. 327–357. doi:10.1007/978-3-319-76054-4_17. ISBN 978-3-319-76053-7.
- ↑ D. Bzdok. ALE meta-analysis on facial judgments of trustworthiness and attractiveness. Brain Structure and Function. Januari 2011. Vol. 215 (3–4). hlm. 209–223. doi:10.1007/s00429-010-0287-4.
- ↑ Louise P. Kirsch. Shaping and reshaping the aesthetic brain: Emerging perspectives on the neurobiology of embodied aesthetics. Neuroscience & Biobehavioral Reviews. Maret 2016. Vol. 62. hlm. 56–68. doi:10.1016/j.neubiorev.2015.12.005.
- ↑ Anthony C. Little. Facial attractiveness: evolutionary based research. Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences. 12 Juni 2011. Vol. 366 (1571). hlm. 1638–1659. doi:10.1098/rstb.2010.0404.
- ↑ Lora E. Park. Does self-threat promote social connection? The role of self-esteem and contingencies of self-worth. Journal of Personality and Social Psychology. 2009. Vol. 96 (1). hlm. 203–217. doi:10.1037/a0013933.
- ↑ Mengxue Lan. Neural processing of the physical attractiveness stereotype: Ugliness is bad vs. beauty is good. Neuropsychologia. Mei 2021. Vol. 155. doi:10.1016/j.neuropsychologia.2021.107824.
- ↑ David M. Amodio. The neuroscience of prejudice and stereotyping. Nature Reviews Neuroscience. 2014. Vol. 15 (10). hlm. 670–682. doi:10.1038/nrn3800.
- ↑ Jack Fyock. The role of memory biases in stereotype maintenance. British Journal of Social Psychology. 1994. Vol. 33 (3). hlm. 331–343. doi:10.1111/j.2044-8309.1994.tb01029.x.
- ↑ Galen V. Bodenhausen. Stereotypic biases in social decision making and memory: Testing process models of stereotype use. Journal of Personality and Social Psychology. 1988. Vol. 55 (5). hlm. 726–737. doi:10.1037/0022-3514.55.5.726.
- ↑ Charles Stangor. Memory for expectancy-congruent and expectancy-incongruent information: A review of the social and social developmental literatures. Psychological Bulletin. 1992. Vol. 111 (1). hlm. 42–61. doi:10.1037/0033-2909.111.1.42.
- ↑ C. Neil MacRae. Creating memory illusions: Expectancy-based processing and the generation of false memories. Memory. Januari 2002. Vol. 10 (1). hlm. 63–80. doi:10.1080/09658210143000254.
- ↑ Alison P. Lenton. Illusions of Gender: Stereotypes Evoke False Memories. Journal of Experimental Social Psychology. 2001. Vol. 37 (1). hlm. 3–14. doi:10.1006/jesp.2000.1426.
- ↑ Jeffrey W. Sherman. Stereotypes as Source-Monitoring Cues: On the Interaction Between Episodic and Semantic Memory. Psychological Science. 1999. Vol. 10 (2). hlm. 106–110. doi:10.1111/1467-9280.00116.
- ↑ Jeffrey W. Sherman. Stereotype efficiency reconsidered: Encoding flexibility under cognitive load. Journal of Personality and Social Psychology. 1998. Vol. 75 (3). hlm. 589–606. doi:10.1037/0022-3514.75.3.589.
- ↑ Galen V. Bodenhausen. Social stereotypes and information-processing strategies: The impact of task complexity. Journal of Personality and Social Psychology. 1987. Vol. 52 (5). hlm. 871–880. doi:10.1037/0022-3514.52.5.871.
- ↑ Roberta L. Klatzky. Semantic interpretation effects on memory for faces. Memory & Cognition. 1982. Vol. 10 (3). hlm. 195–206. doi:10.3758/BF03197630.
- ↑ Jean-Christophe Rohner. Physical attractiveness stereotype and memory. Scandinavian Journal of Psychology. 2011. Vol. 52 (4). hlm. 309–319. doi:10.1111/j.1467-9450.2010.00873.x.
- ↑ Jeffrey W. Sherman. Stereotypes as Source-Monitoring Cues: On the Interaction Between Episodic and Semantic Memory. Psychological Science. 1999. Vol. 10 (2). hlm. 106–110. doi:10.1111/1467-9280.00116.
- ↑ Jean-Christophe Rohner. Physical attractiveness stereotype and memory. Scandinavian Journal of Psychology. 2011. Vol. 52 (4). hlm. 309–319. doi:10.1111/j.1467-9450.2010.00873.x.
- ↑ Charles Stangor. Memory for expectancy-congruent and expectancy-incongruent information: A review of the social and social developmental literatures. Psychological Bulletin. 1992. Vol. 111 (1). hlm. 42–61. doi:10.1037/0033-2909.111.1.42.
- ↑ Jean-Christophe Rohner. Recognition bias and the physical attractiveness stereotype. Scandinavian Journal of Psychology. 2012. Vol. 53 (3). hlm. 239–246. doi:10.1111/j.1467-9450.2012.00939.x.
- ↑ Linda A. Jackson. Physical Attractiveness and Intellectual Competence: A Meta-Analytic Review. Social Psychology Quarterly. Juni 1995. Vol. 58 (2). hlm. 108–122. doi:10.2307/2787149.
- ↑ Megumi Hosoda. The Effects of Physical Attractiveness on Job-Related Outcomes: A Meta-Analysis of Experimental Studies. Personnel Psychology. Juni 2003. Vol. 56 (2). hlm. 431–462. doi:10.1111/j.1744-6570.2003.tb00157.x.
- ↑ Vicki Ritts. Expectations, Impressions, and Judgments of Physically Attractive Students: A Review. Review of Educational Research. Musim Dingin 1992. Vol. 62 (4). hlm. 413–426. doi:10.3102/00346543062004413.
- ↑ Maria Agthe. Does Being Attractive Always Help? Positive and Negative Effects of Attractiveness on Social Decision Making. Personality and Social Psychology Bulletin. Agustus 2011. Vol. 37 (8). hlm. 1042–1054. doi:10.1177/0146167211410355.
- ↑ Holger Wiese. Perceiving age and gender in unfamiliar faces: An fMRI study on face categorization. Brain and Cognition. 2012. Vol. 78 (2). hlm. 163–168. doi:10.1016/j.bandc.2011.10.012.
- ↑ Daniel Yarosh. Perception and Deception: Human Beauty and the Brain. Behavioral Sciences. MDPI. 2019-03-29. Vol. 9 (4). hlm. 34. doi:10.3390/bs9040034.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29584631 (2026-08-15T20:34:25Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.