Lompat ke isi

Terumbu karang Asia Tenggara

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung

Terumbu karang di Asia Tenggara memiliki tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di antara ekosistem laut dunia. Terumbu karang memiliki banyak fungsi, seperti menjadi sumber penghidupan bagi nelayan subsisten dan bahkan berfungsi sebagai perhiasan dan bahan bangunan.[1] Karang menghuni perairan pantai di setiap benua kecuali Antartika, dengan banyak terumbu karang yang berada di sepanjang garis pantai Asia Tenggara di beberapa negara termasuk Indonesia, Filipina, dan Thailand. [2]

Terumbu karang terbentuk dari kerangka berbasis karbonat dari berbagai hewan dan alga. Secara perlahan dan seiring waktu, terumbu karang tumbuh hingga ke permukaan laut. Terumbu karang ditemukan di perairan asin yang dangkal dan hangat. Sinar matahari menembus air jernih dan memungkinkan organisme mikroskopis untuk hidup dan berkembang biak.[3] Terumbu karang sebenarnya terdiri dari hewan-hewan kecil dan rapuh yang dikenal sebagai polip karang. Terumbu karang sangat penting karena keanekaragaman hayatinya. Meskipun jumlah ikan menurun, terumbu karang yang tersisa mengandung lebih banyak makhluk laut yang unik. Keragaman spesies yang hidup di terumbu karang lebih besar daripada di tempat lain di dunia. Diperkirakan 70-90% ikan yang ditangkap bergantung pada terumbu karang di Asia Tenggara, dan terumbu karang menopang lebih dari 25% spesies laut yang diketahui.[4]

Namun, terlepas dari pentingnya terumbu karang, terumbu karang Asia Tenggara berada di bawah ancaman serius dari berbagai faktor, termasuk penangkapan ikan berlebihan, sedimentasi, polusi, pemutihan, pengasaman laut, dan dampak manusia. Pemutihan, yang dipicu oleh kenaikan suhu laut, menyebabkan karang mengeluarkan alga yang hidup di jaringannya, yang mengakibatkan pemutihan dan akhirnya kematian. Pengasaman laut, akibat peningkatan penyerapan karbon dioksida, menimbulkan ancaman lain, melemahkan kerangka karang dan menghambat pertumbuhannya. Aktivitas manusia, seperti pembangunan pesisir dan pariwisata, semakin memperburuk degradasi terumbu karang, mengganggu ekosistem yang rapuh dan menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki. Oleh karena itu, upaya konservasi yang mendesak diperlukan untuk melindungi masa depan terumbu karang Asia Tenggara dan spesies laut yang tak terhitung jumlahnya yang bergantung padanya.

Indonesia

Indonesia memiliki luas wilayah laut 2.915.000 kilometer persegi. Luas terumbu karangnya adalah 51.020 kilometer persegi. Dari jumlah tersebut, 82%-nya berada dalam bahaya. Indonesia memiliki 17% dari total luas terumbu karang dunia. Penangkapan ikan dengan bahan peledak, yang telah ilegal sejak tahun 1985, masih berlangsung hingga saat ini, begitu pula dengan penangkapan ikan dengan sianida (1995). Faktor lain yang merusak terumbu karang di Indonesia adalah jumlah karang yang mereka ekspor. Mereka adalah pengekspor karang terbesar di dunia, dengan ekspor sekitar 500 ton karang per tahun.[5]

Kelestarian sumber daya laut dan pesisir telah menjadi perhatian khusus pemerintah Indonesia. Oleh karena itu, sejak 1998, pemerintah telah menginisiasi program strategis Coral Reef Rehabilitation and Management Program (COREMAP).[6]

COREMAP membantu Indonesia dalam upaya memerangi kerusakan terumbu karang dengan bekerja di 9 dari 32 provinsi. Tujuan mereka adalah: Meningkatkan penegakan hukum untuk melindungi terumbu karang; Membangun sistem pemantauan dan informasi terumbu karang, untuk melakukan penelitian tentang status terumbu karang dan menyebarluaskan informasi tersebut secara lebih efektif kepada kelompok pemangku kepentingan; Mengembangkan sistem pengelolaan berbasis masyarakat dan meningkatkan partisipasi publik dalam pengelolaan sumber daya terumbu karang; Meningkatkan kapasitas kelembagaan dan memperkuat koordinasi antarlembaga dalam perencanaan dan pelaksanaan kebijakan yang memengaruhi pengelolaan terumbu karang; dan; Meningkatkan pengetahuan publik tentang pentingnya terumbu karang dan memotivasi masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam pengelolaan dan pemanfaatan terumbu karang yang berkelanjutan.[7]

Referensi

  1. California Academy of Sciences. (n.d.). Philippine Coral Reef: An Educator's Exhibit Guide. Retrieved from https://www.calacademy.org/sites/default/files/assets/docs/pdf/educatorexhibitguide-philippinecoralreef6-12.pdf
  2. Lisa Boström-Einarsson. Coral restoration – A systematic review of current methods, successes, failures and future directions. PLOS ONE. 2020-01-30. Vol. 15 (1). hlm. e0226631. doi:10.1371/journal.pone.0226631.
  3. Populations and Ecosystems, Ecoregions: Coral Reefs.
  4. Populations and Ecosystems, Ecoregions: Coral Reefs.
  5. A Global Information System For Coral Reefs. ReefBase.
  6. Kompas Cyber Media. Mengenal COREMAP-CTI, Program Strategis Pemerintah dalam Melestarikan Terumbu Karang dan Kawasan Pesisir. KOMPAS.com. 2021-12-11.
  7. Populations and Ecosystems, Ecoregions: Coral Reefs.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28349102 (2025-11-05T07:19:09Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.