Wawasan
Wawasan berasal dari kata wawas yang berarti meneliti, meninjau, memandang, serta mengamati. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia wawasan adalah tinjauan, pandangan maupun hasil dari mewawas. Dalam konteks nasional, wawasan merupakan cara pandang suatu bangsa dalam bermasyarakat, benegara, serta membangun hubungan internasional. Cara pandang ini merupakan hasil perenungan terkait jati diri dan lingkungan yang memperhatikan sejarah dan kondisi sosial budaya. [1]
Pemahaman tentang sebab dan akibat tertentu dalam konteks tertentu. Istilah wawasan (Inggris: insight) dapat memiliki beberapa makna terkait:
- sepotong informasi
- tindakan atau hasil dari pemahaman sifat batiniah suatu hal atau melihat secara intuitif (disebut dalam bahasa Yunani)
- sebuah introspeksi
- kekuatan pengamatan dan deduksi yang tajam, kebijaksanaan, dan persepsi, yang disebut inteleksi atau
- pemahaman tentang sebab dan akibat berdasarkan identifikasi hubungan dan perilaku dalam suatu model, sistem, konteks, atau skenario (lihat kecerdasan buatan)
Suatu wawasan yang muncul secara tiba-tiba, seperti pemahaman bagaimana menyelesaikan suatu masalah yang sulit, kadang-kadang disebut dengan istilah Jerman '. Istilah ini dicetuskan oleh psikolog dan ahli bahasa teoretis Jerman, Karl Bühler. Hal ini juga dikenal sebagai pencerahan, momen eureka, atau (bagi pemecah teka-teki silang) momen menjatuhkan koin (PDM).[2] Kesadaran yang tiba-tiba dan memuakkan sering kali mengidentifikasi sebuah masalah alih-alih menyelesaikannya, sehingga momen Uh-oh alih-alih momen Aha terlihat dalam wawasan negatif.[3] Contoh lain dari wawasan negatif adalah rasa kecewa yang merupakan rasa jengkel terhadap solusi yang sudah jelas, tetapi tidak ditemukan hingga (mungkin sudah terlambat) mencapai titik wawasan,[4] contohnya adalah seruan Homer Simpson yang terkenal, D'oh!.
Lihat juga
Bacaan lanjutan
Pranala luar
Referensi
- ↑ Kamus Besar Bahasa Indonesia
- ↑ Kathryn J. Friedlander. The Grounded Expertise Components Approach in the Novel Area of Cryptic Crossword Solving. Frontiers in Psychology. 2016. Vol. 7. hlm. 567. doi:10.3389/fpsyg.2016.00567.
- ↑ Gillian Hill. Uh-Oh! What Have We Missed? A Qualitative Investigation into Everyday Insight Experience. The Journal of Creative Behavior. 2016-02-01. Vol. 52 (3). hlm. 201–211. doi:10.1002/jocb.142.
- ↑ Mary L. Gick. The nature of insight. MIT Press. 1995. hlm. 197–228.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28729236 (2025-12-23T02:08:21Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.