Lompat ke isi

Garam cair

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 27 Agustus 2026 09.10 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Garam cair adalah garam yang berbentuk padat pada suhu dan tekanan standar tetapi berubah fase menjadi cair karena kenaikan suhu. Suatu garam yang normalnya berbentuk cair meskipun pada suhu dan tekanan standar biasanya disebut cairan ionik suhu ruang, meskipun secara teknis garam cair adalah bagian dari cairan ionik.

Penggunaan

Garam cair memiliki beragam kegunaan. Campuran garam klorida cair umumnya digunakan sebagai penangas pada perlakuan panas beragam logam paduan, seperti annealing dan martempering baja. Campuran garam sianida dan klorida digunakan untuk modifikasi permukaan logam paduan seperti dan baja. Kriolit (suatu garam fluorida) digunakan sebagai pelarut untuk aluminium oksida pada produksi aluminium dalam proses Hall-Héroult. Garam-garam fluorida, klorida dan hidroksida dapat digunakan sebagai pelarut dalam bahan bakar nuklir. Garam cair (fluorida, klorida, dan nitrat) dapat juga digunakan sebagai selain sebagai penyimpan energi termal. Penyimpanan panas ini biasanya digunakan di pembangkit listrik garam cair.[1]

Garam termal yang umum digunakan adalah campuran eutektik 60% natrium nitrat dan 40% kalium nitrat, yang dapat digunakan sebagai cairan antara 260-550 °C. Ini memiliki panas fusi 161 J/g,[2] dan kapasitas panas 1,53 J/(g K).[3]

Garam eksperimental menggunakan litium dapat memiliki titik leleh 116 °C sementara masih memiliki kapasitas panas 1,54 J/(g K).[4] Garam mungkin berharga $1.000 per ton, dan pabrik dapat menggunakan 30.000 ton garam.[5]

Garam meja reguler memiliki titik lebur 800 °C dan panas fusi 520 J/g.[6][7]

Garam cair suhu sekitar

Garam cair suhu sekitar (juga dikenal sebagai cairan ionik) berada dalam fase cair pada kondisi suhu dan tekanan standar. Contoh dari garam-garam tersebut termasuk campuran N-etilpiridinium bromida dan aluminium klorida, ditemukan pada tahun 1951[8] dan etilamonium nitrat ditemukan oleh Paul Walden. Cairan ionik lain memanfaatkan kation amonium kuaterner asimetris seperti ion imidazolium teralkilasi, dan anion bercabang besar seperti ion bistriflimida.

Lihat juga

Pranala luar

Daftar pustaka

C.F. Baes, The chemistry and thermodynamics of molten salt reactor fuels, Proc. AIME Nuclear Fuel Reprocessing Symposium, Ames, Iowa, USA, 1969 (August 25)

Referensi

  1. Molten Salts systems other applications link to Solar Power Plants. National Renewable Energy Laboratory (NREL).
  2. "Molten salts properties "
  3. Reddy, Ramana G. "Novel Molten Salts Thermal Energy Storage for Concentrating Solar Power Generation " page 9 University of Alabama College of Engineering. Retrieved 9 December 2014.
  4. Reddy, Ramana G. "Novel Molten Salts Thermal Energy Storage for Concentrating Solar Power Generation " page 9 University of Alabama College of Engineering. Retrieved 9 December 2014.
  5. Bullis, Kevin. "Cheap Solar Power at Night " MIT Technology Review, 12 March 2012. Retrieved 9 December 2014.
  6. "NaCl CID 5234, 4.2.14 Other Experimental Properties "
  7. "NaCl Other Chemical/Physical Properties "
  8. Hurley, F. H.; Wier, T. P. J. Electrochem. Soc. 1951, 98, 203.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28008971 (2025-10-16T08:25:26Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.