Lompat ke isi

Udara cair

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung

Udara cair adalah udara yang telah didinginkan hingga mencapai suhu yang sangat rendah (suhu kriogenik), sehingga mengembun menjadi cairan berwarna biru pucat yang mudah mengalir.[1] Udara cair disimpan dalam wadah khusus, seperti botol vakum, untuk mengisolasinya dari suhu ruangan. Udara cair dapat menyerap panas dengan cepat dan kembali ke wujud gas. Udara cair sering digunakan untuk mengembunkan zat lain menjadi cair atau memadatkannya menjadi padat, serta sebagai sumber industri untuk memperoleh nitrogen, oksigen, argon, dan gas lengai lainnya melalui proses yang disebut pemisahan udara atau dalam industri dikenal sebagai rektifikasi udara).

Sifat

Udara cair memiliki massa jenis sekitar . Massa jenis suatu sampel udara bergantung pada komposisinya, seperti kadar kelembapan dan konsentrasi . Karena udara kering terdiri atas sekitar 78% nitrogen, 21% oksigen, dan 1% argon, maka massa jenis udara cair dengan komposisi standar dihitung berdasarkan persentase masing-masing komponen serta massa jenis cairannya (lihat nitrogen cair dan oksigen cair). Meskipun udara mengandung sejumlah kecil karbon dioksida (sekitar 0,0425%), karbon dioksida akan langsung berubah menjadi padat dari fase gas tanpa melalui fase cair. Oleh karena itu, karbon dioksida tidak akan terdapat dalam udara cair pada tekanan di bawah .

Titik didih udara cair adalah sekitar , berada di antara titik didih nitrogen cair dan oksigen cair. Namun, menjaga suhu tetap stabil cukup sulit karena nitrogen akan mendidih lebih dahulu, sehingga campuran menjadi lebih kaya oksigen dan titik didihnya berubah. Hal ini juga dapat terjadi ketika udara cair mengembunkan oksigen dari atmosfer.[2]

Udara cair mulai membeku pada suhu sekitar , membentuk padatan yang kaya nitrogen (namun masih mengandung sejumlah oksigen yang larut dalam padatan tersebut). Jika oksigen sebelumnya tidak terlarut dalam padatan, campuran eutektik akan membeku pada suhu sekitar .[3]

Pembuatan

Prinsip produksi

Komponen penyusun udara dahulu dikenal sebagai "gas permanen" karena tidak dapat dicairkan hanya dengan memberikan tekanan pada suhu ruang. Proses pemampatan (kompresi) akan meningkatkan suhu gas. Panas tersebut kemudian dihilangkan dengan mendinginkan gas hingga mencapai suhu lingkungan menggunakan penukar kalor. Setelah itu, gas diperluas dengan mengalirkannya ke dalam suatu ruang ekspansi. Proses ekspansi ini menurunkan suhu gas. Melalui pertukaran panas aliran berlawanan dengan udara yang telah mengembang, udara bertekanan yang masuk ke alat ekspansi menjadi semakin dingin. Dengan kompresi, laju aliran, dan pelepasan panas yang cukup, tetesan udara cair akhirnya akan terbentuk. Udara cair tersebut kemudian dapat digunakan langsung untuk berbagai demonstrasi suhu rendah.

Komponen utama udara pertama kali berhasil dicairkan oleh ilmuwan Polandia Karol S. Olszewski dan Zygmunt F. Wróblewski pada tahu 1883.

Proses produksi

Proses yang paling umum digunakan untuk menghasilkan udara cair adalah siklus Hampson–Linde dua kolom yang memanfaatkan efek Joule–Thomson. Udara dialirkan dengan tekanan tinggi (>) ke kolom bawah, tempat udara dipisahkan menjadi nitrogen murni dan cairan yang kaya oksigen. Cairan kaya oksigen serta sebagian nitrogen kemudian dialirkan kembali sebagai refluks ke kolom atas yang beroperasi pada tekanan rendah (kurang dari ), sehingga terjadi pemisahan akhir menjadi nitrogen murni dan oksigen murni. Produk argon mentah juga dapat diambil dari bagian tengah kolom atas untuk dimurnikan lebih lanjut.[4]

Udara juga dapat dicairkan menggunakan proses Claude, yang menggabungkan pendinginan melalui efek Joule–Thomson, ekspansi isentropik, dan pendinginan regeneratif.[5]

Aplikasi

Dalam proses manufaktur, udara cair biasanya dipisahkan menjadi gas-gas penyusunnya dalam bentuk cair maupun gas.

Transportasi dan penyimpanan energi

Pada periode 1899–1902, perusahaan Liquid Air Power and Automobile Co. memproduksi dan mendemonstrasikan sebuah mobil bernama Liquid Air, yang diklaim mampu menempuh jarak sekitar 100 mil menggunakan udara cair sebagai sumber tenaga.

Pada 2 Oktober 2012, Institution of Mechanical Engineers menyatakan bahwa udara cair berpotensi digunakan sebagai media penyimpanan energi. Pernyataan tersebut didasarkan pada teknologi yang dikembangkan oleh Peter Dearman, seorang penemu dari Hertfordshire, Inggris, yang merancang sistem tenaga kendaraan berbasis udara cair.[6]

Lihat pula

Pranala luar

Referensi

  1. Babbage. Difference Engine: End of the electric car?. The Economist. 15 Oktober 2012.
  2. W. L. F. Armarego. Purification of Laboratory Chemicals. Butterworth-Heinemann. 1996-10-16. ISBN 978-0750628396.
  3. Thomas M. Kochenburger. Evaluation of a Two-stage Mixed Refrigerant Cascade for HTS Cooling Below 60 K. Physics Procedia. 2015. Vol. 67. hlm. 227–232. doi:10.1016/j.phpro.2015.06.039.
  4. Air liquefaction, "Linde Air", rectification: into new markets with new research findings. The Linde Group.
  5. Refrigeration & Liquefaction.
  6. Liquid air 'offers energy storage hope'. BBC News. 2 Oktober 2012.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29497162 (2026-07-27T04:34:04Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.