Lompat ke isi

Terapis kecerdasan buatan

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung

Terapis kecerdasan buatan adalah sebuah program komputer yang melakukan intervensi atau dukungan kesehatan mental berbasis percakapan menggunakan kecerdasan buatan (AI).[1] Biasanya, Terapis kecerdasan buatan ini hadir dalam bentuk bot obrolan (chatbot) yang dapat diakses melalui aplikasi di dalam gawai, seperti smartphone.[2] Terapis Kecerdasan Buatan dirancang untuk menyimulasikan konseling, menggunakan pengolahan bahasa alami dan teknik-teknik terapi yang telah diprogram seperti terapi perilaku kognitif.[3]

Tujuan

Tujuan utama dari terapis kecerdasan buatan adalah sebagai layanan kesehatan, khususnya kesehatan mental, yang lebih terjangkau serta dapat diakses oleh siapa saja dan kapan saja selama memiliki koneksi internet.[4] Terapis kecerdasan buatan dapat digunakan sebagai pertolongan pertama bagi pasien yang membutuhkan pertolongan segera, alat penanganan mandiri, serta sebagai alat bantuan bagi tenaga profesional untuk intervensi sederhana jika dibutuhkan, seperti membuat praduga diagnosis dan memantau pengobatan pasien.[5]

Sejarah

Penggunaan kecerdasan buatan dalam terapi psikologis berakar pada perkembangan awal bot obrolan pada tahun 1960-an. Salah satu pionirnya adalah ELIZA, program komputer yang dirancang oleh Joseph Weizenbaum di MIT untuk meniru gaya komunikasi terapi metode Rogerian. Meskipun sederhana, Eliza menjadi contoh awal bagaimana mesin dapat melakukan percakapan dengan manusia dalam konteks terapeutik.[6]

Upaya lanjutan pada dekade-dekade berikutnya, seperti program Shrink, mencoba mengembangkan bot psikoterapi, tetapi tidak mencapai keberhasilan yang signifikan. Meski demikian, eksperimen tersebut menunjukkan minat awal dalam menggunakan teknologi percakapan sebagai dukungan psikologis.

Pada era 2000-an, chatbot mulai digunakan dalam bidang kesehatan mental untuk berbagai tujuan, seperti pendampingan bagi individu dengan demensia atau dukungan bagi penderita autisme. Kemajuan signifikan terjadi pada tahun 2017 ketika Woebot, sebuah chatbot berbasis pengolahan bahasa alami (CBT), menjadi salah satu yang pertama diuji melalui uji acak terkendali. Hasil penelitian awal menunjukkan bahwa chatbot dapat membantu mengurangi gejala depresi pada pengguna muda.

Perkembangan terkini menunjukkan integrasi kecerdasan buatan yang lebih canggih melalui model bahasa berskala besar, seperti GPT. Dengan kemampuan untuk memberikan respons yang lebih natural dan kompleks, kecerdasan buatan modern digunakan baik sebagai pendamping psikologis maupun sebagai asisten bagi terapis manusia. Meski demikian, keterbatasan tetap ada, terutama terkait dengan empati, bahasa tubuh, dan interpretasi nuansa emosional yang belum dapat sepenuhnya ditiru oleh mesin.[7][8]

Kelebihan

Aksesibilitas

Chatbot AI sangat mudah untuk diakses melalui perangkat lunak seperti komputer dan smartphone sehingga sangat memungkinkan penerima terapi yang takut untuk melakukan psikoterapi klinis untuk dapat melakukan terapi menggunakan AI.[9]

Dukungan 24/7

Dukungan tersedia sepanjang waktu dikarenakan teknologi AI bisa digunakan di mana saja, memudahkan ekonomi dan lokasi, sehingga lebih mudah memberikan perawatan mental bagi pengguna.[10]

Dukungan emosional

Chatbot AI menggunakan pesan yang berpusat pada penggunanya (person-centered messages). Hal ini terbukti dengan adanya validasi emosional dan kualitas dukungan sosial yang sangat membantu pada pengurangan kesepian dan kecemasan pengguna. Semua perkataan dari pengguna didukung oleh chatbot AI, membantu pengguna merasa aman.[11]

Kekurangan

Interaksi manusia yang kurang

Interaksi manusia sepenuhnya tidak dapat digantikan oleh AI. Meskipun AI dapat memberi dukungan saat itu juga, tetapi AI tidak memiliki kemampuan untuk memahami perasaan emosional dan ekspresi nonverbal yang didapatkan saat berinteraksi dengan manusia.[12]

Kurangnya penilaian dalam masalah kompleks

AI akan kesulitan untuk menangani kasus kesehatan mental yang kompleks dan diperlukan penilaian klinis yang dalam. AI mungkin lebih cocok dengan kasus yang ringan hingga sedang karena sebagai alat dukung saja bukan sebagai pengganti manusia.[13]

Ketergantungan pada AI

Menggunakan AI sebagai terapis dapat menimbulkan resiko yang sangat penting, yaitu ketergantungan pada AI. Hal ini dapat mengurangi kemampuan pengguna dalam mengembangkan keterampilan koping yang diperlukan dalam diri manusia itu sendiri sehingga dapat meningkatkan perasaan kesepian dan isolasi diri.[14]

Eksistensi Bias

Sebuah studi menunjukkan bahwa terdapat bias gender di dalam layanan psikologi machine-based learning. Pada studi yang dilakukan terhadap layanan psikologi berbasis ML (machine learning), menunjukkan bahwa terdapat inakurasi diagnosis dan pengenalan isu mental antara laki-laki dan perempuan.[15] Hal ini dideskripsikan sebagai “in favour of males”.

Permasalahan terkait bias di dalam layanan psikologi berbasis AI dan Machine—based Learning tentunya perlu diberikan perhatian khusus. Hal ini karena adanya bias di dalam layanan psikologi merupakan pelanggaran pada kode etik psikologi. Seperti yang sudah tertulis di dalam Kode Etik Psikologi Indonesia Pasal 2 Prinsip A,[16] bahwa setiap klien ataupun pengguna layanan psikologi berhak untuk terbebas dari bias, prasangka, maupun diskriminasi dalam mendapatkan penanganan.

Data dan Privasi

Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam pelayanan psikologi, memberikan kemudahan bagi klien untuk melakukan konsultasi. Adapun, untuk  memberikan pelayanan kesehatan yang tepat, sistem AI biasanya mengharuskan klien untuk memperbolehkan sistem mengakses data dalam jumlah yang lebih besar termasuk data - data pribadi.[17]

Hal ini menimbulkan risiko bagi klien terkait kebocoran data serta penyalahgunaan data pribadi yang sangat mungkin terjadi. Sebuah analisis menunjukkan bahwa 40% aplikasi kesehatan berbayar tidak memiliki kebijakan privasi. Aplikasi tersebut juga mengumpulkan informasi pribadi seperti, nama lengkap, informasi riwayat kesehatan  yang sangat mudah dilacak.[18] Selain itu, dalam beberapa kasus, data dijual kepada pihak ketiga untuk tujuan komersial tanpa pemberitahuan atau otorisasi.[19]

Disamping itu, sesuai dengan Pasal 24 Kode Etik Psikologi Indonesia tentang mempertahankan kerahasiaan data, tertulis bahwa pemberi layanan wajib memegang teguh rahasia yang menyangkut klien atau pengguna layanan psikologi.[20] Maka dari itu, pedoman etika yang jelas perlu ditetapkan pada sistem untuk mengatur serta memantau peran AI dalam perawatan kesehatan mental. Standar-standar ini harus memastikan bahwa hak, privasi, dan kesejahteraan pasien terlindungi.[21] Standar ini termasuk kebijakan privasi dan informed consent yang disetujui oleh klien serta penggunaan cyber security yang tepat pada sistem AI.

Misinformasi dan Ketidakakuratan Informasi

Penggunaan AI dalam kesehatan mental berisiko menimbulkan ketidakakuratan dan misinformasi. Dari sisi akurasi, hasil diagnosis dapat keliru jika data latih bias atau tidak lengkap, serta karena keterbatasan AI dalam memahami konteks emosional dan riwayat pasien. Hal ini dapat menyebabkan false positives maupun false negatives, sehingga pengawasan manusia tetap diperlukan.[22]

Dari sisi disinformasi, AI generatif dapat menyebarkan informasi salah yang meyakinkan dan berbahaya, terutama bagi individu dengan kerentanan mental.[23] Karena itu, American Psychological Association menegaskan pentingnya validasi ketat, transparansi sumber data, serta penghentian penggunaan AI jika berpotensi menimbulkan misinformasi.[24] Secara etis, AI  sebaiknya diposisikan sebagai alat pendukung, bukan pengganti, dengan menekankan validasi ilmiah, transparansi, dan keterlibatan profesional manusia.

Keakuratan dan Kode etik

Jurnal Human-Human vs Human-AI Therapy meneliti 63 terapis yang diminta membedakan transkrip terapi antara manusia dengan manusia dan manusia dengan AI (chatbot “Pi”) pada tahap awal terapi. Hasilnya cukup mengejutkan karena para terapis tidak mampu membedakan dengan akurat—tingkat ketepatan hanya sekitar 53,9%, hampir sama dengan peluang acak. Lebih dari itu, rata-rata transkrip AI justru dinilai sedikit lebih baik dari sisi komunikasi, empati, profesionalisme, dan pemahaman dibanding transkrip manusia. Temuan ini menunjukkan bahwa AI memiliki potensi untuk membantu proses terapi, terutama pada fase awal atau kasus ringan saat akses psikolog terbatas. Namun demikian, AI tidak bisa sepenuhnya menggantikan peran psikolog. Hal ini berkaitan dengan kode etik psikologi yang menekankan pentingnya empati sejati, kehangatan, dan hubungan terapeutik yang otentik. AI hanya mampu meniru respons empatik, tetapi tidak memiliki pengalaman emosional yang nyata seperti manusia.[25]

Referensi

  1. Jeremy Sutton Ph.D. Revolutionizing AI Therapy: The Impact on Mental Health Care. PositivePsychology.com. 2024-01-19.
  2. Jeremy Sutton Ph.D. Revolutionizing AI Therapy: The Impact on Mental Health Care. PositivePsychology.com. 2024-01-19.
  3. Russell Fulmer. Using Psychological Artificial Intelligence (Tess) to Relieve Symptoms of Depression and Anxiety: Randomized Controlled Trial. JMIR Mental Health. 2018-12-13. Vol. 5 (4). hlm. e9782. doi:10.2196/mental.9782.
  4. Paolo Raile. The usefulness of ChatGPT for psychotherapists and patients. Humanities and Social Sciences Communications. 2024-01-04. Vol. 11 (1). hlm. 47. doi:10.1057/s41599-023-02567-0.
  5. Jeremy Sutton Ph.D. Revolutionizing AI Therapy: The Impact on Mental Health Care. PositivePsychology.com. 2024-01-19.
  6. J Epstein. From Eliza to Internet: a brief history of computerized assessment. Computers in Human Behavior. 2001-05-01. Vol. 17 (3). hlm. 295–314. doi:10.1016/S0747-5632(01)00004-8.
  7. Alexander Rozental. Negative Effects of Psychological Treatments: An Exploratory Factor Analysis of the Negative Effects Questionnaire for Monitoring and Reporting Adverse and Unwanted Events. PLOS ONE. 2016-06-22. Vol. 11 (6). hlm. e0157503. doi:10.1371/journal.pone.0157503.
  8. Bruce E. Wampold. The alliance in mental health care: conceptualization, evidence and clinical applications. World Psychiatry. 2023. Vol. 22 (1). hlm. 25–41. doi:10.1002/wps.21035.
  9. 葉寶玲. 諮商系所學生使用聊天機器人經驗初探. 教育心理學報. 2024-09-01. Vol. 56 (1). hlm. 45–72. doi:10.6251/BEP.202409_56(1).0003.
  10. Btissam Acim. Mental Health Therapy: A Comparative Study of Generative AI and Deepfake Technology. International Conference on Advanced Intelligent Systems for Sustainable Developent (AI2SD 2024). Springer Nature Switzerland. 2025. hlm. 351–357. doi:10.1007/978-3-031-91337-2_33. ISBN 978-3-031-91337-2.
  11. Kelly Merrill Jr. Artificial intelligence chatbots as a source of virtual social support: Implications for loneliness and anxiety management. Annals of the New York Academy of Sciences. 2025. Vol. 1549 (1). hlm. 148–159. doi:10.1111/nyas.15400.
  12. Mücahit Gültekin. The use of artificial intelligence in mental health services in Turkey: What do mental health professionals think?. Cyberpsychology: Journal of Psychosocial Research on Cyberspace. 2024-02-01. Vol. 18 (1). doi:10.5817/CP2024-1-6.
  13. Adrianos Pavlopoulos. An Overview of Tools and Technologies for Anxiety and Depression Management Using AI. Applied Sciences. 2024-10-08. Vol. 14 (19). hlm. 9068. doi:10.3390/app14199068.
  14. Adrianos Pavlopoulos. An Overview of Tools and Technologies for Anxiety and Depression Management Using AI. Applied Sciences. 2024-10-08. Vol. 14 (19). hlm. 9068. doi:10.3390/app14199068.
  15. Jiaee Cheong. Towards Gender Fairness for Mental Health Prediction. 2023-08-19. Vol. 6. hlm. 5932–5940. doi:10.24963/ijcai.2023/658.
  16. HIMPSI - HIMPSI. himpsi.or.id.
  17. Christopher A. Lovejoy. Technology and mental health: The role of artificial intelligence. European Psychiatry. 2019-01. Vol. 55. hlm. 1–3. doi:10.1016/j.eurpsy.2018.08.004.
  18. Hanwen Zhang. E-mental Health in the Age of AI: Data Safety, Privacy Regulations and Recommendations. Alpha Psychiatry. 2025-06-26. Vol. 26 (3). hlm. 44279. doi:10.31083/AP44279.
  19. Hanwen Zhang. E-mental Health in the Age of AI: Data Safety, Privacy Regulations and Recommendations. Alpha Psychiatry. 2025-06-26. Vol. 26 (3). hlm. 44279. doi:10.31083/AP44279.
  20. HIMPSI - HIMPSI. himpsi.or.id.
  21. Anoushka Thakkar. Artificial intelligence in positive mental health: a narrative review. Frontiers in Digital Health. 2024-03-18. Vol. 6. doi:10.3389/fdgth.2024.1280235.
  22. Anoushka Thakkar. Artificial intelligence in positive mental health: a narrative review. Frontiers in Digital Health. 2024-03-18. Vol. 6. doi:10.3389/fdgth.2024.1280235.
  23. Scott Monteith. Artificial intelligence and increasing misinformation. The British Journal of Psychiatry. 2024-02. Vol. 224 (2). hlm. 33–35. doi:10.1192/bjp.2023.136.
  24. sumber. www.apa.org.
  25. Russell Fulmer. Using Psychological Artificial Intelligence (Tess) to Relieve Symptoms of Depression and Anxiety: Randomized Controlled Trial. JMIR Mental Health. 2018-12-13. Vol. 5 (4). hlm. e9782. doi:10.2196/mental.9782.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29472942 (2026-07-18T16:31:03Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.