Taqiyuddin Muhammad bin Ma'ruf: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29298361; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Taqiyuddin Muhammad bin Ma'ruf Asy-Syami As-Sa'di''' (, , ; 1526-1585) adalah seorang [[polimatik]]awan [[Utsmaniyah]] yang aktif di [[Kairo]] dan [[Istanbul]]. Beliau adalah [[penulis]] lebih dari sembilan puluh [[buku]] tentang berbagai bidang, termasuk [[astronomi]], [[Jam (alat)|jam]], [[teknik]], [[matematika]], [[mekanika]], [[optika]] dan [[filsafat alam]]. | [[File:Taqi_al_din.jpg|thumb|right|280px|Taqi al din]] | ||
'''Taqiyuddin Muhammad bin Ma'ruf Asy-Syami As-Sa'di''' (, , ; 1526-1585) adalah seorang [[polimatik]]awan [[Utsmaniyah]] yang aktif di [[Kairo]] dan [[Istanbul]]. Beliau adalah [[penulis]] lebih dari sembilan puluh [[buku]] tentang berbagai bidang, termasuk [[astronomi]], [[Jam (alat)|jam]], [[teknik]], [[matematika]], [[mekanika]], [[optika]] dan [[filsafat alam]].<ref>[http://muslimheritage.com/node/589#ftn9 Taqi al-Din Ibn Ma'ruf: A Bio-Bibliographical Essay Muslim Heritage]. ''muslimheritage.com''.</ref> | |||
Pada tahun 1574 Sultan Utsmaniyah [[Murad III]] mengundang Taqiyuddin untuk membangun [[observatorium]] di ibu kota Utsmaniyah, [[Istanbul]]. Dengan menggunakan pengetahuannya yang luar biasa dalam seni mekanik, Taqiyuddin membuat perangkat seperti [[bola armiler]] besar dan jam mekanik yang dia gunakan dalam pengamatannya terhadap [[Komet Besar 1577]]. Beliau juga menggunakan [[Globe|bola bumi]] dan [[langit]] [[Eropa]] yang dikirim ke Istanbul sebagai pertukaran hadiah. | Pada tahun 1574 Sultan Utsmaniyah [[Murad III]] mengundang Taqiyuddin untuk membangun [[observatorium]] di ibu kota Utsmaniyah, [[Istanbul]]. Dengan menggunakan pengetahuannya yang luar biasa dalam seni mekanik, Taqiyuddin membuat perangkat seperti [[bola armiler]] besar dan jam mekanik yang dia gunakan dalam pengamatannya terhadap [[Komet Besar 1577]]. Beliau juga menggunakan [[Globe|bola bumi]] dan [[langit]] [[Eropa]] yang dikirim ke Istanbul sebagai pertukaran hadiah. | ||
| Baris 5: | Baris 7: | ||
Karya utama yang dihasilkan dari karyanya di observatorium berjudul "Pohon pengetahuan tertinggi [di akhir zaman atau dunia] di Kerajaan Bola Berputar: Tabel astronomi Raja segala Raja [Murad III]" (''Sidratul muntahal afkar fi malkūtul falakul dawār– az-zij asy-Syāhinsyāhi''). Karya tersebut disusun sesuai dengan hasil pengamatan yang dilakukan di [[Eyalet Mesir|Mesir]] dan Istanbul untuk mengoreksi dan melengkapi risalah ''[[Zij-i Sultani]]'' karya [[Ulugh Beg]]. 40 halaman pertama dari karya ini membahas [[perhitungan]], diikuti dengan diskusi tentang jam astronomi, [[lingkaran]] surgawi, dan informasi tentang tiga [[gerhana]] yang dia amati di Kairo dan Istanbul. Untuk menguatkan data pengamatan gerhana lainnya di tempat lain seperti [[Daud]] ar-Riyyadi (David sang Matematikawan), David Ben-Shushan dari Salonika. | Karya utama yang dihasilkan dari karyanya di observatorium berjudul "Pohon pengetahuan tertinggi [di akhir zaman atau dunia] di Kerajaan Bola Berputar: Tabel astronomi Raja segala Raja [Murad III]" (''Sidratul muntahal afkar fi malkūtul falakul dawār– az-zij asy-Syāhinsyāhi''). Karya tersebut disusun sesuai dengan hasil pengamatan yang dilakukan di [[Eyalet Mesir|Mesir]] dan Istanbul untuk mengoreksi dan melengkapi risalah ''[[Zij-i Sultani]]'' karya [[Ulugh Beg]]. 40 halaman pertama dari karya ini membahas [[perhitungan]], diikuti dengan diskusi tentang jam astronomi, [[lingkaran]] surgawi, dan informasi tentang tiga [[gerhana]] yang dia amati di Kairo dan Istanbul. Untuk menguatkan data pengamatan gerhana lainnya di tempat lain seperti [[Daud]] ar-Riyyadi (David sang Matematikawan), David Ben-Shushan dari Salonika. | ||
Sebagai seorang polimatikawan, Taqiyuddin menulis banyak buku tentang astronomi, matematika, mekanika, dan [[teologi]]. Metodenya dalam menemukan [[Tata koordinat langit|koordinat bintang]] dilaporkan sangat tepat sehingga ia mendapatkan pengukuran yang lebih baik daripada rekan sezamannya, [[Tycho Brahe]] dan [[Nicolaus Copernicus]]. Brahe juga diduga mengakui karya Taqiyuddin. | Sebagai seorang polimatikawan, Taqiyuddin menulis banyak buku tentang astronomi, matematika, mekanika, dan [[teologi]]. Metodenya dalam menemukan [[Tata koordinat langit|koordinat bintang]] dilaporkan sangat tepat sehingga ia mendapatkan pengukuran yang lebih baik daripada rekan sezamannya, [[Tycho Brahe]] dan [[Nicolaus Copernicus]]. Brahe juga diduga mengakui karya Taqiyuddin.<ref>Ágoston, Gábor; Masters, Bruce Alan. ''Encyclopedia of the Ottoman Empire'' Infobase Publishing, 2009. p. 552</ref> | ||
Taqiyuddin juga menggambarkan [[turbin uap]] dengan aplikasi praktis memutar [[Rotiseri|batang besi]] pada tahun 1551. Dia mengerjakan dan menciptakan jam astronomi untuk observatoriumnya. Taqi ad-Din juga menulis buku tentang optik, di mana ia menentukan [[cahaya]] yang dipancarkan dari objek, membuktikan [[Refleksi spekuler|Hukum Pemantulan]] secara observasional dan bekerja pada [[Refraksi|pembiasan]]. | Taqiyuddin juga menggambarkan [[turbin uap]] dengan aplikasi praktis memutar [[Rotiseri|batang besi]] pada tahun 1551.<ref>Sevim Tekeli. ''Encyclopaedia of the History of Science, Technology, and Medicine in Non-Western Cultures''. Springer, Dordrecht. 2008. hlm. 2080–2081. doi:10.1007/978-1-4020-4425-0_9065. ISBN 978-1-4020-4559-2.</ref> Dia mengerjakan dan menciptakan jam astronomi untuk observatoriumnya.<ref>''Encyclopaedia of the history of science, technology, and medicine in non-western cultures''. Springer. 2008. ISBN 9781402044250.</ref> Taqi ad-Din juga menulis buku tentang optik, di mana ia menentukan [[cahaya]] yang dipancarkan dari objek, membuktikan [[Refleksi spekuler|Hukum Pemantulan]] secara observasional dan bekerja pada [[Refraksi|pembiasan]].<ref>[http://muslimheritage.com/article/taqi-al-din-ibn-ma%E2%80%98ruf-and-science-optics-nature-light-and-mechanism-vision#sec_4, Taqi al-Din ibn Ma'ruf and the Science of Optics: The Nature of Light and the Mechanism of Vision]. ''muslimheritage.com''.</ref> | ||
==Riwayat== | ==Riwayat== | ||
Taqiyuddin lahir di [[Damaskus]] pada tahun 1526 menurut sebagian besar sumber. Etnisnya telah digambarkan sebagai [[Bangsa Arab|Arab Utsmaniyah]],<ref>Svat Soucek. ''Piri Reis and Ottoman Discovery of the Great Discoveries''. ''Studia Islamica''. 1994. Vol. 79 (79). hlm. 121–142. doi:10.2307/1595839."Two such cases are Piri Reis (d.1554), an Ottoman Turk from Gallipoli, and Taqi al-Din (d.1585), an Ottoman Arab from Damascus. They form the symbolic pivot of my argument."</ref> [[Bangsa Turki|Turki Utsmaniyah]],<ref>" Chief Astronomer Taqi al-Din was born to a family of Turkish descent in Damascus." Hoffmann, Dieter; İhsanoğlu, Ekmeleddin; Djebbar, Ahmed; Günergun, Feza. ''Science, technology, and industry in the Ottoman world'' in ''Volume 6 of Proceedings of the XXth International Congress of History of Science'' p. 19. Publisher Brepols, 2000.</ref> dan [[Suriah Utsmaniyah]].<ref>''Ibn Haytham'', Nader el-Bizri, '''Medieval Science Technology and Medicine: An Encyclopedia''', ed. Thomas F. Glick, Steven Livesey, Faith Wallis, (Taylor & Francis Group, 2005), 239;"''..composed as a commentary on Kamal al-Din's "Tanqih" by Taqi al-Din Muhammad ibn Ma'ruf, the Syrian astronomer at the Ottoman court''".</ref> Dalam risalahnya berjudul "Rayḥānat al-rūḥ", Taqiyuddin sendiri mengklaim keturunan dari [[Dinasti Ayyubiyah|Bani Ayyubiyah]]<ref>Samer Akkach. [https://www.academia.edu/34928342 مرصد اسطنبول: هدم الرصد ورصد الهدم. تطور ثقافة العلوم في الإسلام بعد كوبرنيكوس / Istanbul Observatory: The Ethos of Science in Islam in the Post-Copernican Period]. 2017. hlm. 87. Taqi ad-Din lineage as recorded by himself in his Rayḥānat al-rūḥ: "تقي الدين محمد بن معروف بن أحمد بن محمد بن محمد بن أحمد بن يوسف ابن الأمير ناصر الدين منكويرس ابن الأمير ناصح الدين خمارتكين" "Taqi al-Din Muhammad ibn Ma'ruf ibn Ahmed ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Ahmed ibn Yusuf ibn Nasir al-Din Mankarus ibn Nasih al-Din Khumartekin"</ref><ref>Mona SANJAKDAR Chaarani. [https://www.ziadeh.net/histoire/sanjakdar-taqidin-vie-a.pdf تقي الدين محمد بن معروف الدمشقي - حياته وأعماله]. 2019. hlm. 1.</ref> menelusuri garis keturunannya kembali ke pangeran Ayyubiyah Nasir al-Din Mankarus ibn Nasih al-Din Khumartekin yang memerintah [[Abu Qubays]] di [[Syam|Suriah]] selama 12 [[abad]].<ref>Lyons, Malcolm Cameron; Jackson, D. E. P. (1984). Saladin: The Politics of the Holy War. Cambridge University Press. p. 195.</ref> ''[[Encyclopaedia of Islam]]'' tidak menyebutkan etnisitasnya, hanya menyebutnya, ''"..astronom paling penting dari Turki Utsmani"''.<ref>''Taki al-Din'', D.A. King, '''The Encyclopaedia of Islam''', Vol. X, ed. PJ. Bearman, TH. Bianquis, C. E. Bosworth, E. van Donzel and W. P. Heinrichs, (Brill, 2000), 132.</ref> | |||
Pendidikan Taqi ad-Din dimulai dari teologi dan semakin lama semakin tertarik pada [[ilmu]]-ilmu rasional. Mengikuti minatnya, ia akan mulai mempelajari ilmu-ilmu [[rasional]] di Damaskus dan Kairo. Selama waktu itu ia belajar bersama ayahnya Maʿruf Efendi. Al-Dn kemudian mengajar di berbagai madaris dan menjabat sebagai qadi atau [[hakim]], di [[Palestina]], Damaskus, dan Kairo. Dia tinggal di Mesir dan Damaskus untuk beberapa waktu dan sementara dia di sana dia menciptakan pekerjaan di bidang astronomi dan matematika. Karyanya dalam kategori ini pada akhirnya akan menjadi penting. Dia menjadi [[Munajjim basyi|kepala astronom]] untuk Sultan pada tahun 1571 setahun setelah dia datang ke Istanbul, menggantikan [[Musthafa bin Ali|Mustafa ibn Ali al-Muwaqqit]].<ref>Sevim Tekeli. ''Encyclopaedia of the History of Science, Technology, and Medicine in Non-Western Cultures''. Springer, Dordrecht. 2008. hlm. 2080–2081. doi:10.1007/978-1-4020-4425-0_9065. ISBN 978-1-4020-4559-2.</ref><ref>Salim Ayduz. ''Taqī al-Dīn ibn Maʿrūf''. The Oxford Encyclopedia of Philosophy, Science, and Technology in Islam. Oxford Islamic Studies Online.</ref> | |||
Pendidikan Taqi ad-Din dimulai dari teologi dan semakin lama semakin tertarik pada [[ilmu]]-ilmu rasional. Mengikuti minatnya, ia akan mulai mempelajari ilmu-ilmu [[rasional]] di Damaskus dan Kairo. Selama waktu itu ia belajar bersama ayahnya Maʿruf Efendi. Al-Dn kemudian mengajar di berbagai madaris dan menjabat sebagai qadi atau [[hakim]], di [[Palestina]], Damaskus, dan Kairo. Dia tinggal di Mesir dan Damaskus untuk beberapa waktu dan sementara dia di sana dia menciptakan pekerjaan di bidang astronomi dan matematika. Karyanya dalam kategori ini pada akhirnya akan menjadi penting. Dia menjadi [[Munajjim basyi|kepala astronom]] untuk Sultan pada tahun 1571 setahun setelah dia datang ke Istanbul, menggantikan [[Musthafa bin Ali|Mustafa ibn Ali al-Muwaqqit]]. | |||
Taqiyuddin | Taqiyuddin memelihara ikatan yang kuat dengan orang-orang dari [[ulama]] dan [[negarawan]]. Dia akan menyampaikan [[informasi]] kepada Sultan Murad III yang memiliki minat dalam [[astronomi]] tetapi juga dalam [[astrologi]]. Informasi tersebut menyatakan bahwa risalah ''Zij'' karya [[Ulugh Beg]] memiliki kesalahan pengamatan tertentu. Taqiyuddin memberikan saran bahwa kesalahan tersebut dapat diperbaiki jika ada [[pengamatan]] baru yang dilakukan. Dia juga menyarankan bahwa sebuah [[observatorium]] harus dibuat di Istanbul untuk membuat situasi itu lebih mudah. Murad III akan menjadi pelindung observatorium pertama di Istanbul. Dia lebih suka pembangunan observatorium baru segera dimulai. Karena Murad III adalah pelindung, dia akan membantu keuangan untuk proyek tersebut.<ref>Salim Ayduz. ''Taqī al-Dīn ibn Maʿrūf''. The Oxford Encyclopedia of Philosophy, Science, and Technology in Islam. Oxford Islamic Studies Online.</ref> | ||
Taqiyuddin | Taqiyuddin melanjutkan studinya di [[Menara Galata]] selama ini. Studinya berlanjut hingga tahun 1577 di observatorium yang hampir selesai, yang disebut ''Darur Rasad al-Jadid''. Observatorium baru ini berisi [[perpustakaan]] yang menyimpan [[buku]]-buku dengan tema astronomi dan matematika. Observatorium, yang dibangun di bagian atas [[Tophane]] di Istanbul, terbuat dari dua [[bangunan]] terpisah. Satu bangunan besar dan yang lainnya kecil. Taqiyuddin memiliki beberapa perangkat yang digunakan di observatorium [[Islam]] kuno. Dia mereproduksi perangkat-perangkat itu dan juga menciptakan perangkat-perangkat baru yang akan digunakan untuk tujuan pengamatan. Staf di observatorium baru terdiri dari enam belas orang. Delapan dari mereka adalah pengamat atau ''rasid'', empat di antaranya adalah juru tulis, dan empat lainnya sebagai asisten.<ref>Salim Ayduz. ''Taqī al-Dīn ibn Maʿrūf''. The Oxford Encyclopedia of Philosophy, Science, and Technology in Islam. Oxford Islamic Studies Online.</ref> | ||
Taqiyuddin melakukan pendekatan pengamatannya dengan cara yang kreatif dan menemukan jawaban baru untuk masalah astronomi karena strategi baru yang ia temukan bersama dengan peralatan baru yang ia temukan juga. Dia membuat [[tabel]] [[trigonometri]] berdasarkan [[pecahan]] [[desimal]]. Tabel ini menempatkan [[ekliptika]] pada 23° 28' 40". Nilai saat ini adalah 23° 27' menunjukkan bahwa instrumen dan metode Taqiyuddin lebih tepat. Taqiyuddin menggunakan metode baru untuk menghitung parameter [[matahari]] dan untuk menentukan besarnya pergerakan tahunan puncak matahari sebagai 63 detik. Nilai yang diketahui hari ini adalah 61 detik. Copernicus muncul dengan 24 detik dan Tycho Brahe memiliki 45 detik tetapi Taqiyuddin lebih akurat daripada keduanya.<ref>Salim Ayduz. ''Taqī al-Dīn ibn Maʿrūf''. The Oxford Encyclopedia of Philosophy, Science, and Technology in Islam. Oxford Islamic Studies Online.</ref> | |||
Tujuan utama di balik observatorium adalah untuk memenuhi kebutuhan para [[astronom]] dan menyediakan perpustakaan dan [[bengkel]] sehingga mereka dapat merancang dan memproduksi perangkat. Observatorium ini akan menjadi salah satu yang terbesar di [[dunia Islam]]. Observatorium tersebut selesai dibangun pada tahun 1579 dan terus beroperasi hingga 22 Januari 1580, saat dihancurkan. Ada yang mengatakan bahwa [[agama]] adalah alasan mengapa observatorium tersebut dihancurkan, tetapi itu benar-benar bermuara pada masalah [[politik]]. Sebuah laporan oleh [[wazir agung]] [[Koca Sinan Pasha]] kepada [[Sultan]] [[Murad III]] menjelaskan bagaimana Sultan dan wazir berusaha untuk menjauhkan Taqiyuddin dari para ulama karena sepertinya mereka ingin membawanya ke pengadilan karena [[Bidah|bid'ah]]. Wazir menginformasikan sultan bahwa Taqiyuddin ingin pergi ke Suriah terlepas dari perintah sultan. Wazir juga memperingatkan sultan bahwa jika Taqiyuddin pergi ke sana, ada kemungkinan dia akan dikenali oleh para [[ulama]] yang akan membawanya ke [[pengadilan]]. | Tujuan utama di balik observatorium adalah untuk memenuhi kebutuhan para [[astronom]] dan menyediakan perpustakaan dan [[bengkel]] sehingga mereka dapat merancang dan memproduksi perangkat. Observatorium ini akan menjadi salah satu yang terbesar di [[dunia Islam]]. Observatorium tersebut selesai dibangun pada tahun 1579 dan terus beroperasi hingga 22 Januari 1580, saat dihancurkan. Ada yang mengatakan bahwa [[agama]] adalah alasan mengapa observatorium tersebut dihancurkan, tetapi itu benar-benar bermuara pada masalah [[politik]]. Sebuah laporan oleh [[wazir agung]] [[Koca Sinan Pasha]] kepada [[Sultan]] [[Murad III]] menjelaskan bagaimana Sultan dan wazir berusaha untuk menjauhkan Taqiyuddin dari para ulama karena sepertinya mereka ingin membawanya ke pengadilan karena [[Bidah|bid'ah]]. Wazir menginformasikan sultan bahwa Taqiyuddin ingin pergi ke Suriah terlepas dari perintah sultan. Wazir juga memperingatkan sultan bahwa jika Taqiyuddin pergi ke sana, ada kemungkinan dia akan dikenali oleh para [[ulama]] yang akan membawanya ke [[pengadilan]].<ref>Salim Ayduz. ''Taqī al-Dīn ibn Maʿrūf''. The Oxford Encyclopedia of Philosophy, Science, and Technology in Islam. Oxford Islamic Studies Online.</ref> | ||
Terlepas dari orisinalitas Taqiyuddin, pengaruhnya tampaknya terbatas. Hanya ada sedikit salinan karya-karyanya yang masih bertahan sehingga tidak dapat menjangkau banyak orang. Komentarnya yang dikenal sangat sedikit. Namun, salah satu karyanya dan bagian dari perpustakaan yang dia miliki mencapai [[Eropa Barat]] dengan cukup cepat. Ini berkat upaya pengumpulan [[manuskrip]] [[Jacob Golius]], seorang [[profesor]] [[bahasa Arab]] dan matematika [[Belanda]] di [[Universitas Leiden]]. Golius melakukan perjalanan ke Istanbul pada awal abad ketujuh belas. Pada 1629 ia menulis surat kepada [[Constantijn Huygens]] yang berbicara tentang melihat karya Taqiyuddin tentang [[optika]] di Istanbul. Dia berpendapat bahwa dia tidak bisa mendapatkan itu dari teman-temannya bahkan setelah semua usahanya. Dia pasti berhasil memperolehnya nanti karena karya Taqiyuddin tentang optik pada akhirnya akan sampai ke [[Bodleian Library|Perpustakaan Bodleian]] dengan kode ''Marsh 119''. Awalnya dalam koleksi Golius sehingga jelas bahwa Golius akhirnya berhasil memperolehnya. | Terlepas dari orisinalitas Taqiyuddin, pengaruhnya tampaknya terbatas. Hanya ada sedikit salinan karya-karyanya yang masih bertahan sehingga tidak dapat menjangkau banyak orang. Komentarnya yang dikenal sangat sedikit. Namun, salah satu karyanya dan bagian dari perpustakaan yang dia miliki mencapai [[Eropa Barat]] dengan cukup cepat. Ini berkat upaya pengumpulan [[manuskrip]] [[Jacob Golius]], seorang [[profesor]] [[bahasa Arab]] dan matematika [[Belanda]] di [[Universitas Leiden]]. Golius melakukan perjalanan ke Istanbul pada awal abad ketujuh belas. Pada 1629 ia menulis surat kepada [[Constantijn Huygens]] yang berbicara tentang melihat karya Taqiyuddin tentang [[optika]] di Istanbul. Dia berpendapat bahwa dia tidak bisa mendapatkan itu dari teman-temannya bahkan setelah semua usahanya. Dia pasti berhasil memperolehnya nanti karena karya Taqiyuddin tentang optik pada akhirnya akan sampai ke [[Bodleian Library|Perpustakaan Bodleian]] dengan kode ''Marsh 119''. Awalnya dalam koleksi Golius sehingga jelas bahwa Golius akhirnya berhasil memperolehnya.<ref>Salim Ayduz. ''Taqī al-Dīn ibn Maʿrūf''. The Oxford Encyclopedia of Philosophy, Science, and Technology in Islam. Oxford Islamic Studies Online.</ref> | ||
Menurut Salomon Schweigger, pendeta duta besar [[Habsburg]] Johann Joachim von Zinzendorf, Taqiyuddin adalah seorang penipu yang menipu Sultan Murad III dan membuatnya menghabiskan sumber daya yang sangat besar. | Menurut Salomon Schweigger, pendeta duta besar [[Habsburg]] Johann Joachim von Zinzendorf, Taqiyuddin adalah seorang penipu yang menipu Sultan Murad III dan membuatnya menghabiskan sumber daya yang sangat besar.<ref>Salomon Schweigger, Ein newe Reyssbeschreibung auss Teutschland nach Constantinopel und Jerusalem (Graz, 1964), 90–1.</ref> | ||
==Observatorium Konstantinopel== | ==Observatorium Konstantinopel== | ||
Taqiyuddin adalah pendiri dan [[direktur]] [[Observatorium Taqiyuddin Konstantinopel|Observatorium Konstantinopel]], yang juga dikenal sebagai Observatorium Istanbul. Observatorium ini sering dikatakan sebagai salah satu kontribusi Taqiyuddin yang paling penting bagi astronomi Islam dan Utsmaniyah abad ke-16. Bahkan, itu dikenal sebagai salah satu observatorium terbesar dalam [[sejarah]] Islam. Hal ini sering dibandingkan dengan [[Observatorium Uraniborg]] [[Tycho Brahe]], yang dikatakan sebagai rumah bagi perangkat terbaik pada masanya di Eropa. Faktanya, Brahe dan Taqiyuddin telah sering dibandingkan untuk pekerjaan mereka dalam astronomi abad keenam belas. Pendirian Observatorium Konstantinopel dimulai ketika Taqiyuddin kembali ke Istanbul pada tahun 1570, setelah menghabiskan 20 tahun di Mesir mengembangkan pengetahuan astronomi dan matematikanya. Tak lama setelah kembali, Sultan [[Selim II]] mengangkat Taqiyuddin sebagai kepala astronom (''[[Munajjim basyi]]''), setelah kematian kepala astronom sebelumnya Muṣṭafā bin Alī al-Muwaqqit pada tahun 1571. Selama tahun-tahun awal posisinya sebagai kepala astronom, Taqiyuddin bekerja di Menara Galata dan bangunan yang menghadap ke Tophane. Saat bekerja di gedung-gedung ini, ia mulai mendapatkan dukungan dan kepercayaan dari banyak pejabat penting Utsmaniyah. Hubungan yang baru ditemukan ini mengarah pada dekrit kekaisaran pada tahun 1569 dari Sultan Murad III, yang menyerukan pembangunan Observatorium Konstantinopel. Observatorium ini menjadi rumah bagi banyak buku dan perangkat penting, serta banyak [[cendekiawan]] terkenal saat itu. Meskipun tidak banyak yang diketahui tentang karakteristik arsitektur bangunan, ada banyak penggambaran para cendekiawan dan perangkat astronomi yang ada di observatorium. Namun, karena konflik politik, observatorium ini berumur pendek. Observatorium tersebut ditutup pada tahun 1579 dan, dihancurkan seluruhnya oleh [[negara]] pada tanggal 22 Januari 1580, hanya 11 tahun setelah dekrit kekaisaran untuk pembangunannya. | Taqiyuddin adalah pendiri dan [[direktur]] [[Observatorium Taqiyuddin Konstantinopel|Observatorium Konstantinopel]], yang juga dikenal sebagai Observatorium Istanbul.<ref>İhsan Fazlıoğlu. ''Biographical Encyclopedia of Astronomers''. Springer, New York, NY. 2014. hlm. 2123–2126. doi:10.1007/978-1-4419-9917-7_1360. ISBN 978-1-4419-9916-0.</ref> Observatorium ini sering dikatakan sebagai salah satu kontribusi Taqiyuddin yang paling penting bagi astronomi Islam dan Utsmaniyah abad ke-16.<ref>Sevim Tekeli. ''Encyclopaedia of the History of Science, Technology, and Medicine in Non-Western Cultures''. Springer, Dordrecht. 2008. hlm. 2080–2081. doi:10.1007/978-1-4020-4425-0_9065. ISBN 978-1-4020-4559-2.</ref> Bahkan, itu dikenal sebagai salah satu observatorium terbesar dalam [[sejarah]] Islam. Hal ini sering dibandingkan dengan [[Observatorium Uraniborg]] [[Tycho Brahe]], yang dikatakan sebagai rumah bagi perangkat terbaik pada masanya di Eropa. Faktanya, Brahe dan Taqiyuddin telah sering dibandingkan untuk pekerjaan mereka dalam astronomi abad keenam belas.<ref>Sevim Tekeli. ''Encyclopaedia of the History of Science, Technology, and Medicine in Non-Western Cultures''. Springer, Dordrecht. 2008. hlm. 2080–2081. doi:10.1007/978-1-4020-4425-0_9065. ISBN 978-1-4020-4559-2.</ref> Pendirian Observatorium Konstantinopel dimulai ketika Taqiyuddin kembali ke Istanbul pada tahun 1570, setelah menghabiskan 20 tahun di Mesir mengembangkan pengetahuan astronomi dan matematikanya.<ref>İhsan Fazlıoğlu. ''Biographical Encyclopedia of Astronomers''. Springer, New York, NY. 2014. hlm. 2123–2126. doi:10.1007/978-1-4419-9917-7_1360. ISBN 978-1-4419-9916-0.</ref> Tak lama setelah kembali, Sultan [[Selim II]] mengangkat Taqiyuddin sebagai kepala astronom (''[[Munajjim basyi]]''), setelah kematian kepala astronom sebelumnya Muṣṭafā bin Alī al-Muwaqqit pada tahun 1571.<ref>İhsan Fazlıoğlu. ''Biographical Encyclopedia of Astronomers''. Springer, New York, NY. 2014. hlm. 2123–2126. doi:10.1007/978-1-4419-9917-7_1360. ISBN 978-1-4419-9916-0.</ref> Selama tahun-tahun awal posisinya sebagai kepala astronom, Taqiyuddin bekerja di Menara Galata dan bangunan yang menghadap ke Tophane.<ref>İhsan Fazlıoğlu. ''Biographical Encyclopedia of Astronomers''. Springer, New York, NY. 2014. hlm. 2123–2126. doi:10.1007/978-1-4419-9917-7_1360. ISBN 978-1-4419-9916-0.</ref> Saat bekerja di gedung-gedung ini, ia mulai mendapatkan dukungan dan kepercayaan dari banyak pejabat penting Utsmaniyah. Hubungan yang baru ditemukan ini mengarah pada dekrit kekaisaran pada tahun 1569 dari Sultan Murad III, yang menyerukan pembangunan Observatorium Konstantinopel. Observatorium ini menjadi rumah bagi banyak buku dan perangkat penting, serta banyak [[cendekiawan]] terkenal saat itu. Meskipun tidak banyak yang diketahui tentang karakteristik arsitektur bangunan, ada banyak penggambaran para cendekiawan dan perangkat astronomi yang ada di observatorium. Namun, karena konflik politik, observatorium ini berumur pendek.<ref>Giancarlo Casale. ''The Ottoman Age of Exploration''. Oxford University Press. 2010. hlm. 162. ISBN 978-0-19-537782-8.</ref> Observatorium tersebut ditutup pada tahun 1579 dan, dihancurkan seluruhnya oleh [[negara]] pada tanggal 22 Januari 1580, hanya 11 tahun setelah dekrit kekaisaran untuk pembangunannya.<ref>İhsan Fazlıoğlu. ''Biographical Encyclopedia of Astronomers''. Springer, New York, NY. 2014. hlm. 2123–2126. doi:10.1007/978-1-4419-9917-7_1360. ISBN 978-1-4419-9916-0.</ref> | ||
===Politik=== | ===Politik=== | ||
Naik turunnya Taqiyuddin dan observatoriumnya bergantung pada isu-isu politik yang melingkupinya. Karena pekerjaan ayahnya sebagai profesor di Sekolah Tinggi hukum Damaskus, Taqiyuddin menghabiskan sebagian besar hidupnya di Suriah dan Mesir. Selama perjalanannya ke Istanbul, ia dapat menjalin hubungan dengan banyak sarjana dan ahli hukum. Dia juga dapat menggunakan perpustakaan pribadi Wazir Agung saat itu, [[Semiz Ali Pasha]]. Dia kemudian mulai bekerja di bawah Wazir Agung baru Sultan Murad III, mentor pribadi Sa'deddin. Melanjutkan penelitiannya tentang pengamatan langit selama di Mesir Taqiyuddin menggunakan menara Galata dan kediaman pribadi Sa'deddin. Meskipun Murad III adalah orang yang memerintahkan untuk membangun sebuah observatorium, sebenarnya Sa'deddin-lah yang membawa ide itu kepadanya karena mengetahui minatnya pada pengembangan [[ilmu]]. Sultan pada akhirnya akan memberikan Taqiyuddin segala yang dia butuhkan dari bantuan keuangan untuk bangunan fisik, hingga bantuan intelektual yang memastikan dia memiliki akses mudah ke berbagai jenis buku yang dia perlukan. Ketika Sultan memutuskan untuk membuat observatorium, dia melihatnya sebagai cara untuk memamerkan [[Khilafah|kekuatan monarkinya]] selain hanya secara finansial mendukungnya. Murad III menunjukkan kekuatannya dengan membawa Taqiyuddin dan beberapa orang yang paling berprestasi di bidang astronomi bersama-sama untuk bekerja menuju satu tujuan dan tidak hanya membuat mereka bekerja sama dengan baik tetapi juga membuat kemajuan di lapangan. Murad III memastikan bahwa ada bukti pencapaiannya dengan meminta sejarawan istananya Seyyid Lokman menyimpan catatan yang sangat rinci tentang pekerjaan yang terjadi di observatorium. Seyyid Lokman menulis bahwa monarki sultannya jauh lebih kuat daripada yang lain di [[Irak]], [[Persia]], dan [[Anatolia]]. Dia juga mengklaim bahwa Murad III berada di atas [[sultan]] dan [[raja]] lain karena hasil observatorium itu baru bagi dunia dan menggantikan banyak lainnya. | Naik turunnya Taqiyuddin dan observatoriumnya bergantung pada isu-isu politik yang melingkupinya. Karena pekerjaan ayahnya sebagai profesor di Sekolah Tinggi hukum Damaskus, Taqiyuddin menghabiskan sebagian besar hidupnya di Suriah dan Mesir. Selama perjalanannya ke Istanbul, ia dapat menjalin hubungan dengan banyak sarjana dan ahli hukum. Dia juga dapat menggunakan perpustakaan pribadi Wazir Agung saat itu, [[Semiz Ali Pasha]]. Dia kemudian mulai bekerja di bawah Wazir Agung baru Sultan Murad III, mentor pribadi Sa'deddin. Melanjutkan penelitiannya tentang pengamatan langit selama di Mesir Taqiyuddin menggunakan menara Galata dan kediaman pribadi Sa'deddin. Meskipun Murad III adalah orang yang memerintahkan untuk membangun sebuah observatorium, sebenarnya Sa'deddin-lah yang membawa ide itu kepadanya karena mengetahui minatnya pada pengembangan [[ilmu]].<ref>Tezcan, Baki. "Some Thoughts on the Politics of Early Modern Ottoman Science." ''Osmanlı Araştırmaları'' 36, no. 36 (2010).</ref> Sultan pada akhirnya akan memberikan Taqiyuddin segala yang dia butuhkan dari bantuan keuangan untuk bangunan fisik, hingga bantuan intelektual yang memastikan dia memiliki akses mudah ke berbagai jenis buku yang dia perlukan. Ketika Sultan memutuskan untuk membuat observatorium, dia melihatnya sebagai cara untuk memamerkan [[Khilafah|kekuatan monarkinya]] selain hanya secara finansial mendukungnya. Murad III menunjukkan kekuatannya dengan membawa Taqiyuddin dan beberapa orang yang paling berprestasi di bidang astronomi bersama-sama untuk bekerja menuju satu tujuan dan tidak hanya membuat mereka bekerja sama dengan baik tetapi juga membuat kemajuan di lapangan.<ref>Tezcan, Baki. "Some Thoughts on the Politics of Early Modern Ottoman Science." ''Osmanlı Araştırmaları'' 36, no. 36 (2010).</ref> Murad III memastikan bahwa ada bukti pencapaiannya dengan meminta sejarawan istananya Seyyid Lokman menyimpan catatan yang sangat rinci tentang pekerjaan yang terjadi di observatorium. Seyyid Lokman menulis bahwa monarki sultannya jauh lebih kuat daripada yang lain di [[Irak]], [[Persia]], dan [[Anatolia]].<ref>Tezcan, Baki. "Some Thoughts on the Politics of Early Modern Ottoman Science." ''Osmanlı Araştırmaları'' 36, no. 36 (2010).</ref> Dia juga mengklaim bahwa Murad III berada di atas [[sultan]] dan [[raja]] lain karena hasil observatorium itu baru bagi dunia dan menggantikan banyak lainnya.<ref>Tezcan, Baki. "Some Thoughts on the Politics of Early Modern Ottoman Science." ''Osmanlı Araştırmaları'' 36, no. 36 (2010).</ref> | ||
==Perangkat yang digunakan di Observatorium== | ==Perangkat yang digunakan di Observatorium== | ||
Taqiyuddin menggunakan berbagai instrumen untuk membantu pekerjaannya di observatorium. Beberapa adalah instrumen yang sudah digunakan oleh para astronom Eropa sementara yang lain dia ciptakan sendiri. Saat bekerja di observatorium ini, Taqiyuddin tidak hanya mengoperasikan banyak instrumen dan teknik yang dibuat sebelumnya, tetapi ia juga mengembangkan banyak instrumen dan teknik baru. Dari penemuan-penemuan baru ini, jam mekanis otomatis dianggap sebagai salah satu yang paling penting yang dikembangkan di Observatorium Konstantinopel. | Taqiyuddin menggunakan berbagai instrumen untuk membantu pekerjaannya di observatorium. Beberapa adalah instrumen yang sudah digunakan oleh para astronom Eropa sementara yang lain dia ciptakan sendiri. Saat bekerja di observatorium ini, Taqiyuddin tidak hanya mengoperasikan banyak instrumen dan teknik yang dibuat sebelumnya, tetapi ia juga mengembangkan banyak instrumen dan teknik baru.<ref>İhsan Fazlıoğlu. ''Biographical Encyclopedia of Astronomers''. Springer, New York, NY. 2014. hlm. 2123–2126. doi:10.1007/978-1-4419-9917-7_1360. ISBN 978-1-4419-9916-0.</ref> Dari penemuan-penemuan baru ini, jam mekanis otomatis dianggap sebagai salah satu yang paling penting yang dikembangkan di Observatorium Konstantinopel.<ref>Sevim Tekeli. ''Encyclopaedia of the History of Science, Technology, and Medicine in Non-Western Cultures''. Springer, Dordrecht. 2008. hlm. 2080–2081. doi:10.1007/978-1-4020-4425-0_9065. ISBN 978-1-4020-4559-2.</ref> | ||
*Masing-masing instrumen ini pertama kali dijelaskan oleh [[Klaudius Ptolemaeus]]. | *Masing-masing instrumen ini pertama kali dijelaskan oleh [[Klaudius Ptolemaeus]].<ref>İhsan Fazlıoğlu. ''Biographical Encyclopedia of Astronomers''. Springer, New York, NY. 2014. hlm. 2123–2126. doi:10.1007/978-1-4419-9917-7_1360. ISBN 978-1-4419-9916-0.</ref> | ||
**Sebuah [[bola armiler]]Model benda langit dengan cincin yang mewakili [[garis bujur]] dan [[garis lintang]]. | **Sebuah [[bola armiler]]Model benda langit dengan cincin yang mewakili [[garis bujur]] dan [[garis lintang]]. | ||
**Penggaris paralaktikajuga dikenal sebagai [[musalasah]] digunakan untuk menghitung ketinggian benda langit. | **Penggaris paralaktikajuga dikenal sebagai [[musalasah]] digunakan untuk menghitung ketinggian benda langit. | ||
**[[Astrolab]]mengukur kemiringan [[benda langit]]. | **[[Astrolab]]mengukur kemiringan [[benda langit]]. | ||
*Perangkat ini ditemukan oleh [[Astronomi di dunia Islam pada Abad Pertengahan|astronom Muslim]]. | *Perangkat ini ditemukan oleh [[Astronomi di dunia Islam pada Abad Pertengahan|astronom Muslim]].<ref>İhsan Fazlıoğlu. ''Biographical Encyclopedia of Astronomers''. Springer, New York, NY. 2014. hlm. 2123–2126. doi:10.1007/978-1-4419-9917-7_1360. ISBN 978-1-4419-9916-0.</ref> | ||
**Kuadran magdara, salah satu jenis [[busur magdara]] untuk pengukuran [[sudut]] dari 0 sampai 90 [[derajat]]. | **Kuadran magdara, salah satu jenis [[busur magdara]] untuk pengukuran [[sudut]] dari 0 sampai 90 [[derajat]]. | ||
**Kuadran azimut | **Kuadran azimut | ||
*Perangkat yang ditemukan oleh Taqiyuddin untuk digunakan dalam pekerjaannya sendiri.<ul><li href="Murad III">[[Penggaris sejajar]]</li><li href="Armillary sphere">Kuadran Penggaris atau Kuadran Kayu, perangkat dengan dua lubang untuk mengukur diameter semu dan gerhana.</li><li href="Great Comet of 1577">Jam mekanis dengan rangkaian roda gigi membantu mengukur kenaikan sebenarnya dari bintang-bintang.</li><li>''Muşabbaha bi'l-menatık'', sebuah perangkat dengan akord untuk menentukan ekuinoks, diciptakan untuk menggantikan armillary ekuinoks.</li></ul> | *Perangkat yang ditemukan oleh Taqiyuddin untuk digunakan dalam pekerjaannya sendiri.<ref>İhsan Fazlıoğlu. ''Biographical Encyclopedia of Astronomers''. Springer, New York, NY. 2014. hlm. 2123–2126. doi:10.1007/978-1-4419-9917-7_1360. ISBN 978-1-4419-9916-0.</ref><ul><li href="Murad III">[[Penggaris sejajar]]</li><li href="Armillary sphere">Kuadran Penggaris atau Kuadran Kayu, perangkat dengan dua lubang untuk mengukur diameter semu dan gerhana.</li><li href="Great Comet of 1577">Jam mekanis dengan rangkaian roda gigi membantu mengukur kenaikan sebenarnya dari bintang-bintang.</li><li>''Muşabbaha bi'l-menatık'', sebuah perangkat dengan akord untuk menentukan ekuinoks, diciptakan untuk menggantikan armillary ekuinoks.<ref>''Encyclopaedia of the history of science, technology, and medicine in non-western cultures''. Springer. 2008. ISBN 9781402044250.</ref></li></ul> | ||
*Penggaris Sunaydi yang tampaknya merupakan jenis alat bantu yang khusus, yang fungsinya dijelaskan oleh Alaeddin el-Mansur. | *Penggaris Sunaydi yang tampaknya merupakan jenis alat bantu yang khusus, yang fungsinya dijelaskan oleh Alaeddin el-Mansur.<ref>Ekmeleddin İHSANOĞLU. [http://journals.manas.edu.kg/mjtc/oldarchives/2004/23_790-2055-1-PB.pdf Science in the Ottoman Empire]. 2004.</ref> | ||
==Sumbangsih== | ==Sumbangsih== | ||
===Jam mekanik=== | ===Jam mekanik=== | ||
====Peningkatan penggunaan jam di Kekaisaran Utsmaniyah==== | ====Peningkatan penggunaan jam di Kekaisaran Utsmaniyah==== | ||
Sebelum abad keenam belas, [[Jam (alat)|jam mekanis]] [[Eropa]] tidak banyak diminati. Minimnya permintaan ini disebabkan oleh harga yang sangat mahal dan kurangnya ketelitian yang dibutuhkan oleh penduduk yang harus menghitung kapan harus melaksanakan [[shalat]]. Penggunaan jam pasir, [[jam air]], dan jam matahari sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka. | Sebelum abad keenam belas, [[Jam (alat)|jam mekanis]] [[Eropa]] tidak banyak diminati. Minimnya permintaan ini disebabkan oleh harga yang sangat mahal dan kurangnya ketelitian yang dibutuhkan oleh penduduk yang harus menghitung kapan harus melaksanakan [[shalat]]. Penggunaan jam pasir, [[jam air]], dan jam matahari sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.<ref>Ekmeleddin ihsanoglu. ''Science, Technology, and Learning in the Ottoman Empire''. Ashgate Publishing Company. 2004. hlm. 20. ISBN 978-0-86078-924-6.</ref> | ||
Baru sekitar tahun 1547 Utsmani mulai menciptakan permintaan yang tinggi untuk mereka. Awalnya, ini dimulai dengan hadiah yang dibawa oleh Austria tetapi ini akhirnya memulai pasar untuk jam. Pembuat jam Eropa mulai membuat jam yang dirancang untuk selera dan kebutuhan orang-orang Utsmaniyah. Mereka melakukan ini dengan menunjukkan [[fase bulan]] dan dengan menggunakan angka Utsmaniyah. | Baru sekitar tahun 1547 Utsmani mulai menciptakan permintaan yang tinggi untuk mereka. Awalnya, ini dimulai dengan hadiah yang dibawa oleh Austria tetapi ini akhirnya memulai pasar untuk jam. Pembuat jam Eropa mulai membuat jam yang dirancang untuk selera dan kebutuhan orang-orang Utsmaniyah. Mereka melakukan ini dengan menunjukkan [[fase bulan]] dan dengan menggunakan angka Utsmaniyah.<ref>Ekmeleddin ihsanoglu. ''Science, Technology, and Learning in the Ottoman Empire''. Ashgate Publishing Company. 2004. hlm. 20. ISBN 978-0-86078-924-6.</ref> | ||
====Karya Taqiyuddin==== | ====Karya Taqiyuddin==== | ||
Karena tingginya permintaan akan jam mekanik ini, Taqiyuddin diminta oleh Wazir Agung untuk membuat jam yang akan menunjukkan dengan tepat kapan azan dikumandangkan. Hal ini akan membawanya untuk menulis buku pertamanya tentang konstruksi jam mekanik yang disebut, "al-Kawakib al-Durriya fi Bengamat al-Dawriyya" pada tahun 1563 M yang ia gunakan selama penelitiannya di observatorium berumur pendek. Dia percaya bahwa akan menguntungkan untuk membawa "persepsi kedap udara dan suling sejati dari gerakan benda-benda langit." Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana jam berjalan, Taqiyuddin meluangkan waktu untuk mendapatkan pengetahuan dari banyak pembuat jam Eropa serta masuk ke perbendaharaan [[Semiz Ali Pasha]] dan mempelajari apa pun yang dia bisa dari banyak jam yang dia miliki. | Karena tingginya permintaan akan jam mekanik ini, Taqiyuddin diminta oleh Wazir Agung untuk membuat jam yang akan menunjukkan dengan tepat kapan azan dikumandangkan. Hal ini akan membawanya untuk menulis buku pertamanya tentang konstruksi jam mekanik yang disebut, "al-Kawakib al-Durriya fi Bengamat al-Dawriyya" pada tahun 1563 M yang ia gunakan selama penelitiannya di observatorium berumur pendek.<ref>Stolz, Daniel A. "POSITIONING THE WATCH HAND: 'ULAMA' AND THE PRACTICE OF MECHANICAL TIMEKEEPING IN CAIRO, 1737–1874." 47, no. 3 (2015): 489-510.</ref> Dia percaya bahwa akan menguntungkan untuk membawa "persepsi kedap udara dan suling sejati dari gerakan benda-benda langit."<ref>Ben-Zaken Avner. ''The Heavens of the Sky and the Heavens of the Heart: The Ottoman Cultural Context for the Introduction of Post-Copernican Astronomy''. ''The British Journal for the History of Science''. 2004. Vol. 37 (1). hlm. 1–28. doi:10.1017/S0007087403005302.</ref> Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana jam berjalan, Taqiyuddin meluangkan waktu untuk mendapatkan pengetahuan dari banyak pembuat jam Eropa serta masuk ke perbendaharaan [[Semiz Ali Pasha]] dan mempelajari apa pun yang dia bisa dari banyak jam yang dia miliki.<ref>Ekmeleddin ihsanoglu. ''Science, Technology, and Learning in the Ottoman Empire''. Ashgate Publishing Company. 2004. hlm. 20. ISBN 978-0-86078-924-6.</ref> | ||
====Pengujian ketepatan jam==== | ====Pengujian ketepatan jam==== | ||
Pada jam di perbendaharaan [[Wazir Agung]], Taqiyuddin memeriksa tiga jenis yang berbeda. Ketiganya digerakkan oleh beban, digerakkan oleh pegas, dan digerakkan oleh pelepasan tuas. Dia menulis tentang tiga jenis jam tangan ini tetapi juga mengomentari jam saku dan jam tangan astronomi. Sebagai Kepala Astronom, Taqiyuddin menciptakan jam astronomi mekanis. Jam ini dibuat untuk memungkinkan pengukuran yang lebih tepat di observatorium Konstantinopel. Sebagaimana dinyatakan di atas, penciptaan jam ini dianggap sebagai salah satu penemuan astronomi terpenting abad keenam belas. Taqiyuddin membuat jam mekanis dengan tiga tombol yang menunjukkan jam, menit, dan detik, dengan setiap menit terdiri dari lima detik. Setelah jam ini, tidak diketahui apakah karya Taqiyuddin pada jam mekanis akan dilanjutkan, mengingat sebagian besar pembuatan jam setelah waktu itu di Kekaisaran Ottoman diambil alih oleh orang Eropa. | Pada jam di perbendaharaan [[Wazir Agung]], Taqiyuddin memeriksa tiga jenis yang berbeda. Ketiganya digerakkan oleh beban, digerakkan oleh pegas, dan digerakkan oleh pelepasan tuas. Dia menulis tentang tiga jenis jam tangan ini tetapi juga mengomentari jam saku dan jam tangan astronomi. Sebagai Kepala Astronom, Taqiyuddin menciptakan jam astronomi mekanis. Jam ini dibuat untuk memungkinkan pengukuran yang lebih tepat di observatorium Konstantinopel. Sebagaimana dinyatakan di atas, penciptaan jam ini dianggap sebagai salah satu penemuan astronomi terpenting abad keenam belas. Taqiyuddin membuat jam mekanis dengan tiga tombol yang menunjukkan jam, menit, dan detik, dengan setiap menit terdiri dari lima detik.<ref>''Encyclopaedia of the history of science, technology, and medicine in non-western cultures''. Springer. 2008. ISBN 9781402044250.</ref> Setelah jam ini, tidak diketahui apakah karya Taqiyuddin pada jam mekanis akan dilanjutkan, mengingat sebagian besar pembuatan jam setelah waktu itu di Kekaisaran Ottoman diambil alih oleh orang Eropa. | ||
===Tenaga uap=== | ===Tenaga uap=== | ||
Pada tahun 1551, Taqiyuddin menggambarkan spit yang berputar sendiri yang penting dalam perkembangan teknologi [[turbin uap]]. Dalam ''Al-Turuq al-samiyya fi al-alat al-ruhaniyya'' (Metode Sublim Mesin Spiritual) Taqiyuddin menjelaskan mesin ini serta beberapa aplikasi praktis untuk itu. Spit diputar dengan mengarahkan uap ke dalam vane yang kemudian memutar roda di ujung as. Taqiyuddin juga menggambarkan empat mesin pengangkat air. Dua yang pertama adalah pompa air yang digerakkan oleh hewan. Yang ketiga dan keempat keduanya digerakkan oleh roda dayung. Yang ketiga adalah pompa slot-rod sedangkan yang keempat adalah pompa enam silinder. Piston vertikal dari mesin akhir dioperasikan oleh Cams dan trip-hammer, dijalankan oleh pedal. Deskripsi mesin ini mendahului banyak mesin yang lebih modern. Pompa ulir, misalnya, yang dijelaskan al-Dīn mendahului Agricola, yang deskripsi tentang pompa kain dan pompa rantai diterbitkan pada tahun 1556. Mesin dua pompa, yang pertama kali dijelaskan oleh al-Jazar, juga merupakan dasar dari mesin uap. | Pada tahun 1551, Taqiyuddin menggambarkan spit yang berputar sendiri yang penting dalam perkembangan teknologi [[turbin uap]]. Dalam ''Al-Turuq al-samiyya fi al-alat al-ruhaniyya'' (Metode Sublim Mesin Spiritual) Taqiyuddin menjelaskan mesin ini serta beberapa aplikasi praktis untuk itu. Spit diputar dengan mengarahkan uap ke dalam vane yang kemudian memutar roda di ujung as.<ref>Donald R. Hill. ''Review of Taqī-al-Dīn and Arabic Mechanical Engineering. With the Sublime Methods of Spiritual Machines. An Arabic Manuscript of the Sixteenth Century''. ''Isis''. 1978. Vol. 69 (1). hlm. 117–118. doi:10.1086/351968.</ref> Taqiyuddin juga menggambarkan empat mesin pengangkat air. Dua yang pertama adalah pompa air yang digerakkan oleh hewan. Yang ketiga dan keempat keduanya digerakkan oleh roda dayung. Yang ketiga adalah pompa slot-rod sedangkan yang keempat adalah pompa enam silinder. Piston vertikal dari mesin akhir dioperasikan oleh Cams dan trip-hammer, dijalankan oleh pedal.<ref>Donald R. Hill. ''Review of Taqī-al-Dīn and Arabic Mechanical Engineering. With the Sublime Methods of Spiritual Machines. An Arabic Manuscript of the Sixteenth Century''. ''Isis''. 1978. Vol. 69 (1). hlm. 117–118. doi:10.1086/351968.</ref> Deskripsi mesin ini mendahului banyak mesin yang lebih modern. Pompa ulir, misalnya, yang dijelaskan al-Dīn mendahului Agricola, yang deskripsi tentang pompa kain dan pompa rantai diterbitkan pada tahun 1556. Mesin dua pompa, yang pertama kali dijelaskan oleh al-Jazar, juga merupakan dasar dari mesin uap. | ||
==Karya penting== | ==Karya penting== | ||
===Astronomi=== | ===Astronomi=== | ||
*''Sidrat muntahā al-afkār fī malakūt al-falak al-dawwār (al-Zīj al-Shāhinshāhī)'': ini dikatakan sebagai salah satu karya Taqiyuddin yang paling penting dalam astronomi. Dia menyelesaikan buku ini berdasarkan pengamatannya di Mesir dan Istanbul. Tujuan dari pekerjaan ini adalah untuk meningkatkan, mengoreksi, dan pada akhirnya menyelesaikan ''Zīj-i'' karya [[Ulugh Beg]], yang merupakan proyek yang dirancang di [[Samarkand]] dan dilanjutkan di Observatorium Konstantinopel. 40 halaman pertama tulisannya berfokus pada perhitungan [[trigonometri]], dengan penekanan pada fungsi trigonometri seperti [[sinus]], [[kosinus]], [[tangen]], dan [[kotangen]]. | *''Sidrat muntahā al-afkār fī malakūt al-falak al-dawwār (al-Zīj al-Shāhinshāhī)'': ini dikatakan sebagai salah satu karya Taqiyuddin yang paling penting dalam astronomi. Dia menyelesaikan buku ini berdasarkan pengamatannya di Mesir dan Istanbul. Tujuan dari pekerjaan ini adalah untuk meningkatkan, mengoreksi, dan pada akhirnya menyelesaikan ''Zīj-i'' karya [[Ulugh Beg]], yang merupakan proyek yang dirancang di [[Samarkand]] dan dilanjutkan di Observatorium Konstantinopel. 40 halaman pertama tulisannya berfokus pada perhitungan [[trigonometri]], dengan penekanan pada fungsi trigonometri seperti [[sinus]], [[kosinus]], [[tangen]], dan [[kotangen]].<ref>İhsan Fazlıoğlu. ''Biographical Encyclopedia of Astronomers''. Springer, New York, NY. 2014. hlm. 2123–2126. doi:10.1007/978-1-4419-9917-7_1360. ISBN 978-1-4419-9916-0.</ref> | ||
*''Jarīdat al-durar wa kharīdat al-fikar'' adalah ''zīj'' yang dikatakan sebagai karya terpenting kedua Taqiyuddin dalam astronomi. Zīj ini berisi penggunaan [[pecahan]] [[desimal]] dan fungsi trigonometri yang tercatat pertama kali dalam tabel astronomi. Dia juga memberikan bagian derajat kurva dan sudut dalam pecahan desimal dengan perhitungan yang tepat. | *''Jarīdat al-durar wa kharīdat al-fikar'' adalah ''zīj'' yang dikatakan sebagai karya terpenting kedua Taqiyuddin dalam astronomi. Zīj ini berisi penggunaan [[pecahan]] [[desimal]] dan fungsi trigonometri yang tercatat pertama kali dalam tabel astronomi. Dia juga memberikan bagian derajat kurva dan sudut dalam pecahan desimal dengan perhitungan yang tepat.<ref>İhsan Fazlıoğlu. ''Biographical Encyclopedia of Astronomers''. Springer, New York, NY. 2014. hlm. 2123–2126. doi:10.1007/978-1-4419-9917-7_1360. ISBN 978-1-4419-9916-0.</ref> | ||
*''Dustūr al-tarjīḥ li-qawāid al-tas'' adalah karya penting lainnya oleh Taqiyuddin, yang berfokus pada proyeksi bola ke dalam bidang, di antara topik geometris lainnya. | *''Dustūr al-tarjīḥ li-qawāid al-tas'' adalah karya penting lainnya oleh Taqiyuddin, yang berfokus pada proyeksi bola ke dalam bidang, di antara topik geometris lainnya. | ||
*Taqiyuddin juga terakreditasi sebagai penulis ''Rayḥānat al-rūḥ fī rasm al-sā āt alā mustawī al-suṭūḥ'', yang membahas [[jam matahari]] dan karakteristiknya yang digambar di permukaan [[marmer]]. | *Taqiyuddin juga terakreditasi sebagai penulis ''Rayḥānat al-rūḥ fī rasm al-sā āt alā mustawī al-suṭūḥ'', yang membahas [[jam matahari]] dan karakteristiknya yang digambar di permukaan [[marmer]].<ref>İhsan Fazlıoğlu. ''Biographical Encyclopedia of Astronomers''. Springer, New York, NY. 2014. hlm. 2123–2126. doi:10.1007/978-1-4419-9917-7_1360. ISBN 978-1-4419-9916-0.</ref> | ||
===Jam dan mekanik=== | ===Jam dan mekanik=== | ||
*''al-Kawākib al-durriyya fī waḍ al-bankāmāt al-dawriyya'' ditulis oleh Taq al-Dīn pada tahun 1559 dan membahas jam mekanik-otomatis. Karya ini dianggap sebagai karya tulis pertama tentang jam mekanik-otomatis di dunia Islam dan Ottoman. Dalam buku ini, ia mengakreditasi [[Ali Pasha Al-Albani|Alī Pasha]] sebagai kontributor yang mengizinkannya menggunakan dan mempelajari perpustakaan pribadinya dan koleksi jam mekanik Eropa.<li>''al-Ṭuruq al-saniyya fī al-ālāt al-rūḥāniyya'' adalah buku kedua tentang mekanika karya Taqiyuddin yang menekankan struktur geometris-mekanis jam, yang merupakan topik yang sebelumnya diamati dan dipelajari oleh [[Muhammad bin Musa bin Syakir]] dan [[Al-Jazari|Ismail Al-Jazari]].</li> | *''al-Kawākib al-durriyya fī waḍ al-bankāmāt al-dawriyya'' ditulis oleh Taq al-Dīn pada tahun 1559 dan membahas jam mekanik-otomatis. Karya ini dianggap sebagai karya tulis pertama tentang jam mekanik-otomatis di dunia Islam dan Ottoman. Dalam buku ini, ia mengakreditasi [[Ali Pasha Al-Albani|Alī Pasha]] sebagai kontributor yang mengizinkannya menggunakan dan mempelajari perpustakaan pribadinya dan koleksi jam mekanik Eropa.<ref>İhsan Fazlıoğlu. ''Biographical Encyclopedia of Astronomers''. Springer, New York, NY. 2014. hlm. 2123–2126. doi:10.1007/978-1-4419-9917-7_1360. ISBN 978-1-4419-9916-0.</ref><li>''al-Ṭuruq al-saniyya fī al-ālāt al-rūḥāniyya'' adalah buku kedua tentang mekanika karya Taqiyuddin yang menekankan struktur geometris-mekanis jam, yang merupakan topik yang sebelumnya diamati dan dipelajari oleh [[Muhammad bin Musa bin Syakir]] dan [[Al-Jazari|Ismail Al-Jazari]].<ref>İhsan Fazlıoğlu. ''Biographical Encyclopedia of Astronomers''. Springer, New York, NY. 2014. hlm. 2123–2126. doi:10.1007/978-1-4419-9917-7_1360. ISBN 978-1-4419-9916-0.</ref></li> | ||
===Fisika dan optika=== | ===Fisika dan optika=== | ||
*''Nawr adīqat al-abṣar wa-nūr aqīqat al-Anẓar'' adalah karya Taqiyuddin yang membahas [[fisika]] dan [[optika]]. Buku ini membahas tentang struktur [[cahaya]], hubungan antara cahaya dan [[warna]], serta [[difusi]] dan [[refraksi]] [[global]]. | *''Nawr adīqat al-abṣar wa-nūr aqīqat al-Anẓar'' adalah karya Taqiyuddin yang membahas [[fisika]] dan [[optika]]. Buku ini membahas tentang struktur [[cahaya]], hubungan antara cahaya dan [[warna]], serta [[difusi]] dan [[refraksi]] [[global]].<ref>İhsan Fazlıoğlu. ''Biographical Encyclopedia of Astronomers''. Springer, New York, NY. 2014. hlm. 2123–2126. doi:10.1007/978-1-4419-9917-7_1360. ISBN 978-1-4419-9916-0.</ref> | ||
==Lihat pula== | ==Lihat pula== | ||
| Baris 80: | Baris 80: | ||
*[[Daftar penemuan di dunia Islam pada Abad Pertengahan]] | *[[Daftar penemuan di dunia Islam pada Abad Pertengahan]] | ||
*[[Ilmu pengetahuan Islam abad pertengahan]] | *[[Ilmu pengetahuan Islam abad pertengahan]] | ||
==Bacaan lebih lanjut== | ==Bacaan lebih lanjut== | ||
* [https://www.academia.edu/1607467/THE_REVOLVING_PLANETS_AND_THE_REVOLVING_CLOCKS_CIRCULATING_MECHANICAL_OBJECTS_IN_THE_MEDITERRANEAN Ben-Zaken, Avner. "The Revolving Planets and the Revolving Clocks: Circulating Mechanical Objects in the Mediterranean", ''History of Science'', xlix (2010), pp. 125-148.] | * [https://www.academia.edu/1607467/THE_REVOLVING_PLANETS_AND_THE_REVOLVING_CLOCKS_CIRCULATING_MECHANICAL_OBJECTS_IN_THE_MEDITERRANEAN Ben-Zaken, Avner. "The Revolving Planets and the Revolving Clocks: Circulating Mechanical Objects in the Mediterranean", ''History of Science'', xlix (2010), pp. 125-148.] | ||
*[https://www.amazon.com/Cross-Cultural-Scientific-Exchanges-Mediterranean-1560-1660/dp/080189476X/ref=pd_sim_sbs_b_2#reader_080189476X Ben-Zaken, Avner. ''Cross-Cultural Scientific Exchanges in the Eastern Mediterranean 1560-1660'' (Johns Hopkins University Press, 2010), pp. 8-47.] | *[https://www.amazon.com/Cross-Cultural-Scientific-Exchanges-Mediterranean-1560-1660/dp/080189476X/ref=pd_sim_sbs_b_2#reader_080189476X Ben-Zaken, Avner. ''Cross-Cultural Scientific Exchanges in the Eastern Mediterranean 1560-1660'' (Johns Hopkins University Press, 2010), pp. 8-47.] | ||
* | * | ||
* | * | ||
* | * | ||
* | * | ||
* Tekeli, Sevim. (2002). [https://web.archive.org/web/20131004214104/http://www.ub.edu/islamsci/biblio/Horology.htm ''16’ıncı yüzyılda Osmanlılarda saat ve Takiyüddin’in “mekanik saat konstrüksüyonuna dair en parlak yıldızlar = The clocks in Ottoman Empire in 16th century and Taqi al Din’s the brightest stars for the construction of the mechanical clocks.''] Second edition, Ankara: T. C. Kültür Bakanlıgi. | * Tekeli, Sevim. (2002). [https://web.archive.org/web/20131004214104/http://www.ub.edu/islamsci/biblio/Horology.htm ''16’ıncı yüzyılda Osmanlılarda saat ve Takiyüddin’in “mekanik saat konstrüksüyonuna dair en parlak yıldızlar = The clocks in Ottoman Empire in 16th century and Taqi al Din’s the brightest stars for the construction of the mechanical clocks.''] Second edition, Ankara: T. C. Kültür Bakanlıgi. | ||
* Unat, Yavuz, "Time in The Sky of Istanbul, Taqî al Dîn al-Râsid's Observatory", Art and Culture Magazine, Time in Art, Winter 2004/Issue 11, pp. 86–103. | * Unat, Yavuz, "Time in The Sky of Istanbul, Taqî al Dîn al-Râsid's Observatory", Art and Culture Magazine, Time in Art, Winter 2004/Issue 11, pp. 86–103. | ||
| Baris 97: | Baris 94: | ||
* ([http://islamsci.mcgill.ca/RASI/BEA/Taqi_al-Din_BEA.pdf PDF version]) | * ([http://islamsci.mcgill.ca/RASI/BEA/Taqi_al-Din_BEA.pdf PDF version]) | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
== | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Taqiyuddin+Muhammad+bin+Ma%27ruf&oldid=29298361 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29298361 (2026-05-31T16:34:14Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 26 Agustus 2026 04.01
Taqiyuddin Muhammad bin Ma'ruf Asy-Syami As-Sa'di (, , ; 1526-1585) adalah seorang polimatikawan Utsmaniyah yang aktif di Kairo dan Istanbul. Beliau adalah penulis lebih dari sembilan puluh buku tentang berbagai bidang, termasuk astronomi, jam, teknik, matematika, mekanika, optika dan filsafat alam.[1]
Pada tahun 1574 Sultan Utsmaniyah Murad III mengundang Taqiyuddin untuk membangun observatorium di ibu kota Utsmaniyah, Istanbul. Dengan menggunakan pengetahuannya yang luar biasa dalam seni mekanik, Taqiyuddin membuat perangkat seperti bola armiler besar dan jam mekanik yang dia gunakan dalam pengamatannya terhadap Komet Besar 1577. Beliau juga menggunakan bola bumi dan langit Eropa yang dikirim ke Istanbul sebagai pertukaran hadiah.
Karya utama yang dihasilkan dari karyanya di observatorium berjudul "Pohon pengetahuan tertinggi [di akhir zaman atau dunia] di Kerajaan Bola Berputar: Tabel astronomi Raja segala Raja [Murad III]" (Sidratul muntahal afkar fi malkūtul falakul dawār– az-zij asy-Syāhinsyāhi). Karya tersebut disusun sesuai dengan hasil pengamatan yang dilakukan di Mesir dan Istanbul untuk mengoreksi dan melengkapi risalah Zij-i Sultani karya Ulugh Beg. 40 halaman pertama dari karya ini membahas perhitungan, diikuti dengan diskusi tentang jam astronomi, lingkaran surgawi, dan informasi tentang tiga gerhana yang dia amati di Kairo dan Istanbul. Untuk menguatkan data pengamatan gerhana lainnya di tempat lain seperti Daud ar-Riyyadi (David sang Matematikawan), David Ben-Shushan dari Salonika.
Sebagai seorang polimatikawan, Taqiyuddin menulis banyak buku tentang astronomi, matematika, mekanika, dan teologi. Metodenya dalam menemukan koordinat bintang dilaporkan sangat tepat sehingga ia mendapatkan pengukuran yang lebih baik daripada rekan sezamannya, Tycho Brahe dan Nicolaus Copernicus. Brahe juga diduga mengakui karya Taqiyuddin.[2]
Taqiyuddin juga menggambarkan turbin uap dengan aplikasi praktis memutar batang besi pada tahun 1551.[3] Dia mengerjakan dan menciptakan jam astronomi untuk observatoriumnya.[4] Taqi ad-Din juga menulis buku tentang optik, di mana ia menentukan cahaya yang dipancarkan dari objek, membuktikan Hukum Pemantulan secara observasional dan bekerja pada pembiasan.[5]
Riwayat
Taqiyuddin lahir di Damaskus pada tahun 1526 menurut sebagian besar sumber. Etnisnya telah digambarkan sebagai Arab Utsmaniyah,[6] Turki Utsmaniyah,[7] dan Suriah Utsmaniyah.[8] Dalam risalahnya berjudul "Rayḥānat al-rūḥ", Taqiyuddin sendiri mengklaim keturunan dari Bani Ayyubiyah[9][10] menelusuri garis keturunannya kembali ke pangeran Ayyubiyah Nasir al-Din Mankarus ibn Nasih al-Din Khumartekin yang memerintah Abu Qubays di Suriah selama 12 abad.[11] Encyclopaedia of Islam tidak menyebutkan etnisitasnya, hanya menyebutnya, "..astronom paling penting dari Turki Utsmani".[12]
Pendidikan Taqi ad-Din dimulai dari teologi dan semakin lama semakin tertarik pada ilmu-ilmu rasional. Mengikuti minatnya, ia akan mulai mempelajari ilmu-ilmu rasional di Damaskus dan Kairo. Selama waktu itu ia belajar bersama ayahnya Maʿruf Efendi. Al-Dn kemudian mengajar di berbagai madaris dan menjabat sebagai qadi atau hakim, di Palestina, Damaskus, dan Kairo. Dia tinggal di Mesir dan Damaskus untuk beberapa waktu dan sementara dia di sana dia menciptakan pekerjaan di bidang astronomi dan matematika. Karyanya dalam kategori ini pada akhirnya akan menjadi penting. Dia menjadi kepala astronom untuk Sultan pada tahun 1571 setahun setelah dia datang ke Istanbul, menggantikan Mustafa ibn Ali al-Muwaqqit.[13][14]
Taqiyuddin memelihara ikatan yang kuat dengan orang-orang dari ulama dan negarawan. Dia akan menyampaikan informasi kepada Sultan Murad III yang memiliki minat dalam astronomi tetapi juga dalam astrologi. Informasi tersebut menyatakan bahwa risalah Zij karya Ulugh Beg memiliki kesalahan pengamatan tertentu. Taqiyuddin memberikan saran bahwa kesalahan tersebut dapat diperbaiki jika ada pengamatan baru yang dilakukan. Dia juga menyarankan bahwa sebuah observatorium harus dibuat di Istanbul untuk membuat situasi itu lebih mudah. Murad III akan menjadi pelindung observatorium pertama di Istanbul. Dia lebih suka pembangunan observatorium baru segera dimulai. Karena Murad III adalah pelindung, dia akan membantu keuangan untuk proyek tersebut.[15]
Taqiyuddin melanjutkan studinya di Menara Galata selama ini. Studinya berlanjut hingga tahun 1577 di observatorium yang hampir selesai, yang disebut Darur Rasad al-Jadid. Observatorium baru ini berisi perpustakaan yang menyimpan buku-buku dengan tema astronomi dan matematika. Observatorium, yang dibangun di bagian atas Tophane di Istanbul, terbuat dari dua bangunan terpisah. Satu bangunan besar dan yang lainnya kecil. Taqiyuddin memiliki beberapa perangkat yang digunakan di observatorium Islam kuno. Dia mereproduksi perangkat-perangkat itu dan juga menciptakan perangkat-perangkat baru yang akan digunakan untuk tujuan pengamatan. Staf di observatorium baru terdiri dari enam belas orang. Delapan dari mereka adalah pengamat atau rasid, empat di antaranya adalah juru tulis, dan empat lainnya sebagai asisten.[16]
Taqiyuddin melakukan pendekatan pengamatannya dengan cara yang kreatif dan menemukan jawaban baru untuk masalah astronomi karena strategi baru yang ia temukan bersama dengan peralatan baru yang ia temukan juga. Dia membuat tabel trigonometri berdasarkan pecahan desimal. Tabel ini menempatkan ekliptika pada 23° 28' 40". Nilai saat ini adalah 23° 27' menunjukkan bahwa instrumen dan metode Taqiyuddin lebih tepat. Taqiyuddin menggunakan metode baru untuk menghitung parameter matahari dan untuk menentukan besarnya pergerakan tahunan puncak matahari sebagai 63 detik. Nilai yang diketahui hari ini adalah 61 detik. Copernicus muncul dengan 24 detik dan Tycho Brahe memiliki 45 detik tetapi Taqiyuddin lebih akurat daripada keduanya.[17]
Tujuan utama di balik observatorium adalah untuk memenuhi kebutuhan para astronom dan menyediakan perpustakaan dan bengkel sehingga mereka dapat merancang dan memproduksi perangkat. Observatorium ini akan menjadi salah satu yang terbesar di dunia Islam. Observatorium tersebut selesai dibangun pada tahun 1579 dan terus beroperasi hingga 22 Januari 1580, saat dihancurkan. Ada yang mengatakan bahwa agama adalah alasan mengapa observatorium tersebut dihancurkan, tetapi itu benar-benar bermuara pada masalah politik. Sebuah laporan oleh wazir agung Koca Sinan Pasha kepada Sultan Murad III menjelaskan bagaimana Sultan dan wazir berusaha untuk menjauhkan Taqiyuddin dari para ulama karena sepertinya mereka ingin membawanya ke pengadilan karena bid'ah. Wazir menginformasikan sultan bahwa Taqiyuddin ingin pergi ke Suriah terlepas dari perintah sultan. Wazir juga memperingatkan sultan bahwa jika Taqiyuddin pergi ke sana, ada kemungkinan dia akan dikenali oleh para ulama yang akan membawanya ke pengadilan.[18]
Terlepas dari orisinalitas Taqiyuddin, pengaruhnya tampaknya terbatas. Hanya ada sedikit salinan karya-karyanya yang masih bertahan sehingga tidak dapat menjangkau banyak orang. Komentarnya yang dikenal sangat sedikit. Namun, salah satu karyanya dan bagian dari perpustakaan yang dia miliki mencapai Eropa Barat dengan cukup cepat. Ini berkat upaya pengumpulan manuskrip Jacob Golius, seorang profesor bahasa Arab dan matematika Belanda di Universitas Leiden. Golius melakukan perjalanan ke Istanbul pada awal abad ketujuh belas. Pada 1629 ia menulis surat kepada Constantijn Huygens yang berbicara tentang melihat karya Taqiyuddin tentang optika di Istanbul. Dia berpendapat bahwa dia tidak bisa mendapatkan itu dari teman-temannya bahkan setelah semua usahanya. Dia pasti berhasil memperolehnya nanti karena karya Taqiyuddin tentang optik pada akhirnya akan sampai ke Perpustakaan Bodleian dengan kode Marsh 119. Awalnya dalam koleksi Golius sehingga jelas bahwa Golius akhirnya berhasil memperolehnya.[19]
Menurut Salomon Schweigger, pendeta duta besar Habsburg Johann Joachim von Zinzendorf, Taqiyuddin adalah seorang penipu yang menipu Sultan Murad III dan membuatnya menghabiskan sumber daya yang sangat besar.[20]
Observatorium Konstantinopel
Taqiyuddin adalah pendiri dan direktur Observatorium Konstantinopel, yang juga dikenal sebagai Observatorium Istanbul.[21] Observatorium ini sering dikatakan sebagai salah satu kontribusi Taqiyuddin yang paling penting bagi astronomi Islam dan Utsmaniyah abad ke-16.[22] Bahkan, itu dikenal sebagai salah satu observatorium terbesar dalam sejarah Islam. Hal ini sering dibandingkan dengan Observatorium Uraniborg Tycho Brahe, yang dikatakan sebagai rumah bagi perangkat terbaik pada masanya di Eropa. Faktanya, Brahe dan Taqiyuddin telah sering dibandingkan untuk pekerjaan mereka dalam astronomi abad keenam belas.[23] Pendirian Observatorium Konstantinopel dimulai ketika Taqiyuddin kembali ke Istanbul pada tahun 1570, setelah menghabiskan 20 tahun di Mesir mengembangkan pengetahuan astronomi dan matematikanya.[24] Tak lama setelah kembali, Sultan Selim II mengangkat Taqiyuddin sebagai kepala astronom (Munajjim basyi), setelah kematian kepala astronom sebelumnya Muṣṭafā bin Alī al-Muwaqqit pada tahun 1571.[25] Selama tahun-tahun awal posisinya sebagai kepala astronom, Taqiyuddin bekerja di Menara Galata dan bangunan yang menghadap ke Tophane.[26] Saat bekerja di gedung-gedung ini, ia mulai mendapatkan dukungan dan kepercayaan dari banyak pejabat penting Utsmaniyah. Hubungan yang baru ditemukan ini mengarah pada dekrit kekaisaran pada tahun 1569 dari Sultan Murad III, yang menyerukan pembangunan Observatorium Konstantinopel. Observatorium ini menjadi rumah bagi banyak buku dan perangkat penting, serta banyak cendekiawan terkenal saat itu. Meskipun tidak banyak yang diketahui tentang karakteristik arsitektur bangunan, ada banyak penggambaran para cendekiawan dan perangkat astronomi yang ada di observatorium. Namun, karena konflik politik, observatorium ini berumur pendek.[27] Observatorium tersebut ditutup pada tahun 1579 dan, dihancurkan seluruhnya oleh negara pada tanggal 22 Januari 1580, hanya 11 tahun setelah dekrit kekaisaran untuk pembangunannya.[28]
Politik
Naik turunnya Taqiyuddin dan observatoriumnya bergantung pada isu-isu politik yang melingkupinya. Karena pekerjaan ayahnya sebagai profesor di Sekolah Tinggi hukum Damaskus, Taqiyuddin menghabiskan sebagian besar hidupnya di Suriah dan Mesir. Selama perjalanannya ke Istanbul, ia dapat menjalin hubungan dengan banyak sarjana dan ahli hukum. Dia juga dapat menggunakan perpustakaan pribadi Wazir Agung saat itu, Semiz Ali Pasha. Dia kemudian mulai bekerja di bawah Wazir Agung baru Sultan Murad III, mentor pribadi Sa'deddin. Melanjutkan penelitiannya tentang pengamatan langit selama di Mesir Taqiyuddin menggunakan menara Galata dan kediaman pribadi Sa'deddin. Meskipun Murad III adalah orang yang memerintahkan untuk membangun sebuah observatorium, sebenarnya Sa'deddin-lah yang membawa ide itu kepadanya karena mengetahui minatnya pada pengembangan ilmu.[29] Sultan pada akhirnya akan memberikan Taqiyuddin segala yang dia butuhkan dari bantuan keuangan untuk bangunan fisik, hingga bantuan intelektual yang memastikan dia memiliki akses mudah ke berbagai jenis buku yang dia perlukan. Ketika Sultan memutuskan untuk membuat observatorium, dia melihatnya sebagai cara untuk memamerkan kekuatan monarkinya selain hanya secara finansial mendukungnya. Murad III menunjukkan kekuatannya dengan membawa Taqiyuddin dan beberapa orang yang paling berprestasi di bidang astronomi bersama-sama untuk bekerja menuju satu tujuan dan tidak hanya membuat mereka bekerja sama dengan baik tetapi juga membuat kemajuan di lapangan.[30] Murad III memastikan bahwa ada bukti pencapaiannya dengan meminta sejarawan istananya Seyyid Lokman menyimpan catatan yang sangat rinci tentang pekerjaan yang terjadi di observatorium. Seyyid Lokman menulis bahwa monarki sultannya jauh lebih kuat daripada yang lain di Irak, Persia, dan Anatolia.[31] Dia juga mengklaim bahwa Murad III berada di atas sultan dan raja lain karena hasil observatorium itu baru bagi dunia dan menggantikan banyak lainnya.[32]
Perangkat yang digunakan di Observatorium
Taqiyuddin menggunakan berbagai instrumen untuk membantu pekerjaannya di observatorium. Beberapa adalah instrumen yang sudah digunakan oleh para astronom Eropa sementara yang lain dia ciptakan sendiri. Saat bekerja di observatorium ini, Taqiyuddin tidak hanya mengoperasikan banyak instrumen dan teknik yang dibuat sebelumnya, tetapi ia juga mengembangkan banyak instrumen dan teknik baru.[33] Dari penemuan-penemuan baru ini, jam mekanis otomatis dianggap sebagai salah satu yang paling penting yang dikembangkan di Observatorium Konstantinopel.[34]
- Masing-masing instrumen ini pertama kali dijelaskan oleh Klaudius Ptolemaeus.[35]
- Sebuah bola armilerModel benda langit dengan cincin yang mewakili garis bujur dan garis lintang.
- Penggaris paralaktikajuga dikenal sebagai musalasah digunakan untuk menghitung ketinggian benda langit.
- Astrolabmengukur kemiringan benda langit.
- Perangkat ini ditemukan oleh astronom Muslim.[36]
- Kuadran magdara, salah satu jenis busur magdara untuk pengukuran sudut dari 0 sampai 90 derajat.
- Kuadran azimut
- Perangkat yang ditemukan oleh Taqiyuddin untuk digunakan dalam pekerjaannya sendiri.[37]
- Penggaris sejajar
- Kuadran Penggaris atau Kuadran Kayu, perangkat dengan dua lubang untuk mengukur diameter semu dan gerhana.
- Jam mekanis dengan rangkaian roda gigi membantu mengukur kenaikan sebenarnya dari bintang-bintang.
- Muşabbaha bi'l-menatık, sebuah perangkat dengan akord untuk menentukan ekuinoks, diciptakan untuk menggantikan armillary ekuinoks.[38]
- Penggaris Sunaydi yang tampaknya merupakan jenis alat bantu yang khusus, yang fungsinya dijelaskan oleh Alaeddin el-Mansur.[39]
Sumbangsih
Jam mekanik
Peningkatan penggunaan jam di Kekaisaran Utsmaniyah
Sebelum abad keenam belas, jam mekanis Eropa tidak banyak diminati. Minimnya permintaan ini disebabkan oleh harga yang sangat mahal dan kurangnya ketelitian yang dibutuhkan oleh penduduk yang harus menghitung kapan harus melaksanakan shalat. Penggunaan jam pasir, jam air, dan jam matahari sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.[40]
Baru sekitar tahun 1547 Utsmani mulai menciptakan permintaan yang tinggi untuk mereka. Awalnya, ini dimulai dengan hadiah yang dibawa oleh Austria tetapi ini akhirnya memulai pasar untuk jam. Pembuat jam Eropa mulai membuat jam yang dirancang untuk selera dan kebutuhan orang-orang Utsmaniyah. Mereka melakukan ini dengan menunjukkan fase bulan dan dengan menggunakan angka Utsmaniyah.[41]
Karya Taqiyuddin
Karena tingginya permintaan akan jam mekanik ini, Taqiyuddin diminta oleh Wazir Agung untuk membuat jam yang akan menunjukkan dengan tepat kapan azan dikumandangkan. Hal ini akan membawanya untuk menulis buku pertamanya tentang konstruksi jam mekanik yang disebut, "al-Kawakib al-Durriya fi Bengamat al-Dawriyya" pada tahun 1563 M yang ia gunakan selama penelitiannya di observatorium berumur pendek.[42] Dia percaya bahwa akan menguntungkan untuk membawa "persepsi kedap udara dan suling sejati dari gerakan benda-benda langit."[43] Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana jam berjalan, Taqiyuddin meluangkan waktu untuk mendapatkan pengetahuan dari banyak pembuat jam Eropa serta masuk ke perbendaharaan Semiz Ali Pasha dan mempelajari apa pun yang dia bisa dari banyak jam yang dia miliki.[44]
Pengujian ketepatan jam
Pada jam di perbendaharaan Wazir Agung, Taqiyuddin memeriksa tiga jenis yang berbeda. Ketiganya digerakkan oleh beban, digerakkan oleh pegas, dan digerakkan oleh pelepasan tuas. Dia menulis tentang tiga jenis jam tangan ini tetapi juga mengomentari jam saku dan jam tangan astronomi. Sebagai Kepala Astronom, Taqiyuddin menciptakan jam astronomi mekanis. Jam ini dibuat untuk memungkinkan pengukuran yang lebih tepat di observatorium Konstantinopel. Sebagaimana dinyatakan di atas, penciptaan jam ini dianggap sebagai salah satu penemuan astronomi terpenting abad keenam belas. Taqiyuddin membuat jam mekanis dengan tiga tombol yang menunjukkan jam, menit, dan detik, dengan setiap menit terdiri dari lima detik.[45] Setelah jam ini, tidak diketahui apakah karya Taqiyuddin pada jam mekanis akan dilanjutkan, mengingat sebagian besar pembuatan jam setelah waktu itu di Kekaisaran Ottoman diambil alih oleh orang Eropa.
Tenaga uap
Pada tahun 1551, Taqiyuddin menggambarkan spit yang berputar sendiri yang penting dalam perkembangan teknologi turbin uap. Dalam Al-Turuq al-samiyya fi al-alat al-ruhaniyya (Metode Sublim Mesin Spiritual) Taqiyuddin menjelaskan mesin ini serta beberapa aplikasi praktis untuk itu. Spit diputar dengan mengarahkan uap ke dalam vane yang kemudian memutar roda di ujung as.[46] Taqiyuddin juga menggambarkan empat mesin pengangkat air. Dua yang pertama adalah pompa air yang digerakkan oleh hewan. Yang ketiga dan keempat keduanya digerakkan oleh roda dayung. Yang ketiga adalah pompa slot-rod sedangkan yang keempat adalah pompa enam silinder. Piston vertikal dari mesin akhir dioperasikan oleh Cams dan trip-hammer, dijalankan oleh pedal.[47] Deskripsi mesin ini mendahului banyak mesin yang lebih modern. Pompa ulir, misalnya, yang dijelaskan al-Dīn mendahului Agricola, yang deskripsi tentang pompa kain dan pompa rantai diterbitkan pada tahun 1556. Mesin dua pompa, yang pertama kali dijelaskan oleh al-Jazar, juga merupakan dasar dari mesin uap.
Karya penting
Astronomi
- Sidrat muntahā al-afkār fī malakūt al-falak al-dawwār (al-Zīj al-Shāhinshāhī): ini dikatakan sebagai salah satu karya Taqiyuddin yang paling penting dalam astronomi. Dia menyelesaikan buku ini berdasarkan pengamatannya di Mesir dan Istanbul. Tujuan dari pekerjaan ini adalah untuk meningkatkan, mengoreksi, dan pada akhirnya menyelesaikan Zīj-i karya Ulugh Beg, yang merupakan proyek yang dirancang di Samarkand dan dilanjutkan di Observatorium Konstantinopel. 40 halaman pertama tulisannya berfokus pada perhitungan trigonometri, dengan penekanan pada fungsi trigonometri seperti sinus, kosinus, tangen, dan kotangen.[48]
- Jarīdat al-durar wa kharīdat al-fikar adalah zīj yang dikatakan sebagai karya terpenting kedua Taqiyuddin dalam astronomi. Zīj ini berisi penggunaan pecahan desimal dan fungsi trigonometri yang tercatat pertama kali dalam tabel astronomi. Dia juga memberikan bagian derajat kurva dan sudut dalam pecahan desimal dengan perhitungan yang tepat.[49]
- Dustūr al-tarjīḥ li-qawāid al-tas adalah karya penting lainnya oleh Taqiyuddin, yang berfokus pada proyeksi bola ke dalam bidang, di antara topik geometris lainnya.
- Taqiyuddin juga terakreditasi sebagai penulis Rayḥānat al-rūḥ fī rasm al-sā āt alā mustawī al-suṭūḥ, yang membahas jam matahari dan karakteristiknya yang digambar di permukaan marmer.[50]
Jam dan mekanik
- al-Kawākib al-durriyya fī waḍ al-bankāmāt al-dawriyya ditulis oleh Taq al-Dīn pada tahun 1559 dan membahas jam mekanik-otomatis. Karya ini dianggap sebagai karya tulis pertama tentang jam mekanik-otomatis di dunia Islam dan Ottoman. Dalam buku ini, ia mengakreditasi Alī Pasha sebagai kontributor yang mengizinkannya menggunakan dan mempelajari perpustakaan pribadinya dan koleksi jam mekanik Eropa.[51]
- al-Ṭuruq al-saniyya fī al-ālāt al-rūḥāniyya adalah buku kedua tentang mekanika karya Taqiyuddin yang menekankan struktur geometris-mekanis jam, yang merupakan topik yang sebelumnya diamati dan dipelajari oleh Muhammad bin Musa bin Syakir dan Ismail Al-Jazari.[52]
Fisika dan optika
- Nawr adīqat al-abṣar wa-nūr aqīqat al-Anẓar adalah karya Taqiyuddin yang membahas fisika dan optika. Buku ini membahas tentang struktur cahaya, hubungan antara cahaya dan warna, serta difusi dan refraksi global.[53]
Lihat pula
- Astronomi di dunia Islam pada Abad Pertengahan
- Daftar penemuan di dunia Islam pada Abad Pertengahan
- Ilmu pengetahuan Islam abad pertengahan
Bacaan lebih lanjut
- Ben-Zaken, Avner. "The Revolving Planets and the Revolving Clocks: Circulating Mechanical Objects in the Mediterranean", History of Science, xlix (2010), pp. 125-148.
- Ben-Zaken, Avner. Cross-Cultural Scientific Exchanges in the Eastern Mediterranean 1560-1660 (Johns Hopkins University Press, 2010), pp. 8-47.
- Tekeli, Sevim. (2002). 16’ıncı yüzyılda Osmanlılarda saat ve Takiyüddin’in “mekanik saat konstrüksüyonuna dair en parlak yıldızlar = The clocks in Ottoman Empire in 16th century and Taqi al Din’s the brightest stars for the construction of the mechanical clocks. Second edition, Ankara: T. C. Kültür Bakanlıgi.
- Unat, Yavuz, "Time in The Sky of Istanbul, Taqî al Dîn al-Râsid's Observatory", Art and Culture Magazine, Time in Art, Winter 2004/Issue 11, pp. 86–103.
Pranala luar
Referensi
- ↑ Taqi al-Din Ibn Ma'ruf: A Bio-Bibliographical Essay Muslim Heritage. muslimheritage.com.
- ↑ Ágoston, Gábor; Masters, Bruce Alan. Encyclopedia of the Ottoman Empire Infobase Publishing, 2009. p. 552
- ↑ Sevim Tekeli. Encyclopaedia of the History of Science, Technology, and Medicine in Non-Western Cultures. Springer, Dordrecht. 2008. hlm. 2080–2081. doi:10.1007/978-1-4020-4425-0_9065. ISBN 978-1-4020-4559-2.
- ↑ Encyclopaedia of the history of science, technology, and medicine in non-western cultures. Springer. 2008. ISBN 9781402044250.
- ↑ Taqi al-Din ibn Ma'ruf and the Science of Optics: The Nature of Light and the Mechanism of Vision. muslimheritage.com.
- ↑ Svat Soucek. Piri Reis and Ottoman Discovery of the Great Discoveries. Studia Islamica. 1994. Vol. 79 (79). hlm. 121–142. doi:10.2307/1595839."Two such cases are Piri Reis (d.1554), an Ottoman Turk from Gallipoli, and Taqi al-Din (d.1585), an Ottoman Arab from Damascus. They form the symbolic pivot of my argument."
- ↑ " Chief Astronomer Taqi al-Din was born to a family of Turkish descent in Damascus." Hoffmann, Dieter; İhsanoğlu, Ekmeleddin; Djebbar, Ahmed; Günergun, Feza. Science, technology, and industry in the Ottoman world in Volume 6 of Proceedings of the XXth International Congress of History of Science p. 19. Publisher Brepols, 2000.
- ↑ Ibn Haytham, Nader el-Bizri, Medieval Science Technology and Medicine: An Encyclopedia, ed. Thomas F. Glick, Steven Livesey, Faith Wallis, (Taylor & Francis Group, 2005), 239;"..composed as a commentary on Kamal al-Din's "Tanqih" by Taqi al-Din Muhammad ibn Ma'ruf, the Syrian astronomer at the Ottoman court".
- ↑ Samer Akkach. مرصد اسطنبول: هدم الرصد ورصد الهدم. تطور ثقافة العلوم في الإسلام بعد كوبرنيكوس / Istanbul Observatory: The Ethos of Science in Islam in the Post-Copernican Period. 2017. hlm. 87. Taqi ad-Din lineage as recorded by himself in his Rayḥānat al-rūḥ: "تقي الدين محمد بن معروف بن أحمد بن محمد بن محمد بن أحمد بن يوسف ابن الأمير ناصر الدين منكويرس ابن الأمير ناصح الدين خمارتكين" "Taqi al-Din Muhammad ibn Ma'ruf ibn Ahmed ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Ahmed ibn Yusuf ibn Nasir al-Din Mankarus ibn Nasih al-Din Khumartekin"
- ↑ Mona SANJAKDAR Chaarani. تقي الدين محمد بن معروف الدمشقي - حياته وأعماله. 2019. hlm. 1.
- ↑ Lyons, Malcolm Cameron; Jackson, D. E. P. (1984). Saladin: The Politics of the Holy War. Cambridge University Press. p. 195.
- ↑ Taki al-Din, D.A. King, The Encyclopaedia of Islam, Vol. X, ed. PJ. Bearman, TH. Bianquis, C. E. Bosworth, E. van Donzel and W. P. Heinrichs, (Brill, 2000), 132.
- ↑ Sevim Tekeli. Encyclopaedia of the History of Science, Technology, and Medicine in Non-Western Cultures. Springer, Dordrecht. 2008. hlm. 2080–2081. doi:10.1007/978-1-4020-4425-0_9065. ISBN 978-1-4020-4559-2.
- ↑ Salim Ayduz. Taqī al-Dīn ibn Maʿrūf. The Oxford Encyclopedia of Philosophy, Science, and Technology in Islam. Oxford Islamic Studies Online.
- ↑ Salim Ayduz. Taqī al-Dīn ibn Maʿrūf. The Oxford Encyclopedia of Philosophy, Science, and Technology in Islam. Oxford Islamic Studies Online.
- ↑ Salim Ayduz. Taqī al-Dīn ibn Maʿrūf. The Oxford Encyclopedia of Philosophy, Science, and Technology in Islam. Oxford Islamic Studies Online.
- ↑ Salim Ayduz. Taqī al-Dīn ibn Maʿrūf. The Oxford Encyclopedia of Philosophy, Science, and Technology in Islam. Oxford Islamic Studies Online.
- ↑ Salim Ayduz. Taqī al-Dīn ibn Maʿrūf. The Oxford Encyclopedia of Philosophy, Science, and Technology in Islam. Oxford Islamic Studies Online.
- ↑ Salim Ayduz. Taqī al-Dīn ibn Maʿrūf. The Oxford Encyclopedia of Philosophy, Science, and Technology in Islam. Oxford Islamic Studies Online.
- ↑ Salomon Schweigger, Ein newe Reyssbeschreibung auss Teutschland nach Constantinopel und Jerusalem (Graz, 1964), 90–1.
- ↑ İhsan Fazlıoğlu. Biographical Encyclopedia of Astronomers. Springer, New York, NY. 2014. hlm. 2123–2126. doi:10.1007/978-1-4419-9917-7_1360. ISBN 978-1-4419-9916-0.
- ↑ Sevim Tekeli. Encyclopaedia of the History of Science, Technology, and Medicine in Non-Western Cultures. Springer, Dordrecht. 2008. hlm. 2080–2081. doi:10.1007/978-1-4020-4425-0_9065. ISBN 978-1-4020-4559-2.
- ↑ Sevim Tekeli. Encyclopaedia of the History of Science, Technology, and Medicine in Non-Western Cultures. Springer, Dordrecht. 2008. hlm. 2080–2081. doi:10.1007/978-1-4020-4425-0_9065. ISBN 978-1-4020-4559-2.
- ↑ İhsan Fazlıoğlu. Biographical Encyclopedia of Astronomers. Springer, New York, NY. 2014. hlm. 2123–2126. doi:10.1007/978-1-4419-9917-7_1360. ISBN 978-1-4419-9916-0.
- ↑ İhsan Fazlıoğlu. Biographical Encyclopedia of Astronomers. Springer, New York, NY. 2014. hlm. 2123–2126. doi:10.1007/978-1-4419-9917-7_1360. ISBN 978-1-4419-9916-0.
- ↑ İhsan Fazlıoğlu. Biographical Encyclopedia of Astronomers. Springer, New York, NY. 2014. hlm. 2123–2126. doi:10.1007/978-1-4419-9917-7_1360. ISBN 978-1-4419-9916-0.
- ↑ Giancarlo Casale. The Ottoman Age of Exploration. Oxford University Press. 2010. hlm. 162. ISBN 978-0-19-537782-8.
- ↑ İhsan Fazlıoğlu. Biographical Encyclopedia of Astronomers. Springer, New York, NY. 2014. hlm. 2123–2126. doi:10.1007/978-1-4419-9917-7_1360. ISBN 978-1-4419-9916-0.
- ↑ Tezcan, Baki. "Some Thoughts on the Politics of Early Modern Ottoman Science." Osmanlı Araştırmaları 36, no. 36 (2010).
- ↑ Tezcan, Baki. "Some Thoughts on the Politics of Early Modern Ottoman Science." Osmanlı Araştırmaları 36, no. 36 (2010).
- ↑ Tezcan, Baki. "Some Thoughts on the Politics of Early Modern Ottoman Science." Osmanlı Araştırmaları 36, no. 36 (2010).
- ↑ Tezcan, Baki. "Some Thoughts on the Politics of Early Modern Ottoman Science." Osmanlı Araştırmaları 36, no. 36 (2010).
- ↑ İhsan Fazlıoğlu. Biographical Encyclopedia of Astronomers. Springer, New York, NY. 2014. hlm. 2123–2126. doi:10.1007/978-1-4419-9917-7_1360. ISBN 978-1-4419-9916-0.
- ↑ Sevim Tekeli. Encyclopaedia of the History of Science, Technology, and Medicine in Non-Western Cultures. Springer, Dordrecht. 2008. hlm. 2080–2081. doi:10.1007/978-1-4020-4425-0_9065. ISBN 978-1-4020-4559-2.
- ↑ İhsan Fazlıoğlu. Biographical Encyclopedia of Astronomers. Springer, New York, NY. 2014. hlm. 2123–2126. doi:10.1007/978-1-4419-9917-7_1360. ISBN 978-1-4419-9916-0.
- ↑ İhsan Fazlıoğlu. Biographical Encyclopedia of Astronomers. Springer, New York, NY. 2014. hlm. 2123–2126. doi:10.1007/978-1-4419-9917-7_1360. ISBN 978-1-4419-9916-0.
- ↑ İhsan Fazlıoğlu. Biographical Encyclopedia of Astronomers. Springer, New York, NY. 2014. hlm. 2123–2126. doi:10.1007/978-1-4419-9917-7_1360. ISBN 978-1-4419-9916-0.
- ↑ Encyclopaedia of the history of science, technology, and medicine in non-western cultures. Springer. 2008. ISBN 9781402044250.
- ↑ Ekmeleddin İHSANOĞLU. Science in the Ottoman Empire. 2004.
- ↑ Ekmeleddin ihsanoglu. Science, Technology, and Learning in the Ottoman Empire. Ashgate Publishing Company. 2004. hlm. 20. ISBN 978-0-86078-924-6.
- ↑ Ekmeleddin ihsanoglu. Science, Technology, and Learning in the Ottoman Empire. Ashgate Publishing Company. 2004. hlm. 20. ISBN 978-0-86078-924-6.
- ↑ Stolz, Daniel A. "POSITIONING THE WATCH HAND: 'ULAMA' AND THE PRACTICE OF MECHANICAL TIMEKEEPING IN CAIRO, 1737–1874." 47, no. 3 (2015): 489-510.
- ↑ Ben-Zaken Avner. The Heavens of the Sky and the Heavens of the Heart: The Ottoman Cultural Context for the Introduction of Post-Copernican Astronomy. The British Journal for the History of Science. 2004. Vol. 37 (1). hlm. 1–28. doi:10.1017/S0007087403005302.
- ↑ Ekmeleddin ihsanoglu. Science, Technology, and Learning in the Ottoman Empire. Ashgate Publishing Company. 2004. hlm. 20. ISBN 978-0-86078-924-6.
- ↑ Encyclopaedia of the history of science, technology, and medicine in non-western cultures. Springer. 2008. ISBN 9781402044250.
- ↑ Donald R. Hill. Review of Taqī-al-Dīn and Arabic Mechanical Engineering. With the Sublime Methods of Spiritual Machines. An Arabic Manuscript of the Sixteenth Century. Isis. 1978. Vol. 69 (1). hlm. 117–118. doi:10.1086/351968.
- ↑ Donald R. Hill. Review of Taqī-al-Dīn and Arabic Mechanical Engineering. With the Sublime Methods of Spiritual Machines. An Arabic Manuscript of the Sixteenth Century. Isis. 1978. Vol. 69 (1). hlm. 117–118. doi:10.1086/351968.
- ↑ İhsan Fazlıoğlu. Biographical Encyclopedia of Astronomers. Springer, New York, NY. 2014. hlm. 2123–2126. doi:10.1007/978-1-4419-9917-7_1360. ISBN 978-1-4419-9916-0.
- ↑ İhsan Fazlıoğlu. Biographical Encyclopedia of Astronomers. Springer, New York, NY. 2014. hlm. 2123–2126. doi:10.1007/978-1-4419-9917-7_1360. ISBN 978-1-4419-9916-0.
- ↑ İhsan Fazlıoğlu. Biographical Encyclopedia of Astronomers. Springer, New York, NY. 2014. hlm. 2123–2126. doi:10.1007/978-1-4419-9917-7_1360. ISBN 978-1-4419-9916-0.
- ↑ İhsan Fazlıoğlu. Biographical Encyclopedia of Astronomers. Springer, New York, NY. 2014. hlm. 2123–2126. doi:10.1007/978-1-4419-9917-7_1360. ISBN 978-1-4419-9916-0.
- ↑ İhsan Fazlıoğlu. Biographical Encyclopedia of Astronomers. Springer, New York, NY. 2014. hlm. 2123–2126. doi:10.1007/978-1-4419-9917-7_1360. ISBN 978-1-4419-9916-0.
- ↑ İhsan Fazlıoğlu. Biographical Encyclopedia of Astronomers. Springer, New York, NY. 2014. hlm. 2123–2126. doi:10.1007/978-1-4419-9917-7_1360. ISBN 978-1-4419-9916-0.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29298361 (2026-05-31T16:34:14Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.