Lompat ke isi

Tembaga(II) klorida

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Cupric chloride

Tembaga(II) klorida, yang juga dikenal sebagai kupri klorida, merupakan sebuah senyawa anorganik dengan rumus kimia . Bentuk monoklinik anhidrat berwarna kuning kecokelatan ini secara perlahan menyerap kelembapan dari udara dan berubah menjadi dihidrat berwarna biru kehijauan dengan struktur ortorombik, yaitu , yang mengandung dua molekul air kristalisasi. Secara industri, senyawa ini diproduksi untuk dimanfaatkan sebagai ko-katalis dalam proses Wacker.

Baik bentuk anhidrat maupun dihidratnya dapat dijumpai secara alami sebagai mineral langka, masing-masing dikenal dengan nama tolbasit dan eriokalsit.

Struktur

Bentuk anhidrat dari tembaga(II) klorida mengadopsi struktur kadmium iodida. Dalam struktur ini, pusat tembaga memiliki geometri oktahedral. Sebagian besar senyawa tembaga(II) menunjukkan penyimpangan dari geometri oktahedral ideal akibat adanya efek Jahn–Teller. Pada kasus ini, efek tersebut berkaitan dengan pelokalan satu elektron-d ke dalam suatu orbital molekul yang bersifat sangat anti-ikatan terhadap sepasang ligan klorida.

Dalam , atom tembaga kembali memperlihatkan geometri oktahedral yang sangat terdistorsi. Pusat Cu(II) dikelilingi oleh dua ligan air dan empat ligan klorida, di mana ligan klorida tersebut bertindak sebagai ligan penjembatan yang menghubungkan secara asimetris dengan pusat Cu lainnya.[1][2]

Tembaga(II) klorida bersifat paramagnetik. Secara historis, digunakan dalam pengukuran pertama resonansi paramagnetik elektron yang dilakukan oleh Yevgeny Zavoisky pada tahun 1944.[3][4]

Sifat dan reaksi

Larutan berair yang dibuat dari tembaga(II) klorida mengandung berbagai jenis kompleks tembaga(II), yang komposisinya bergantung pada konsentrasi, suhu, serta keberadaan ion klorida tambahan. Spesies-spesies ini mencakup kompleks berwarna biru , serta kompleks halida yang berwarna kuning atau merah dengan rumus umum .[5]

Hidrolisis

Ketika larutan tembaga(II) klorida direaksikan dengan suatu basa, akan terjadi pengendapan tembaga(II) hidroksida:[6]

Hidrolisis parsial menghasilkan ditembaga klorida trihidroksida, , yang merupakan fungisida populer.[7] Ketika larutan berair tembaga(II) klorida dibiarkan terpapar udara dan tidak distabilkan dengan penambahan sedikit asam, larutan tersebut cenderung mengalami hidrolisis ringan.[8]

Redoks dan dekomposisi

Tembaga(II) klorida merupakan oksidator lemah. Senyawa ini mulai terurai menjadi tembaga(I) klorida dan gas klorin pada suhu sekitar , dan terurai sepenuhnya pada suhu mendekati :[9][10][11][12]

Titik leleh tembaga(II) klorida yang sering dilaporkan sebesar sebenarnya merupakan lelehan dari campuran tembaga(I) klorida dan tembaga(II) klorida. Titik leleh yang sebenarnya, yaitu sekitar , dapat diekstrapolasi dengan menggunakan data titik leleh campuran antara CuCl dan .[13][14] Tembaga(II) klorida bereaksi dengan berbagai logam menghasilkan logam tembaga atau tembaga(I) klorida (CuCl), disertai oksidasi pada logam lainnya. Untuk mengonversi tembaga(II) klorida menjadi tembaga(I) klorida, salah satu cara yang praktis adalah mereduksi larutan berairnya menggunakan belerang dioksida sebagai agen pereduksi:[15]

Kompleks koordinasi

bereaksi dengan HCl atau sumber klorida lainnya membentuk ion-ion kompleks, yaitu kompleks merah  (ditemukan dalam kalium trikloridokuprat(II) ). Dalam kenyataannya, spesies ini merupakan dimer, yakni , yang tersusun dari sepasang tetrahedron yang berbagi satu sisi. Selain itu, terbentuk pula kompleks  berwarna hijau atau kuning, yang terdapat dalam kalium tetrakloridokuprat(II) .[16][17][18]

Sebagian dari kompleks-kompleks ini dapat dikristalkan dari larutan berair dan menunjukkan keragaman struktur yang luas.[19]

Tembaga(II) klorida juga membentuk berbagai kompleks koordinasi dengan ligan seperti amonia, piridina, dan trifenilfosfina oksida:[20][21][22]

(tetragonal)
(tetrahedral)

Namun, ligan “lunak” seperti fosfina (misalnya trifenilfosfina), iodida, dan sianida, serta beberapa amina tersier, dapat menginduksi reduksi sehingga menghasilkan kompleks tembaga(I).[23]

Preparasi

Tembaga(II) klorida diproduksi secara komersial melalui proses klorinasi tembaga. Tembaga yang dipanaskan hingga pijar merah (300–400 °C) bereaksi langsung dengan gas klorin, menghasilkan tembaga(II) klorida dalam keadaan cair. Reaksi ini bersifat sangat eksotermik.[24][25]

Larutan tembaga(II) klorida diproduksi secara komersial dengan mengalirkan gas klorin ke dalam campuran yang disirkulasikan antara asam klorida dan tembaga. Dari larutan ini, bentuk dihidratnya dapat diperoleh melalui proses penguapan.[26][27]

Meskipun logam tembaga itu sendiri tidak dapat dioksidasi oleh asam klorida, basa-basa yang mengandung tembaga seperti hidroksida, tembaga(II) oksida, atau tembaga(II) karbonat basa dapat bereaksi membentuk melalui suatu reaksi asam–basa. Senyawa yang dihasilkan selanjutnya dapat dipanaskan di atas untuk menghasilkan turunan anhidratnya.[28][29]

Setelah dibuat, larutan dapat dimurnikan melalui proses kristalisasi. Metode standar dilakukan dengan melarutkan larutan tersebut dalam asam klorida encer panas, kemudian memicu pembentukan kristal dengan mendinginkannya di dalam bak es kalsium klorida ().[30][31]

Terdapat cara tidak langsung dan jarang digunakan untuk memanfaatkan ion tembaga dalam larutan guna membentuk tembaga(II) klorida. Elektrolisis larutan natrium klorida berair dengan elektroda tembaga menghasilkan (di antara produk lainnya) busa biru kehijauan yang dapat dikumpulkan dan diubah menjadi bentuk hidrat. Meskipun metode ini umumnya tidak digunakan karena pelepasan gas klorin yang beracun serta dominannya proses kloralkali yang lebih umum, elektrolisis tersebut akan mengonversi logam tembaga menjadi ion tembaga dalam larutan sehingga membentuk senyawa ini. Pada dasarnya, setiap larutan yang mengandung ion tembaga dapat dicampurkan dengan asam klorida dan diubah menjadi tembaga klorida dengan cara menghilangkan ion-ion lain yang ada.[32]

Lihat pula

Bacaan lebih lanjut

  • The Merck Index, 7th edition, Merck & Co, Rahway, New Jersey, USA, 1960.
  • D. Nicholls, Complexes and First-Row Transition Elements, Macmillan Press, London, 1973.
  • A. F. Wells, 'Structural Inorganic Chemistry, 5th ed., Oxford University Press, Oxford, UK, 1984.
  • J. March, Advanced Organic Chemistry, 4th ed., p. 723, Wiley, New York, 1992.
  • Fieser & Fieser Reagents for Organic Synthesis Volume 5, p158, Wiley, New York, 1975.

Pranala luar

Referensi

  1. A.F. Wells. Structural Inorganic Chemistry. Clarendon Press. 1984. hlm. 253. ISBN 0-19-855370-6.
  2. Greenwood, N. N. and Earnshaw, A. (1997). Chemistry of the Elements (2nd Edn.), Oxford:Butterworth-Heinemann. p. 1183–1185 .
  3. Peter Baláž. Mechanochemistry in Nanoscience and Minerals Engineering. Springer. 2008. hlm. 167. ISBN 978-3-540-74854-0.
  4. Carlo Corvaja. Electron paramagnetic resonance: a practitioner's toolkit. John Wiley and Sons. 2009. hlm. 3. ISBN 978-0-470-25882-8.
  5. Greenwood, N. N. and Earnshaw, A. (1997). Chemistry of the Elements (2nd Edn.), Oxford:Butterworth-Heinemann. p. 1183–1185 .
  6. Zhang, J. Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry. 2016. hlm. 1–31. doi:10.1002/14356007.a07_567.pub2. ISBN 978-3-527-30673-2.
  7. Zhang, J. Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry. 2016. hlm. 1–31. doi:10.1002/14356007.a07_567.pub2. ISBN 978-3-527-30673-2.
  8. Greenwood, N. N. and Earnshaw, A. (1997). Chemistry of the Elements (2nd Edn.), Oxford:Butterworth-Heinemann. p. 1183–1185 .
  9. Zhang, J. Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry. 2016. hlm. 1–31. doi:10.1002/14356007.a07_567.pub2. ISBN 978-3-527-30673-2.
  10. Shuiliang Zhou. Evaporation and decomposition of eutectics of cupric chloride and sodium chloride. Journal of Thermal Analysis and Calorimetry. 2017. Vol. 129 (3). hlm. 1445–1452. doi:10.1007/s10973-017-6360-y.
  11. H. W. Richardson. Kirk-Othmer Encyclopedia of Chemical Technology. 2003. doi:10.1002/0471238961.0315161618090308.a01.pub2. ISBN 0471238961.
  12. Z. Wang. Thermodynamics and kinetics of the thermal decomposition of cupric chloride in its hydrolysis reaction. Journal of Thermal Analysis and Calorimetry. 2015. Vol. 119 (2). hlm. 815–823. doi:10.1007/s10973-014-3929-6.
  13. Wilhelm Biltz. Beiträge zur systematischen Verwandtschaftslehre. XLIII. Über das System Cupro-/Cuprichlorid. Zeitschrift für anorganische und allgemeine Chemie. 1927. Vol. 166 (1). hlm. 290–298. doi:10.1002/zaac.19271660126.
  14. A. G. Massey. The Chemistry of Copper, Silver and Gold. Elsevier Science. 1973. hlm. 42. ISBN 9780080188607.
  15. Zhang, J. Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry. 2016. hlm. 1–31. doi:10.1002/14356007.a07_567.pub2. ISBN 978-3-527-30673-2.
  16. Greenwood, N. N. and Earnshaw, A. (1997). Chemistry of the Elements (2nd Edn.), Oxford:Butterworth-Heinemann. p. 1183–1185 .
  17. Naida S. Gill. Tetrahalo Complexes of Dipositive Metals in the First Transition Series. 1967. Vol. 9. hlm. 136–142. doi:10.1002/9780470132401.ch37. ISBN 978-0-470-13240-1.
  18. H. Wayne Richardson. Handbook of Copper Compounds and Applications. CRC Press. 1997. hlm. 24–68. ISBN 9781482277463.
  19. Naida S. Gill. Tetrahalo Complexes of Dipositive Metals in the First Transition Series. 1967. Vol. 9. hlm. 136–142. doi:10.1002/9780470132401.ch37. ISBN 978-0-470-13240-1.
  20. Zhang, J. Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry. 2016. hlm. 1–31. doi:10.1002/14356007.a07_567.pub2. ISBN 978-3-527-30673-2.
  21. Greenwood, N. N. and Earnshaw, A. (1997). Chemistry of the Elements (2nd Edn.), Oxford:Butterworth-Heinemann. p. 1183–1185 .
  22. W. Libus. Solution equilibriums of copper(II) chloride in pyridine and pyridine-diluent mixtures. Inorganic Chemistry. 1980. Vol. 19 (6). hlm. 1625–1632. doi:10.1021/ic50208a039.
  23. Greenwood, N. N. and Earnshaw, A. (1997). Chemistry of the Elements (2nd Edn.), Oxford:Butterworth-Heinemann. p. 1183–1185 .
  24. Zhang, J. Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry. 2016. hlm. 1–31. doi:10.1002/14356007.a07_567.pub2. ISBN 978-3-527-30673-2.
  25. H. Wayne Richardson. Handbook of Copper Compounds and Applications. CRC Press. 1997. hlm. 24–68. ISBN 9781482277463.
  26. Zhang, J. Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry. 2016. hlm. 1–31. doi:10.1002/14356007.a07_567.pub2. ISBN 978-3-527-30673-2.
  27. H. W. Richardson. Kirk-Othmer Encyclopedia of Chemical Technology. 2003. doi:10.1002/0471238961.0315161618090308.a01.pub2. ISBN 0471238961.
  28. Zhang, J. Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry. 2016. hlm. 1–31. doi:10.1002/14356007.a07_567.pub2. ISBN 978-3-527-30673-2.
  29. H. W. Richardson. Kirk-Othmer Encyclopedia of Chemical Technology. 2003. doi:10.1002/0471238961.0315161618090308.a01.pub2. ISBN 0471238961.
  30. S. H. Bertz, E. H. Fairchild, in Handbook of Reagents for Organic Synthesis, Volume 1: Reagents, Auxiliaries and Catalysts for C-C Bond Formation, (R. M. Coates, S. E. Denmark, eds.), pp. 220–223, Wiley, New York, 1738.
  31. W. L. F. Armarego. Purification of Laboratory Chemicals. Butterworth-Heinemann. 2009-05-22. hlm. 461. ISBN 978-1-85617-567-8.
  32. J. Ji. Electrochemical preparation of cuprous oxide powder: Part I. Basic electrochemistry. Journal of Applied Electrochemistry. 1990. Vol. 20 (5). hlm. 818–825. doi:10.1007/BF01094312.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29586805 (2026-08-16T05:34:29Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.