Neorealisme ofensif: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29329219; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Neorealisme ofensif''' adalah teori struktural yang termasuk dalam mazhab neorealis dan pertama kali dipaparkan oleh [[John Mearsheimer]]. Teori ini percaya bahwa sifat sistem internasional yang [[anarki (hubungan internasional)|anarkis]] membuat negara-negara memiliki perilaku agresif dalam politik internasional. Teori ini berbeda dengan [[realisme defensif|neorealisme defensif]]-nya [[Kenneth Waltz]]. Para neorealis ofensif menyatakan bahwa negara-negara besar adalah revisionis yang hendak memaksimalkan kekuasaannya dengan mengutamakan pengalihan tanggung jawab ketimbang [[penyeimbangan (hubungan internasional)|penyeimbangan]] saat berusaha mendominasi sistem internasional. Neorealisme ofensif memberi kontribusi alternatif penting bagi studi dan pemahaman [[hubungan internasional]], tetapi banyak yang mengkritik teori ini. | [[File:John_Mearsheimer.jpg|thumb|right|280px|John Mearsheimer]] | ||
'''Neorealisme ofensif''' adalah teori struktural yang termasuk dalam mazhab neorealis dan pertama kali dipaparkan oleh [[John Mearsheimer]].<ref>[http://www.palgrave-journals.com/jird/journal/v8/n4/full/1800065a.html Salinan arsip].</ref> Teori ini percaya bahwa sifat sistem internasional yang [[anarki (hubungan internasional)|anarkis]] membuat negara-negara memiliki perilaku agresif dalam politik internasional. Teori ini berbeda dengan [[realisme defensif|neorealisme defensif]]-nya [[Kenneth Waltz]]. Para neorealis ofensif menyatakan bahwa negara-negara besar adalah revisionis yang hendak memaksimalkan kekuasaannya dengan mengutamakan pengalihan tanggung jawab ketimbang [[penyeimbangan (hubungan internasional)|penyeimbangan]] saat berusaha mendominasi sistem internasional. Neorealisme ofensif memberi kontribusi alternatif penting bagi studi dan pemahaman [[hubungan internasional]], tetapi banyak yang mengkritik teori ini. | |||
== Asumsi Dasar Neorealisme Ofensif == | == Asumsi Dasar Neorealisme Ofensif == | ||
Neorealisme ofensif memiliki beberapa asumsi dasar yang hampir sama dengan asusmsi dari realisme. Pertama, menurut neorealisme ofensif, tetap meyakini bahwa sistem internasional ini bersifat anarkis. Dimana sistem internasional ini dibaratkan sebagai sebuah hutan yang terdiri dari berbagai jenis hewan. Kesemua hewan ini kemudiaan saling bersaing satu sama lain. Prinsipnya ada pada pilihan "mau makan atau di makan". Sistem anarkis ini yang membuat setiap negara menjadi ''self-help''. yakni kondisi dimana negra tidak bisa bergantung pada negara lain dan harus bergantung pada kekuatan mereka. Kedua, tidak ada otoritas tertinggi yang melebih kedaulatan dari sebuah negara. Kedaulatan negara bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. Tidak ada entittas yang lebih tinggi daripada kedaulatan negara. Negara berhak dan bebas menentukan arah kebijakannya tanpa adanya intervensi dari entitas lain di luar negara. Ketiga, setiap entitas negara memiliki kepentingan masing-masing yang akan mereka perjuangkan. Untuk mencapai kepentingan ini, setiap negara akan melakukan berbagai cara menggunakan kekuatan yang mereka miliki sepeti kekuatan militer, politik dan ekonomi. Semakin besar kekuatan yang dimiliki oleh negara, maka akan semakin besar pula potensi sebuah negara untuk mencapai kepentingan yang akan mereka capai. Keempat. kemampuan ''survival'' adalah tujuan utama semua negara. Ditengah ketidakpastian dalam sistem internasional, setiap negara akan berupaya untuk bisa bertahan dalam dinamika sistem internasional. Upaya beratahan ini mencipatkan ketidakpercayaan antara satu negara dengan negara lain. Kelima, negara adalah aktor rasional yang akan selalu memikirkan untung dan rugi dalam mengambil setiap keputusan. Negara akan selalau berhati-hati dalam mengambil keputusan dalam selalu melihat untung rugi dalam pengambilan keputusan. Kelima asumsi dasar ini yang membuat negara-negara di dalam sistem internasional menjadi lebih agresif. | Neorealisme ofensif memiliki beberapa asumsi dasar yang hampir sama dengan asusmsi dari realisme. Pertama, menurut neorealisme ofensif, tetap meyakini bahwa sistem internasional ini bersifat anarkis.<ref>John J. Mearsheimer. [https://www.jstor.org/stable/2539078?origin=crossref The False Promise of International Institutions]. ''International Security''. 24/1994. Vol. 19 (3). hlm. 5. doi:10.2307/2539078.</ref> Dimana sistem internasional ini dibaratkan sebagai sebuah hutan yang terdiri dari berbagai jenis hewan. Kesemua hewan ini kemudiaan saling bersaing satu sama lain. Prinsipnya ada pada pilihan "mau makan atau di makan". Sistem anarkis ini yang membuat setiap negara menjadi ''self-help''. yakni kondisi dimana negra tidak bisa bergantung pada negara lain dan harus bergantung pada kekuatan mereka. Kedua, tidak ada otoritas tertinggi yang melebih kedaulatan dari sebuah negara.<ref>John J. Mearsheimer. [https://www.jstor.org/stable/2539078?origin=crossref The False Promise of International Institutions]. ''International Security''. 24/1994. Vol. 19 (3). hlm. 5. doi:10.2307/2539078.</ref> Kedaulatan negara bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. Tidak ada entittas yang lebih tinggi daripada kedaulatan negara. Negara berhak dan bebas menentukan arah kebijakannya tanpa adanya intervensi dari entitas lain di luar negara. Ketiga, setiap entitas negara memiliki kepentingan masing-masing yang akan mereka perjuangkan.<ref>John J. Mearsheimer. [https://www.jstor.org/stable/2539078?origin=crossref The False Promise of International Institutions]. ''International Security''. 24/1994. Vol. 19 (3). hlm. 5. doi:10.2307/2539078.</ref> Untuk mencapai kepentingan ini, setiap negara akan melakukan berbagai cara menggunakan kekuatan yang mereka miliki sepeti kekuatan militer, politik dan ekonomi. Semakin besar kekuatan yang dimiliki oleh negara, maka akan semakin besar pula potensi sebuah negara untuk mencapai kepentingan yang akan mereka capai. Keempat. kemampuan ''survival'' adalah tujuan utama semua negara.<ref>John J. Mearsheimer. [https://www.jstor.org/stable/2539078?origin=crossref The False Promise of International Institutions]. ''International Security''. 24/1994. Vol. 19 (3). hlm. 5. doi:10.2307/2539078.</ref> Ditengah ketidakpastian dalam sistem internasional, setiap negara akan berupaya untuk bisa bertahan dalam dinamika sistem internasional. Upaya beratahan ini mencipatkan ketidakpercayaan antara satu negara dengan negara lain. Kelima, negara adalah aktor rasional yang akan selalu memikirkan untung dan rugi dalam mengambil setiap keputusan. Negara akan selalau berhati-hati dalam mengambil keputusan dalam selalu melihat untung rugi dalam pengambilan keputusan. Kelima asumsi dasar ini yang membuat negara-negara di dalam sistem internasional menjadi lebih agresif.<ref>[http://www.palgrave-journals.com/jird/journal/v8/n4/full/1800065a.html Salinan arsip].</ref> | ||
== Bacaan lanjutan == | == Bacaan lanjutan == | ||
| Baris 38: | Baris 11: | ||
* Fareed Zarkaria, From Wealth to Power: the Unusual Origins of America’s World Role (Princeton: Princeton University Press, 1998). | * Fareed Zarkaria, From Wealth to Power: the Unusual Origins of America’s World Role (Princeton: Princeton University Press, 1998). | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
== | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Neorealisme+ofensif&oldid=29329219 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29329219 (2026-06-09T02:35:17Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 23.03

Neorealisme ofensif adalah teori struktural yang termasuk dalam mazhab neorealis dan pertama kali dipaparkan oleh John Mearsheimer.[1] Teori ini percaya bahwa sifat sistem internasional yang anarkis membuat negara-negara memiliki perilaku agresif dalam politik internasional. Teori ini berbeda dengan neorealisme defensif-nya Kenneth Waltz. Para neorealis ofensif menyatakan bahwa negara-negara besar adalah revisionis yang hendak memaksimalkan kekuasaannya dengan mengutamakan pengalihan tanggung jawab ketimbang penyeimbangan saat berusaha mendominasi sistem internasional. Neorealisme ofensif memberi kontribusi alternatif penting bagi studi dan pemahaman hubungan internasional, tetapi banyak yang mengkritik teori ini.
Asumsi Dasar Neorealisme Ofensif
Neorealisme ofensif memiliki beberapa asumsi dasar yang hampir sama dengan asusmsi dari realisme. Pertama, menurut neorealisme ofensif, tetap meyakini bahwa sistem internasional ini bersifat anarkis.[2] Dimana sistem internasional ini dibaratkan sebagai sebuah hutan yang terdiri dari berbagai jenis hewan. Kesemua hewan ini kemudiaan saling bersaing satu sama lain. Prinsipnya ada pada pilihan "mau makan atau di makan". Sistem anarkis ini yang membuat setiap negara menjadi self-help. yakni kondisi dimana negra tidak bisa bergantung pada negara lain dan harus bergantung pada kekuatan mereka. Kedua, tidak ada otoritas tertinggi yang melebih kedaulatan dari sebuah negara.[3] Kedaulatan negara bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. Tidak ada entittas yang lebih tinggi daripada kedaulatan negara. Negara berhak dan bebas menentukan arah kebijakannya tanpa adanya intervensi dari entitas lain di luar negara. Ketiga, setiap entitas negara memiliki kepentingan masing-masing yang akan mereka perjuangkan.[4] Untuk mencapai kepentingan ini, setiap negara akan melakukan berbagai cara menggunakan kekuatan yang mereka miliki sepeti kekuatan militer, politik dan ekonomi. Semakin besar kekuatan yang dimiliki oleh negara, maka akan semakin besar pula potensi sebuah negara untuk mencapai kepentingan yang akan mereka capai. Keempat. kemampuan survival adalah tujuan utama semua negara.[5] Ditengah ketidakpastian dalam sistem internasional, setiap negara akan berupaya untuk bisa bertahan dalam dinamika sistem internasional. Upaya beratahan ini mencipatkan ketidakpercayaan antara satu negara dengan negara lain. Kelima, negara adalah aktor rasional yang akan selalu memikirkan untung dan rugi dalam mengambil setiap keputusan. Negara akan selalau berhati-hati dalam mengambil keputusan dalam selalu melihat untung rugi dalam pengambilan keputusan. Kelima asumsi dasar ini yang membuat negara-negara di dalam sistem internasional menjadi lebih agresif.[6]
Bacaan lanjutan
- Robert Giplin, War and Change in World Politics (Cambridge: Cambridge University Press, 1981).
- Randall L. Schweller, “Bandwagoning for Profit: Bringing the Revisionist State Back In”, International Security 19:1 (1994): 72–107.
- Fareed Zarkaria, From Wealth to Power: the Unusual Origins of America’s World Role (Princeton: Princeton University Press, 1998).
Referensi
- ↑ Salinan arsip.
- ↑ John J. Mearsheimer. The False Promise of International Institutions. International Security. 24/1994. Vol. 19 (3). hlm. 5. doi:10.2307/2539078.
- ↑ John J. Mearsheimer. The False Promise of International Institutions. International Security. 24/1994. Vol. 19 (3). hlm. 5. doi:10.2307/2539078.
- ↑ John J. Mearsheimer. The False Promise of International Institutions. International Security. 24/1994. Vol. 19 (3). hlm. 5. doi:10.2307/2539078.
- ↑ John J. Mearsheimer. The False Promise of International Institutions. International Security. 24/1994. Vol. 19 (3). hlm. 5. doi:10.2307/2539078.
- ↑ Salinan arsip.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29329219 (2026-06-09T02:35:17Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.