Lompat ke isi

TerraUSD

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung

TerraUSD (disingkat UST) adalah sebuah stablecoin algoritmik yang dikembangkan oleh Terraform Labs, sebuah perusahaan teknologi blockchain yang berbasis di Korea Selatan. TerraUSD diluncurkan pada September 2020 di atas jaringan Terra blockchain, dan bertujuan untuk menyediakan aset digital yang nilainya stabil dan dipatok terhadap dolar Amerika Serikat (USD).[1]Berbeda dengan stablecoin konvensional yang didukung oleh cadangan fiat (seperti USDT atau USDC), TerraUSD menggunakan algoritma dan mekanisme pasar untuk mempertahankan nilai tukarnya, melalui hubungan dengan token asli jaringan Terra, yaitu LUNA.[2]

Latar Belakang dan Mekanisme

TerraUSD dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem Terra yang lebih luas, yang mencakup berbagai aplikasi keuangan terdesentralisasi (DeFi), termasuk Anchor Protocol dan Mirror Protocol.

Mekanisme UST bekerja dengan minting dan burning antara UST dan LUNA. Ketika permintaan terhadap UST meningkat, LUNA dibakar (destroyed) untuk mencetak lebih banyak UST, sementara ketika permintaan menurun, UST dibakar untuk mencetak LUNA.

Dengan sistem ini, nilai 1 UST seharusnya selalu dipertahankan di sekitar 1 USD melalui arbitrase pasar.

Popularitas dan Pertumbuhan

Sebelum keruntuhannya, TerraUSD sempat menjadi salah satu stablecoin terbesar di dunia berdasarkan kapitalisasi pasar. UST banyak digunakan dalam ekosistem DeFi karena menawarkan imbal hasil tinggi melalui Anchor Protocol, yang menjanjikan bunga hingga 20% per tahun bagi penyimpan UST.

Kombinasi antara return tinggi dan kemudahan integrasi dalam aplikasi blockchain menjadikan UST populer di kalangan investor kripto antara tahun 2021–awal 2022.

Keruntuhan

Pada Mei 2022, TerraUSD mengalami depegging, yaitu kegagalan untuk mempertahankan nilai 1:1 terhadap dolar AS. Secara sederhana, hal ini awalnya dipicu keserakahan untuk membeli sebanyak mungkin UST, karena dijanjikan memberi keuntungan yang tidak masuk akal untuk mereka yang melakukan staking, yaitu sebesar 20 persen per tahun. Tentu saja keuntungan yang dijanjikan ini tidak sustainable, tetapi tetap bisa diberikan selagi semakin banyak yang menukarkan kekayaannya menjadi UST. Pada akhirnya, berbagai upaya untuk mempertahankan suku bunga ini tidak masuk akal lagi. Akibatnya angkanya terpaksa diturunkan, dengan bayangan sekitar 5 persen. Selanjutnya kepercayaan pasar goyah, sehingga banyak investor mulai menjual UST mereka secara massal. Semakin banyak orang yang melakukan penukaran UST, maka semakin rendah nilai LUNA yang bisa mengimbangi penurunan tersebut. Dampaknya, semakin lama nilai LUNA semakin ambrol. Pukulan terbesar terjadi saat seorang whale, istilah pemegang cryptocurrency dalam jumlah raksasa, melakukan penukaran UST menjadi USDC sebesar 84,5 juta pada 7 Mei 2022, dilanjutkan whale lainnya sebesar 225 juta keesokan harinya. [3][4]

Sistem algoritmik yang mendukung UST tidak mampu mengatasi tekanan pasar ekstrem tersebut. Akibatnya harga UST turun drastis hingga di bawah 0,10 USD, token LUNA mengalami hiperinflasi karena pencetakan besar-besaran untuk mencoba menstabilkan UST, dan kapitalisasi pasar LUNA turun dari puluhan miliar dolar menjadi hampir nol dalam waktu kurang dari seminggu.[5] Keruntuhan UST dan LUNA menyebabkan kerugian miliaran dolar bagi investor global dan memicu diskusi luas tentang risiko stablecoin algoritmik.[6]

Efek kepada bitcoin

Karena bitcoin dijadikan jaminan, maka mau tidak mau Luna Foundation Guard menjual sebagian besar persediaan bitcoinnya untuk mengimbangi fenomena ini, demi menjaga kepercayaan. Pada tanggal 9 Mei 2022, mereka menjual persediaannya senilai US$ 750 juta. Akibatnya bictoin ikut-ikutan mengalami penurunan nilai. [7]

Dampak dan Tanggapan Regulasi

Kejatuhan TerraUSD menjadi salah satu peristiwa paling signifikan dalam sejarah kripto dan mendorong berbagai negara untuk mempercepat regulasi stablecoin dan aset digital lainnya.

Otoritas di Korea Selatan, Amerika Serikat, dan negara-negara lain mulai menyelidiki Terraform Labs dan pendirinya, Do Kwon, atas dugaan penipuan dan pelanggaran hukum pasar modal. Surat perintah penangkapan dan red notice Interpol dikeluarkan terhadap Do Kwon, yang akhirnya ditangkap pada Maret 2023 di Montenegro.

Referensi

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28460350 (2025-11-13T11:16:12Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.